Dunia TI di Indonesia

Mungkin kalo dihitung dari umur, aku ini masih termasuk anak yang bau kencur dalam dunia IT di Indonesia. Tapi kok rasanya aku dah agak muak dengan banyak hal yang terjadi ya? Dari mulai kesedihan karena sedikit sekali yang mau melakukan riset yang “benar” dalam bidang Teknologi Informasi (atau terjun ke hal yang kurang “basah”, misalnya dalam hal pendidikan yang benar), sampai ke aneka permainan kotor yang digunakan untuk mendapatkan proyek, menjegal lawan, menekan pegawai TI, dan masih banyak lagi.

Di umurku yang masih cukup muda ini (sok muda deh gua :P), yaitu 23 tahun, aku dah mencoba cukup banyak hal. Dan pengalaman-pengalamanku yang masih sedikit itu mau aku share di sini.

Aku pernah jadi penulis artikel di majalah Mikrodata, Antivirus Media dan Master Web, tapi akhirnya berhenti menulis. Setahuku hanya semua majalah itu yang bisa cukup menampung hal-hal teknis yang bisa kutulis, semua majalah lain hanya mau artikel populer untuk level user. Sayang semua majalah yang kusebutkan akhirnya mati.

Aku pernah jadi asisten, baik asisten di ITB yang cuma digaji 80 ribu/semester (total aku pernah ngasistenin 5 kuliah), jadi asisten di Diploma Pos (bahkan jadi asisten untuk aplikasi perkantoran alias cara memakai MS Office). Jadi asisten cukup merepotkan, apalagi kalo yang diajar kelihatannya gak niat untuk belajar. Sekarang pun jabatan resmiku di IF adalah Teaching Assistant, meskipun pada praktiknya kerjanya adalah mengajar (dan ada banyak asisten lain dari mahasiswa yang akan memeriksa tugas dan melakukan pekerjaan kuli lainnya).

Aku pernah jadi programmer (dan masih jadi programmer), mulai dari programmer untuk proyek pemerintah, jadi programmer untuk SI akademik ITB, jadi programmer di perusahaan IT (Divusi) , pernah juga jadi programmer untuk produk yang dijual ke sebuah perusahaan, pernah jadi programmer untuk riset (freeoffice). Bahkan jadi programmer untuk pabrik milik Bapakku.

Aku memprogram mulai dari memakai assembly, C, C++, sampai Java. Memprogram mulai dari sistem informasi sampai membuat driver. Memprogram dari mulai smartphone sampai server.

Untuk semua pekerjaan programming yang kusebut di atas, hampir semuanya gak ada yang “bersih”. Mari kudetailkan sebagian:
– Untuk programmer proyek-proyek pemerintah, sudah jelas aneka macam korupsi yang ada di pemerintah (dan sekarang aku dah mulai tahu, berapa sih bagian untuk pejabat ini dan itu).
– Untuk programmer produk, ternyata memasukkan produk ke perusahaan besar itu cukup sulit, perlu koneksi sana sini, dan sikut sana sikut sini dengan saingan yang menawarkan produk serupa
– Untuk pekerjaan di ITB (termasuk riset), banyak juga hal kurang beres, seperti riset yang kurang serius (tidak sesuai nilai proyek itu), sampai harus memalsukan banyak dokumen administrasi demi bisa menggaji programmer.
– Untuk pekerjaan di perusahaan, ternyata banyak sekali permainan yang dilakukan untuk mendapatkan sebuah proyek

Sekarang aku cuma jadi programmer untuk diriku sendiri, karena aku suka memprogram, dan bukan karena hal-hal lain. Aku sekarang boleh dibilang nganggur dari pekerjaan yang sesungguhnya, aku mau kuliah dulu.

Berikutnya: aku juga pernah jadi konsultan, sekarang pun sedang mengurusi konsultasi sebuah perusahaan di Jakarta (karena agak terpaksa, sisa pekerjaanku yang lalu) yang mau beralih dari Oracle ke J2EE. Pekerjaan ini cukup menyenangkan, tapi banyak juga bagian yang nggak menyenangkan, misalnya kalo implementatornya banyak yang bego, jadi designya banyak yang gak dipakai.

Mengenai ngajar di aneka universitas Swasta (yang biasa-biasa aja, yang berjamuran di mana-mana, bukan yang bagus), aku juga cukup kecewa. Kebanyakan mereka berfokus pada tools (pantesan aja sering gak ngerti konsepnya kalo kerjasama dengan mereka atau mengajar ulang mereka di pelatihan perusahaan), aku juga pernah mengajar (dan sekarang pun juga mengajar) di Swasta, kebanyakan materi yang ada terlalu berfokus ke hal yang terlalu sempit, memakai buku bahasa Indonesia yang sering kacau terjemahannya, dan memakai tools-tools super kuno (seperti Turbo C), serta mengajarkan hal-hal yang terlalu dasar (misalnya kalo dah bisa memakai Turbo C++ dianggap sudah bisa C++, bahkan tanpa mengetahui apa itu konsep kelas, objek dan inheritance). Mungkin intinya aku cukup kecewa dengan kurikulum dan implementasi kebanyakan universitas swasta yang membuka jurusan Teknik/Managemen informatika (come on, get real, praktikum Turbo C++ 2.0, tanpa sampai objek dihitung 2 sks?).

Apalagi ya…. Oh iya, aku juga ikut terlibat dalam dunia open source. Membuat program (baru satu sih), ikut simposium, nerjemahin GNOME, dll. Tapi sulit sekali untuk bisa membuat gerakan yang besar di sini. Orang-orang masih terlalu susah untuk disadarkan akan pentingnya open source. Mungkinkah aku yang terlalu gampang menyerah? gak tau juga ya, aku masih berusaha dari orang-orang terdekat untuk meyakinkan mereka make open source (misal: pacar). Aku dah berhasil mengubah semua praktikum di IF yang tadinya pake Turbo C, Turbo Pascal, Turbo Prolog dan LISP jadi make gcc, freepascal, gprolog dan clisp, meskipun awalnya aku sendiri yang repot harus ngajarin asisten lain cara make setiap benda itu.

Dan sekarang sepertinya aku akan terjun ke dunia TOKI, dunianya sepertinya bersih, walaupun sangat disayangkan tidak ada yang mau serius invest di sini. Setelah dua minggu melatih TOKI, sepertinya semangat untuk ini kembali bangkit. Tapi kita lihat saja nanti deh.

Masih banyak uneg-uneg soal pengalaman kerja di bidang TI di Indonesia, tapi sekarang dah laper, mungkin kapan-kapan kuterusin deh.

4 thoughts on “Dunia TI di Indonesia”

  1. Come on guys: real programmer does not die, he only hides behind forever loop (and wait until user gets frustated and pull power cable out! ha… ha…).

    Saya juga bukan pemrogram serius, kalau ditanya cuma saya jawab: kadang-kadang (menjadi) pemrogram. Tapi rasanya tetap nikmat menjelajahi skrip atau otak-atik konfigurasi, atau sekali-kali “fly”, agak-agak teler sedikit dengan ekspresi regular. Barangkali lingkungan di sekitar kita tidak kondusif, namun tetap menyenangkan menyadari bahwa saya menjalankan skrip contekan dari entah projek Open Source mana dan mengerti maksudnya. Maklumlah kemampuan awak belum sampai menyusun projek Open Source sendiri… Mengerti maksudnya itu yang menjadikan indah. Kalau belum mengerti, ya ikut sedikit belajar lagi.

    Menurut saya, kalau toh bangsa kita belum sampai bisa menghasilkan pemrogram hebat di lingkungan Open Source, kita usahakan untuk memakainya dengan benar saja sudah bagus. Banyak sekali hasil bagus yang jika diimplementasikan dan dirakit-rakit satu dengan lainnya, manfaatnya akan bertambah.

    Wah, kok promosi Open Source? Iya, habis apa lagi? Kalau memikirkan produk komersial, ujung-ujungnya di bagian Pengadaan, mark-up nilai pembelian, tender tidak jelas, …. wah, ceritanya jadi panjang dan suram lagi. 🙁

  2. wah huebat oei!… masih muda buangettt tapi pengalamannya segudang.
    Saya musti belajar nih, soalnya saya emang belum pernah jadi programmer scr profesional (baca: dibayar – mesikpun 80 ribu/semester) baik di perusahaan2, praktisi open source, asisten atau dosen ITB atau perguruan tinggi manapun.

    Kalo pun saya pernah bikin program dari C sampai Java dg database dari Access sampai Oracle untuk aplikasi console sampai driver untuk kelas SmartPhone sampai server selama ini, semua itu hanyalah baru taraf sekedar refreshing.

    Setiap orang punya cara refreshing sendiri2, ada yang main golf atau olah-raga lainnya, pergi ke panti pijat atau ke sarana hiburan lainnya, melukis atau melakukan aktivitas lainnya, dsb.
    Bagi saya programmer mirip pelukis, ada yang sekolahan (termasuk guru, murid atau pernah mendapat pelajaran tentang pemrograman meskipun sedikit), professional (dapat bayaran), jalanan (biasanya menyebut dirinya sebagai freelance) ataupun yang memang dari sononya sudah punya naluri melukis meskipun tidak ada yang menyuruh, mendidik atau membayarnya.

    Bagi yang merasa punya naluri sebagai programmer, mungkin perasaannya mirip dengan saya, bahwa masih banyak sekali kejahatan dan sadisme yang dianggap sebagai kewajaran oleh banyak pihak baik secara pribadi maupun institusi pemerintah atau swasta. Rakyat Indonesia masih banyak yang berpikiran yang penting makanannya halal terlepas bagaimana memperoleh makanannya, apakah korupsi, manipulasi pajak, kartu kredit fraud sampai menggunakan software-software bajakan.

    Meskipun saya belum pernah membuat sofware yang dibajak, tapi sedih rasanya melihat saudara, teman atau bahkan mungkin kantor tempat kita bekerja menggunakan software bajakan tanpa rasa malu, risih dan dosa sama sekali. Barangkali, di benak mereka, programmer dianggap kasta yang tidak perlu digaji atau dibayar sama sekali, beda dengan profesi-profesi lainnya misalnya penjahit, supir, pembantu rumah tangga ataupun pelacur. Walarakadhah… lho lantas programmer beli makan pakai apaan kalo kerjanya enggak pernah dibayar? Apakah harus senantiasa menunggu sisa-sisa budget melulu?

    Apakah nasib programmer akan lebih baik jika ganti menteri atau presiden? Sulit mengharapkannya, jika pendidikan agama, sipil maupun militer kita hanya mengajarkan bagaimana memperoleh makanan halal tanpa pernah mendidik halal-haramnya atau setidaknya legal-tidaknya cara-cara memperolehnya.
    Namun sulit bukan berarti tidak mungkin. Saya kok masih percaya, masih ada rakyat republik ini yang meskipun bukan programmer tapi memiliki nurani untuk menghormati hasil jerih payah orang lain termasuk programmer, syukur-syukur punya kesadaran membantu saudara sebangsanya sendiri termasuk programmer.

  3. Salam,

    Saya programmer php non-j0b alias ilmunya masih pas-pasan. Saya sedang mencari lowongan atau proyek website freelance. Kiranya mohon saran-sarannya gimana cara mendapatkan proyek website freelance dg PHP. Sy udah nganggur cukup lama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *