<?xml version="1.0" encoding="utf-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Dunia TI di Indonesia</title>
	<atom:link href="http://blog.compactbyte.com/2004/04/13/dunia-ti-di-indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.compactbyte.com/2004/04/13/dunia-ti-di-indonesia/</link>
	<description>Sola Gratia, Sola Fide, Sola Christus, Sola Scriptura, Soli Deo Gloria</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 08:56:21 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
	<item>
		<title>By: kurniawan</title>
		<link>http://blog.compactbyte.com/2004/04/13/dunia-ti-di-indonesia/comment-page-1/#comment-173768</link>
		<dc:creator>kurniawan</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 10:00:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=22#comment-173768</guid>
		<description>Salam,

Saya programmer php non-j0b alias ilmunya masih pas-pasan. Saya sedang mencari lowongan atau proyek website freelance. Kiranya mohon saran-sarannya gimana cara mendapatkan proyek website freelance dg PHP. Sy udah nganggur cukup lama</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam,</p>
<p>Saya programmer php non-j0b alias ilmunya masih pas-pasan. Saya sedang mencari lowongan atau proyek website freelance. Kiranya mohon saran-sarannya gimana cara mendapatkan proyek website freelance dg PHP. Sy udah nganggur cukup lama</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: PBx</title>
		<link>http://blog.compactbyte.com/2004/04/13/dunia-ti-di-indonesia/comment-page-1/#comment-48244</link>
		<dc:creator>PBx</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 15 Nov 2005 16:55:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=22#comment-48244</guid>
		<description>wah huebat oei!... masih muda buangettt tapi pengalamannya segudang. 
Saya musti belajar nih, soalnya saya emang belum pernah jadi programmer scr profesional (baca: dibayar - mesikpun 80 ribu/semester) baik di perusahaan2, praktisi open source, asisten atau dosen ITB atau perguruan tinggi manapun.

Kalo pun saya pernah bikin program dari C sampai Java dg database dari Access sampai Oracle untuk aplikasi console sampai driver untuk kelas SmartPhone sampai server selama ini, semua itu hanyalah baru taraf sekedar refreshing. 

Setiap orang punya cara refreshing sendiri2, ada yang main golf atau olah-raga lainnya, pergi ke panti pijat atau ke sarana hiburan lainnya, melukis atau melakukan aktivitas lainnya, dsb.
Bagi saya programmer mirip pelukis, ada yang sekolahan (termasuk guru, murid atau pernah mendapat pelajaran tentang pemrograman meskipun sedikit), professional (dapat bayaran), jalanan (biasanya menyebut dirinya sebagai freelance) ataupun yang memang dari sononya sudah punya naluri melukis meskipun tidak ada yang menyuruh, mendidik atau membayarnya.

Bagi yang merasa punya naluri sebagai programmer, mungkin perasaannya mirip dengan saya, bahwa masih banyak sekali kejahatan dan sadisme yang dianggap sebagai kewajaran oleh banyak pihak baik secara pribadi maupun institusi pemerintah atau swasta. Rakyat Indonesia masih banyak yang berpikiran yang penting makanannya halal terlepas bagaimana memperoleh makanannya, apakah korupsi, manipulasi pajak, kartu kredit fraud sampai menggunakan software-software bajakan. 

Meskipun saya belum pernah membuat sofware yang dibajak, tapi sedih rasanya melihat saudara, teman atau bahkan mungkin kantor tempat kita bekerja menggunakan software bajakan tanpa rasa malu, risih dan dosa sama sekali. Barangkali, di benak mereka, programmer dianggap kasta yang tidak perlu digaji atau dibayar sama sekali, beda dengan profesi-profesi lainnya misalnya penjahit, supir, pembantu rumah tangga ataupun pelacur. Walarakadhah... lho lantas programmer beli makan pakai apaan kalo kerjanya enggak pernah dibayar? Apakah harus senantiasa menunggu sisa-sisa budget melulu?

Apakah nasib programmer akan lebih baik jika ganti menteri atau presiden? Sulit mengharapkannya, jika pendidikan agama, sipil maupun militer kita hanya mengajarkan bagaimana memperoleh makanan halal tanpa pernah mendidik halal-haramnya atau setidaknya legal-tidaknya cara-cara memperolehnya.
Namun sulit bukan berarti tidak mungkin. Saya kok masih percaya, masih ada rakyat republik ini yang meskipun bukan programmer tapi memiliki nurani untuk menghormati hasil jerih payah orang lain termasuk programmer, syukur-syukur punya kesadaran membantu saudara sebangsanya sendiri termasuk programmer.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah huebat oei!&#8230; masih muda buangettt tapi pengalamannya segudang.<br />
Saya musti belajar nih, soalnya saya emang belum pernah jadi programmer scr profesional (baca: dibayar &#8211; mesikpun 80 ribu/semester) baik di perusahaan2, praktisi open source, asisten atau dosen ITB atau perguruan tinggi manapun.</p>
<p>Kalo pun saya pernah bikin program dari C sampai Java dg database dari Access sampai Oracle untuk aplikasi console sampai driver untuk kelas SmartPhone sampai server selama ini, semua itu hanyalah baru taraf sekedar refreshing. </p>
<p>Setiap orang punya cara refreshing sendiri2, ada yang main golf atau olah-raga lainnya, pergi ke panti pijat atau ke sarana hiburan lainnya, melukis atau melakukan aktivitas lainnya, dsb.<br />
Bagi saya programmer mirip pelukis, ada yang sekolahan (termasuk guru, murid atau pernah mendapat pelajaran tentang pemrograman meskipun sedikit), professional (dapat bayaran), jalanan (biasanya menyebut dirinya sebagai freelance) ataupun yang memang dari sononya sudah punya naluri melukis meskipun tidak ada yang menyuruh, mendidik atau membayarnya.</p>
<p>Bagi yang merasa punya naluri sebagai programmer, mungkin perasaannya mirip dengan saya, bahwa masih banyak sekali kejahatan dan sadisme yang dianggap sebagai kewajaran oleh banyak pihak baik secara pribadi maupun institusi pemerintah atau swasta. Rakyat Indonesia masih banyak yang berpikiran yang penting makanannya halal terlepas bagaimana memperoleh makanannya, apakah korupsi, manipulasi pajak, kartu kredit fraud sampai menggunakan software-software bajakan. </p>
<p>Meskipun saya belum pernah membuat sofware yang dibajak, tapi sedih rasanya melihat saudara, teman atau bahkan mungkin kantor tempat kita bekerja menggunakan software bajakan tanpa rasa malu, risih dan dosa sama sekali. Barangkali, di benak mereka, programmer dianggap kasta yang tidak perlu digaji atau dibayar sama sekali, beda dengan profesi-profesi lainnya misalnya penjahit, supir, pembantu rumah tangga ataupun pelacur. Walarakadhah&#8230; lho lantas programmer beli makan pakai apaan kalo kerjanya enggak pernah dibayar? Apakah harus senantiasa menunggu sisa-sisa budget melulu?</p>
<p>Apakah nasib programmer akan lebih baik jika ganti menteri atau presiden? Sulit mengharapkannya, jika pendidikan agama, sipil maupun militer kita hanya mengajarkan bagaimana memperoleh makanan halal tanpa pernah mendidik halal-haramnya atau setidaknya legal-tidaknya cara-cara memperolehnya.<br />
Namun sulit bukan berarti tidak mungkin. Saya kok masih percaya, masih ada rakyat republik ini yang meskipun bukan programmer tapi memiliki nurani untuk menghormati hasil jerih payah orang lain termasuk programmer, syukur-syukur punya kesadaran membantu saudara sebangsanya sendiri termasuk programmer.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: shinta</title>
		<link>http://blog.compactbyte.com/2004/04/13/dunia-ti-di-indonesia/comment-page-1/#comment-18</link>
		<dc:creator>shinta</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 16 Apr 2004 03:54:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=22#comment-18</guid>
		<description>Aku bacanya jadi terharu, Yo. All I can say is may the source be with you! =D</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Aku bacanya jadi terharu, Yo. All I can say is may the source be with you! =D</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: amal</title>
		<link>http://blog.compactbyte.com/2004/04/13/dunia-ti-di-indonesia/comment-page-1/#comment-11</link>
		<dc:creator>amal</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 13 Apr 2004 07:20:50 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">/?p=22#comment-11</guid>
		<description>Come on guys: real programmer does not die, he only hides behind forever loop (and wait until user gets frustated and pull power cable out! ha... ha...).

Saya juga bukan pemrogram serius, kalau ditanya cuma saya jawab: kadang-kadang (menjadi) pemrogram. Tapi rasanya tetap nikmat menjelajahi skrip atau otak-atik konfigurasi, atau sekali-kali &quot;fly&quot;, agak-agak teler sedikit dengan ekspresi regular. Barangkali lingkungan di sekitar kita tidak kondusif, namun tetap menyenangkan menyadari bahwa saya menjalankan skrip contekan dari entah projek Open Source mana dan mengerti maksudnya. Maklumlah kemampuan awak belum sampai menyusun projek Open Source sendiri... Mengerti maksudnya itu yang menjadikan indah. Kalau belum mengerti, ya ikut sedikit belajar lagi.

Menurut saya, kalau toh bangsa kita belum sampai bisa menghasilkan pemrogram hebat di lingkungan Open Source, kita usahakan untuk memakainya dengan benar saja sudah bagus. Banyak sekali hasil bagus yang jika diimplementasikan dan dirakit-rakit satu dengan lainnya, manfaatnya akan bertambah.

Wah, kok promosi Open Source? Iya, habis apa lagi? Kalau memikirkan produk komersial, ujung-ujungnya di bagian Pengadaan, mark-up nilai pembelian, tender tidak jelas, .... wah, ceritanya jadi panjang dan suram lagi. :(</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Come on guys: real programmer does not die, he only hides behind forever loop (and wait until user gets frustated and pull power cable out! ha&#8230; ha&#8230;).</p>
<p>Saya juga bukan pemrogram serius, kalau ditanya cuma saya jawab: kadang-kadang (menjadi) pemrogram. Tapi rasanya tetap nikmat menjelajahi skrip atau otak-atik konfigurasi, atau sekali-kali &#8220;fly&#8221;, agak-agak teler sedikit dengan ekspresi regular. Barangkali lingkungan di sekitar kita tidak kondusif, namun tetap menyenangkan menyadari bahwa saya menjalankan skrip contekan dari entah projek Open Source mana dan mengerti maksudnya. Maklumlah kemampuan awak belum sampai menyusun projek Open Source sendiri&#8230; Mengerti maksudnya itu yang menjadikan indah. Kalau belum mengerti, ya ikut sedikit belajar lagi.</p>
<p>Menurut saya, kalau toh bangsa kita belum sampai bisa menghasilkan pemrogram hebat di lingkungan Open Source, kita usahakan untuk memakainya dengan benar saja sudah bagus. Banyak sekali hasil bagus yang jika diimplementasikan dan dirakit-rakit satu dengan lainnya, manfaatnya akan bertambah.</p>
<p>Wah, kok promosi Open Source? Iya, habis apa lagi? Kalau memikirkan produk komersial, ujung-ujungnya di bagian Pengadaan, mark-up nilai pembelian, tender tidak jelas, &#8230;. wah, ceritanya jadi panjang dan suram lagi. <img src='http://blog.compactbyte.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 1/7 queries in 0.004 seconds using disk: basic
Object Caching 223/224 objects using disk: basic

Served from: blog.compactbyte.com @ 2012-02-09 03:09:28 -->
