Pe De

Pernah mendengar kalimat-kalimat berikut?

1. “Aduh aku ga Pe De deh kalau harus ketemu si anu dan si itu dengan dandanan begini, mana ketinggalan sisir lagi, lipstik juga udah abis, bedak udah mulai cemang cemong 🙁 .”
2. “Gilee tuh cewe badan segede gentong udel keliatan kemana-mana, ga punya kaca apa yah, gue aja ga pernah berani tuh make hipster dipadu padan dengan tanktop ketat begitu.”
3. “Wuihhh kok Siti Nurhaliza mau ya dengan duda beranak 3, padahal dia cantiknya jauh diatas rata-rata, coba gue secantik dia, Ari Wibowo yang masih single ajah kutolak!”. Hehehe…semua percakapan tersebut adalah fiktif semata yang terlintas di benak gue untuk mengawali satu hal yang sedang melintas di kepala gue tentang apa yang disebut orang percaya diri alias yang sering disingkat Pe De.

Kalimat pertama menunjukkan dia merasa penampilan adalah penting, dan kepercayaan dirinya untuk bertemu orang berbanding lurus dengan penampilan *fisik*, sisir, lipstik dan bedak menunjukkan dia perlu selalu berdandan untuk merasa PeDe, gimana yah orang yang hidup sebelum teknologi itu ditemukan kalau punya konsep diri tergantung kosmetik bisa-bisa dia pingin mati saja rasanya setiap kali.

Kalimat kedua diucapkan oleh orang yang merasa bentuk badannya selalu tidak ideal, walaupun dia sudah kurus tinggal tulang tapi masih menjalankan diet ketat karena masih merasa kurang kurus juga, sedangkan orang yang digunjingkan itu bisa jadi adalah orang yang super pede sehingga lupa menyesuaikan ukuran baju dengan besar badan (atau mungkin dia meminjam baju adiknya).

Kalimat ketiga diucapkan oleh orang yang menganggap dirinya setenar artis dan bakal dilirik Ari Wibowo, atau istilahnya : sangkin percaya dirinya jadi agak gak enak ngedengernya 😛

Hehehe..sekali lagi, itu semua adalah fiktif dan karangan gue semata, analisa kepribadian juga disesuaikan dengan kepentingan pembahasan. Gue cuma mo bilang, kadang-kadang konsep diri kita sangat tergantung dengan apa yang menjadi tuntutan buat kita. Kita harus membiasakan menggunakan tangan kanan untuk makan dan melakukan banyak aktifitas dan menganggap orang yang makan menggunakan tangan kiri itu tidak sopan. Padahal tidak sedikit anak yang bisa melakukan banyak hal dengan tangan kanan dan tangan kiri yang punya kemampuan lebih dibandingkan kita yang hanya bisa kanan. Dari kecil kita dikondisikan mempunyai parameter-parameter fisik yang ditanamkan oleh orangtua bahwa yang cantik itu seperti ini, yang pantas itu seperti itu, yang boleh itu begini, yang boleh itu begitu.

Lalu apakah boleh kita melanggar semua yang sudah menjadi aturan tak resmi itu? sesuatu yang dianggap normal yang menjadi kesepakatan bersama dari jaman ke jaman? Jawaban gue sih : boleh saja selama itu bisa dibuktikan bukan sesuatu yang mutlak. Kita manusia berpikir, kita tahu apa yang baik karena tahu apa yang buruk, kita tahu apa yang pantas karena tahu apa yang tidak pantas. Kenapa harus tidak percaya diri kalau gak pake kosmetik? kalau keadaan memaksa kita gak langsung mati kok ga make lipstik dan bedak dsb. Eh tapi..gimana kalau orang gendut pake tanktop dan hipster? well…ini sih terserah orangnya aja, asal tidak melanggar UU APP ajah :P, teruss…kalau ada cewe cantik yang mau sama duda anak 3 gimana? yah…namanya juga cinta, biarinlah, seandainya dia melakukan itu karena dia pengen harta juga terserah ajah, tapi jangan mimpi dilamar Ari Wibowo gitu dong *ga nyambung*

Well… ini cuma intermeso, terus intinya apa dong? umm…apa yah… kuserahkan saja pada para pembaca, boleh setuju boleh tidak, itu sih terserah saja. Mungkin yang perlu dipikirkan kembali adalah : kenapa saya harus tergantung pada sesuatu supaya saja menjadi percaya diri, atau apakah saya tergantung sesuatu agar merasa percaya diri, yaaa sekitar situlah. Konsep diri itu yang perlu terus menerus digali. Apa sih yang membuat saya merasa berharga?

*ps. semua cerita ini fiktif belaka dicampur opini pribadi, semoga ada manfaatnya buat pembaca*

2 thoughts on “Pe De”

  1. :oops:kok bisa yach siti mahu ngan duda,jgn sampe deh siti kawin ngan si duda masih banyak kok yang mahu ngan siti,artist indonesia kan bisa siti jadikan pacar,kerana tampan2 orangnya
    jangan sampai siti kawin dengan duda yang sudah tua.jikalau siti kawin ngan duda tua itu,peminat siti dan pangagum siti berkurang dan kecewa

  2. Gue punya suami ganteng, tinggi, baik dan pekerja keras, tapi dalam beberapa bulan ini
    gue tergila-gila ama cowok yang 25 tahun diatas gue, jelek, licik, banyak cewek dan malah
    uda nikah. Gue jatuh ama dia karena dia luar biasa diranjang (maaf, gue beberkan apa adanya).
    Mungkin Siti jatuh cinta pada permainan si Datuk di ranjang, perlakuan Datuk pada Siti.
    Yeah, bukan soal fisik buat kita ingin dengan cowok/cewek, tapi soal nyaman atau enjoy nya itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *