Tidak Setuju…

Hari ini majalah Playboy Indonesia terbit, gue termasuk orang yang ga setuju dengan terbitnya majalah itu, selain mahal (seperti kata Joe masih lebih murah beli versi digital) kayaknya seperti memancing di air keruh. Beli lisensi nama Playboy tapi isinya paling sama aja dengan majalah dewasa pria lainnya. Gue bukan orang yang setuju dengan cewe-cewe yang berpakaian seksi dan merasa seksi dengan balutan baju minim (padahal baju tertutup kayak Siti Nurhaliza juga bisa bikin dia terlihat seksi), gue juga ga setuju dengan para pria yang menilai cewe dari bungkusnya doang. Walaupun demikian gue bukan pendukung RUU APP (Rancangan Undang Undang Anti Pornografi Pornoaksi) . Gue tidak setuju karena aturan itu terlalu mengambang dan punya banyak interpretasi. Aneh sebenarnya dengan begitu banyak acara 17+ di setiap stasiun TV sejak jam 10 malam, banyaknya komedi yang mengarah ke pornografi seperti penjaga pantai, angels dan gadis rimba, ataupun banyaknya acara sejenis fenomena yang mengupas tempat-tempat prostitusi dalam dan luar negeri, belum lagi majalah ga jelas yang sampulnya cewe berbikini kenapa sebuah majalah dengan nama Playboy yang isinya mungkin gak lebih parah dari itu semua sampai menimbulkan kontroversi.

Gue tidak setuju dengan masyarakat yang memilih demo untuk menyatakan ketidaksetujuannya dan kadang kala disertai dengan tindakan kekerasan. Misalnya ancaman akan membakar setiap majalah playboy yang ditemui dikios koran, ini sih tidak tepat sasaran namanya dan menyusahkan para penjual majalah/koran juga jadinya. Kalau memang mau demo, jangan menyusahkan sesama rakyat kecil. Jangan menyusahkan orang yang berusaha. Kalau ga setuju dengan majalah Playboy ya jangan beli, anehnya malahan hari ini gue liat para pendemo melakukan demo sambil bawa-bawa majalah tersebut. Jadi ga jelas ini demo atau launching majalah. Kalau ga setuju jangan beli jangan baca jangan biarkan orang yang Anda kenal beli atau baca itu saja sudah cukup. Ada penjual karena ada yang beli, kalau ga ada yang beli kan ga mungkin bisa menjual.

Gue hanya bisa berharap pemerintah bisa mengambil tindakan yang bijak untuk menghindari terjadinya bentrokan sesama rakyat kecil. Gue juga berharap agar masyarakat yang demo tidak saling merugikan dan tidak tepat sasaran. Gue berharap ketidaksetujuan tidak diwujudkan menjadi huru-hara. Negara kita punya hukum, biar hukum yang menentukan jangan malah main hakim sendiri. Yang gue heran adalah, kenapa sampai saat ini pihak-pihak yang main hakim sendiri tidak mendapat tindakan nyata dari pemerintah dan seakan-akan mereka menjadi hakim yang paling adil? bagaimana hukum bisa ditegakkan jika masih banyak orang main hakim sendiri?

Kalau mau membuat RUU APP dijadikan UU, sebaiknya ada peraturan tambahan sebagai berikut :
– dilarang menjual pakaian minim (supaya ga ada yang bisa beli)
– semua acara tivi yang pemainnya berpakaian minim dilarang
– semua majalah / tabloid ga jelas dilarang
– tidak ada penayangan film doeloe yang banyak suara mendesah desah gak jelas
– tidak ada pembahasan sejenis fenomena ataupun jejak malam
– semua becandaan di tv juga tidak boleh mengarah ke aktivitas seksual (Indy barends di ceriwis juga becandaanya suka mengarah, komedi Extravaganza juga gitu)
– dll, yang jelas jangan hanya inul dkk yang di cekal, tapi semuanya…

Anyway, kalau dipikir-pikir jadi repot banget yah ngurusin hal yang ga begitu penting ini. Seharusnya kalau kita memang punya moral yah ga pake dibakukan dalam peraturan juga hal-hal begini ga perlu terjadi. Masih banyak masalah kemiskinan dan keterbelakangan yang lebih penting untuk dibahas di negeri ini. Ngapain juga harus bikin huru-hara dengan masalah ngurusin moral orang seakan-akan udah jadi orang yang paling beres moralnya.

Kita bisa punya pendapat yang berbeda dan tidak setuju untuk pendapat orang lain, Anda juga bisa tidak setuju dengan alasan saya untuk tidak setuju, tapi apakah dengan begitu kita harus saling adu jotos? saya rasa tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *