Rasa Malu

Ketika manusia diciptakan, manusia itu telanjang tapi tidak merasa malu. Setelah manusia makan buah dari pohon terlarang, mereka menjadi sadar bahwa mereka telanjang dan menyemat daun Ara untuk menutupi beberapa bagian. Dan ketika Tuhan mencari mereka merasa malu lalu mereka bersembunyi. Disitulah manusia pertama kali merasa malu. Tapi manusia lupa, bahwa mereka tidak bisa bersembunyi dari Sang Pencipta.

Saya tidak sedang akan membahas hal yang religius atau mengajar agama di sini. Posting ini terinspirasi ketika saya membaca milis (mailing list) di mana seorang anggota meminta serial number sebuah perangkat lunak. Lalu ditimpali oleh anggota milis bahwa penggunaan kata Serial Number ataupun Crack dilarang dimilis dan dapat menyebabkan milis di tutup. Awalnya saya pikir : wah milis ini sudah sadar untuk tidak membajak, tapi belum selesai saya berpikir, kalimat berikut dari balasan mail tersebut membuat saya sadar, mereka hanya mengganti istilah dengan kata-kata lain. Artinya, pembajakan tetap merupakan hal yang sah-sah saja buat anggota milis.

Masih dari orang yang sama, dia menyertakan tandatangannya berupa nama lengkap, di mana dia berkuliah, dan juga nomor telepon genggamnya. Jika saya seorang yang punya kewenangan dalam menindak orang yang membajak, sudah pasti dia masuk dalam daftar saya untuk ‘diwajibkan membayar’. Dalam email tersebut dia mencari program bajakan dengan alasan : maklum mahasiswa tidak punya duit. Oh ya? lalu dia mampu membeli aneka gadget yang harganya tidak murah tapi tidak mampu membeli perangkat lunak? Hmm…alasan yang tidak bisa diterima.

Anyway, saya hanya berpikir. Apakah kita yang melakukan tindakan membajak dengan sadar itu tidak punya rasa malu? Kita menggunakan pakaian yang pantas karena kita punya rasa malu. Atau memang sudah tidak ada lagi rasa malu? (sampai-sampai pemerintah merasa perlu mengatur bagaimana cara kita berpenampilan dalam RUU-APP?) Yang jelas, seandainyapun memang sudah sangat sedikit rasa malu itu, walau bagaimanapun juga mencuri itu tetap berdosa. Kita tidak bisa bersembunyi karena Dia tahu semuanya.

Walaupun masih banyak yang melakukan pembajakan, kemarin saya merasa senang mendengar pengakuan seorang teman yang terinspirasi untuk mulai meninggalkan tindakan pembajakan setelah membaca blog tidak membajak yang ditulis Joe. Jangan karena semua orang melakukan pembajakan, kita merasa membajak itu menjadi legal. Padahal membajak tetaplah mencuri, dan pencuri harus dihukum. Maaf jika ada yang merasa ‘tersinggung’ dengan posting ini, saya hanya ingin mengingatkan kembali (siapa tahu Anda belum tahu) bahwa jika Anda pernah kehilangan uang berapapun dari dompet Anda, sama saja rasanya dengan orang yang Anda curi itu (walaupun dia sudah sangat kaya).

3 thoughts on “Rasa Malu”

  1. not to be rude, but

    untuk kebanyakan orang Indonesia, yang namanya moral sepertinya hanya terfokus pada alat kelamin (udah yang paling sopan 😛 ).
    gak jauh-jauh dari kampus, ada pemandangan yang agaknya kontradiksi. barang-barang bajakan mulai dari baju, alat makan, alat elektronik (yang berlabel palsu) serta film, musik, dan software bajakan dijual terang-terangan di depan tempat ibadah. dan beberapa tempat ibadah lain juga yang makai software bajakan pas ibadah (you know what i mean, lah 😀 )

  2. cepi : Boleh dengerin mp3 kalau dibeli legal. Berhubung di Indonesia belum ada yang jual dalam bentuk mp3, alternatifnya adalah beli cd audionya, terus di konversi jadi bentuk mp3. Dengan begitu mp3 yang dimiliki legal. Sayangnya Indonesia belum dipercaya untuk bertransaksi membeli lagu di itunes 🙁 (susahnya jadi orang Indonesia…higs…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *