Evolusi

Hampir di semua milis yang topiknya umum (milis ITB, milis angkatan, dll), di slashdot, dll, hampir selalu ada orang yang mempertanyakan teori evolusi. Biasanya teori penyanggah dinamakan Creationism, yaitu bahwa segala sesuatu diciptakan sudah seperti itu adanya, baik orang Kristen maupun Islam, keduanya punya tokoh yang dijadikan panutan (misalnya di kristen mengikuti tokoh-tokoh answers in genesis, dan di Islam ada Harun Yahya). Posting seperti itu biasanya akan menimbulkan debat yang cukup panjang.

Banyak orang yang terlibat debat, tapi cuma menghabiskan waktu. Sebagian menganggap masalah evolusi vs kreasi ini sangat penting, karena dasar agama (dengan interpretasi mereka) terletak pada apakah evolusi itu benar atau tidak. Sebagian lagi menganggap masalah ini tidak terlalu penting karena ini hanya masalah interpretasi kitab suci. Sebagian berdebat karena hanya ingin berdebat agar terlihat pintar (dan mungkin tidak ingin disebut sebagai “keturunan monyet”).

Continue reading “Evolusi”

Dua bulan jadi istri Joe

Pertanyaan yang paling banyak muncul dalam bulan ini adalah: “Gimana rasanya menikah?” Well, jawabannya singkat saja: “menyenangkan”. Pertanyaan berikutnya: “Udah isi belum?”. Nah pertanyaan ini adalah pertanyaan standar, akan dijawab dengan: “mau isi apa? isi lemak? daging? atau apa?”, sok bego hihhihi.. Ada juga yang membandingkan dengan pengalamannya yang “langsung jadi”. Tapi yang pasti, setelah menikah kami berdua jadi tambah ndut, apalagi kalau bukan karena masakanku yang sangat… tepat waktu hihihi. Tepatnya kami jadi hidup lebih teratur, bangun tidur sarapan, mandi, makan siang, tidur siang, nyemil sore, makan malam, tidur lagi. Hebat..hebat.. mau jadi apa makan tidur doang? :p

Ah ga sehiperbola itulah. Anyway, senang rasanya menemukan potensi diri yang selama ini tak pernah dilakukan. Dulu.. mamaku selalu khawatir anaknya tak pernah ke dapur, tak pernah memasak, gimana nanti setelah menikah, mau makan diluar terus? aduh..jangan-jangan dipulangkan nanti sama mertuanya. Ternyata… semua orang bisa memasak, yang jadi masalah adalah mau mencoba atau tidak. Jadi buat para wanita karir yang saat ini dituntut untuk “bisa memasak” atau “diputuskan” oleh sang pacar, mendingan bilang ama dia: kalau putus lu rugi sendiri, soal masak, keciiiiil huehuehueue… ada banyak bumbu instan beredar di pasaran, atau kalau ada waktu bikin bumbu sendiri juga bisa. Ga masyalah toh!. Apalagi jaman sekarang begitu banyak majalah ataupun buku panduan memasak, belum lagi sumber-sumber diinternet mulai dari masakan yang bumbunya hanya 3 jenis sampai semua bumbu dapur masuk ke kuali :). Yang penting, mau mencoba dan ada waktu untuk mencoba. Kalau sibuk emang sulit sih ya…

Ah ya, dua bulan waktu yang sangat singkat. Kadang-kadang masih ga biasa dengan sebutan: suami saya, dan kadang-kadang lupa kalau sudah menikah, perasaan masih pacaran aja hehehe.. “Bedanya pacaran dengan menikah apa dong?” ya beda! Setelah menikah ada yang namanya komitmen. “Kan pacaran juga pake komitmen?” oke deh, bedanya kalau pacaran sangat mungkin putus, sedangkan kalau sudah menikah, dalam hal ini dipersatukan Tuhan, tidak ada yang dapat memisahkan. “Jadi..ga boleh cerai?” ya ga bolehlah!! gimana sih? buat apa nikah kalau masih mikirin cerai? hairan deh…. “Terus.. kalau ternyata, suatu hari nanti..terjadi apa-apa, ga boleh cerai?” komitmennya adalah untuk selalu bersama (dalam segala kondisi) bukan sementara ini bersama kalau sudah tidak ada kecocokan lagi kita berpisah, gimana seh!!. “Terus kalau berantem gimana dong?” Ya diselesaikan lah!, bedanya lagi, waktu pacaran misalkan kita marah pasti terpikir udah ah putus aja, pusing begini terus. Nah kalau sudah menikah lalu berantem ga boleh mikir gitu, malah mikirnya, gimana ya biar masalah ini selesai dan kami menjadi semakin mesra.

Ah.. mungkin terdengar seperti teori. Apalah artinya 2 bulan, pengalaman kami masih sangat sedikit. Tapi..dengan itikad baik, semoga semuanya tetap baik.

Coretan Dinihari

Menjelang dini hari ga bisa tidur, enaknya ngapain ya?
Masak indomie telur? done! Nextnya ngapain?
Nulis apa yah?

Kadang-kadang kalau sudah ga di depan komputer ada banyak topik bersliweran, misalnya saja, gara-gara pindah dari kost ke rumah, gue baru menyadari bahwa selama ini gue menyimpan sampah cukup banyak. Barang-barang yang dulu di bawa dari Medan juga masih ada sampai sekarang. Setelah beberapa ronde membuang isi lemari, tepatnya bukan membuang sih tapi memberikan kepada yang lebih butuh, akhirnya sekarang bisa cukup 1 lemari bagi 2 dengan suami. Padahal dulu punya 2 lemari yang penuh dengan barang-barang yang jarang dipakai.

Kenapa sampai terjadi penumpukan barang tersebut? karena selama ini gue berpikir, ini jangan dibuang dulu, mungkin masih akan dipakai. Belum lagi baju-baju yang sudah kekecilan tapi tidak segera disingkirkan dengan cita-cita siapa tau suatu saat nanti ukuran badan kembali mengecil. Pernah sih beberapa kali usaha menurunkan berat badan diiringi dengan ukuran tubuh yang mengecil, tapi.. biasanya ga bertahan lama. Setelah berkurang beratnya, tau-tau melonjak beberapa kilo dari ukuran sebelumnya (dan gue bukan satu-satunya orang yang mengalami hal ini).

Kemarin, kloter terakhir yang diseleksi adalah tas. Perasaan kalau mau pergi-pergi ga punya tas, tapi ternyata.. ya ampun, ada lebih 10 tas yang selama ini tidak pernah dipakai lagi. Bahkan ada tas yang umurnya sudah 14 tahun!. Tasnya masih bisa digunakan sih, walaupun sudah tidak terlalu cemerlang, tapi… sepertinya saya tidak pantas lagi mengenakannya. Ya, karena itu adalah tas yang dulunya gue pakai untuk membawa buku-buku ke sekolah ketika SMA.

Pernah ada yang bilang, cara efektif untuk tidak menumpuk barang adalah langsung dibuang ketika memang tidak diperlukan lagi. Tapi… berdasarkan pengalaman membuang-buang (suami pernah protes karena gue terlalu rajin membuang sampah), pernah menyesal terlalu cepat membuang sesuatu yang ternyata masih diperlukan :(, bahkan pernah hampir membuang energen yang baru dibeli gara-gara salah plastik.

Ada juga yang bilang, kalau kita mau beli baju atau sepatu yang baru, setiap beli 1 buanglah 1 yang lama, jadi jumlah barang kita akan tetap, ga akan ada yang namanya kekurangan tempat di lemari. Tapi.. kalau dipikir-pikir, wanita itu agak beda dengan pria. Wanita punya berbagai jenis sepatu yang disesuaikan dengan tempat tujuan. Demikian pula dengan baju. Sepatu santai untuk jalan ke mall pasti beda dengan sepatu yang dipakai kerja. Lalu beda lagi dengan sendal tinggi kalau pakai baju pesta. Sedangkan pria? mereka cukup dengan sepasang sepatu dan sepasang sendal gunung. Sepatu untuk ke acara-acara resmi, sendal gunung untuk lainnya. Kalaupun ada tambahan paling-paling sepatu olahraga (atau mungkin mereka bisa memilih berolahraga tanpa sepatu).

Hmm… benar kata pepatah, sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit. Kalau pepatahnya digunakan untuk terminologi menabung, berarti dari menabung sedikit asalkan konsisten lama-lama ga terasa tabungannya membukit. Nah, gimana kalau terminologi menumpuk sampah? aih..ngeri deh kalau bukit sampahnya longsor :(, atau.. gimana kalau menumpuk masalah? (ini sih udah beda pembahasan kayaknya).

Sudah ah, demikian pemikiran menjelang tidur dari gue yang belakangan ini selalu tidur larut dan bangun siang. (Jam biologisnya sudah bergeser).

Laptop DPR dan Blog

Anggota DPR sebanyak 550 orang mau dibelikan laptop seharga 21 Juta Rupiah dari anggaran negara. Wheh… keren.., speknya apa yah? pasti keren lah. Kalau kita tanya dengan anak SD yang sudah belajar berhitung, sepertinya mereka juga tahu bahwa hasil perkalian itu akan menjadi jumlah yang tidak sedikit. Banyak mahasiswa informatika/komputer yang ngiler dan pengen banget biar laptopnya buat dia. Ada juga sih yang bilang mereka pantas mendapatkannya untuk mendukung produktifitas kerjanya. Dan menurut Angelina Sondakh, salah satu anggota DPR yang juga selebriti, semuanya itu sudah dipertimbangkan sebelum dianggarkan, dan mereka akan menggunakan laptop untuk lebih bertanggung jawab.

Well.. rasanya males sih memprotes kalau ga didengar. Masih ingat gimana anggota DPR diprotes waktu naik gajinya, dan tetap dilaksanakan. Percuma kan protes, buang-buang energi. Oh ya, tadinya sempat terpikir, gpp lah mereka dibeliin laptop, tapi laptopnya itu jangan dijadikan milik, tapi jadi aset pemerintah. Toh anggota DPR itu masa jabatannya ga penuh 5 tahun lagi, gimana kalau laptopnya dipulangkan kalau seandainya mereka di recall ataupun sudah habis masa jabatannya?. Tapi mengingat laptop itu akan ketinggalan jaman beberapa tahun lagi, pasti katanya sudah tidak layak pakai untuk anggota DPR berikutnya, repot juga yah.

Hmm… dipikir-pikir enak juga yah jadi wakil rakyat. Gaji lebih dari cukup, apa-apa masih dibeliin. Rumah tersedia, segala ditanggung, bahkan beli laptop (yang gue yakin bisa dibeli dari kocek sendiri) juga dibeliin. Mobil juga ada. Katanya kalau sering-sering diprotes bisa menghambat kerja mereka. Jadi.. mereka memang wakil rakyat, mereka mewakili rakyat banyak untuk menikmati segala fasilitas yang ada yang tersedia di negeri ini (makanya ga semua orang bisa menikmati, karena sudah diwakilkan).

Sebagai rakyat biasa, saya merasa serba salah. Memilih wakil rakyat tapi kok mengecewakan, ga milih katanya ga baik dan bukan warga negara yang baik. Tapi kenapa yah, kenapa mereka harus minta kita beliin laptop? coba hitung, dari 550 orang itu berapa orang lagi yang belum punya laptop, atau berapa orang yang anaknya ga punya laptop?. Kenapa ga beliin yang butuh atau yang ga punya saja sih daripada beliin semua? kalau setiap berganti anggota DPR selalu dibelikan, jangan-jangan kita bangkrut cuma buat ngasih fasilitas ke orang-orang yang mengambil keputusan di negeri ini.

Anyway, kalau setiap anggota DPR itu dikasih laptop, kira-kira mereka akan mengshare aktifitasnya melalui situs pribadi atau blog ga yah?. Positip thinking, mereka bisa jadi anggota dewan tentunya bukan orang bodoh, mereka pasti bisa memakai teknologi dengan cepat. Apakah mereka punya waktu buat ngashi tau ke rakyat apa masalah atau opininya tentang ini dan itu yang terjadi di ruang rapat?. Lalu kedepannya… apakah mereka bisa melakukan koordinasi melalui email dan chat, atau mungkinkah nanti mereka rapat paripurna melalui videoconfrence? supaya bandwith di negeri ini diperbaiki (walaupun awalnya untuk kepentingan mereka), lumayan kan mengurangi biaya rapat yang konon kabarnya setiap rapat mereka dibayar lebih dari cukup.

Well.. kayaknya mereka cukup sibuk untuk ngeblog. Liat saja blog Angelina Sondakh, jarang sekali di update. Padahal katanya mereka kan banyak kerjaan. Mbok ya diupdate gitu ke masyarakat. Atau sekalian mereka dibekalin handphone 3G lengkap dengan kameranya dengan kartu yang bisa akses internet (toh biaya komunikasi mereka dibayarin juga), terus misalkan sambil ngebantuin orang kena banjir, upload blog atau kalau perlu videocasting 😀 (kan ga perlu ngetik lagi). Let say, dana buat handphonenya umm… 10 juta rupiah. Sepertinya kalau mau meningkatkan produktifitas jangan tanggung-tanggung. Another 10 million rupiahs doesn’t hurt …

Sebagai penutup.., semoga gue ga dituntut karena menjadi rakyat yang kritis. Mohon maaf buat bapak dan ibu anggota DPR kalau tulisan saya ada yang salah dan menyinggung hati, tolong diklarifikasi untuk saya edit. Salam.. Merdeka!!!

Update 28 Maret 2007
Katanya DPR ga jadi beli Laptop, untuk penghematan. Semoga tidak berubah pikiran lagi dan tau-tau beli blackberry. Phew.. atau belum siap memasukin dunia blog kali ya 🙂

Kalung Salib dan Orang Batak

Banyak yang mengecam gue karena pernah menuliskan di blog ini kalau pesta batak itu ribet dsb dst. Kali ini gue bukan ingin membahas hal-hal yang ribet dari orang batak, tapi yang asik-asik saja. Cerita pengalaman hari ini ketika mobil kami gembos ban dan hampir membuat kami telat ke gereja. Di dekat rumah ada tukang tambal ban, maka kami berhenti di sana dengan niat jelas menambal ban, tapi ternyata dia tidak bisa menambal ban mobil, bisanya ban sepeda doang jangan-jangan :P. Nah, akhirnya terpaksa ganti ban dengan ban serep.

Awalnya, dari beberapa orang yang ada di sana, hanya melihat dari kejauhan bahwa kami sedang kesulitan dalam mengganti ban (ga ada yang terbiasa ganti ban sih). Beberapa menit kemudian, datang seorang bapak yang berbaik hati mendekat dan bertanya begini ke gue: “Orang Medan ya dek?” umm … saya bingung, aduh … muka gue batak banget apa yah:P, setelah gue menjawab iya, pertanyaan berikutnya ya jelas nanya boru apa. Ternyata bapak itu orang batak juga. Masih dengan keheranan gue melanjutkan perkenalan dengan bapak tersebut.

Karena penasaran, gue nanya: “Pak, tau darimana kalau saya orang batak?”. Terus jawabannya: “Itu saya lihat kalung salib yang dipakai, jadi kemungkinan besar orang Bataklah kalau Kristen.” Umm .. sebenarnya sih, ga semua orang Batak itu Kristen dan anehnya, bapak itu ngambil kesimpulan gue batak justru karena kalung salib, padahal ga semua orang Kristen batak kan :P, apalagi mengingat gue ditemani 2 pria yang jelas-jelas wajahnya jawa banget :p. Anyway, sejujurnya gue baru sekarang ini punya kalung salib, itupun hadiah waktu nikahan dari adiknya bapak. Dari dulu gue takut make kalung salib. Bukan karena malu mengakui gue orang Kristen, tapi karena beban mental aja rasanya kalau gue pake kalung salib tapi kelakukan gue malu-maluin. Gue takut kalau orang jadi ngambil kesimpulan yang salah tentang orang Kristen gara -gara gue. Gue suka sedih ngeliat orang – orang yang make kalung salib (atau aksesoris salib) tapi kelakuannya malu -maluin. Ya… gitu -gitu deh. Tapi hari ini kalung salib jadi membuat orang menolong kami. Well, diambil positipnya sajah. Kalau pake kalung salib jangan sampe malu-maluin, dan jangan malu memakai kalung salib.

Semoga tidak ada yang salah ngambil kesimpulan dari tulisan gue ini.

Menikah dan usia.

Akhir-akhir ini gue menyadari kalau begitu banyak remaja yang usianya sekitar 20 tahunan (bahkan kurang) yang sudah terobsesi atau bercita-cita untuk menikah. Tepatnya, mereka merasa sudah waktunya untuk memikirkan pernikahan (atau dengan siapa akan menikah nanti). Sebagian orang yang gue kenal (maaf kalau ada yang merasa), malahan ada yang takut sekali kalau tidak mendapatkan jodoh atau tidak akan menikah. Apa mereka salah memikirkan pernikahan? tidak, terus apa masalahnya? masalahnya adalah mereka belum waktunya menikah. Oke kalau memikirkan pernikahan dalam arti mencari tau apa yang perlu dipersiapkan untuk berumahtangga, tapi bukan menikah sekedar mencintai seseorang sampai maut memisahkan (romantisme basi!). Mungkin ada yang beralasan : ya..kan kita harus mengenal calonnya dulu sebelum menikah, kalau ingin menikah umur 22 ya ada baiknya mengenalnya sejak umur sebelum 20 dong. Well.. kalau gitu gue balik tanya, kalau ingin menikah umur 22, kira-kira seandainya dikaruniai anak, bisa ga ngasih makan anak? dan kira-kira kalau sudah umur segitu bisa ga hidup tanpa minta lagi dari ortu?

Well, gue sendiri orang yang baru dalam hal pernikahan ini. Secara sadar gue juga ga ingin hidup sendiri sampai akhir hayat, dan gue juga tidak pernah berniat untuk menikah di usia di mana banyak temen gue sudah punya 3 atau bahkan 4 orang anak. Tapi..terlepas dari kondisi gue saat ini, gue hanya heran, kenapa sih banyak orang yang takut tidak menikah? Saat ini gue mengenal begitu banyak wanita di atas 25 tahun yang sudah mulai gelisah mencari calon pasangan hidupnya. Bahkan ada yang berusia 30 tahunpun masih blank. Untuk usia yang sudah ditanya-tanya oleh orangtua, gue maklum kalau mereka mulai resah dan gelisah, tapi..apakah mereka harus menikah begitu ada yang bilang: “dek, nikah yuk!”.

Sejujurnya gue hampir jadi orang seperti itu. Gue bahkan sudah meminta jodoh dari ortu gue, tapi… ortu gue ga mau, gue disuruh nyari sendiri. Gue sempat berkencan buta dengan beberapa orang yang sesuai kriteria umum, tapi… gue masih waras untuk tidak membabi buta dan tidak ada yang mengena di hati gue. Banyak yang menasihati gue untuk “jangan pilih-pilih, umur jalan terus”, tapi.. rasanya statemen itu salah. Gue lebih setuju untuk bilang kita memang harus pilih-pilih, karena ini bukan sekedar pernikahan yang berupa pesta, surat nikah, punya anak demi meneruskan keturunan, tapi ini lebih berat ke orang yang harus dihadapi seumur hidup. Harus memilih orang yang memang bisa sejalan, seia sekata dan bisa mengerti dan dimengerti.

Ada beberapa orang yang menyalahartikan memilih dengan ungapan : “koleksi baru seleksi”. Jadi ada yang bilang untuk memilih kita harus punya pilihan, jangan hanya ada 1, dari sinilah orang mulai menduakan pacarnya. Padahal memilih itu harusnya dilakukan sebelum berkomitmen. Kita boleh memilih untuk menolak orang yang tidak kita sukai walaupun secara umur kita sudah dianggap usia menikah. Kita boleh memilih siapa yang kira-kira cocok dengan kita atau tidak. Kita boleh memilih kira-kira orang seperti apa yang kita harapkan menjadi pasangan kita.

Kembali ke para remaja 20 tahunan yang sudah memikirkan menikah, mungkin mereka kebanyakan nonton sinetron yang selalu happy ending, atau mungkin mereka hanya membaca cerita serial cantik ataupun dongeng pengantar tidur di mana ceritanya selalu berakhir bahagia. Apakah mereka pernah membaca tentang “bagaimana mengelola keuangan”, sedangkan mungkin saja mereka selalu mendapatkan apa yang mereka butuhkan dari orangtua mereka tanpa mencari. Atau.. “peran suami dan istri dalam rumahtangga”, atau..”masalah-masalah yang mungkin timbul dalam keluarga” atau “cara berargumen yang baik”. Semua judul itu fiktif, tapi..setidaknya semua itu sudah harus terpikirkan sebelum menikah (selain masalah bagaimana membesarkan anak dsb).

Gue sering membaca berita “sepasang kekasih bunuh diri”, atau “pria membunuh kekasihnya”, atau “seorang bocah tanpa nyawa ditemukan di tong sampah” yang semuanya itu pelakunya kebanyakan remaja (kalau orang dewasa sebagian besar sudah cukup cerdas menyembunyikan kejahatannya). Kalau dari beberapa berita yang gue baca, gadis remaja biasanya dibodohin oleh pria yang tak bertanggung jawab yang waktu melakukan kejahatan itu ngakunya :”akan bertanggung jawab”. Halah, ga usah percaya deh dengan omongan busuk dari lelaki yang tak dapat mengendalikan dirinya, yakinlah, kalau sekarang dia ngomong gitu, besok2 dia akan bilang: sudah lupa tuh atau menghilang tanpa jejak atau ya macem2lah cara mengelak dari tangung jawab. Heran yah, masih usia belasan kadang sudah berani2nya bilang akan bertanggung jawab, lebih heran lagi ada gitu gadis belasan tahun percaya omongan cowo buaya?

Buat para remaja yang masuk kategori belasan dan awal 20 tahunan. Sebelum memikirkan dengan siapa yah nanti menikah, sebaiknya cari tahu lebih banyak mengenai pernikahan. Cari tahu yang pait-paitnya, jangan yang manis-manisnya doang. Cari tahu apa saja masalah yang muncul dalam pernikahan. Sedangkan buat teman-temanku yang belum menemukan pasangan yang tepat, jangan terburu-buru dalam memilih, pertimbangkan apakah menikah dengan orang itu akan lebih baik? kalau emang tidak lebih baik, lebih baik jangan. Lagipula, menikah itu tidak tergantung usia. Yakin dan percaya saja kalau jodoh itu ditentukan oleh Tuhan (sebagian orang mungkin ditakdirkan telat menikah, seperti gue!).

Kesimpulannya jangan menikah kalau hanya untuk menyenangkan orang lain atau karena dikondisikan atau karena ketakutan akan kesepian di hari tua atau karena dipaksa lingkungan. Menikah bukan karena usia. Menikah sekali untuk selamanya, sampai maut memisahkan (bukan karena sudah tidak ada kecocokan lagi!). Ah sutralah.. terlalu banyak teori, ntar gue diprotes lagi.

T Shirt from Opera

Today Mr. Postman came with a package from Opera. I had to pay Rp 7000 for the package (repackaging service from Indonesian Postal). It’s the t-shirt from opera watch-group writing project: opera mini. It’s the gift because of my post about opera mini. Thanks Mr.Daniel, I like the design, the size fits me and I look thinner on the shirt 😉 I love it. Thanks to Joe who encouraged me to write that post, love you!