Antara Fiksi dan Realita

Ada pepatah bilang : “jauh berjalan banyak dilihat, lama hidup banyak dirasai”. Menurut wikiquote, artinya adalah : orang yang banyak merantau banyak pula pengalaman/pengetahuannya. Duluu untuk mengetahui dengan detail sebuah tempat, kita harus benar-benar mengunjugi tempat tersebut, tapi sekarang dengan jaman yang semakin canggih kita bisa melakukan perjalanan hanya dengan internet. Jangankan internet, bahkan dengan membaca buku fiksi saja kita bisa mendapat gambaran tentang tempat-tempat tertentu.

Saya masih inget, waktu sebelum pindah ke Thailand, teman saya langsung mewanti-wanti: Kakakk jangan lupa ya ntar kunjungi Mah Boon Krong (lupa tulisan persisnya gimana). Saya waktu itu hanya bengong, bilang: hah nama apaan itu, yang tergambar di benak saya bahwa itu adalah sebuah nama kawasan atau nama kota atau apalah. Terus saya tanya : emang kamu tau dari mana? Dan teman saya itu berapi-api menjelaskan kalau disitu adalah surga belanja untuk wanita. Well jujur saja, saya kurang memperhatikan apa yang dia ceritakan, karena dia taunya dari sebuah buku fiksi (yang saya lupa entah apa judulnya).

Singkat cerita, waktu ke Bangkok kemarin, akhirnya saya mengerti apa yang disebut-sebut oleh teman saya itu. Sebenarnya Mah Boon Krong (disingkat MBK) itu adalah nama sebuah pusat pertokoan yang gedenya juga minta ampun, isinya kurang lebih seperti mangga 2 di jakarta. Saya tidak menjalani setiap lantai, tapi di lantai yang 1 penuh dengan baju-baju wanita, dan di lantai yang lain penuh dengan aneka gadget. Well, kalau saja saya punya duit lebih untuk belanja dan belanja mungkin saya akan kalap di sana hehe, tapi tujuan ke Bangkok kemarin bukan berwisata dan bukan juga untuk membuang-buang duit.

Anyway, singkat cerita, inti dari ngalor ngidul saya hari ini adalah : kadang-kadang membaca buku fiksi ada gunanya untuk menambah wawasan menggantikan berjalan yang sesungguhnya, tapi tetap saja mengalami perjalanan itu sendiri berbeda nilainya dengan mengalami dalam fiksi. Banyak fakta di dalam fiksi yang seolah-olah nyata, bahkan seperti halnya para penggemar startrek yang berusaha mewujudkan fiksi yang ada di dalamnya, tetap saja sampai saat ini yang namanya teleportasi itu belum bisa terlaksana.

Nah pesan singkat dari tulisan panjang ini adalah : fiksi ya fiksi, realita ya realita, jangan dicampur adukkan ( ga nyambung ya? 🙂 )

1 thought on “Antara Fiksi dan Realita”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *