Indonesia Memang Lebih Indah

Setelah 2 hari berada di Bandung, akhirnya sudah nyampe Depok lagi.

Di Bandung tidak sempat bertemu 1 orang temanpun sama sekali :(, ternyata emang lebih mudah ketemu teman-teman di internet daripada ketemu antara Kopo-Antapani-Buahbatu-Cimahi. Ya… tapi setidaknya misi di Bandung kesampaian untuk ngubek-ngubek BEC,berhasil menemukan 2 gadget menarik dan bersantai di Jhony Andrean.Nonton film belum kesampaian, tapi masih bisa di Depok lah ntar, gampang.

Misi berikutnya di Bandung yang kesampaian adalah mengeksplor daerah wisata di sekitar Jawa Barat. Sekian lama tinggal di Bandung ga sempat jalan-jalan ke sekitar Bandung, setelah tinggal jauh dari Bandung disempet-sempetin ke tempat wisata yang menurut gue sih Indonesia emang jauh lebih indah dibanding negara lain di Asia, sayangnya, tempat wisatanya ga terlalu dikelola seperti di Chiang Mai. Tapi tetap saja, turis domestik banyak banget. Sayangnya acara jalan-jalan di ganggu gerimis hujan, huh. Oh ya, ternyata sate kelinci rasanya ga jauh beda dari sate ayam, tapi lebih enak dari sate kambing (kebetulan sate kambingnya keras euy).

Kunjungan singkat ke Bandung tapi cukup menyenangkan. Ga tau kapan lagi ke Bandung, tapi selalu ada alasan untuk mudik ke Bandung.

Kenikmatan Hidup ada di Indonesia

Hore, sampe juga di Indonesia. Setelah di Singapur pesawatnya sempet gagal starter dan ganti suku cadang dulu. Sampai juga di Jakarta dengan selamat walau akhirnya telat beberapa jam. Berangkat pagi dari rumah di Chiang mai jam 9, nyampai rumah Bandung jam 11 lewat. Tapi tentunya teh botol sudah dinikmati di perjalanan. Sambil minum teh botol dan makan pop mie, Joe tak henti-hentinya bilang : kenikmatan hidup ada di Indonesia hehe. Selama 2 minggu ke depan masih akan merasakan kenikmatan hidup :). Anyway, selamat Natal dan Tahun Baru buat kita semua 😀

Menyumbang untuk FSF

[FSF Associate Member]Sejak kenal Linux waktu masuk ITB, saya mulai seminimal mungkin menggunakan software bajakan dan mulai aktif di open source. Mulai dari menulis beberapa program open source (Symbian bible, CAV, dan beberapa program kecil lain), training Linux di ITB, sampai beberapa kali ikut simposium open source (di Singapore, Vietnam, Taipei, dan Indonesia). Setelah bertahun-tahun menikmati software gratis yang kebanyakan dibuat oleh FSF (Free Software Foundation), saya merasa seharusnya ikut menyumbang dengan jadi member FSF. Sumbangan saya juga nggak banyak, cuma $10/bulan.

Sabagai informasi FSF ini adalah organisasi untuk proyek GNU. Kalau Anda memakai Linux, maka sebagian besar softwarenya merupakan karya GNU project. FSF juga yang menerbitkan lisensi GNU yang dipakai oleh puluhan ribu (dan mungkin ratusan ribu) software di Internet. Jika Anda memakai Mac OS X, maka ada cukup banyak aplikasi GNU yang disertakan dalam paket OS X.

Sebelum memutuskan untuk menyumbang, tadinya rasanya berat banget: wah 100 rb/bulan. Tapi kalo dipikir lagi: 100 ribu itu tidak terlalu banyak, mengingat kebanyakan orang sekarang menghabiskan lebih dari 100 rb untuk pulsa per bulan. Kalau dibandingkan dengan harga lisensi Windows XP dan Vista, harganya Windows berkali lipat dari sumbangan itu (dan harus dibayar di muka). Dengan uang 10 usd/bulan kira-kira dibutuhkan setahun untuk mendapatkan XP Home Edition, dan sekitar 2 tahun lagi untuk mendapatkan Office student edition. Oh iya, bagi student/mahasiswa, Anda juga bisa menyumbang hanya $5/bulan, alias kurang dari 50 rb rupiah.

Jadi untuk Anda yang bilang: wah beli software mahal, kalo murah sih saya mau beli. Nah sekarang Anda bisa menyumbang FSF untuk mewujudkan perkataan Anda itu. FSF memberikan software gratis, dan kita bisa membantu pekerjaan mereka dengan sedikit menyumbang. Bukankah sama saja: kalo Anda beli software itu sama dengan menyumbang penciptanya? (dan marketing, dan biaya lisensi, tapi intinya adalah ke pencipta software)

Sebagai tanda terima kasih atas sumbangan Anda, mereka akan memberikan CD GNU/linux bootable, dan satu hadiah (boleh memilih: buku Free Software Free Society atau USB Disk 256 mb dengan beberapa aplikasi GNU di dalamnya). Anda bisa mendapatkan email forwarding [email protected] dan Anda juga bisa “pamer” diri menampilkan ikon seperti yang ada di posting ini.

Saat ini FSF sedang berusaha merekrut 500 member baru. Ayo bergabung dan menyumbang mereka. Bukankah lebih baik memberi daripada sekedar selalu menerima?

Nenek

Hari ini nenekku meninggal. Ini nenek dari pihak Ibu, kalo dari pihak bapak, kakek dan nenek udah meninggal. Sedih, soalnya rencananya 11 hari lagi kami baru akan pulang ke Indonesia. Sedih karena belum sempat ketemu lagi sejak menikah (dan waktu nikah nenek gak dateng, karena dilaksanakan di Medan). Nenek ini saya panggil Simbok (yang sebenarnya di Jawa artinya “Ibu”) dan Ibu saya panggil “Emak”. Kakek dari pihak Ibu saya panggil “Pak tuo”.

Dulu, waktu aku masih kecil, kehidupan kami sangat miskin. Bapak masih bekerja sebagai karyawan rendahan di Surabaya. Sementara kehidupan belum menetap, aku dan emak tinggal di rumah pak tuo dan simbok di Sukoharjo. Setelah mendapat pekerjaan di Bogor, emak ikut ke bogor, ikut kerja di kantin Pabrik kaca tempat bapak bekerja. Kami ngontrak di gubug plastik. Tapi karena emak sakit, bapak menyarankan agar aku dan emak kembali lagi ke rumah pak tuo dan simbok. Sampai aku berumur 6 tahun baru kami pindah lagi ke Bogor (sekarang daerah itu masuk ke wilayah depok, karena di perbatasan jakarta timur).
Continue reading “Nenek”

Belajar bersama YouTube

YouTubeAwal sampai di Chiang Mai, Joe pernah mengeluh karena walaupun sudah punya koneksi internet yang lebih baik dari pada Indonesia, tapi tidak bisa mengakses YouTube (tepatnya akses ke situs YouTube diblok oleh pemerintah Thailand karena ada video yang dianggap tidak pantas). Saya tidak pernah tahu sebelumnya apa sih YouTube itu, dan karena memang waktu di Bandung koneksi Internet kurang bisa diandalkan (walau udah langganan Quasar ataupun paket data Xplor) jadi heran dan bertanya : “emang ada apaan sih di YouTube? kayak kurang banyak yang bisa dilihat di Internet, masih pake ngeluh ga bisa buka YouTube.” Dan sekarang, saya tahu ada apa di YouTube, ada banyak hal yang bisa dilihat mulai dari yang ga ada gunanya, boong-boongan ataupun yang bisa dipakai untuk belajar sesuatu.

Lupa tepatnya kapan, tapi sejak YouTube sudah bisa diakses lagi di Thailand saya jadi ikut-ikutan Joe. Awalnya sih kurang kerjaan aja, melihat begitu banyak orang yang merasa jadi “artis” di YouTube. Banyak yang bikin film seri, video blog, bernyanyi dan berusaha terkenal, ataupun bikin eksperimen yang beneran sampai boongan. Ada yang berhasil jadi terkenal, sampai di wawancara di TV segala. Tapi dari semua “usaha” yang mereka lakukan, pasti banyak komentar yang negatif di banding yang positif.

Belakangan ini, sejak kembali merajut dan tidak punya guru secara langsung lagi, saya mencoba mencari ilmu merajut di YouTube. Sungguh heran, begitu banyak orang yang “rajin” untuk memposting setiap jenis tusukan yang ada. Video tutorial yang paling saya suka adalah yang to the point, tidak pake acara memperkenalkan diri dulu, lalu ketika giliran memperlihatkan cara merajutnya malahan tidak jelas. Lalu hari ini tanpa sengaja saya malah sampai ke video cara berdandan, dan cara melipat Origami. Ternyata YouTube bisa berguna juga. Jadi tambah semangat untuk merajut dan teringat dengan masa taman kanak-kanak dengan pekerjaan melipat Origami.

Mungkin saya “norak” karena baru “ngerti” YouTube . Tapi setidaknya saya tahu manfaat dari YouTube untuk mengembangkan hobi saya. Bukan sekedar menghabiskan waktu menonton video blog atau menonton video klip lagu-lagu (yang mungkin saja bajakan). Ah senangnya menemukan begitu banyak orang yang mau membagikan ilmunya di YouTube.

Oh ya, buat pemakai browser firefox, jika ingin bisa melihat video dari YouTube secara offline, bisa mengunakan add-on firefox yang bernama Fast Video Download . Video yang di download bisa di play dengan ataupun FLV Player seperti Wimpy.