Pengalaman Dengan Open source

Saya melihat saat ini mulai banyak orang Indonesia, termasuk yang levelnya awam mulai menggunakan Linux. Tapi saya lihat juga masih banyak orang dan mahasiswa yang masih sangat berfokus ke produk Microsoft atau entitas komersial lainnya. Mungkin salah satu alasannya adalah lebih mudah mencari uang dari produk-produk komersial tersebut. Sebagai orang yang lama memakai produk open source, dan terlibat di dalamnya, saya mau cerita sedikit mengenai pengalaman saya dengan open source.

Mungkin produk open source pertama yang saya pakai dengan penuh kesadaran adalah Linux, ketika mulai masuk Informatika ITB. Karena cukup mendalami Linux, saya akhirnya dijadikan administrator jaringan di IF ITB, dan itu membuat saya semakin tertarik untuk menggunakan produk open source. Saya juga menjadi asisten di beberapa mata kuliah, jadi kombinasi sebagai asisten dan sebagai administrator membuat saya ingin menggunakan produk open source di semua mata kuliah. Saya mulai mengganti semua compiler/interpreter yang dipakai menggunakan versi open source (sekitar tahun 2000).

Turbo C/C++ digantikan dengan gcc, Turbo Pascal dengan free pascal, Turbo Prolog dengan gprolog, Microsoft Fortran dengan gfortran, dan untuk Lisp kami memakai Clisp. Waktu itu masih cukup banyak hal yang sulit dilakukan, atau dokumentasinya kurang. Catatan: saya tidak menjadi asisten semua mata kuliah, jadi sebagian proses migrasi ini dikerjakan bersama rekan asisten yang lain dan bersama dengan dosen-dosen pengajar mata kuliah.

Beberapa kesulitan yang saya ingat akan saya ceritakan di sini. Dulu orang akan banyak menggunakan unit “crt” di pascal, atau “conio.h” di C, padahal itu tidak portabel. Fitur gprolog juga berbeda dari Turbo Prolog (misalnya di diktat ada topik mengenai predicate NOT yang tidak ada di gprolog), jadi saya perlu berdiskusi dengan dosen dan asisten lain (dan waktu itu Google belum mengindeks sebanyak sekarang ini). Pemrograman grafik juga memiliki masalah, karena dulu belum ada satu library grafik yang mudah dan dianggap “standar” (catatan: dulu komputer lab masih 486 memori 8 mb dengan X Window yang super lambat). Saya juga pernah menuliskan petunjuk untuk interfacing gprolog dengan Delphi.

Aneka pengalaman dengan open source tersebut membuat saya dipercaya untuk mengikuti Asia Open Source Symposium tiga kali (di Singapore, Vietnam, dan Taipei), serta ikut menjadi panitia code fest untuk Asia Open Source Symposium di Bali.

Pengetahuan mengenai produk-produk open source juga membantu saya dalam Tugas akhir S1 dan Tesis S2. Selain itu ketika mengerjakan aneka proyek, saya juga tahu produk open source mana yang bisa digunakan untuk mempercepat pengembangan. Saya juga pernah membantu migrasi perusahaan yang memakai produk DOS ke Linux (menggunakan DosEmu di Linux).

Mengenai pengalaman terakhir itu, ada hal yang menarik yang saya ketahui: banyak perusahaan masih menggunakan aplikasi DOS atau Windows yang sangat sederhana (bisa dijalankan di DosEmu/Qemu+FreeDOS/Wine). Mereka tidak ingin berubah, dan memang tidak perlu berubah, karena semua masih berjalan lancar.  Namun kadang ada pihak-pihak yang ingin mendapatkan keuntungan dengan mempertanyakan lisensi yang dimiliki oleh perusahaan. Akhirnya daripada repot, sebagian dari mereka memilih berpindah ke Linux.

Saat ini banyak produk open source yang sudah matang, dan siap digunakan dengan mudah (tidak seperti 10 tahun yang lalu). Saat ini juga ada lebih banyak kesempatan untuk menghasilkan uang dari open source.

Tapi mungkin yang paling penting adalah cara berpikir yang terbuka. Jadi kalau bisa belajarlah produk komersial dan open source, dan jangan terjebak pada iklan-iklan atau janji-janji dari perusahaan tertentu. Jika Anda pernah hidup di tahun 80-90an, atau punya teman yang pernah hidup di zaman itu, coba tanyakan, apakah dulu orang-orang berpikir bahwa WordStar, Lotus, DBase atau FoxPro akan dengan cepat digantikan? Jika Anda belajar Perl di akhir tahun 90an, Anda juga mungkin berpikir bahwa Perl akan terus banyak dipakai (namun kenyataannya dalam pemrograman web, PHP dkk lebih banyak dipakai).

1 thought on “Pengalaman Dengan Open source”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *