Tutorial membuat interpreter/compiler

Rasanya banyak sekali orang yang ingin bisa membuat interpreter dan/atau compiler. Sejak setahun yang lalu saya sudah berniat menuliskan artikelnya, tapi selalu terdistract hal yang lain. Nah kemarin saya sempat membereskan tulisan yang belum selesai itu, sudah ada 5 bagian. Ternyata agak sulit menuliskan penulisan compiler dalam format tutorial, karena saya harus berusaha menjelaskan isi program bagian demi bagian.

Tutorial ini semoga bisa berguna untuk Anda yang ingin membuat bahasa pemrograman baru, baik yang general purpose, maupun yang domain specific.

Untuk Anda yang berminat membaca, silahkan kunjungi http://yohan.es/compiler/. Kritik, saran, dan komentarnya ditunggu.

Nusa jadi Nusaptel

Sudah lama saya tidak mendengar kabar bahasa pemrograman Nusa. Ternyata sekarang namanya berubah (lagi) menjadi Nusaptel. Dulu di awal namanya adalah batak, lalu berubah menjadi nusa, dan sekarang menjadi nusaptel.Saya juga tidak tahu kenapa namanya berubah, atau apa arti akhiran ptel itu. Satu hal yang jelas: bahasa ini katanya mulai diajarkan di training/tutorial di berbagai universitas (kalau tidak salah di antaranya adalah ITS, UKSW, dan Amikom). Training diberikan ke dosen, dan bukan ke mahasiswa. Saya pun tidak tahu versi compiler mana yang diberikan di training tersebut, karena menurut rekan yang ikut milis nusa, belum ada compiler baru yang dirilis.

Kegiatan ini rupanya didukung oleh Depkominfo. Bahkan ternyata ada lelang pengadaan library untuk nusaptel senilai 280 juta rupiah. Kalau dilihat dari jadwal di situs Sistem e-Pengadaan Pemerintah, proyek ini seharusnya sudah berjalan.

Saya sendiri masih agak heran dengan dukungan Depkominfo ini. Apakah boleh seseorang membuat produk (dalam hal ini compiler Nusaptel), lalu minta bantuan pemerintah untuk mempromosikan dan bahkan mendanai untuk membuat librarynya? perlu dicatat Nusaptel ini tidak open source, bahkan tidak tersedia gratis secara umum, perancang bahasanya pun terang-terangan menyatakan bahwa bahasa ini nantinya akan komersial. Untuk mendownload compiler nusa saja, kita harus mendaftar jadi anggota milis (perlu mendapat persetujuan moderator dan bisa ditendang keluar jika membuat kritik, seperti yang terjadi pada saya). Sampai saat ini pun belum ada sama sekali paper baik nasional maupun internasional yang ditulis mengenai bahasa Nusa, jadi produk ini merupakan produk proprietary.

Dalam salah satu komunikasi dinyatakan bahwa lambatnya perkembangan bahasa nusa adalah karena tidak tersedianya dana. Jika itu benar, semoga dana yang diterima untuk pengembangan nusa tersebut bisa dimanfaatkan. Seharusnya 280 juta (yg sekarang setara dengan 27 ribu USD) itu cukup, sesuai dengan kutipan dari situs ini:

“Ridho bercerita pernah mencoba menyerahkan pembuatan translator ke pihak peneliti di AS. “Tapi biayanya mahal sekali berkisar US$10.000 – US$ 30.000 tergantung tipe translator yang diinginkan, apakah mau yang sederhana atau sampai yang mendukung GUI (Graphical User Interface-red). Saya tidak punya uang sebanyak itu,” paparnya.”

Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan bahasa ini, apakah benar bisa menjadi bahasa yang besar dengan adanya dukungan pemerintah. Atau justru hal ini akan membuktikan bahwa bahasa tersebut belum layak untuk dikembangkan.

Pertanyaan yang sulit dijawab

Hidup ini tak selalu mulus, ada saja masalah yang kita hadapi. Terkadang menghadapi masalah jauh lebih mudah daripada menghadapi manusia lainnya. Ya namanya manusia punya cara berpikir masing-masing, kadang-kadang kita tidak tahu apa yang mereka pikirkan ketika mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sulit (bahkan lebih sulit dari ujian di sekolah ataupun masuk perguruan tinggi).

Mungkin ada orang yang hidupnya mulus sejak awal. Sekolah di sekolah terbaik, menemukan pasangan terbaik, menikah di usia seharusnya, memiliki anak yang lucu2 dan pintar2 dengan jumlah terbaik, mengawinkan anak pada waktunya, memiliki cucu dan cicit di masa hidupnya dan diapun mungkin berasal dari orangtua yang hidupnya sempurna. Akan tetapi, dari sekian banyak orang yang saya kenal, tidak ada yang saya tahu hidupnya sesempurna itu, ada saja di satu titik tertentu mereka mengeluh karena berhadapan dengan pertanyaan yang hanya Tuhan yang tahu jawabannya. Lantas kenapa masih banyak orang yang suka bertanya dengan pertanyaan sulit itu kalau mereka sendiri berada di posisi itu mungkin belum tentu suka ditanya begitu. Continue reading “Pertanyaan yang sulit dijawab”

Dunia Nyata dan Dunia Maya

Beberapa hari yang lalu saya dikejutkan dengan berita seorang ibu rumahtangga di penjara karena mengeluh melalui e-mail yang kemudian ternyata di kirimkan ke suara pemabaca oleh orang ke -N yang menerima e-mail tersebut. Hari ini saya membaca berita yang serupa tapi tak sama, orang yang dituntut karena mengirimkan komplain ke sebuah media massa. Saya jadi bertanya-tanya, masih bolehkah kita mengeluarkan komplain?

Continue reading “Dunia Nyata dan Dunia Maya”