Pelajaran selama di Medan

Beberapa hari ini saya dan suami pulang kampung karena bapak saya sakit. “Sakit apa?” itu pertanyaan yg paling sering ditanyakan, tapi saya ga bisa kasih jawaban tepat selain komplikasi. Bahkan dokter ahli yang menangani sudah ikut bingung.

Ada beberapa dokter ahli yang turun tangan, mulai dari ahli paru, ahli jantung, ahli pencernaan, ahli bagian dalam dan ahli urologi dan ahli bedah juga. Semua dokter ahli tersebut bukan baru lulus kemaren, tapi sudah menangani banyak pasien sebelumnya, toh mereka bingung memberikan diagnosa yang tepat untuk penyakit bapak. Kalau dokter sudah bingung apa yang bisa dilakukan selain berharap dan berdoa supaya pengobatan apapun itu merupakan yang terbaik?

Kadang ditengah kebingungan, rasanya pengen protes atau ngomel, terus Joe bilang: inilah contoh dimana kita berharap orang lain melakukan yang terbaik di bidang pekerjaannya, sementara kebanyakan kita sendiri sering tidak sungguh2 melakukan pekerjaan kita. Pelajaran pertama buat saya, membuat saya malu hati dan bertnya pada diri sendiri: sudahkah yg terbaik kulakukan dalam tiap hal?

Keanehan berikutnya di rumah sakit ini sepertinya gak ada koordinasi antara dokter dan dapur dan mungkin ga pake konsultasi dengan ahli gizi. Bayangkan saja, orang sakit pencernaan diberi makanan keras (Roti, nasi biasa dsb) padahal bubur saring aja blum tentu bisa dimakan. Hmmh… Ya harus kreatif akhirnya nyari makan sendiri.

Pelajaran kedua soal membagi berkat. Saya merasa berkat Tuhan sangat melimpah buat kita semua. Kami bisa mengunjungi bapak dan ikut membantu mama juga karena berkat dari Tuhan. Tetapi tetap saja saya masih meminta berkat berupa kesmbuhan bapak. Karena di Medan saya naik becak seringkali saya tawar menawar dan kadang saya terlalu pelit. Joe bilang: kita dikasih berkat udah banyak dan masih minta kesembuhan, tapi kita ga mau berbagi berkat sedikit saja ke tukang becak. Ah sekali lagi saya jadi malu hati. Memang kadang2 kita perlu diingatkan ketika kita mengalami kesusahan, supaya pelajaran seperti ini tetap diingat sepanjang hidup.

Anyway, hari ini Joe pulang ke chiang mai, saya tetep tinggal sementara sampe bapak membaik. Rencana operasi juga masih ga tau kapan. Saya hanya bisa berdoa dan berharap Tuhan sembuhkan bapak dan masih ada yang tetap mengingatkan saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *