Jejaring Sosial dan Jualan

Entah siapa yang memulai tapi sepertinya jejaring sosial sekarang ini penuh dengan dagangan. Sebenarnya pada masa orang mulai jualan di MP saya ga pernah merasa keberatan, malahan sering nongkrongin dan merasa mudah untuk meninggalkan pesan dan pertanyaan di sana. Akan tetapi ketika tukang jualan mulai bergeser ke facebook dan dengan rajinnya suka nge’tag’in foto-foto jualannya ke foto2 saya ataupun teman-teman saya, rasanya kok jadi terganggu ya.

Saya sering upload hasil karya (bukan jualan di facebook) dan saya juga sering promosi untuk toko online saya, tapi rasanya jualannya tetep aja di luar facebook. Memang sih sering kali tiap upload hasil karya banyak yang akan berkomentar maupun meminta (entah kalau saya kasih tag harga bakal mo beli atau ga :p)

Mungkin begitu kali ya awalnya orang-orang yang cuma mau jadiin situs pertemanan jadi ruang pamer terus dimintain akhirnya kasih tag harga terus lama-lama jadi deh jualan di situs pertemanana. Daan akhirnya teman = target jualan (kok rasanya kayak MLM aja ya).

Anyway, setelah multiply skrg facebook diserbu tukang jualan, abis ini apa lagi ya…

Siapa bilang Windows itu gampang?

Menurut saya Windows itu sulit dan merepotkan. Sebelum ada yang menuduh saya fanatik Linux/OS X, saya mau cerita dulu bahwa saya pemakai Windows dari sejak Windows 3.1. Saya juga bukan sekedar pemakai, tapi sudah mendevelop beberapa aplikasi Windows, dan bahkan pernah memprogram device driver. Windows Mobile dan Windows CE pun pernah saya pakai (mendevelop aplikasi set top box). Saya juga pernah menjadi admin beberapa puluh komputer dengan OS Windows (jadi saya tahu scripting di Windows  juga).

Hari ini, setelah sekian lama, saya menginstall Windows 7. Dan sekarang saya teringat lagi betapa banyak hal yang mengesalkan dari sejak mulai instalasi. Ada beberapa driver tambahan yang selalu harus didownload dan diinstall. Setelah instalasi selesai, saya juga tidak bisa melakukan apa-apa.

Saya perlu menginstall banyak program untuk bisa mulai produktif. Mulai dari aplikasi kecil seperti browser yang lebih baik (Chrome, Firefox atau Opera), download manager (Free Download Manager), lalu aplikasi untuk koneksi ke server (Winscp dan Putty). Kemudian perlu 7-zip untuk membuka aneka macam arsip. Untuk memutar video perlu menginstall mplayer dan VLC. Untuk berkomunikasi saya perlu pidgin (plus bonjour agar gampang chat di jaringan lokal).

Continue reading “Siapa bilang Windows itu gampang?”

Rajinlah Belajar

Sebenarnya tulisan ini sudah lama ditulis, tapi baru ingat menerbitkannya setelah membaca komik ini:http://www.collegehumor.com/article:1792887. Komik itu seperti menyatakan bahwa “kuliah gak kuliah ya kerjanya cuma begitu aja”. Komik itu memang cuma bercanda, tapi itu menyatakan pandangan banyak orang: ngapain sih susah-susah sekolah kalo nggak dapet kerja (atau kerjanya bisa didapatkan tanpa kuliah).

Ada ratusan ribu sarjana di Indonesia ini yang jadi pengangguran. Saya yakin cukup banyak sarjana ini yang pintar dan rajin, tapi saya juga yakin, banyak di antara mereka yang mungkin memang tidak layak mendapatkan pekerjaan. Posting ini terutama dimaksudkan untuk para pelajar dan mahasiswa yang masih sekolah, yang belum menjadi sarjana. Ini hanya bahan pemikiran saja, supaya Anda mau lebih rajin.

Saya pernah jadi mahasiswa, saya pernah mengajar di beberapa perguruan tinggi swasta, saya pernah mengunjungi beberapa perguruan tinggi negeri selain kampus saya ITB. Saya sering merasa heran melihat para mahasiswa yang sangat malas, namun berharap mendapatkan nilai tinggi, dan berharap bisa segera lulus dan mendapatkan pekerjaan. Sementara itu yang dilakukan ketika kuliah adalah:

  1. membeli puluhan buku mahal yang tidak dibaca.
  2. berusaha untuk tidak mengerjakan tugas apapun. Banyak yang dilakukan, mulai dari mencontek, meminta tolong pacar/teman, mengambil sumber dari internet dan tanpa menyebutkan sumbernya (yang parah adalah sumber dari Internet berbahasa Inggris yang diterjemahkan dengan TRANSTOOL!!), membayar orang lain untuk mengerjakan.
  3. Mengikuti aneka kegiatan tidak penting di luar kampus, shopping, nonton konser, jalan-jalan. Tapi tidak pernah mau datang ke seminar dan workshop.
  4. Meminta orang lain mengerjakan tugas akhir (baik keseluruhan atau bagian yang sulit), atau membeli tugas akhir yang sudah jadi

Continue reading “Rajinlah Belajar”

Kenangan Masa SMU

Posting ini tidak akan membahas banyak hal waktu sama masih SMU. Posting akan membahas kisah cinta saya, cinta pada programming. Saya belajar komputer kali pertama kelas 2 SMP, tahun 1994. Waktu itu saya ikut kursus DOS, Wordstar dan Lotus 123. Nama tempat kursus saya waktu itu adalah Linggar jati, di dekat pertigaan jalan raya bogor ke arah Cibubur. Dari segi komputer dan pengajar, tempat itu sangat biasa, yang luar biasa adalah: semua siswa boleh belajar di luar jam kursus, dan bahkan jika ada kursus lain pun boleh menggunakan komputer yang di belakang (jika tidak dipakai), asalkan tidak menganggu yang lain.

Di situlah saya belajar sendiri memprogram dalam bahasa BASIC. Buku pegangan saya cuma buku panduan ujian bahasa BASIC. Bukunya tidak punya teori, cuma soal pilihan ganda dan kunci jawaban saja. Ternyata buku semacam itu mudah untuk dipelajari, misalnya ada pertanyaan “Fungsi LEFT$ berguna untuk?”, lalu saya cari jawabannya, misalnya “mengambil N karakter terkiri”, nah dari situ saya tahu apa gunanya fungsi LEFT$. Setahun kemudian ayah saya membelikan Apple II/e (komputer tua yang dibeli karena bapak saya tidak mengerti soal komputer, dan kebetulan ada yang menjual murah). Saya banyak memprogram BASIC di komputer itu, tapi sayang dalam beberapa bulan komputernya mulai rusak, dan saya tidak punya lagi arsip program-program lama saya.

Tanggal 10 Januari 1997, kelas 2 SMU saya dibelikan PC pertama saya: Pentium 120 Mhz, Ram 16 Mb, harddisk 1 GB. Itulah dimulainya petualangan memprogram. Hari ini saya menemukan beberapa program yang saya buat waktu itu. Melihat program-program tersebut, aneka hal muncul di pikiran saya:

  1. Melihat sebagian program, saya berpikir: wah kok saya dulu goblok banget ya, kan ini mestinya bisa begini
  2. Melihat sebagian program lain saya berpikir: wah hebat juga ya, dulu saya bisa ngerti ini, padahal cuma belajar sendiri
  3. Wah kok dulu kepikiran ya bikin program ini
  4. Ngapain coba bikin program ini, gak ada gunanya
  5. Wah ternyata dulu saya fans Sailor Moon

Continue reading “Kenangan Masa SMU”

Cerita Gadget (4): Portable Audio/MP3 Player

Gadget pertama yang saya miliki yang bisa memutar MP3 adalah Siemens SL45i, ponsel pertama dengan memory card dan MP3 player. Waktu membeli itu, memori yang diberikan hanya 32Mb, dan dengan mengencode dengan bitrate rendah, saya bisa memasukkan sekitar 20 lagu. Setelah itu saya sudah mencoba dan masih menggunakan beberapa device lain untuk memainkan audio. Beberapa yang sudah saya coba adalah iPod Nano (1st Generation), iPod Touch (2nd Generation), beberapa PDA (iPAQ 1940, Thera AudioVox, Palm Tungsten E), Aneka ponsel (Nokia 3650, E61, 5800, 9300, dll), serta beberapa MP3 player selain iPod (Netac A100, Apacer).

Siemens SL45

Saya sendiri bukan Audiophile, jadi saya tidak terlalu mempermasalahkan kualitas suara, asalkan tidak ada noise yang terasa. Selain untuk mendengarkan musik, saya kadang juga mendengarkan audiobook (tapi tetap lebih suka membaca dibanding mendengar).

Inilah catatan mengenai audio player berdasarkan pengalaman:

  1. Ternyata saya tidak terlalu suka mendengarkan banyak lagu, jadi MP3 player berkapasitas besar kurang berguna bagi saya. Sebagian MP3 player bisa digunakan untuk memutar video atau menyimpan data (sebagai USB disk). Jadi kadang kapasitas yang besar juga tidak apa-apa dimiliki, karena bisa digunakan untuk tujuan lain
  2. Sekarang waktu untuk mendengarkan audio bagi saya tidak banyak. Ketika bekerja, lebih enak sunyi, selain itu lebih banyak waktu digunakan untuk ngobrol dengan Risna. Dalam kasus saya, lebih enak membiarkan lagu di harddisk rumah untuk diputar melaui speaker.
  3. Faktor penting dalam memilih audio player adalah navigasinya. Dalam hal ini iPod memang sangat nyaman digunakan, memilih lagu bisa dilakukan sangat cepat.
  4. Untuk mendengarkan Audiobook, iPod sangat nyaman. Beberapa hal yang membuat nyaman adalah: bisa mengingat posisi terakhir kita mendengarkan, mudah melakukan seek ke posisi tertentu, bisa mundur 30 detik dengan cepat (iPod touch), bisa mempercepat dan memperlambat suara. Fitur memperlambat suara berguna jika ada pembicaraan terlalu cepat, sedangkan mempercepat suara bisa digunakan agar cepat selesai (awalnya memang sulit, tapi setelah terbiasa, rasanya mudah).
  5. Untuk PDA atau ponsel tertentu, biasanya ada software khusus untuk membaca audiobook (dengan fitur-fitur yang saya sebutkan).
  6. Audiobook bisa membantu dalam membaca. Misalnya Risna tadinya bermalasan menyelesaikan buku Harry Potter, tapi dengan membaca sambil mendengarkan ebook, dia bisa menyelesaikan harry poter dalam waktu singkat
  7. Teorinya jika Anda olahraga sendiri, memakai MP3 player akan bisa menambah semangat, tapi ternyata saya nggak suka olah raga sendiri 😀
  8. Jika sering mendengarkan musik, device khusus akan lebih nyaman dipakai, dibanding menggunakan ponsel, karena batere ponsel akan lebih cepat habis

Cerita Gadget (3): Headset Bluetooth

Teknologi bluetooth adalah teknologi untuk komunikasi, ada banyak implementasinya, dari mulai komunikasi antar ponsel, komunikasi ponsel/komputer dengan headset (headset bluetooth), komunikasi ponsel dengan komputer (misalnya sebagai modem), komunikasi mouse/keyboard dengan komputer/PDA, dan sebagainya. Sekarang saya hanya ingin membahas headset bluetooth saja.

Kami pernah membeli dua jenis headset bluetooth, yang pertama adalah headset stereo, dan yang kedua mono. Ketika apartemen yang kami tinggali masih sangat kecil, saya merasa terganggu memprogram jika istri saya memutar film di TV (yang diputar via PC). Salah satu solusi adalah membuat konektor yang panjang sekali ke tempat istri saya duduk, tapi solusi yang kami pilih adalah memakai headset bluetooth stereo untuk mendengarkan suara dari film.

Headset bluetooth juga sangat berguna ketika mengemudi. Dengan ponsel yang bisa mendial dengan suara, kita cukup menekan sebuah tombol untuk menelepon atau menerima telepon, sangat praktis dan aman. Headset bluetooth stereo enak digunakan untuk mendengarkan musik, tapi terlalu besar untuk dibawa-bawa. Headset mono lebih praktis dan mudah dibawa ke mana-mana. Masalah dengan headset bluetooth dibandingkan dengan versi kabel adalah bahwa Anda harus ingat untuk mencharge baterenya.

Catatan/Tips: Jika ingin membeli headset untuk mendengarkan musik, pilihlah yang memiliki profile A2DP, tanpa itu suara tidak akan stereo, dan kualitasnya rendah.

Cerita Gadget (2): Kamera Digital

Waktu pertama ingin pergi ke Singapore untuk Asia Open Source Symposium, saya meminjam kamera salah satu rekan kerja. Sejak itu saya ingin sekali punya kamera, karena akan sangat berguna untuk mengabadikan saat-saat berharga seperti itu (kali pertama keluar negeri, kali pertama berbicara di simposium, dsb). Sejauh ini kamera yang saya miliki/pernah miliki adalah kamera yang ada di aneka Handphone dan PDA, serta kamera digital Casio Exilim S2, Canon Powershot A400, Casio EX-Z75, dan Canon EOS D1000.

Pengalaman saya menunjukkan bahwa kamera HP berguna untuk menangkap momen ketika tidak ada kamera digital. Dibandingkan dengan kamera digital yang murah sekalipun, kamera HP masih memiliki banyak kekurangan. Kebanyakan kamera tidak memiliki optical zoom, gambar yang didapat kurang bagus di pencahayaan rendah (dan hasilnya kurang bagus dengan flash). Pada HP yang memiliki sistem operasi (Symbian, Windows Mobile) Kelemahan lainnya adalah biasanya lama sekali untuk memulai program kamera. Ada beberapa kamera di HP yang hasilnya bagus, dan bisa cepat digunakan, jadi Anda harus mengecek dulu supaya yakin (tapi pada umumnya kamera di HP memiliki kelemahan yang saya sebutkan). Sebagian HP juga memiliki bunyi yang tidak bisa dimatikan ketika kita mengambil gambar.

Meski gambarnya kurang bagus, kamera ponsel berguna untuk mencatat. Banyak yang bisa dicatat, dari mulai harga di supermarket, sampai barang apa saja yang masuk koper. Dengan software semacam evernote, kita bisa mengubah catatan menjadi bentuk yang bisa disearch. Dengan maraknya facebook, kamera di HP sangat berguna untuk menangkap momen dan mengirimkannya ke facebook, twitter atau yang lain.

Berdasarkan pengalaman:

  1. Punya kamera digital itu perlu. Dulu waktu jalan-jalan kali pertama dengan Risna ke Singapore, dokumentasinya cuma sedikit (dengan kamera Nokia 3650 yang terbatas).
  2. Kalau nggak punya hobi fotografi, ternyata beli DSLR itu nggak terlalu perlu. Tapi untungnya DSLR yang saya miliki sangat berguna untuk memfoto aneka motherboard PCB dengan resolusi tinggi.
  3. Jika punya kamera saku, sebaiknya yang benar-benar masuk saku. Jika terlalu besar, biasanya jadi malas membawanya.
  4. Sebagian kamera digital bisa diakses sebagai USB disk, praktis jika lupa membawa USB Disk. Sangat berguna juga sebagai card reader untuk mengakses media card (SD/MMC atau yg lain).Sebaiknya cari yang memakai kabel data mini USB, sehingga jika lupa, mudah mencari pinjaman.
  5. Jika jarang memakai kamera digital, sebaiknya membeli yang memakai batere AA/AAA, jadi jika tiba-tiba butuh, tidak perlu repot-repot charge, cukup beli batere baru
  6. Saya suka kamera digital yang memiliki fitur panorama, jadi bisa membantu menangkap pemandangan yang luas dengan menyambung beberapa jepretan