There is no knowledge that is not power

There is no knowledge that is not power” adalah kutipan dari Ralph Waldo Emerson, tapi saya mengenal kutipan itu dari memainkan game Mortal Kombat 3 (dan waktu itu saya tidak tahu siapa yang mengatakannya).

Ada banyak yang bertanya waktu di sekolah: kenapa sih saya perlu belajar ini? kapan saya akan butuh menggunakan kalkulus dalam kehidupan sehari-hari? Kenapa saya perlu tahu pemberontakan APRA? (Angkatan Perang Ratu Adil) di pelajaran sejarah, kenapa saya perlu belajar geografi, akuntasi, dsb?

Beberapa orang memang tidak perlu ilmu-ilmu tersebut, dan tidak akan pernah menggunakannya. Saya sendiri sering kaget karena ilmu yang saya pelajari dulu ternyata berguna, dan kadang menyesal kurang memperhatikan beberapa pelajaran yang dulu saya ambil.

Karena bidang saya adalah komputer, dunia matematika masih sangat dekat dengan pekerjaan saya sehari-hari. Saya bekerja di perusahaan yang memakai bahasa Inggris, jadi pelajaran bahasa Inggris sangat berguna bagi saya. Di kota ini saya pernah diminta menerjemahkan teks bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, jadi bahkan pelajaran bahasa Indonesia masih terpakai sampai di sini.

Saya pernah bercakap-cakap dengan professor yang bercerita tentang kehidupan ibunya di perang dunia pertama. Dia menanyakan apakah saya tahu latar belakang perang dunia pertama pada saya. Beberapa saat sebelumnya saya membaca artikel di Cracked.com mengenai Franz Ferdinand yang kebetulan terbunuh dan memulai perang dunia pertama. Biasanya ketika membaca artikel semacam itu, saya confirm ke wikipedia, jadi saya tahu mengenai perang dunia pertama.

Pernah juga saya bertemu misionaris yang bertanya mengenai sejarah perkembangan kekristenan di Indonesia. Siapa yang pertama kali mengabarkan Injil ke Indonesia? bagaimana penyebarannya saat ini, berapa persen jumlah orang Kristen saat ini di Indonesia? Saya tentunya tidak hapal semuanya, tapi itu membuat saya jadi membaca lagi sejarah kekristenan di Indonesia.

Hari ini saya bertemu seorang Australia yang usianya sudah cukup lanjut, dan bercanda dengan seorang Belanda. Dia mengatakan orang Belanda itu kejam, ketika diminta contohnya, dia menyebutkan Raymond Westerling dan pemberontakannya di Indonesia. Sebagai orang Indonesia di situ, saya ditanya apakah saya tahu mengenai Westerling. Saya tentunya ingat itu ada di buku sejarah, dan saya ingat sedikit mengenai tingkahnya di Sulawesi, dan usaha pemberontakannya.

Dulu sebelum pernah pergi ke luar negeri, saya kurang peduli dengan berbagai macam aturan hukum di Indonesia. Saya kurang mengingat batas-batas negara, dan kondisi negara-negara di Asia Tenggara (semuanya di pelajaran geografi). Sekarang saya lebih memperhatikan masalah geografi.

Sebelum Jonathan lahir, saya kurang memperhatikan ilmu biologi. Sekarang saya membaca berbagai jenis vaksin, berbagai jenis penyakit anak, perkembangan anak yang normal, dsb. Soal makanan juga lebih saya perhatikan, supaya tahu apakah asupan gizi Jonathan sudah cukup.

Sebagian hal lain yang saya pelajari dulu, misalnya pancasila, belum terpakai oleh saya sampai sekarang. Tapi ketika saya membaca mailing list, melihat beberapa lulusan ITB yang dekat dengan bidang politik, pengetahuan itu sepertinya berguna bagi mereka.

Beberapa pengetahuan (misalnya mengenai astronomi dan fisika) kurang saya pakai secara praktis, tapi membantu saya menikmati berbagai film dan buku science fiction yang saya baca Walau kadang-kadang pengetahuan yang saya miliki membuat saya kesel kalau saya tahu sesuatu itu mustahil tapi dideskripsikan seolah-olah merupakan hal yang mungkin.

Saya bisa menyatakan bahwa: semua pengetahuan itu berguna, tapi mungkin tidak untuk semua orang. Memang susah membuat batasan: apa saja yang perlu diajarkan ke semua orang, apa saja yang tidak perlu. Kita bisa menyatakan: buat apa belajar geografi luar negeri, kebanyakan orang kan tidak akan pergi ke luar negeri? Buat apa belajar kalkulus (atau topik matematika lanjut lainnya), kan tidak dibutuhkan kalau cuma ingin jadi penyanyi atau pedagang di pasar? Buat apa ada pelajaran seni rupa (berapa banyak sih yang akan jadi pelukis/pemahat, dsb?)

Lalu ada masalah: sampai level mana sesuatu perlu diajarkan. Matematika dasar diperlukan semua orang (bahkan oleh penjaga warung sekalipun), tapi bagaimana dengan level matematika yang dibutuhkan oleh ekonom, fisikawan, ahli kimia, ahli biologi, engineer, dsb, apakah perlu diajarkan.  Bagaimana dengan topik yang orang-orang mungkin tidak tahu bahwa mereka akan memerlukannya, misalnya perhitungan jika kita mengambil asuransi atau investasi tertentu.

Masalah berikutnya adalah: kita tidak tahu masa depan. Apakah dulu seharusnya kita mengajarkan komputer sejak tahun 1995? waktu itu komputer dan Internet masih mahal, tapi sekarang jika kita tidak bisa mengoperasikan komputer dan Internet, kita sudah seperti orang yang buta huruf. Bagaimana dengan topik-topik sekarang yang tampaknya sangat baru, tapi akan sangat terpakai di masa depan, apakah perlu diajarkan sekarang atau tidak?

Jadi kita punya dua opsi: mengajarkan banyak hal, tapi banyak yang tidak terlalu terpakai, atau mengajarkan sangat sedikit, sehingga jika kita ingin memiliki profesi apapun, kita perlu belajar tambahan. Lalu pertanyaan lainnya: jika kita mengajarkan sangat sedikit, sisa waktu di masa belajar perlu diisi dengan kegiatan/pelajaran apa?

Beberapa profesi membutuhkan banyak ilmu sebagai latar belakang: ingin jadi dokter? minimal perlu tahu ilmu biologi, matematika (ada banyak hitungan juga, mengenai dosis, dsb), kimia (berbagai reaksi kimia dalam tubuh, dan juga reaksi obat). Itupun masih belum ke bagian spesialisasinya, misalnya perlu tahu mengenai ilmu komputer/dasar algoritma untuk belajar bioinformatika.

Bahkan jika kita ingin jadi nelayan sekalipun (yang modern), kita perlu tahu mengenai geografi, mengenai fisika (mengenai angin, awan, sonar untuk radar ikan, radio komunikasi, dsb), mengenai biologi (setidaknya terbatas pada ilmu-ilmu seputar biologi ikan). Kecuali jika hanya ingin menjadi nelayan yang sangat kecil dengan jala dan perahu kecil.

Sebenarnya banyak isi kurikulum saat ini yang sudah bagus, tapi sayangnya pengajarannya kurang bagus (memakai buku yang jelek, gurunya tidak bisa mengajar, dsb), jadi banyak topik menjadi membosankan, dan orang-orang cuma berharap bisa cepet lulus pelajaran itu dan bisa melupakannya. Hal yang paling penting adalah: saat ini kebanyakan orang tidak tahu: mengapa mereka perlu belajar itu.

Sebagai orang tua, saya tidak akan bisa mengajarkan sendiri semua pelajaran pada anak saya, tapi saya berharap, supaya bisa menambahkan ilmu dari sekolah dengan pengalaman-pengalaman saya, dan memberikan dorongan supaya anak saya mau belajar dengan semangat, dan bisa menikmati pelajarannya.

Saya juga berharap bisa menunjukkan hal-hal yang dulu tidak bisa saya akses, baik via Internet, maupun langsung, misalnya: dulu saya tidak terlalu peduli mengenai negara lain karena tidak pernah pergi ke luar negeri, tidak mengenal tanaman selain yang di dekat rumah karena tidak pernah pergi ke taman botani, dsb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *