Sega Pico

Di Chiang Mai ada beberapa toko yang menjual barang bekas dari Jepang. Barang-barangnya dijual 300 baht per kilogram. Kadang kami iseng ke sana, biasanya mencari mainan. Seminggu lalu ketika pergi ke sana ada satu benda yang menarik perhatian saya.

Isinya utamanya adalah keyboard ini, dan ada sesuatu yang seperti buku, dan seperti catridge. Segera saya Googling mengenai Sega Pico (dari covernya ada tulisan “Sega Toys” dan “Pico”). Ternyata ini adalah salah satu game untuk Sega Pico. Saya cek konektor keyboard ini adalah PS/2 biasa, jadi tanpa consolenya pun pasti bisa dipakai sebagai keyboard komputer. Kasus terbaik: keyboardnya punya mapping standar untuk alfabet inggrisnya, kasus terburuk tinggal bikin mapper dengan Teensy atau microcontroller lain.

Benda ini membuat saya penasaran: apakah ada console Sega Pico juga di toko ini. Setelah mencari-cari, ternyata ada, walau ternyata sangat berat,  sekitar 3kg. Untungnya pemilik tempat ini tidak strict dengan harganya, jadi banyak yang bisa ditawar.

Sebelum meneruskan ceritanya, saya beri cerita singkat mengenai console ini. Sega Pico adalah console keluaran Sega yang memakai prosessor yang sama dengan Sega Mega Drive. Console ini ditujukan untuk edukasi anak-anak umur 2-8 tahun. Console ini diluncurkan tahun 1993 di Jepang, dan kemudian di Amerika dan Eropa. Di Jepang console ini cukup sukses (terjual 3.4 juta console) dan baru dihentikan penjualannya tahun 2005. Di luar Jepang console ini kurang sukses dan sudah dihentikan tahun 1998. Secara singkat: kebanyakan game yang ada berbahasa Jepang, tapi ada juga game berbahasa Inggris.

Setelah sampai di rumah, saya mencoba console ini, ternyata “lucu” sekali. Di awal saya mencoba dengan TV kecil untuk mobil. Di bagian kanan atas adalah tempat catridge, yang juga sekaligus berbentuk sebuah buku yang halamannya bisa dibalik (6 halaman).

Untuk catridge tertentu (misalnya game mengetik ini), bisa ada konektor keluar. Bagian atas console ini bisa disentuh dengan pen, bagian bawahnya juga bisa dikendalikan dengan pen. Ada 5 tombol di kiri, satu tombol besar merah untuk memilih, dan 4 tombol yang biasanya berfungsi sebagai kontrol arah.

Saya bersyukur consolenya bisa berjalan, keyboardnya juga jalan. Di hari itu, game yang ada ya baru satu, game jepang untuk belajar mengetik. Adaptor yang diberikan memakai 100V, tapi untungnya saya sudah punya konverter supaya bisa memakai tegangan itu.

Jika kita membalik halaman buku di catridge-nya, maka gamenya bisa mendeteksi halamannya dibuka. Ini dimungkinkan karena tiap halaman akan membuka sensor cahaya yang ada di sebelah kanan atas console.

Berikut ini adalah contoh buku/catridge di halaman terakhir. Lihat 6 sensor berbentuk oval di kanan atas, setiap membuka 1 halaman, satu oval akan terbuka. Perhatikan juga di gambar ini ada berbagai warna di sebelah kanan, dan juga ada gambar pensil, penghapus, dsb di sebelah kiri. Halaman buku fisik yang sifatnya statik ini bisa dipilih menggunakan pen/stylus untuk memilih warna atau mode gambar.

Di sini saya baru menyadari adanya cacat di console yang saya beli ini. Ketika menggambar, stylus tidak dikenali di bagian bawah, jadi kita tidak bisa menggambar sampai bagian bawah. Ini jadi masalah untuk beberapa game yang menunya membutuhkan kita mengakses layar di bagian bawah.

Ketika Risna datang ke sana lagi bersama temannya, saya nitip dicarikan catridge Pico lagi kalau ada. Kali ini kami bisa mendapatkan satu catridge bahasa Inggris selain catridge lain berbahasa Jepang.

Dan Jonathan cukup suka memainkan ini

Ketika kami datang lagi ke toko barang bekas tersebut, kami mencari lagi console Pico lain, dan Risna menjelaskan masalah console sebelumnya dalam bahasa Thai. Akhirnya penjualnya memberikan console Pico tersebut seharga 100 baht saja. Setelah dicoba, console baru ini ternyata berjalan sempurna.

Sebagai catatan: meskipun sebagian besar game yang ada berbahasa Jepang, tapi kebanyakan bisa dimainkan karena tidak perlu membaca. Sebagian besar game memakai sistem numeral arab, jadi mudah dimengerti.

Sebenarnya apa sih tujuan beli console lawas seperti ini? Pertama console ini masih bisa dipakai dan dimainkan, walaupun mungkin tidak akan terlalu lama. Kedua: saya berencana mengoprek console ini, mulai dari membongkarnya untuk mempelajari cara kerjanya, dan siapa tau bisa membuat homebrew game sendiri (sejauh ini saya belum menemukan homebrew untuk console ini) atau mungkin memodifikasi catridge yang sudah ada supaya bisa diganti game lain yang berbahasa Inggris.

Bagi yang penasaran dengan game console ini, ada emulatornya yang bernama PicoDrive. Berbagai ROM untuk game ini juga bisa didownload di Internet. Emulatornya bisa mengemulasikan pergantian halaman, tapi tidak bisa mengemulasikan semua hardware ekstra yang ada di sebuah catridge.

Saya sangat bersyukur punya istri yang mendukung hobby saya, dan juga punya anak yang sangat mendukung dan tertarik dengan hal-hal yang saya lakukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *