Berbagai Alasan Memilih Homeschool

Dulu, kalau dengar misalnya artis ngaku-ngaku dia di-homeschool, saya mikirnya ah itu alesan aja tuh, paling bilang gitu biar ga ditanyain kenapa ga pernah ke sekolah. Ya, kalau diterjemahkan bebas homeschool itu sekolah di rumah, dan dulu saya belum banyak tahu kalau homeschool itu ada begitu banyak metode dan kurikulum yang tinggal dipilih sesuai dengan yang kita mau, dan homeschool itu bukan berarti anaknya terserah aja mau belajar atau nggak.

Homeschool itu anaknya tetap belajar seperti halnya anak yang dikirim ke sekolah, dan pada level tertentu bisa ikut ujian/test atau dievaluasi untuk mengetahui apakah anaknya memang pantas disebut di level yang sesuai dengan usianya. Tapi sebelum kami menjalani homeschooling, kamipun punya banyak pertimbangan dan pertanyaan yang bikin kami maju mundur.

Sejak Jonathan masih belum sekolah, kami sudah mulai sering bertemu dengan keluarga yang menghomeschool anaknya. Di Chiang Mai banyak komunitas homeschooling baik itu orang asing maupun orang Thailand. Di Indonesia saya juga mengenal teman yang memutuskan homeschool anaknya, dan setelah tau lebih banyak saya jadi kagum dengan orangtua yang komit menghomeschool anaknya.

 

Dari sejak Jonathan masih kecil, Joe dan saya sudah sepakat kalau suatu saat kami akan menghomeschool Jonathan. Kami tetap kirim Jonathan ke preschool sampai SD kelas 1 karena kami ingin dia punya kesempatan merasakan sekolah.

Banyak alasan orang menghomeschool anaknya, ada yang alasannya ga percaya dengan sistem sekolah (lihat video di atas), ada yang merasa di sekolah lebih banyak pengaruh buruk daripada baik, di Amerika sekarang ini semakin banyak orang memilih homeschooling karena banyaknya kasus penembakan massal di sekolah. Alasan lain juga misalnya karena mereka sering berpindah-pindah negara/kota karena pekerjaan,misalnya sebagai missionaris, ada juga karena tinggal di kota kecil yang tidak ada sekolah yang menurut mereka cocok untuk anaknya.

Beberapa orangtua pengen memberikan kesempatan untuk anak mengembangkan minat bakat tanpa membebani dengan pelajaran yang akhirnya cuma lewat doang. Harus diakui banyak pelajaran yang saya pelajari selama sekolah dulu tidak begitu terpakai dan banyak yang sudah lupa, andaikan butuh mengingat bisa digoogle juga sekarang ini. Alasan lain bisa juga karena faktor kesehatan anak, faktor anak kebutuhan khusus dan bisa juga masalah ekonomi. Atau seperti artis yang memang butuh waktu khusus untuk belajar karena jadwalnya tidak memungkinkan untuk belajar di sekolah biasa.

Apapun alasannya, sekarang ini homeschooling sudah menjadi satu pilihan untuk mendidik anak dan mempersiapkan mereka untuk bersaing di masa depan. Semua orangtua tentunya ingin yang terbaik untuk anak, baik itu dengan mengirimkan anak ke sekolah ataupun yang menghomeschool dengan metode yang paling tepat buat mereka. Alasan kami menghomeschool Jonathan sekarang ini sudah dituliskan Joe pada posting sebelumnya.

Seperti halnya tidak ada individu/anak yang sama dan tentunya cara belajar tiap anak juga berbeda-beda. Tidak ada satu metode yang bisa diseragamkan dalam homeschooling ini. Dengan homeschooling kita memberikan metode yang sesuai dengan cara anak belajar dan tidak seperti disekolah yang cenderung menyeragamkan banyak hal dengan berbagai standarisasi.

Kami sepakat kalau pendidikan anak itu tanggung jawab orangtua dan berasal dari rumah. Kecenderungan yang terjadi waktu kami kirim Jonathan ke sekolah adalah, kami kurang memberikan waktu untuk mengasses Jonathan dan kami pikir sekolah pasti akan memberi masukan yang sesuai dengan kondisi Jonathan. Saya jadi terlalu santai.

Sejak umur 6 tahun, Jonathan sudah mulai bisa membaca, dan saya pikir wah lumayan ga harus ajarin Jonathan membaca. Berbeda dengan kebanyakan orangtua yang resah karena anaknya belum bisa baca ketika masuk SD, saya tidak pernah kuatir kalaupun Jonathan terlambat membaca, karena Joe bilang dia baru lancar membaca kelas 2 SD. Kami bersyukur Jonathan ga mengalami kesulitan belajar membaca. Untuk pelajaran matematika, Jonathan juga tidak mengalami kesulitan, dia bisa dengan cepat mengerti konsep yang baru diajarkan.

Sejak Agustus 2017 di masa bridging semester, kami memutuskan untuk menghomeschool Jonathan. Awalnya karena dia sakit dan kami minta beberapa pekerjaan dari sekolah untuk dikerjakan di rumah. Kami lihat kalau dia bisa mengerjakan dengan cepat dan setelah kerjaan sekolah selesai dia punya banyak waktu untuk istirahat. Kami tanya ke Jonathan dia mau homeschool atau tetap ke sekolah, dan dia bilang dia lebih suka belajar di rumah.

Masalah di awal, kami bisa dibilang ga punya persiapan untuk homeschooling. Kami belum memutuskan mau pakai metode mana dan kurikulum mana. Untuk mengisi kekosongan supaya ga kenapa ga belajar, kami membeli buku dan flash card brainquest dan juga buku Kumon untuk pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Sisanya kami berikan kebebasan Jonathan mau baca buku apa. Kami juga belikan beberapa buku lift the flap dari Usborne yang menarik buat dia.

Bulan Oktober akhirnya kami menemukan kurikulum yang sesuai dengan kami atas saran seorang teman. Pilihan jatuh ke kurikulum dari CLE karena materi dan cara penyajiannya sesuai dengan cara belajar Jonathan. Mengenai pertimbangan dan alasan dalam memilih kurikulum ini akan saya tuliskan di posting saya berikutnya.

Mengajarkan Basis Bilangan

Salah satu dari materi di pelajaran Language Arts adalah memahami dictionary order (lexicographical order) . Materi ini sangat mudah dimengerti, bahwa AAA muncul sebelum AAB. Beberapa latihan dalam materi ini adalah mempraktikkan mencari kata di kamus dan mengurutkan kata berdasarkan urutan kamus.

Seperti biasa, kadang Jonathan belajar di samping saya yang sedang bekerja di depan komputer. Jadi saya mencoba menguji Jonathan dengan soal sederhana, seperti, jika kita cuma punya 4 huruf dan kita urutkan berdasarkan urutan kamus, maka setelah AAAA, AAAB, AAAC adalah? jawabannya tentunya adalah AAAD. Nah setelah AAAZ berikutnya apa? saya membantu jawab dengan AABA, berikutnya Jonathan sudah tahu bahwa setelah AAZZ berikutnya adalah ABAA. Saya menggunakan Microsoft Word dengan font yang saya perbesar untuk bisa dengan cepat menjelaskan hal seperti ini.

Saya jelaskan juga bahwa sebenarnya cara kita berhitung dalam basis 10 juga seperti itu. Setelah digit terakhir (paling kanan) menjadi 9, maka berikutnya menjadi 0, dan kita menambahkan ke digit sebelumnya. Tadi ada 26 simbol untuk A-Z sedangkan untuk bilangan desimal ada 10 bilangan (0-9). Bagaimana jika kita cuma punya 0 dan 1 (biner). Saya mulai dengan 0000, apa berikutnya? gampang sekali dipahami bahwa ini menjadi 0001. Jonathan perlu berpikir sedikit untuk mengingat bahwa digit “2” tidak ada, jadi 1 kembali menjadi 0, dan digit berikutnya dinaikkan, hasilnya 0010. Berikutnya lagi kita tambah satu lagi menjadi 0011.

Sekarang saya memberi label desimal di sebelah kiri urutannya:

0 0000
1 0001
2 0010
3 0011

Dengan melihat tabel ini bisa dilihat bahwa 3 desimal sama dengan 0011 dalam biner. Saya bisa saja menjelaskan lebih lanjut mengenai cara singkat konversi dari biner ke desimal, tapi karena saya hanya menyisipkan materi di language arts maka tidak saya teruskan.

Sebenarnya masalah berhitung biner ini sudah pernah dibaca Jonathan, salah satunya dari buku Lift-The-Flap Computers and Coding.

Seperti kebanyakan buku, yang diajarkan biasanya lebih ke cara cepat konversi biner ke desimal, dan bukan mengapa cara berhitungnya seperti itu.

Ini sekedar cerita bahwa dengan metode homeschooling, sebagai pengajar saya bisa menyisipkan berbagai materi lain yang berhubungan dengan sebuah mata pelajaran, meskipun sepertinya pelajaran tersebut jauh sekali dari pelajaran saat ini. Saya juga bisa menjelaskan dengan cara yang menurut saya terbaik untuk Jonathan.

Sebagai catatan, hal seperti ini bukan cuma dilakukan oleh saya, banyak orang tua lain yang berusaha menjelaskan konsep kompleks kepada anaknya. Contoh yang saya baca baru-baru ini adalah: Conversations with a six-year-old on functional programming.

Sebenarnya banyak yang sudah menyadari betapa pentingnya menyambungkan satu konsep dengan konsep lain dengan istilah thematic learning (metode pembelajaran tematik). Tapi sering kali yang saya dapati dalam praktik adalah: materinya agak dipaksakan dan fokus yang salah. Mengenai materi yang dipaksakan ini bisa dilihat dari contoh-contoh yang kurang masuk akal di buku. Tema yang dianggap berhubungan juga biasanya terbatas, padahal banyak hal yang berhubungan di dunia ini.

Mengenai fokus yang salah biasanya karena gurunya berkonsentrasi hanya di bidang yang dikuasai atau disukainya. Kadang ini menyebabkan pelajaran tetap tidak bisa dipahami dan tidak berbekas di ingatan anak.

Contohnya: jika topiknya adalah tentang siklus air (water cycle) dan gurunya adalah tipe yang suka seni maka banyak waktu dihabiskan menggambar, mewarnai siklus air, membuat prakarya. Untuk tipe yang kurang menyukai seni seperti Jonathan, kegiatan seperti itu sangat membosankan. Seringkali ini juga jadi tidak tepat sasaran: yang suka seni hanya ingat bahwa tadi membuat gambar burung kecil di atas gunung, tapi tidak bisa menjelaskan water cycle, sementara anak lain yang tidak suka menggambar bisa menjelaskan secara lisan seluruh water cycle tapi merasa bosan berjam-jam mewarnai.

Demikian cerita singkat mengenai pelajaran basis bilangan ketika mengajar Jonathan.

Kenapa kami memilih homeschooling

Sebagian orang sudah memiliki pengalaman homeschool (atau mereka sendiri adalah hasil didikan homeschool) sehingga sudah sangat yakin untuk memulai homeschool, dan bahkan tidak mencoba sama sekali sekolah konvensional. Kami bukan orang yang seperti itu. Dari dulu kami tertarik dengan homeschool tapi belum yakin. Waktu Jonathan masih sekitar 3 tahun, Risna sempat bergabung dengan group homeschool dan belajar banyak tentang homeschool. Tapi kemudian kami memasukkan Jonathan ke sekolah, dan sepertinya Jonathan suka di sekolah.

Di masa level taman kanak-kanak, sekolah cukup menyenangkan bagi Jonathan, tapi ketika mulai masuk SD, sudah terasa menjadi beban, dan semakin bertambah ketika naik kelas 2. Jonathan tidak memiliki kesulitan untuk masalah membaca, menulis dan matematika tapi masalah dengan kegiatan sekolah yang terlalu lama. Di Thailand sini, semua sekolah yang kami tahu merupakan sekolah full day, mulai dari jam 8.30 pagi (bahkan ada yang lebih pagi) sampai sore (15.00, dan beberapa sekolah bahkan lebih lagi).

Biasanya siklus yang terjadi adalah: Jonathan tidak bisa langsung tidur di malam hari, bangun masih ngantuk, di sekolah kurang bisa konsentrasi, dan ketika dijemput tertidur di mobil. Karena tertidur di mobil, malamnya jadi susah tidur cepat, dan begitu terus berulang. Sudah beberapa kali kami coba break cycle ini, tapi tidak berhasil. Jika ada kegiatan yang melelahkan di sekolah, Jonathan tertidur lagi di mobil, dan semua kembali terulang lagi.

Salah satu penyebab masalah ini adalah: Jonathan sudah masuk SD sejak umur 5 1/2 tahun, dan untuk sebagian anak seperti Jonathan, dia masih butuh tidur siang. Waktu itu kami percaya pada assesment dari pihak sekolah yang menyatakan Jonathan sudah siap masuk SD. Secara kemampuan akademik memang demikian, tapi ternyata kurang siap di hal lain. Saya dan Risna ketika SD hanya 1/2 hari, dan bahkan hanya beberapa jam saja ketika kelas 1-2 SD dan bisa tidur siang setiap hari. Dan menurut kami itu lebih santai.

Sebelum homeschool, Jonathan juga memiliki masalah dalam makan: lambat sekali ketika makan. Di sekolah, jam makan dibatasi, akhirnya Jonathan hanya makan sedikit, dan ini kurang baik untuk kesehatannya. Badannya kurus, perlu tambahan multivitamin,dan setiap kali sakit (misalnya batuk), lama sekali pulihnya.

Awal kami mulai homeschool adalah karena kombinasi dari hal di atas, ditambah lagi pergantian semester di sekolah Jonathan. Sekolah Jonathan adalah sekolah internasional dengan kurikulum Australia. Tadinya mereka mengikuti jadwal semester Thailand, tapi mereka mulai beralih dari jadwal semester Thailand ke Australia. Artinya akan ada beberapa bulan yang akan masuk ke bridging semester yang sifatnya opsional. Di masa ini kami merasa patut mencobakan homeschool ke Jonathan.

Ada banyak pendekatan homeschooling, dari mulai unschooling (anak belajar apa saja yang dia mau), membeli kurikulum tertentu, mengikuti group homeschool, atau bahkan memanggil guru untuk mengajar di rumah. Pendekatan yang kami ambil adalah: kami membeli kurikulum yang menurut kami cocok, dan memasukkan Jonathan ke berbagai les untuk topik yang tidak kami kuasai.

Kurikulum yang kami pilih adalah CLE (Christian Light Education). Kami juga menambahkan sendiri materi lain yang diperlukan. Sebagai stay at home mom, Risna punya waktu untuk mengajar sendiri semua materinya. Risna juga punya background pendidikan yang lebih dari cukup (S1 dan S2 di Informatika ITB). Risna juga dulu selalu ranking 1 selama SD/SMP/SMU. Kami berdua juga pernah menjadi teaching assistant di ITB ketika mengambil S2. Ini juga sekaligus untuk menjawab pertanyaan beberapa orang: apakah cukup diajar orang tuanya saja? Menurut saya kualifikasi kami sudah cukup, dan lebih dari rata-rata guru di berbagai sekolah.

Bahkan sebenarnya dengan kurikulum tertentu (seperti CLE ini), guru tidak harus sangat pintar. Asalkan orang tua mau meluangkan waktu, ada guidebook yang bisa dibaca, dan ada kunci jawaban untuk setiap soal. Untuk level SD, kebanyakan soal hanyalah hal dasar. Fokusnya lebih ke belajar matematika dasar, membaca dan memahami teks (sambil menghapalkan fakta-fakta yang penting untuk kehidupan), dan belajar menuliskan ide dengan baik.

Kami tidak merasa mampu mengajarkan semua bidang. Contohnya: kami tidak memiliki kemampuan musik yang baik, jadi kami bawa Jonathan ke tempat kursus piano. Ini sekaligus sebagai pelajaran musik Jonathan. Untuk olahraga, kami membawa Jonathan 2 kali seminggu ke kelas Tae Kwon Do. Untuk pelajaran membaca dan menulis bahasa Thai, kami membawa Jonathan ke Kumon Thai. Untuk pelajaran seni, kami membawa Jonathan ke kursus art (terutama menggambar).

Selain sekolah Minggu, berbagai kegiatan di luar rumah tersebut juga menjadi tempat sosialisasi bagi Jonathan. Kegiatan lain yang kami ikuti adalah homeschool cooperatives (koperasi homeschool) yang mempertemukan keluarga yang homeschooling anaknya. Secara umum kami tidak terlalu khawatir dengan masalah sosial karena Jonathan mudah sekali berteman dan bergaul dengan seseorang. Jika kami melepaskan dia playground, biasanya dalam beberapa menit dia sudah berkenalan dengan beberapa orang dan bisa bermain bersama.

Meskipun sepertinya kegiatannya sangat banyak, tapi tiap hari kegiatannya bisa dilakukan dalam waktu singkat, hanya beberapa jam saja sehari, dan biasanya semua bisa selesai sebelum jam makan siang. Setelah itu Jonathan bisa tidur, membaca buku, atau belajar berbagai hal lain di luar materi homeschool. Di sekolah sebenarnya materi yang diajarkan juga tidak banyak, tapi banyak kegiatan yang menurut kami sifatnnya filler, dan kadang kurang efektif.

Dari segi biaya, secara umum homeschool relatif murah. Biayanya tentunya di atas sekolah negeri, tapi di bawah sekolah-sekolah yang dituliskan di posting Mahalnya Sekolah. Biaya yang tadinya kami gunakan untuk uang sekolah Jonathan berpindah ke biaya untuk materi kurikulum, biaya les, berbagai alat (misalnya talking pen di posting sebelumnya) serta banyak buku.

Bagaimana dengan masalah ijazah? ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan. Secara singkat jawabannya: kami belum terlalu memikirkannya sekarang. Jika kami ingin kembali ke Indonesia, Jonathan bisa mengambil ujian persamaan. Jika Jonathan ingin bersekolah ke negeri lain, ada test persamaan juga (misalnya ada test persamaan untuk sekolah Amerika dan test ini bisa dilakukan di Bangkok). Kami tidak terlalu khawatir, karena mungkin saja dalam beberapa tahun ke depan berbagai aturan sudah akan berubah. Saat ini profesi yang saya ambil (programmer) tidak mewajibkan memiliki Ijazah, yang penting adalah kemampuan (skill), dan inilah yang kami tekankan untuk saat ini.

Meskipun belum memikirkan Ijazah, yang jelas tiap beberapa hari ada kuis dan ujian untuk Jonathan, dan kami memastikan Jonathan menguasai dengan baik semua materi yang diajarkan. Kami cukup yakin Jonathan bisa bersaing dan bisa lulus dalam test apapun yang diberikan sesuai untuk usianya.

Perlu dicatat juga bahwa homeschool tidak legal di semua negara. Di Thailand dan Indonesia homeschool diperbolehkan, tapi di negara lain ada yang tidak diperbolehkan, atau harus mengikuti aturan tertentu. Jadi jika Anda berada di negara lain, silakan cek dulu aturan negara tersebut.

Jonathan masih sering kami tanya apakah lebih memilih homeschool atau kembali ke sekolah. Jawabannya sampai saat ini adalah: homeschool. Kesehatan Jonathan sekarang sudah bagus, tidurnya cukup, berat badannya juga sudah naik, tidak terlalu kurus lagi. Waktu untuk bermain dan membaca buku juga banyak, bahkan sudah belasan buku diselesaikan Jonathan sebulan terakhir ini (termasuk juga buku pertama Harry Potter).

Jonathan bermain-main dengan electromagnet

Jonathan juga lebih cepat mengerti berbagai materi karena jika ada yang tidak dimengerti saya bisa membantu menjelaskan, baik secara langsung maupun dengan bantuan website dan video dari YouTube. Saya juga bisa memberikan materi ekstra seperti dasar-dasar elektronik ke Jonathan.

Saat ini Joshua belum kami putuskan apakah akan ikut homeschool atau sekolah biasa. Sampai saat ini dia senang belajar sendiri, dan bahkan ikut menghapalkan hal-hal yang diajarkan ke kakaknya (misalnya dia sudah hapal square numbers/bilangan kuadrat, dari 1×1=1 sampai 12×12=144).

Perlu dicatat bahwa homeschool mungkin tidak cocok bagi semua orang. Mungkin anak bisa kesepian dan ingin ikut sekolah biasa. Mungkin orang tua tidak punya waktu untuk mendidik anaknya. Keputusan homeschool menurut kami sudah tepat saat ini bagi kami, tapi mungkin kurang cocok bagi orang lain, atau mungkin perlu pendekatan berbeda untuk orang lain.

Tulisan ini fokusnya hanya mengenai kenapa kami memilih homeschool untuk Jonathan dan bagaimana kami mengajar Jonathan. Kami berencana akan menuliskan lebih banyak lagi berbagai hal yang berkaitan dengan homeschool ini.

Tips dan Trik dnsmasq

dnsmasq adalah satu software yang memiliki beberapa fungsi: sebagai DNS server, DHCP server, router advertisement (untuk IPv6), dan juga TFTP dan PXE (untuk network booting). Software ini sangat kecil dan terinstall di banyak router terutama yang berbasis OpenWRT.  Biasanya yang dipakai oleh kebanyakan orang hanya fitur DHCP dan DNS basicnya saja. Di posting ini saya ingin sharing beberapa fitur lain yang saya pakai.

Saat ini saya memakai dnsmasq di router saya, yang merupakan Mini PC merk Qotom (Intel Celeron J1900 Quad Core dengan RAM 2GB). Router ini cukup powerful, tapi dnsmasq bisa berjalan dengan memori sangat kecil (minimum yang pernah saya pakai adalah 16 MB) dan CPU yang lambat (minimum yang pernah saya pakai MIPS 200 Mhz). Apa yang bisa dilakukan oleh dnsmasq ini bisa dilakukan dengan kombinasi beberapa software (misalnya memakai bind untuk DNS server, tftpd untuk FTP server, dsb) tapi tentunya resource yang dipakai lebih banyak.

Blokir Iklan

Saat ini ada proyek raspberry pi bernama pi-hole untuk memblok iklan dalam jaringan. Intinya adalah: kita menggunakan Raspberry Pi sebagai DNS server yang mengembalikan 0.0.0.0 untuk nama domain yang digunakan para pengiklan. Di dalam pi-hole sebenarnya software yang dipakai adalah dnsmasq.  Cara paling sederhana memblok iklan adalah menambahkan addn-hosts=/etc/hosts.ads di dnsmasq.conf dengan hosts.ads adalah file yang berisi daftar host iklan. Tentunya kita tidak ingin memelihara sendiri daftar semua host iklan, jadi cukup menggunakan dari yang sudah ada, misalnya dari https://github.com/StevenBlack/hosts. File hosts.ads bisa kita timpa dengan versi terbaru dari situs tersebut.

Tentunya kita juga bisa memblokir host-host lain yang tidak kita sukai (atau lolos dari daftar iklan yang ada). Kita bisa memiliki beberapa baris addn-hosts, misalnya addn-hosts=/etc/myhosts.ads dengan myhosts.ads adalah host lain yang ingin kita blok. Karena daftarnya terpisah, jika hosts.ads diupdate, maka daftar kita tidak akan hilang.

Proyek pi-hole memiliki tampilan yang bagus untuk menunjukkan jumlah host yang diblokir. Sebenarnya informasi request DNS ini bisa direkam dan dianalisis sendiri dengan meminta dnsmasq untuk melog setiap request.

Skrip DHCP

Fungsi utama dnsmasq lain adalah sebagai DHCP server. Dengan ini saya tidak perlu mengalokasikan secara khusus IP untuk tiap device di jaringan. Otomatis dnsmasq akan memilih slot IP yang masihi tersedia. Untuk device tertentu (misalnya tamu yang datang dan numpang internet), maka tidak penting IP-nya berapa, tapi untuk device yang sudah akan selalu dipakai di rumah, saya biasanya akan memberi nama dan memastikan bahwa besok IP-nya tidak akan berubah. Ini bisa dilakukan dengan menambahkan MAC address dan IP ke /etc/ethers dan menambahkan IP dan nama ke /etc/hosts.

Salah satu fitur dnsmasq adalah: kita bisa memiliki skrip yang dipanggil ketika ada request DHCP dan ketika lease DHCP sudah expired. Contohnya seperti ini:

dhcp-script=/root/dhcp-notify.py

Saya membuat fitur notifikasi yang disambungkan ke telegram, jadi jika saya memiliki device baru (terutama yang headless/tanpa layar), maka bisa langsung tahu IP-nya berapa.

Dengan mengecek chat telegram, ini telah membantu saya beberapa kali mengingat-ingat apakah Tablet saya ketinggalan di kantor atau di rumah. Jika batere tablet masih ada, gampang mencarinya dengan find my device, tapi jika sudah habis, akan lebih mudah dan cepet mengecek apakah kemarin sore ada request DHCP dari tablet ketika saya pulang kerja.

Network Boot

Saat ini instalasi Linux di PC bisa dilakukan dengan USB, tapi kebanyakan komputer juga sudah bisa booting lewat jaringan (menggunakan PXE). PXE ini bisa digunakan untuk meload installer Linux (netboot image) dari dnsmasq. Kita cukup menambahkan baris semacam ini dan mengisi /srv/tftp dengan boot image yang sesuai.

dhcp-boot=pxelinux.0
enable-tftp
tftp-root=/srv/tftp

Penutup

Ini sekedar posting singkat karena sudah lama nggak posting teknis. Silakan baca manual dnsmasq (yang tidak terlalu panjang) untuk mencoba fitur-fitur lain yang tidak saya sebutkan di sini.

Gadget non Screen untuk Belajar : LeapFrog Scribble and Write, Talking pen, Smart Pad

Ada beberapa gadget/mainan yang kami beli untuk belajar Jonathan dan Joshua yang  tidak ada screennya. Joshua bisa bermain cukup lama dan belajar cukup banyak dari mainan-mainan ini. Supaya tidak lupa, saya akan menuliskannya di sini.

LeapFrog Scribble and Write

Benda ini kami beli sejak Jonathan belajar menulis. Awalnya saya kurang setuju untuk membelinya, karena saya pikir ga ada bedanya dengan menulis di tablet Ipad/Android. Ternyata, setelah diperhatikan, untuk menulisnya anak akan belajar memegang pen nya seperti memegang alat tulis dan harus ditekan seperti menulis di atas kertas. Anak belajar tracing dengan mengikuti led yang menyala per pixel. Mainan ini mengajarkan menulis huruf besar dan huruf kecil, selain menggambar beberapa bentuk dasar seperti lingkaran, segitiga, garis, segiempat dan juga beberapa gambar bebas. Versi yang kami beli belum ada untuk menuliskan angka, terakhir kami lihat versi yang sama dengan ini sudah ada menuliskan angka juga.

Joshua dari sejak umur setahun sudah senang dengan mainan ini, awalnya dia suruh kami yang tracing dan dia mengamati saja, atau dia senang mendengar instruksi-instruksi yang diberikan untuk tracing ataupun menebak huruf. Kemampuan Joshua mengingat huruf A-Z dan a-z sebagian besar karena mainan ini.

My First SmartPad: Baby Einstein

Mainan Smartpad ini dibelikan sebagai hadiah ulang tahun Joshua ke-2. Seperti biasa, saya kurang setuju membelikannya karena menurut saya, Joshua sudah bisa ABC dan ga perlu lagi untuk dibelikan mainan ABC lainnya. Tapi alasan Joe: Joshua belum pernah dibelikan mainan bagus yang baru, semua mainan dia warisan dari kakaknya.

Dan dalam waktu singkat Joshua sudah bisa memainkan mainan ini dengan baik dan mengingat ejaan banyak kata-kata yang ada dalam bukunya. Dalam bundle yang dibeli, selain smart pad, disertakan juga buku yang mengajarkan kata-kata berawalan a sampai z, mengeja warna dan benda-benda yang memiliki warna tertentu, musik, dan lain-lain. Mainan ini juga menanyakan huruf awal dari sebuah kata.

Mainan ini membantu menambah banyak kosa kata Joshua, dan juga mengenali huruf awal dari sebuah kata. Setelah main dengan smartpad ini, Joshua sangat cepat mencari huruf untuk mengeja kata-kata yang ada dalam bukunya. Dia juga belajar untuk mengetik di keyboard komputer papanya dan bisa mengetik A-Z dan angka-angka dengan cukup cepat.

Talking Pen

Kami tertarik dengan talking pen  karena Joe pengen bisa ngoprek mainan ini (walaupun sampai sekarang dia belum sempat membuat sesuatu dari benda ini).  Talking pen yang kami beli ini bisa untuk belajar 3 bahasa (Inggris, Thai dan Mandarin), tapi kami beli untuk bahasa Inggris dan terutama bahasa Thailand.  Pulpen ini bisa membaca buku khusus yang sudah ada mark nya di dalamnya, buku yang diterbitkan sudah sangat banyak. Ketika membeli paket pulpennya, kami mendapat banyak buku dan flashcard yang sampai sekarang belum habis dimainkan anak-anak. Kami akhirnya beli 2 pulpen karena awalnya Joshua dan Jonathan selalu berebutan untuk memainkannya. Joe bilang, ya beli 2 nanti yang 1 buat dia program kalau anak-anak udah bosan mainannya.

Mainan ini agak lama tidak dimainkan karena repot membereskan tiap kali selesai main. Tapi belakangan ini, sejak kami stop tontonan, mainan ini kami keluarkan lagi. Sejak mulai main dengan talking pen, Joshua tertarik untuk mengenali huruf Thai. Awalnya dia suka untuk mendengarkan saja, sekarang dia sudah hampir mengingat 44 huruf konsonan Thai dalam waktu seminggu.

Mainan-mainan ini memang agak mahal harganya, tapi kalau dilihat dari kegunaan dan memang cukup lama dimainkan, rasanya mainan ini sudah sangat terpakai dan dipakai oleh 2 anak. Untuk talking pen, nantinya saya juga ingin pakai untuk belajar mandarin.

Selain mainan yang menggunakan baterai, ada banyak juga mainan lain yang membantu anak-anak untuk belajar menulis dan membaca. Mainan favorit Joshua yang sering dia pakai adalah: white board + spidol, huruf2 magnetik, eva mat yang bermotif huruf dan magnetik drawing board.

Mahalnya Sekolah

Beberapa waktu lalu, saya iseng cari tahu biaya sekolah kalau pulang ke Indonesia untuk dibandingkan dengan biaya sekolah di Chiang Mai sini. Saya masih ingat waktu saya SD uang spp nya sekitar 300 rupiah, SMP dan SMA saya lupa tapi saya ingat ga pernah bayar lebih dari 1000 rupiah per bulan. Saya sekolah negeri sejak SD, SMP, SMA dan yang paling mahal ketika saya harus kuliah di Bandung tiap semesternya biaya 445 ribu rupiah. Masa SD saya bisa jalan kaki ke sekolah, SMP mulai naik bemo/becak/sepeda dan SMA naik angkutan kota yang jaraknya 7 km dari rumah. Ketika jadi mahasiswa saya semakin jauh deh dari orangtua saya karena saya merantau ke Bandung.

Biaya sekolah mengirim saya ke universitas terasa lebih mahal buat orangtua saya karena saya diterima di Bandung dan orangtua saya di Medan. Mereka harus kirimin uang buat saya tiap bulan sekitar 150 ribu rupiah buat ongkos dan makan saya. Uang kontrakan kost sudah dibayarkan langsung setahun supaya saya pasti punya tempat tinggal selama setahun dan harganya ga naik selain dapat diskon 200ribu kalau bayar pertahun dibandingkan bayar perbulan. Saya merasa beruntung karena orangtua saya dengan kondisi ekonomi yang cukup sehingga saya masih bisa sekolah dan fokus belajar tanpa harus memikirkan biaya hidup saya. Saya bisa lihat, mereka berusaha mencukupkan kami anak-anaknya untuk mendapatkan pendidikan dengan harapan mendapat masa depan lebih baik dari mereka.

Waduh intro jadi kepanjangan karena bernostalgia. Dari hasil browsing saya mengenai uang sekolah, saya pikir di sini saja sekolah mahal, ternyata di Indonesia juga ga kalah mahal (bahkan mungkin lebih mahal). Jaman sekarang kalau mau cari sekolah buat anak lebih banyak pertimbangan dibanding jaman saya sekolah dan biayanya juga bikin saya menahan napas. Saya yakin dulu orangtua saya kirim kami ke sekolah terdekat dari rumah dan sekolah negeri karena masa itu orangtua saya ya mampunya sekolah negeri, dekat rumah lebih baik karena lebih gampang untuk antar jemput dan saya ingat kelas 1 SD kadang saya pulang sekolah jalan sendiri, kadang saya jalan dengan kakak saya dan masa itu semua terasa aman-aman saja.

Saya tidak tau biaya sekolah negeri sekarang ini berapa, tapi sepertinya jaman sekarang ini ada banyak kekhawatiran memasukkan anaknya ke sekolah negeri. Entah kenapa dan sejak kapan, ada kesan sekolah negeri kurang bagus mutu pendidikannya dan kekhawatiran bertemu anak yang nakal dari lingkungan masyarakat kurang mampu. Banyak orang tua terutama yang di kota besar memilih memasukkan anaknya ke sekolah swasta yang punya nama dan menurut survey cukup berkualitas dari segi pengajaran dan keamanan. Beberapa orang memilih yang dekat kantor supaya bisa berangkat dan pulang bareng. Atau ya yang menyediakan layanan antar jemput. Umumnya anak SD akan diantar karena sekolahnya ga walking distance dari rumah (kecuali mungkin sekolah dalam komplek perumahan). Beberapa orangtua yang lebih dari cukup juga umumnya akan berusaha mencari sekolah terbaik walaupun agak jauh dari rumah dan biaya yang mungkin ga sedikit.

Angka yang saya dapati yang bikin shock itu uang pendaftaran. Dari hasil google sejak beberapa tahun terakhir yang paling murah harus habiskan di atas sepuluh juta di awal masuk sekolah. Dari level TK ke level SD walaupun di sekolah yang sama, orangtua harus bayar lagi uang pangkal/pembangunan/pendaftaran. Jadi kebayang untuk masuk Preschool (usia 3 tahun) orangtua harus nabung sejak anak lahir, lalu ketika anak masuk SD harus bayar sekian puluh juta lagi. Kalau anak lebih dari 1 dan beda usia berdekatan, orangtua harus kerja ekstra keras mendapatkan penghasilan tambahan.

Sumber : http://www.the-alvianto.com/2017/10/binus-school-kinderfield-global.html

Ada beberapa sekolah yang membutuhkan orangtua siapin uang sekitar 100 juta rupiah untuk daptar TK. Saya bayangkan orangtuanya mungkin pengusaha yang omsetnya Miliar perbulan atau kalau pegawai pastinya punya gaji lebih dari 100juta perbulan. Biaya bulanan juga variasi, yang paling murah sekitar 450 rebu perbulan untuk TK. Untuk level daycare bahkan ada yang memasang harga sekitar 5 juta sebulan.

Waktu Jonathan menjelang usia 4 tahun, saya survey banyak sekolah di Chiang Mai. Ada 3 jenis sekolah di sini, Thai, bilingual (kurikulum Thai tapi menggunakan bahasa pengantar Inggris dan sebagian Thai) dan sekolah Internasional (menggunakan kurikulum Amerika atau British, full bahasa Inggris). Untuk biaya sekolah sudah pasti sekolah Thai paling murah, dibandingkan dengan sekolah Internasional bisa berpuluh kali lipat.

Contoh biaya salah satu sekolah bukan internasional, sumber http://www.varee.ac.th/en/admissions.php (diakses Mei 2018)

Saat ini kurs 1 THB sekitar 440 rupiah. Untuk uang pendaftaran, beberapa sekolah Thai meminta sekitar 10.000 baht dan uang sekolah persemesternya sekitar 18.000 – 22.000 baht. Sekolah internasional uang pendaftaran sekitar 50.000 baht dan uang semesternya bisa mencapai di atas 100.000 baht. Di Thailand sini, sekolah itu seperti tempat menitipkan anak. Mereka menyediakan kelas mulai dari umur 18 bulan (persiapan TK), lalu sejak umur 3 tahun kelas TK sebanyak 3 level, dan mulai SD sejak umur 6 tahun selama 6 tahun. Level SMP dan SMA ada 6 tahun.

Contoh biaya sekolah internasional. Sumber: https://www.vcis.ac.th/fee-schedule/ diakses Mei 2018

Ketika melihat angka yang fantastis untuk menyekolahkan anak, saya dan Joe sering berpikir dengan uang sekolah semahal itu, kalau anak sekolah sejak umur 3 tahun sampe kuliah, berapa dana pendidikan yang harus disiapkan? Setelah menyekolahkan anak semahal itu, kira-kira anak harus jadi apa supaya penghasilan nya bisa lebih dari biaya pendidikannya? Saya tahu kita harus berpikir optimis dan berharap anak akan lebih dari apa yang kita capai sekarang ini, dan saya tahu mengirimkan anak ke sekolah adalah bentuk investasi kita untuk masa depan anak yang mandiri dan bisa membiayai keluarganya kelak. Tapi kalau angkanya sekarang udah fantastis, berarti kami harus mempersiapkan anak yang bisa menyekolahkan anaknya lebih lagi dari yang dibayarkan sekarang ini.

Situasi kami sebagai orang asing tinggal di Thailand awalnya bikin pusing pilih sekolah buat Jonathan. Kami pingin anak-anak kami tetap bisa bahasa Indonesia, tapi juga fasih berbahasa Inggris dan Thai. Sekolah berbahasa Indonesia cuma ada di kedutaan di Bangkok. Awalnya kami sepakat bahasa Inggris lebih penting dari bahasa Thailand karena kami belum tahu berapa lama kami akan di sini dan supaya logatnya Inggris nya ga seperti Thaiglish ataupun Indoglish.

Harapannya anak-anak bisa menyerap bahasa Thai setelah fasih berbahasa Inggris dan tetep bisa bahasa Indonesia. Untuk saat ini target kami cukup berjalan sesuai harapan buat Jonathan. Kami cukup beruntung Jonathan bisa kami masukkan sekolah Internasional yang harga seperti sekolah Thai. Tapi setelah hampir 3 tahun di sana, Jonathan kami homeschooling.

Berdua belajar

Sejak homeschooling perhitungan uang sekolah digantikan dengan uang beli buku, berbagai peralatan dan mendaftarkan Jona berbagai kegiatan yang  ga bisa saya ajarkan sendiri. Ternyata sekolah ga harus mahal. Di tulisan berikut akan saya tulis lebih banyak soal homeschooling Jonathan.

Screen vs No Screen

Kami nggak punya nanny/mbak yang bisa dititipi jaga anak2, jadi memang selama ini supaya “aman tentram” masak atau pas lagi ngajarin Jonathan, saya kadang kasih lagu-lagu nursery rhymes atau tontonan edukasi di TV buat Joshua. Terkadang kasih iPad atau handphone pas di luar rumah supaya ga berisik. Tapi kadang pas saya udah lowong, saya jadi malas dan biarin saja Joshua nonton TV/main gadget.

Jonathan juga kadang jadi ikutan nonton lagu buat Joshua. Kadang bangun tidur sore, saya pasang film buat Jonathan yang ikut ditonton Joshua, dan walaupun tau kebanyakan screen time ga baik buat anak-anak, tetep aja saya cari alasan pembenaran untuk kemalasan saya. Sampai pada satu titik, saya dan Joe akhirnya sepakat untuk stop gadget/screen time dan mengalahkan sejuta alasan kami mulai dari: ah mereka kan belajar dari YouTube, biar anteng, lagi cape buat ajak main yang sebenernya kami malas dan mau main gadget juga.

Memang sih Joshua banyak belajar dari tontonannya, belum 3 tahun dia sudah bisa mengenali (dan menulis) huruf A sampe Z, hitung 1 sampai 100 dan juga mengingat beberapa fakta penjumlahan dan perkalian. Tapi efek buruknya juga ada, dia jadi seperti terobsesi belajar mulu dan kurang mau diajak obrolan sehari-hari.

Sudah sebulan ini kami stop mengijinkan anak-anak main gadget/screen time. Awalnya sempat ragu-ragu dan ga yakin bakalan bisa, karena memang memberikan gadget ini membuat kami semakin malas untuk berinteraksi dengan anak dan pastinya kami sendiri semakin punya alasan buat berlama-lama di depan gadget kami.

Kami mulai menghentikan pemberian gadget termasuk tontonan YouTube walaupun isinya materi edukasi di suatu weekend. Sepert biasa kami ajak anak-anak ke park dan playground. Pulang ke rumah biasanya kami beri gadget supaya tenang, tapi mulai saat itu kami ajak main dengan mainan yang ada dan memilih membiarkan anak-anak berantakan.

Joshua membaca sight words

Minggu pertama, Jonathan berusaha menawar dan masih berusaha mencari kesempatan untuk dapat kesempatan main game. Kami tetep gak kasih karena kalau kami mulai kasih lagi, pasti akhirnya kembali lagi main game mulu. Terkadang Jonathan akan mengeluh bosan. Saya bilang kalau bosan ya tidur aja, atau baca buku, atau mewarnai, atau bikin game sendiri. Gak mudah memang berhenti main gadget, mungkin ga fair buat anak-anak, karena mereka ga boleh main gadget tapi kami tetap main hp di depan mereka. Tapi tentunya supaya anak-anak ga rebut gadget, di masa awal kami juga ga make gadget di depan mereka dan lebih banyak bermain sama mereka. Secara ga langsung kami juga berkurang sih main gadget karena harus mengajak mereka main, terutama Joshua. Kami memutuskan stop total screen time, Jonathan juga ga dikasih supaya Joshua ga ikutan minta.

Efek yang paling terasa sejak anak-anak gak main gadget adalah mereka jadi mencari buku. Dari dulu saya berusaha mencari akal gimana supaya Jonathan suka membaca dan Joshua mau duduk tenang kalau dibacain buku. Saya sudah coba bikin rutin membacakan buku untuk mereka sebelum tidur, tapi ya mereka kayak ga tertarik dan lebih tertarik melihat gadget. Kalau ga ada gadget akhirnya mereka ga punya pilihan lain dan mereka mendengarkan buku yang saya bacakan. Jonathan bahkan mulai mencari buku sendiri untuk dibaca, dan mereka gak pernah berusaha rebut handphone kami setelah seminggu berhenti main gadget dan nonton TV. Joshua sekarang malah berusaha mengeja semua kata yang dia kenali dan berusaha baca. Kalau di luar rumah, dia suka main membentuk huruf dan angka dari pensil, tusuk gigi ataupun sumpit.

Jonathan kami suruh membaca chapter book yang ada di rumah. Awalnya dia bilang suka dengan jalan ceritanya satu buku, tapi belakangan saya lihat dia baca juga buku lain yang tadinya dia bilang gak suka. Setelah Jona selesai baca 2 chapter book yang berupa kumpulan cerita singkat, Joe coba kasih Jonathan baca buku serial micro adventure di Kindle. Eh ternyata Jonathan sangat tertarik dan semangat sekali membacanya dan menyelesaikan baca dalam waktu sehari. Dia juga bersemangat untuk mencoba mengetik listing program BASIC yang menjadi bagian dari cerita. Buku ke -2 kami print karena saya pikir supaya ga kembali ke kebiasaan pegang gadget karena kindle itu serasa tablet. Buku ke-2 dibaca Jona dalam waktu beberapa jam saja. Akhirnya kami ijinkan baca buku ke 3 di Kindle lagi karena lumayan banyak juga kalau harus di print, dan dia bisa selesai juga dalam waktu singkat.

Melihat semangat Jonathan membaca buku, saya jadi pengen ikutan baca buku yang dia baca. Ternyata, membaca buku di handphone dengan aplikasi Kindle itu terlalu banyak yang bikin terpecah konsentrasi. Sebentar – sebentar ada pop-up notifikasi yang akhirnya jadi godaan buat baca pesan di WhatsApp ataupun buka Facebook. Saya perlu membaca di kindle tablet atau sekalian buku fisiknya.

Akhir pekan kemarin, kami berburu buku ke toko buku bekas di Chiang Mai, sayangnya ga banyak buku cerita yang cocok untuk umur Jonathan di toko buku yang ada. Tapi dari 2 buku yang kami beli, Jonathan menyelesaikannya dalam hitungan jam, dia sekarang juga membaca ulang buku yang sudah dia selesaikan itu karena kami belum beli buku lagi. Saya juga jadi ikutan coba baca buku yang Jonathan baca, dan disitu saya menyadari memang baca buku fisik jauh lebih bisa fokus dan dinikmati daripada baca e-book.

Kalau sudah begini, rasanya harus mulai mencari membership perpustakaan yang ada koleksi bahasa Inggrisnya di kota ini. Biasanya membeli buku berbahasa Inggris ya dari group jual beli saja. Dulu sempat ada toko buku bekas yang koleksinya banyak banget, sayangnya sudah beberapa bulan ini toko bukunya tutup karena pemiliknya sedang ke Amerika dan belum tahu kapan kembali.

Saya bukan tergolong orang yang suka membaca buku, saya lebih sering berlama-lama di depan handphone membaca timeline media sosial ataupun artikel-artikel yang seliweran di timeline saya. Tapi melihat Jonathan sedang semangat membaca, saya jadi pingin punya semangat yang sama dan berharap dia bisa tetap memelihara semangat bacanya. Mungkin sudah waktunya saya juga dilarang pake gadget ya hahaha. Tapi kalau saya dilarang pake handphone, saya makin ga punya waktu dong buat nulis blog begini. Alasan selalu ada ya supaya ga lepas dari gadget hahaha.

Sekarang ini Jonathan kami ijinkan main komputer untuk belajar mrogram atau mengetik dan menonton YouTube bersama Joe sebagai sarana belajar di saat Joshua tidur/Joshua main dengan saya. Kami masih berpendapat screen time ga selalu jelek, yang jelek itu kalau orangtua jadi malas dan ga mengarahkan dengan benar.

Untuk bisa membatasi screen time pada anak, perlu kesepakatan orangtua dan kesediaan orangtua untuk mengalahkan rasa capek dan mau bermain dengan anak. Efek dari less screen time ini sejauh ini lebih banyak postitifnya, bahkan untuk kami sendiri rasanya kami cukup senang melihat anak-anak tertawa ceria dan gak melulu cari gadget. Kalau dulu Joshua akan insist nyalain TV minta dikasih tontonan, sekarang ini dia gak pernah lagi nyalain TV ataupun nangis merengek minta diambilkan gadget. Setidaknya sampai Joshua mau berkomunikasi yang ga melulu angka dan huruf, Joshua masih di stop screen timenya. Mungkin kalau dia emang pengen bisa baca, kami akan ajarin baca aja hehhee.