Kenapa kami memilih homeschooling

Sebagian orang sudah memiliki pengalaman homeschool (atau mereka sendiri adalah hasil didikan homeschool) sehingga sudah sangat yakin untuk memulai homeschool, dan bahkan tidak mencoba sama sekali sekolah konvensional. Kami bukan orang yang seperti itu. Dari dulu kami tertarik dengan homeschool tapi belum yakin. Waktu Jonathan masih sekitar 3 tahun, Risna sempat bergabung dengan group homeschool dan belajar banyak tentang homeschool. Tapi kemudian kami memasukkan Jonathan ke sekolah, dan sepertinya Jonathan suka di sekolah.

Di masa level taman kanak-kanak, sekolah cukup menyenangkan bagi Jonathan, tapi ketika mulai masuk SD, sudah terasa menjadi beban, dan semakin bertambah ketika naik kelas 2. Jonathan tidak memiliki kesulitan untuk masalah membaca, menulis dan matematika tapi masalah dengan kegiatan sekolah yang terlalu lama. Di Thailand sini, semua sekolah yang kami tahu merupakan sekolah full day, mulai dari jam 8.30 pagi (bahkan ada yang lebih pagi) sampai sore (15.00, dan beberapa sekolah bahkan lebih lagi).

Biasanya siklus yang terjadi adalah: Jonathan tidak bisa langsung tidur di malam hari, bangun masih ngantuk, di sekolah kurang bisa konsentrasi, dan ketika dijemput tertidur di mobil. Karena tertidur di mobil, malamnya jadi susah tidur cepat, dan begitu terus berulang. Sudah beberapa kali kami coba break cycle ini, tapi tidak berhasil. Jika ada kegiatan yang melelahkan di sekolah, Jonathan tertidur lagi di mobil, dan semua kembali terulang lagi.

Salah satu penyebab masalah ini adalah: Jonathan sudah masuk SD sejak umur 5 1/2 tahun, dan untuk sebagian anak seperti Jonathan, dia masih butuh tidur siang. Waktu itu kami percaya pada assesment dari pihak sekolah yang menyatakan Jonathan sudah siap masuk SD. Secara kemampuan akademik memang demikian, tapi ternyata kurang siap di hal lain. Saya dan Risna ketika SD hanya 1/2 hari, dan bahkan hanya beberapa jam saja ketika kelas 1-2 SD dan bisa tidur siang setiap hari. Dan menurut kami itu lebih santai.

Sebelum homeschool, Jonathan juga memiliki masalah dalam makan: lambat sekali ketika makan. Di sekolah, jam makan dibatasi, akhirnya Jonathan hanya makan sedikit, dan ini kurang baik untuk kesehatannya. Badannya kurus, perlu tambahan multivitamin,dan setiap kali sakit (misalnya batuk), lama sekali pulihnya.

Awal kami mulai homeschool adalah karena kombinasi dari hal di atas, ditambah lagi pergantian semester di sekolah Jonathan. Sekolah Jonathan adalah sekolah internasional dengan kurikulum Australia. Tadinya mereka mengikuti jadwal semester Thailand, tapi mereka mulai beralih dari jadwal semester Thailand ke Australia. Artinya akan ada beberapa bulan yang akan masuk ke bridging semester yang sifatnya opsional. Di masa ini kami merasa patut mencobakan homeschool ke Jonathan.

Ada banyak pendekatan homeschooling, dari mulai unschooling (anak belajar apa saja yang dia mau), membeli kurikulum tertentu, mengikuti group homeschool, atau bahkan memanggil guru untuk mengajar di rumah. Pendekatan yang kami ambil adalah: kami membeli kurikulum yang menurut kami cocok, dan memasukkan Jonathan ke berbagai les untuk topik yang tidak kami kuasai.

Kurikulum yang kami pilih adalah CLE (Christian Light Education). Kami juga menambahkan sendiri materi lain yang diperlukan. Sebagai stay at home mom, Risna punya waktu untuk mengajar sendiri semua materinya. Risna juga punya background pendidikan yang lebih dari cukup (S1 dan S2 di Informatika ITB). Risna juga dulu selalu ranking 1 selama SD/SMP/SMU. Kami berdua juga pernah menjadi teaching assistant di ITB ketika mengambil S2. Ini juga sekaligus untuk menjawab pertanyaan beberapa orang: apakah cukup diajar orang tuanya saja? Menurut saya kualifikasi kami sudah cukup, dan lebih dari rata-rata guru di berbagai sekolah.

Bahkan sebenarnya dengan kurikulum tertentu (seperti CLE ini), guru tidak harus sangat pintar. Asalkan orang tua mau meluangkan waktu, ada guidebook yang bisa dibaca, dan ada kunci jawaban untuk setiap soal. Untuk level SD, kebanyakan soal hanyalah hal dasar. Fokusnya lebih ke belajar matematika dasar, membaca dan memahami teks (sambil menghapalkan fakta-fakta yang penting untuk kehidupan), dan belajar menuliskan ide dengan baik.

Kami tidak merasa mampu mengajarkan semua bidang. Contohnya: kami tidak memiliki kemampuan musik yang baik, jadi kami bawa Jonathan ke tempat kursus piano. Ini sekaligus sebagai pelajaran musik Jonathan. Untuk olahraga, kami membawa Jonathan 2 kali seminggu ke kelas Tae Kwon Do. Untuk pelajaran membaca dan menulis bahasa Thai, kami membawa Jonathan ke Kumon Thai. Untuk pelajaran seni, kami membawa Jonathan ke kursus art (terutama menggambar).

Selain sekolah Minggu, berbagai kegiatan di luar rumah tersebut juga menjadi tempat sosialisasi bagi Jonathan. Kegiatan lain yang kami ikuti adalah homeschool cooperatives (koperasi homeschool) yang mempertemukan keluarga yang homeschooling anaknya. Secara umum kami tidak terlalu khawatir dengan masalah sosial karena Jonathan mudah sekali berteman dan bergaul dengan seseorang. Jika kami melepaskan dia playground, biasanya dalam beberapa menit dia sudah berkenalan dengan beberapa orang dan bisa bermain bersama.

Meskipun sepertinya kegiatannya sangat banyak, tapi tiap hari kegiatannya bisa dilakukan dalam waktu singkat, hanya beberapa jam saja sehari, dan biasanya semua bisa selesai sebelum jam makan siang. Setelah itu Jonathan bisa tidur, membaca buku, atau belajar berbagai hal lain di luar materi homeschool. Di sekolah sebenarnya materi yang diajarkan juga tidak banyak, tapi banyak kegiatan yang menurut kami sifatnnya filler, dan kadang kurang efektif.

Dari segi biaya, secara umum homeschool relatif murah. Biayanya tentunya di atas sekolah negeri, tapi di bawah sekolah-sekolah yang dituliskan di posting Mahalnya Sekolah. Biaya yang tadinya kami gunakan untuk uang sekolah Jonathan berpindah ke biaya untuk materi kurikulum, biaya les, berbagai alat (misalnya talking pen di posting sebelumnya) serta banyak buku.

Bagaimana dengan masalah ijazah? ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan. Secara singkat jawabannya: kami belum terlalu memikirkannya sekarang. Jika kami ingin kembali ke Indonesia, Jonathan bisa mengambil ujian persamaan. Jika Jonathan ingin bersekolah ke negeri lain, ada test persamaan juga (misalnya ada test persamaan untuk sekolah Amerika dan test ini bisa dilakukan di Bangkok). Kami tidak terlalu khawatir, karena mungkin saja dalam beberapa tahun ke depan berbagai aturan sudah akan berubah. Saat ini profesi yang saya ambil (programmer) tidak mewajibkan memiliki Ijazah, yang penting adalah kemampuan (skill), dan inilah yang kami tekankan untuk saat ini.

Meskipun belum memikirkan Ijazah, yang jelas tiap beberapa hari ada kuis dan ujian untuk Jonathan, dan kami memastikan Jonathan menguasai dengan baik semua materi yang diajarkan. Kami cukup yakin Jonathan bisa bersaing dan bisa lulus dalam test apapun yang diberikan sesuai untuk usianya.

Perlu dicatat juga bahwa homeschool tidak legal di semua negara. Di Thailand dan Indonesia homeschool diperbolehkan, tapi di negara lain ada yang tidak diperbolehkan, atau harus mengikuti aturan tertentu. Jadi jika Anda berada di negara lain, silakan cek dulu aturan negara tersebut.

Jonathan masih sering kami tanya apakah lebih memilih homeschool atau kembali ke sekolah. Jawabannya sampai saat ini adalah: homeschool. Kesehatan Jonathan sekarang sudah bagus, tidurnya cukup, berat badannya juga sudah naik, tidak terlalu kurus lagi. Waktu untuk bermain dan membaca buku juga banyak, bahkan sudah belasan buku diselesaikan Jonathan sebulan terakhir ini (termasuk juga buku pertama Harry Potter).

Jonathan bermain-main dengan electromagnet

Jonathan juga lebih cepat mengerti berbagai materi karena jika ada yang tidak dimengerti saya bisa membantu menjelaskan, baik secara langsung maupun dengan bantuan website dan video dari YouTube. Saya juga bisa memberikan materi ekstra seperti dasar-dasar elektronik ke Jonathan.

Saat ini Joshua belum kami putuskan apakah akan ikut homeschool atau sekolah biasa. Sampai saat ini dia senang belajar sendiri, dan bahkan ikut menghapalkan hal-hal yang diajarkan ke kakaknya (misalnya dia sudah hapal square numbers/bilangan kuadrat, dari 1×1=1 sampai 12×12=144).

Perlu dicatat bahwa homeschool mungkin tidak cocok bagi semua orang. Mungkin anak bisa kesepian dan ingin ikut sekolah biasa. Mungkin orang tua tidak punya waktu untuk mendidik anaknya. Keputusan homeschool menurut kami sudah tepat saat ini bagi kami, tapi mungkin kurang cocok bagi orang lain, atau mungkin perlu pendekatan berbeda untuk orang lain.

Tulisan ini fokusnya hanya mengenai kenapa kami memilih homeschool untuk Jonathan dan bagaimana kami mengajar Jonathan. Kami berencana akan menuliskan lebih banyak lagi berbagai hal yang berkaitan dengan homeschool ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.