Memulai Homeschooling

Setelah memutuskan mau homeschooling, kami gak langsung terjun bebas. Homeschooling ini menuntut orangtua untuk belajar lagi, karena kami gak punya pengalaman mengajar anak kecil. Belajar seluk beluk dunia homeschooling terutama memutuskan mau seperti apa style homeschooling kami.

Mulai dari mana?

Kami mulai dengan banyak mencari informasi yang terkait dengan homeschooling dari berbagai sumber, diantaranya:

  • bertanya ke teman-teman yang sudah lebih dulu menghomeschool anaknya
  • cari informasi di internet
  • gabung dengan komunitas homeschooler online dan offline

Sebagai orangtua harus rajin mencari berbagai hal yang sesuai dengan kondisi keluarga dan gaya belajar anak. Orangtua juga harus memiliki komitmen untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, sebagai orangtua harus menentukan/memutuskan mau seperti apa homeschoolingnya.

Saya akui saya pusing dengan berbagai istilah yang ditemukan mengenai homeschool. Ada banyak sekali metode dan pendekatan untuk melakukan homeschooling, ada yang melakukannya secara tradisional seperti memindahkan sekolah ke rumah (jam sekolah tertentu dan jadwal hari sekolah dan libur yang sudah ditentukan di awal tahun ajaran), ada yang memilih untuk membebaskan anak dari beban kurikulum dan hanya mengajarkan apa yang menjadi minat anaknya (unschooling), ada yang ikut kelas online bayar maupun gratis, ada yang mempelajari secara mendalam topik tertentu dengan unit studies. Ada yang mengikuti metode Charlotte Mason, Classical Conversation atau Montessori. Dan banyak istilah lainnya yang selanjutnya bisa di baca di wikipedia mengenai homeschooling.

Setelah menyadari kalau keunikan homeschooling adalah tidak ada yang saklek di sana. Kita selalu bisa sesuaikan menurut kebutuhan anak dan kita tidak harus mengikuti metode atau kurikulum tertentu saja. Sebagai orangtua, kita bisa memilih dan membuat sendiri kurikulum dan materi yang ingin diajarkan ke anak. Orangtua dan anak yang menentukan apakah belajar secara terstruktur atau tidak ada struktur sama sekali. Ada yang memilih untuk belajar tanpa struktur, tapi ada juga yang memilih tetap terstruktur dan tentunya bisa di gabungkan juga semi terstuktur. Sekarang ini bahkan ada beberapa lembaga penyedia jasa homeschooling yang menerima murid secara offline seminggu hanya beberapa hari.

Pertanyaan yang paling sering jadi pertimbangan juga: nanti ijasah anak bagaimana? Untuk sekarang ini , ijasah bisa didapatkan dengan mengikuti ujian persamaan, tergantung di mana kita berada dan kemana tujuan kita. Ada banyak layanan online untuk mengetahui apakah anak kita layak untuk disebut di kelas tertentu. Di negara tertentu ujian tahunan ini merupakan kewajiban homeschooler, tapi akhirnya semua kembali lagi menjadi keputusan orangtua. Keunikan homeschooling adalah, kita tidak terikat dengan kelas anak, karena bisa saja anak usia 8 tahun mempelajari materi yang advanced kalau memang dia sudah mampu dan mengerti.

Beberapa penyedia jasa kurikulum juga menyediakan konsultasi untuk homeschooler untuk menjawab pertanyaan yang mungkin saja orang tua kurang mengerti, atau mereka juga mengadakan kelas tutorial online dan sampai memberikan diploma yang terakreditasi yang nantinya bisa jadi modal untuk memasuki perguruan tinggi. Kami sendiri belum memikirkan sejauh ini, apakah kami hanya akan sementara homeschooling atau akan terus homeschooling sampai anak siap memasuki perguruan tinggi. Sudah banyak orang yang menghomeschool anaknya dan kemudian anaknya masuk perguruan tinggi tanpa ijasah dari sekolah, tapi cukup dengan ujian penerimaan di perguruan tinggi tersebut dan dari bukti yang disiapkan orangtua kalau dia sudah mempelajari hal-hal dasar yang dibutuhkan.

Memilih kurikulum

Sebelum menentukan kurikulum, kita harus tau model belajar anak kita seperti apa dan apa yang menjadi target kita. Ada yang mengasah kemampuan anak di bidang art saja karena melihat anaknya sangat tertarik dengan art, ada juga yang memberikan semuanya dan minat anaknya baru akan kelihatan belakangan.  Ada anak yang suka mempelajari sesuatu secara mendalam dan tidak bosan untuk mengerjakan topik tersebut berulang-ulang (mastery), dan ada juga anak yang lebih suka dikenalkan konsep baru setiap harinya, kerjakan sedikit soal latihan untuk konsep baru dan sisanya mereview konsep yang sudah diajarkan sebelumnya (spiral).

Kurikulum yang kami pilih CLE (Christian Light Education) merupakan kurikulum dengan pendekatan spiral yang sudah cukup lengkap dan menyediakan layanan homeschool plus yang memberikan diploma untuk pesertanya. Tentunya orangtua yang harus aktif mengirimkan hasil kuis dan test tiap bulannya dan laporan mengenai jumlah hari sekolahnya, lalu akan diverifikasi oleh CLE dan mereka akan mengeluarkan diploma.

Untuk sekarang ini kami belum mendaftarkan program homeschool plus karena kami belum merasa membutuhkan diploma untuk Jonathan. Jonathan bisa mengerjakan buku latihannya dengan mandiri dan dia bisa bertanya kepada kami kalau ada konsep baru yang dia tidak mengerti.

Pelajaran yang kami beli dari CLE untuk kelas 2 ini adalah: Math, Language Art, Reading, Social Studies, Science dan Bible. Dalam 1 tahun ajaran ada 10 buku latihan yang harus dikerjakan dan masing-masing berisi 13 unit latihan, 2 kali kuis  dan 1 test. Jonathan mengerjakan 1 unit sehari untuk setiap pelajaran. Biasanya setiap minggu ke-1 dan ke-2 akan ada kuis di hari Jumat, dan minggu ke-3 ada review dan Test. Kalau rata-rata 1 buku dikerjakan dalam 1 bulan, dibutuhkan waktu kira-kira 10 bulan untuk menyelesaikan 1 tahun ajaran. Karena kami kemarin mulainya akhir Oktober, saya pikir kami akan ketinggalan banyak dari tahun ajaran sekolah umumnya. Ternyata sekarang ini kami sudah di buku terakhir dan sudah menjelang Test buku terakhir.

Mengatur Jadwal Sekolah

Homeschool yang kami lakukan cukup fleksibel. Tapi untuk membiasakan diri punya jadwal yang teratur setiap harinya, kami tentukan kalau jam mengerjakan pelajaran cukup pagi hari sebelum makan siang. Lalu setelah jam makan siang, Jonathan bisa tidur siang, baca buku atau kegiatan les art, bahasa Thai, piano atau Taekwondo.

Setiap hari Jonathan harus mengerjakan 1 unit dari 3 sampai 4 pelajaran. Kalau ada kegiatan dipagi hari, kadang-kadang dikerjakan siang dan sore hari. Kami juga membuat jadwal libur, biasanya mengikuti jadwal Joe libur kantor atau kalau ada yang datang berkunjung ke Chiang Mai. Selama beberapa bulan ini, tidak setiap hari sekolah itu mulus. Kadang-kadang faktor cuaca dan kesehatan juga mempengaruhi mood Jonathan dalam mengerjakan soal latihannya.

Kalau saya ditanya sejauh apa saya merencanakan jadwal pelajaran Jonathan? saya biasanya merencanakan setiap sabtu/minggu untuk pelajaran 1 minggu ke depan. Buku Teaching Guide sangat membantu dalam mempersiapkan bahan dan juga memeriksa hasil pekerjaan Jonathan. Ada orangtua yang mempersiapkan jadwal langsung untuk sepanjang tahun ajaran. Saya awalnya coba untuk menjadwalkan beberapa bulan sekaligus, tapi biasanya selalu ada yang meleset jadi saya mencoba untuk lebih fleksibel supaya ga jadi stress.

Homeschool preschool?

Selama Jonathan belajar, Joshua biasanya akan mengganggu dan pengen ikut-ikutan. Sebenarnya ada banyak sekali materi homeschool untuk anak usia prasekolah, tapi saat ini saya belum berencana memberikan materi pelajaran terstruktur untuk Joshua. Biarkan saja dulu dia puas bermain, kalaupun dia tertarik dengan alphabet, angka, perkalian dan penjumlahan, saya anggap itu semua for fun saja. Sekarang ini Joshua sudah bisa mengeja semua kata yang dia liat, bahkan dia seperti sudah bisa ingat bacaan dari beberapa kata, tapi saya dan Joe belum berencana memberikan pelajaran khusus membaca untuk dia.

Tantangan dalam homeschool

Tantangan sekolah di rumah biasanya adalah bagaimana bisa konsisten dalam mengatur jadwal sekolah. Bagaimana supaya anak tetap termotivasi untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Bagaimana supaya anak tetap punya teman bermain dan ga merasa kesepian di rumah. Bagaimana supaya anak menyukai belajar dan ga merasa terpaksa dalam mengerjakan pelajarannya. Kami pemula dalam homeschool ini, tapi seiring berjalan waktu, semua tantangan pasti ada jalan keluarnya. Nanti di postingan berikut saya akan tuliskan bagaimana contoh hari-hari sekolah kami.

Mengajak Jonathan Membaca

Sejak bisa membaca, Jonathan senang membaca berbagai buku. Buku yang dia paling senang model buku Usborne yang ada lift the flapnya. Berikutnya dia mulai suka membaca komik. Kami berusaha mengenalkan dia untuk membaca buku tanpa gambar (chapter book), awalnya dia bilang kurang suka dan ceritanya ga menarik.

Bulan Januari 2018, saya berusaha melatih Jonathan untuk membaca buku setiap hari 1 selama 10 menit, saya ikuti kegiatan challenge Read Aloud yang ada di internet tentunya dengan memberi reward buku yang dia pilih sendiri.  Walaupun  dia sudah bisa baca, waktu membacakan bersuara, kadang-kadang dia belum bisa berhenti ketika ada titik ataupun tanda baca lainnya. Dia cenderung membaca seperti kereta api yang tidak ada jeda walau ada titik koma. Semua diterobos aja gak berhenti sampai ganti halaman. Tentunya jadi tidak enak mendengarkannya dan saya harus mendampingi membacanya.

Buku yang saya berikan untuk dia baca selama sebulan Januari beraneka ragam. Kadang saya suruh dia membaca dongeng sebelum tidur yang cuma beberapa halaman, buku lift the flap, komik dan saya mulai kasih chapter book yang isinya berupa kumpulan cerita lepas dan membacanya tidak lebih dari 10 menit.

Seperti umumnya anak-anak, Jonathan ga suka dan bersungut-sungut ketika saya suruh baca. Tapi lama kelamaan, tanpa sepengetahuan saya, dia sering membaca tak bersuara sendiri  tanpa disuruh. Akhirnya saya menyerah memaksa dia membaca bersuara dan membiarkan saja dia memilih apa yang dia mau baca (lebih baik dia membaca daripada main game atau nonton TV doang). Untuk mengecek apakah Jonathan mengerti yang dia baca, kami ajak dia ngobrol dan menanyakan siapa tokohnya, bagian mana ceritanya yang dia suka atau tidak suka, siapa tokohnya dan apa peristiwa yang terjadi dalam buku yang dia baca.

Awalnya saya memberikan buku yang banyak direkomendasikan homeschoolers dengan kategori living books. Dia bilang bukunya tidak menarik dan mungkin dia belum mendapatkan klik dalam membaca buku. Kami juga berusaha memberi reward untuk memotivasi Jonathan membaca. Katanya Jonathan pengen punya uang buat dikumpulin dan nantinya dibelikan sesuatu, jadi kami setuju, kalau dia baca 1 chapter book akan kami berikan 10 baht. Kalau bukunya lebih tebal lebih dari 100 halaman nantiya bisa dikasih lebih.

Setelah mencoba memberikan berbagai chapter book dengan hasil yang ga terlalu signifikan (kadang dibaca kadang nggak), suatu hari Joe memberikan buku cerita yang mengajarkan pemrograman BASIC terbitan lama, seri Micro Adventure. Dalam buku ini, disertakan juga beberapa listing program BASIC yang bisa dicoba disalin dan dijalankan di komputer. Ternyata buku ini merupakan buku yang memberi klik untuk Jonathan menyukai membaca chapter book.

Sejak awal April atau Mei, dia sudah membaca 7 dari 10 serial Micro Adventure. Selain serial ini, dia juga membaca berbagai buku lainnya termasuk belakangan ini dia baca buku Harry Potter 1 dan 2 dalam hitungan beberapa hari saja. Untuk beberapa buku kami beri reward boleh menonton film dari buku itu. Sejauh ini Jonathan sudah menonton: Captain Underpants, Charlie and The Chocolate Factory dan Harry Potter pertama.

Saya mencoba catch up dengan Jonathan membaca buku-bukunya, tapi sejauh ini saya masih ketinggalan banyak hehehe. Jonathan sering bertanya “what is your favorite part in this book?” setelah selesai membaca buku yang dia tahu kami sudah baca (misalnya Harry Potter). Kecepatan membaca dia melesat seperti tak terbendung dan sekarang dia bahkan mulai membaca buku-buku kategori living books yang dulu dia bilang ga suka.

Berikut ini daftar buku yang dia baca dalam sebulan ini sebagai catatan buat kami:

 Micro Adventure Series:
  1. Space Attack: Micro Adventure Number One by Eileen Buckholtz and Ruth Glick (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33165-5)
  2. Jungle Quest: Micro Adventure Number Two by Megan Stine and H. William Stine (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33166-3)
  3. Million Dollar Gamble: Micro Adventure Number Three by Chassie L. West (1984; ISBN 0-590-33167-1)
  4. Time Trap (Micro Adventure, No 4) by Jean Favors (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33168-X)
  5. Mindbenders (Micro Adventure, Vol. 5) by Ruth Glick and Eileen Buckholtz (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33169-8)
  6. Robot Race (Micro Adventure, Vol. 6) by David Anthony Kraft (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33170-1)
Captain Underpants novels:
  1. The Adventures of Captain Underpants (1997)
  2. Captain Underpants and the Attack of the Talking Toilets (1999)
  3. Captain Underpants and the Invasion of the Incredibly Naughty Cafeteria Ladies from Outer Space (and the Subsequent Assault of the Equally Evil Lunchroom Zombie Nerds) (1999)
Roald Dahl novels:
  1. Charlie and the Chocolate Factory (1964)
  2. The Magic Finger (1966)
  3. Fantastic Mr Fox (1968)
  4. Charlie and the Great Glass Elevator (1972)
  5. George’s Marvellous Medicine (1981)
  6. Matilda (1988)
Harry Potter novels:
  1. The Philosopher’s Stone (1997)
  2. The Chamber of Secrets (1998)

Dan yang terakhir dia menyelesaikan 12 buku dalam winnie the pooh library box set

Banyak juga buku yang dia baca dalam sebulan ini, semoga ke depannya Jonathan tetap semangat membaca dan dengan rajin membaca dia bisa belajar lebih banyak hal lagi.

Mengajarkan Computational Thinking dan Coding Pada Anak-Anak

Saya tidak akan menjelaskan panjang lebar apa itu Computational Thinking. Sudah ada banyak materi online, bahkan kursus online dari Google juga ada. Computational Thinking adalah cara berpikir untuk menyelesaikan masalah yang diinspirasi dari cara orang menyelesaikan masalah di ilmu komputer. Computational thinking perlu dipakai untuk membuat program komputer, tapi juga bisa diaplikasikan ke berbagai bidang lain.

Computational thinking bisa dan perlu diajarkan pada orang di berbagai usia, tapi saya hanya akan berfokus pada anak-anak di posting ini.  Mungkin sebagian akan langsung berpikir: anak-anak kok diajari seperti itu, harusnya diajari seni, kreativitas, agama, sopan-santun, dsb. Pencetus istilah computational thinking pernah menyatakan ini:

I FEEL VERY DEEPLY COMMITTED TO THE IDEA that, although rationality isn’t everything, and passion and interests and faith of various sorts count as much–nevertheless, rationality is a force for the good, and the more people that are capable of rational, critical thinking–the better the world will be; the more that have access to knowledge about the rest of the world–the better the world will be.”

–Seymour Papert, Mathematician, Computer Scientist, Educator

Computational thinking menurut saya adalah life skill yang berguna untuk mempermudah hidup. Berbagai pendekatan menyelesaikan masalah dalam computational thinking bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya bagaimana menyusun buku secara terurut, bermain sudoku, bermain catur, merencanakan perjalanan, menyusun jadwal. Bahkan membaca cerita detektif dan misteri akan lebih menyenangkan jika kita memiliki cara berpikir yang logis.

Saat ini ada inisiatif internasional yang bernama Bebras yang memperkenalkan computational thinking kepada pelajar mulai sekitar kelas 3 SD sampai usia SMU. Berbeda dengan olimpiade informatika atau coding challenge yang perlu memprogram, dan olimpiade matematika yang sangat teoretis, tantangan Bebras berada di antara keduanya.

Walaupun saya tidak meminta Jonathan jadi programmer, tapi karena dia melihat saya tiap hari berada di depan komputer, ngoprek segala macam hardware, termasuk membuatkan dia berbagi mainan, dia jadi curious. Jadi pelajaran yang saya berikan pada Jonathan lebih banyak untuk menjawab keingintahuannya. Hal penting bagi saya saat ini adalah: saya tidak ingin memaksakan kemampuan Jonathan dan membebaninya dengan hal yang kompetitif.

Saya memakai layar di kiri, sambil membuka file PDF di layar kanan untuk diketik ulang oleh Jonathan di laptop kecil.

Topik seperti matematika dianggap sulit, tapi sebenarnya bisa dijelaskan pada anak-anak dengan banyak pengalaman sehari-hari. Hal-hal kecil seperti menghitung benda yang kita miliki, menghitung kembalian, dan menghitung waktu bisa diajarkan. Misalnya kita bisa bertanya seperti ini “kira-kira butuh 10 menit untuk pergi ke sana, jadi kita perlu berangkat jam berapa?”.

Joshua berlari dari kami sambil mempraktikkan matematika: menghitung ada berapa bus yang bisa diparkir di tempat parkir ini.

Demikian juga halnya computational thinking: pada anak-anak ini bisa diajarkan dengan hal-hal praktis. Supaya tidak terlalu banyak hal yang sifatnya teori, contoh hal praktis yang bisa diajarkan dari sejak kecil yang merupakan aplikasi dari computational thinking misalnya:

  •  belajar berpikir mengenai urutan, dan apa konsekuensinya jika kita melakukan sesuatu dalam urutan tertentu
  • belajar melihat suatu masalah dari belakang atau tengah (tidak harus selalu dari depan)
  • belajar membagi masalah menjadi bagian yang lebih kecil

Coding Apps

Computational thinking tidak butuh komputer. Meskipun demikian banyak hal akan lebih mudah dijelaskan menggunakan komputer. Coding merupakan aplikasi dari computational thinking dalam bentuk membuat kode program. Cara termudah (dan juga termalas) dalam mengajarkan coding adalah melalui berbagai aplikasi yang ada, baik di PC maupun tablet. Contoh aplikasi semacam ini misalnya: Code Spark Academy with the Foos, Scratch, Scratch Jr.

Beberapa aplikasi, seperti Scratch (ini aplikasi Desktop) sangat serius, dan perlu dasar matematika (aritmatika, sistem koordinat). Pendekatan visual kadang bagus untuk menyelesaikan kelas masalah tertentu, tapi sulit di kelas masalah yang lain (misalnya substitution cipher). Saya bisa menunjukkan bahwa program yang saya buat (program beneran) juga menggunakan “if”, “while”, dsb dan membandingkannya dengan notasi Scratch.

Sementara Scratch jr lebih ditujukan untuk menyampaikan cerita.  Misalnya jika saya menceritakan lelucon ke Jonathan, dia bisa membuat ulang joke-nya dalam bentuk cerita di Scratch Junior. Tapi ada batasan kerumitan cerita yang bisa dibuat oleh seorang anak dengan medium seperti ini.

Beberapa aplikasi terlalu menekankan pada aspek “fun” (misalnya Code Spark Academy with the Foos) yang akhirnya anak-anak jadi bermain tapi tidak belajar, dan ilmu yang didapat terbatas. Bahkan sejak usia Joshua lewat 2 tahun dia sudah bisa menyelesaikan banyak level di Code Spark Academy dengan “brute force” (nggak bisa ke kanan? kalau begitu dicoba ke atas. nggak bisa ke atas ? kalau begitu dicoba ke kiri).

Kami juga memiliki mainan Osmo. Benda ini pernah kami bahas di posting ini. Osmo memberikan aspek interaksi fisik pada aplikasi iPad. Salah satu permainannya adalah coding. Ini juga terlalu sederhana, sekedar berpikir beberapa langkah ke depan.

Permainan

Pendekatan offline yang paling sederhana dan bagus adalah melalui permainan yang mengajarkan berpikir. Contohnya: sudoku, catur, dan berbagai board game. Cara ini bagus, tapi membutuhkan investasi waktu yang cukup banyak dari orang tua.

Jonathan tidak memiliki niat untuk belajar sangat dalam mengenai catur, tapi dia cukup suka untuk memahami berbagai gerakan biji catur dan aturan catur. Ini merupakan contoh baik mengenai aturan (“if” di dunia komputer). Komputer bisa diajak bermain catur, tapi untuk tujuan belajar input dari orang lain ketika bermain catur akan lebih berguna. Misalnya: kamu yakin kamu mau menggerakan pion itu?

Sudoku ukuran kecil untuk belajar. DI baliknya ada ukuran penuh 9×9.

Ketika saya mencobakan soal bebras, ada beberapa soal yang pada dasarnya mirip sudoku. Begitu mengenali ini, dia bisa menyelesaikannya dengan cepat. Untuk anak-anak ada versi sudoku yang lebih kecil (bukan 9×9). Aturan sudoku sangat sederhana, dan bisa diajarkan dengan cepat. Tapi yang dibutuhkan oleh anak-anak adalah input dari orang tua untuk mengenal berbagai strategi yang ada, misalnya: coba kamu cari dulu, mana baris atau kolom yang punya 1 kotak kosong.

Board game yang kami miliki yang berusaha mengajarkan pemrograman adalah: Code Monkey Island. Menurut saya game ini cukup fun, tapi dari sisi programming kurang berhasil mengajari programming selain masalah kondisi (“if”).

 

Buku

Pendekatan offline lain  adalah melalui buku. Ada banyak buku menarik yang bisa dibaca oleh anak-anak, berikut ini review singkat dari beberapa buku yang kami miliki (mungkin di lain waktu kami akan menuliskan lebih dalam).

Buku Lift-the-flap computers and coding mengajarkan tentang dasar komputer. Isinya hanya fakta-fakta dan cerita yang menurut Jonathan cukup lucu.

Buku Coding for beginners using Scratch. Jonathan sudah meniru beberapa program dari buku ini, tapi sejauh ini kurang berkesan.

Buku seri micro adventures. Ini buku sangat lama, dan bentuknya novel yang disisipi kode dalam bahasa BASIC. Entah kenapa Jonathan justru sangat tertarik dan terkesan dengan berbagai program BASIC. Contohnya dia mengetik program BASIC untuk mendecode string (caesar cipher), dan ketika dia melihat ada puzzle semacam itu di buku lain, dia ingat programnya, dia ingin memakai programnya, dan juga dia mengerti untuk memodifikasi program dari enkrip menjadi dekrip dengan mengubah plus atau minus N.

Selain buku untuk anak-anak, buku  Mindstorms: Children, Computers, And Powerful Ideas patut dibaca oleh guru dan orang tua. Buku ini ditulis tahun 1980 dan direvisi tahun 1993. Buku ini ditulis oleh Seymour Papert, salah satu pionir AI, yang pernah bekerja sama bertahun-tahun dengan Jean Piaget, seorang psikolog dan filosofer yang terkenal karena studi epistemologi pada anak-anak (epistemologi adalah teori  mengenai pengetahuan). Jadi buku ini dituliskan oleh orang yang benar-benar mengerti ilmu perkembangan anak, dan yang benar-benar mengerti mesin.

Materi online

Sudah ada banyak materi online untuk mengajarkan pemrograman dan computational thinking. Berikut ini beberapa linknya (sebagian saya tahu ini dari Bu Inge yang terlibat aktif di Bebras Indonesia).

Untuk yang berbahasa Indonesia situs Bebras Indonesia berisi berbagai informasi Bebras dan, Olympia.id berisi materi dan contoh soal bebras.

CS Unplugged (dari University of Canterbury, New Zealand)  berisi berbagai kurikulum dan materi untuk berbagai usia. Sesuai namanya “unplugged”, tidak dibutuhkan komputer untuk belajar materi di situs tersebut. Materi yang ada perlu dibaca oleh pengajar dan diajarkan ke anak-anak, bukan kita serahkan langsung materinya ke anak-anak.

Dari jaman dulu BBC memiliki misi edukasi yang sangat baik. Di situs BBC ada topik Computational Thinking. Sama seperti CS Unplugged, materi yang ada perlu dibaca oleh pengajar dan diajarkan ke anak-anak.

Untuk pemrograman yang praktis, ada banyak situs, salah satunya adalah code.org. Di sini beberapa pelajaran langsung bisa diberikan ke anak (ada video dan teks yang bisa dibaca oleh anak-anak).

Banyak situs lain juga yang sangat abstrak tapi mungkin cocok untuk para guru agar lebih memahami konsep belajar di abad yang baru.

Penutup

Sebagai homeschooler kami tidak perlu menunggu sekolah untuk mengupdate dirinya dengan ilmu computational thinking.  Bagi kami topik ini juga cukup natural karena kami berdua memiliki background teknik informatika, jadi lebih mudah bagi kami menyisipkan topik computational thinking ini dalam pelajaran sehari-hari.

Di posting lain saya akan mencoba lebih banyak memberikan contoh-contoh praktis mengajarkan computational thinking dan mungkin juga akan membahas lebih detail berbagai aplikasi, buku, dan website yang pernah kami coba.

Berbagai Alasan Memilih Homeschool

Dulu, kalau dengar misalnya artis ngaku-ngaku dia di-homeschool, saya mikirnya ah itu alesan aja tuh, paling bilang gitu biar ga ditanyain kenapa ga pernah ke sekolah. Ya, kalau diterjemahkan bebas homeschool itu sekolah di rumah, dan dulu saya belum banyak tahu kalau homeschool itu ada begitu banyak metode dan kurikulum yang tinggal dipilih sesuai dengan yang kita mau, dan homeschool itu bukan berarti anaknya terserah aja mau belajar atau nggak.

Homeschool itu anaknya tetap belajar seperti halnya anak yang dikirim ke sekolah, dan pada level tertentu bisa ikut ujian/test atau dievaluasi untuk mengetahui apakah anaknya memang pantas disebut di level yang sesuai dengan usianya. Tapi sebelum kami menjalani homeschooling, kamipun punya banyak pertimbangan dan pertanyaan yang bikin kami maju mundur.

Sejak Jonathan masih belum sekolah, kami sudah mulai sering bertemu dengan keluarga yang menghomeschool anaknya. Di Chiang Mai banyak komunitas homeschooling baik itu orang asing maupun orang Thailand. Di Indonesia saya juga mengenal teman yang memutuskan homeschool anaknya, dan setelah tau lebih banyak saya jadi kagum dengan orangtua yang komit menghomeschool anaknya.

 

Dari sejak Jonathan masih kecil, Joe dan saya sudah sepakat kalau suatu saat kami akan menghomeschool Jonathan. Kami tetap kirim Jonathan ke preschool sampai SD kelas 1 karena kami ingin dia punya kesempatan merasakan sekolah.

Banyak alasan orang menghomeschool anaknya, ada yang alasannya ga percaya dengan sistem sekolah (lihat video di atas), ada yang merasa di sekolah lebih banyak pengaruh buruk daripada baik, di Amerika sekarang ini semakin banyak orang memilih homeschooling karena banyaknya kasus penembakan massal di sekolah. Alasan lain juga misalnya karena mereka sering berpindah-pindah negara/kota karena pekerjaan,misalnya sebagai missionaris, ada juga karena tinggal di kota kecil yang tidak ada sekolah yang menurut mereka cocok untuk anaknya.

Beberapa orangtua pengen memberikan kesempatan untuk anak mengembangkan minat bakat tanpa membebani dengan pelajaran yang akhirnya cuma lewat doang. Harus diakui banyak pelajaran yang saya pelajari selama sekolah dulu tidak begitu terpakai dan banyak yang sudah lupa, andaikan butuh mengingat bisa digoogle juga sekarang ini. Alasan lain bisa juga karena faktor kesehatan anak, faktor anak kebutuhan khusus dan bisa juga masalah ekonomi. Atau seperti artis yang memang butuh waktu khusus untuk belajar karena jadwalnya tidak memungkinkan untuk belajar di sekolah biasa.

Apapun alasannya, sekarang ini homeschooling sudah menjadi satu pilihan untuk mendidik anak dan mempersiapkan mereka untuk bersaing di masa depan. Semua orangtua tentunya ingin yang terbaik untuk anak, baik itu dengan mengirimkan anak ke sekolah ataupun yang menghomeschool dengan metode yang paling tepat buat mereka. Alasan kami menghomeschool Jonathan sekarang ini sudah dituliskan Joe pada posting sebelumnya.

Seperti halnya tidak ada individu/anak yang sama dan tentunya cara belajar tiap anak juga berbeda-beda. Tidak ada satu metode yang bisa diseragamkan dalam homeschooling ini. Dengan homeschooling kita memberikan metode yang sesuai dengan cara anak belajar dan tidak seperti disekolah yang cenderung menyeragamkan banyak hal dengan berbagai standarisasi.

Kami sepakat kalau pendidikan anak itu tanggung jawab orangtua dan berasal dari rumah. Kecenderungan yang terjadi waktu kami kirim Jonathan ke sekolah adalah, kami kurang memberikan waktu untuk mengasses Jonathan dan kami pikir sekolah pasti akan memberi masukan yang sesuai dengan kondisi Jonathan. Saya jadi terlalu santai.

Sejak umur 6 tahun, Jonathan sudah mulai bisa membaca, dan saya pikir wah lumayan ga harus ajarin Jonathan membaca. Berbeda dengan kebanyakan orangtua yang resah karena anaknya belum bisa baca ketika masuk SD, saya tidak pernah kuatir kalaupun Jonathan terlambat membaca, karena Joe bilang dia baru lancar membaca kelas 2 SD. Kami bersyukur Jonathan ga mengalami kesulitan belajar membaca. Untuk pelajaran matematika, Jonathan juga tidak mengalami kesulitan, dia bisa dengan cepat mengerti konsep yang baru diajarkan.

Sejak Agustus 2017 di masa bridging semester, kami memutuskan untuk menghomeschool Jonathan. Awalnya karena dia sakit dan kami minta beberapa pekerjaan dari sekolah untuk dikerjakan di rumah. Kami lihat kalau dia bisa mengerjakan dengan cepat dan setelah kerjaan sekolah selesai dia punya banyak waktu untuk istirahat. Kami tanya ke Jonathan dia mau homeschool atau tetap ke sekolah, dan dia bilang dia lebih suka belajar di rumah.

Masalah di awal, kami bisa dibilang ga punya persiapan untuk homeschooling. Kami belum memutuskan mau pakai metode mana dan kurikulum mana. Untuk mengisi kekosongan supaya ga kenapa ga belajar, kami membeli buku dan flash card brainquest dan juga buku Kumon untuk pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Sisanya kami berikan kebebasan Jonathan mau baca buku apa. Kami juga belikan beberapa buku lift the flap dari Usborne yang menarik buat dia.

Bulan Oktober akhirnya kami menemukan kurikulum yang sesuai dengan kami atas saran seorang teman. Pilihan jatuh ke kurikulum dari CLE karena materi dan cara penyajiannya sesuai dengan cara belajar Jonathan. Mengenai pertimbangan dan alasan dalam memilih kurikulum ini akan saya tuliskan di posting saya berikutnya.

Mengajarkan Basis Bilangan

Salah satu dari materi di pelajaran Language Arts adalah memahami dictionary order (lexicographical order) . Materi ini sangat mudah dimengerti, bahwa AAA muncul sebelum AAB. Beberapa latihan dalam materi ini adalah mempraktikkan mencari kata di kamus dan mengurutkan kata berdasarkan urutan kamus.

Seperti biasa, kadang Jonathan belajar di samping saya yang sedang bekerja di depan komputer. Jadi saya mencoba menguji Jonathan dengan soal sederhana, seperti, jika kita cuma punya 4 huruf dan kita urutkan berdasarkan urutan kamus, maka setelah AAAA, AAAB, AAAC adalah? jawabannya tentunya adalah AAAD. Nah setelah AAAZ berikutnya apa? saya membantu jawab dengan AABA, berikutnya Jonathan sudah tahu bahwa setelah AAZZ berikutnya adalah ABAA. Saya menggunakan Microsoft Word dengan font yang saya perbesar untuk bisa dengan cepat menjelaskan hal seperti ini.

Saya jelaskan juga bahwa sebenarnya cara kita berhitung dalam basis 10 juga seperti itu. Setelah digit terakhir (paling kanan) menjadi 9, maka berikutnya menjadi 0, dan kita menambahkan ke digit sebelumnya. Tadi ada 26 simbol untuk A-Z sedangkan untuk bilangan desimal ada 10 bilangan (0-9). Bagaimana jika kita cuma punya 0 dan 1 (biner). Saya mulai dengan 0000, apa berikutnya? gampang sekali dipahami bahwa ini menjadi 0001. Jonathan perlu berpikir sedikit untuk mengingat bahwa digit “2” tidak ada, jadi 1 kembali menjadi 0, dan digit berikutnya dinaikkan, hasilnya 0010. Berikutnya lagi kita tambah satu lagi menjadi 0011.

Sekarang saya memberi label desimal di sebelah kiri urutannya:

0 0000
1 0001
2 0010
3 0011

Dengan melihat tabel ini bisa dilihat bahwa 3 desimal sama dengan 0011 dalam biner. Saya bisa saja menjelaskan lebih lanjut mengenai cara singkat konversi dari biner ke desimal, tapi karena saya hanya menyisipkan materi di language arts maka tidak saya teruskan.

Sebenarnya masalah berhitung biner ini sudah pernah dibaca Jonathan, salah satunya dari buku Lift-The-Flap Computers and Coding.

Seperti kebanyakan buku, yang diajarkan biasanya lebih ke cara cepat konversi biner ke desimal, dan bukan mengapa cara berhitungnya seperti itu.

Ini sekedar cerita bahwa dengan metode homeschooling, sebagai pengajar saya bisa menyisipkan berbagai materi lain yang berhubungan dengan sebuah mata pelajaran, meskipun sepertinya pelajaran tersebut jauh sekali dari pelajaran saat ini. Saya juga bisa menjelaskan dengan cara yang menurut saya terbaik untuk Jonathan.

Sebagai catatan, hal seperti ini bukan cuma dilakukan oleh saya, banyak orang tua lain yang berusaha menjelaskan konsep kompleks kepada anaknya. Contoh yang saya baca baru-baru ini adalah: Conversations with a six-year-old on functional programming.

Sebenarnya banyak yang sudah menyadari betapa pentingnya menyambungkan satu konsep dengan konsep lain dengan istilah thematic learning (metode pembelajaran tematik). Tapi sering kali yang saya dapati dalam praktik adalah: materinya agak dipaksakan dan fokus yang salah. Mengenai materi yang dipaksakan ini bisa dilihat dari contoh-contoh yang kurang masuk akal di buku. Tema yang dianggap berhubungan juga biasanya terbatas, padahal banyak hal yang berhubungan di dunia ini.

Mengenai fokus yang salah biasanya karena gurunya berkonsentrasi hanya di bidang yang dikuasai atau disukainya. Kadang ini menyebabkan pelajaran tetap tidak bisa dipahami dan tidak berbekas di ingatan anak.

Contohnya: jika topiknya adalah tentang siklus air (water cycle) dan gurunya adalah tipe yang suka seni maka banyak waktu dihabiskan menggambar, mewarnai siklus air, membuat prakarya. Untuk tipe yang kurang menyukai seni seperti Jonathan, kegiatan seperti itu sangat membosankan. Seringkali ini juga jadi tidak tepat sasaran: yang suka seni hanya ingat bahwa tadi membuat gambar burung kecil di atas gunung, tapi tidak bisa menjelaskan water cycle, sementara anak lain yang tidak suka menggambar bisa menjelaskan secara lisan seluruh water cycle tapi merasa bosan berjam-jam mewarnai.

Demikian cerita singkat mengenai pelajaran basis bilangan ketika mengajar Jonathan.

Kenapa kami memilih homeschooling

Sebagian orang sudah memiliki pengalaman homeschool (atau mereka sendiri adalah hasil didikan homeschool) sehingga sudah sangat yakin untuk memulai homeschool, dan bahkan tidak mencoba sama sekali sekolah konvensional. Kami bukan orang yang seperti itu. Dari dulu kami tertarik dengan homeschool tapi belum yakin. Waktu Jonathan masih sekitar 3 tahun, Risna sempat bergabung dengan group homeschool dan belajar banyak tentang homeschool. Tapi kemudian kami memasukkan Jonathan ke sekolah, dan sepertinya Jonathan suka di sekolah.

Di masa level taman kanak-kanak, sekolah cukup menyenangkan bagi Jonathan, tapi ketika mulai masuk SD, sudah terasa menjadi beban, dan semakin bertambah ketika naik kelas 2. Jonathan tidak memiliki kesulitan untuk masalah membaca, menulis dan matematika tapi masalah dengan kegiatan sekolah yang terlalu lama. Di Thailand sini, semua sekolah yang kami tahu merupakan sekolah full day, mulai dari jam 8.30 pagi (bahkan ada yang lebih pagi) sampai sore (15.00, dan beberapa sekolah bahkan lebih lagi).

Biasanya siklus yang terjadi adalah: Jonathan tidak bisa langsung tidur di malam hari, bangun masih ngantuk, di sekolah kurang bisa konsentrasi, dan ketika dijemput tertidur di mobil. Karena tertidur di mobil, malamnya jadi susah tidur cepat, dan begitu terus berulang. Sudah beberapa kali kami coba break cycle ini, tapi tidak berhasil. Jika ada kegiatan yang melelahkan di sekolah, Jonathan tertidur lagi di mobil, dan semua kembali terulang lagi.

Salah satu penyebab masalah ini adalah: Jonathan sudah masuk SD sejak umur 5 1/2 tahun, dan untuk sebagian anak seperti Jonathan, dia masih butuh tidur siang. Waktu itu kami percaya pada assesment dari pihak sekolah yang menyatakan Jonathan sudah siap masuk SD. Secara kemampuan akademik memang demikian, tapi ternyata kurang siap di hal lain. Saya dan Risna ketika SD hanya 1/2 hari, dan bahkan hanya beberapa jam saja ketika kelas 1-2 SD dan bisa tidur siang setiap hari. Dan menurut kami itu lebih santai.

Sebelum homeschool, Jonathan juga memiliki masalah dalam makan: lambat sekali ketika makan. Di sekolah, jam makan dibatasi, akhirnya Jonathan hanya makan sedikit, dan ini kurang baik untuk kesehatannya. Badannya kurus, perlu tambahan multivitamin,dan setiap kali sakit (misalnya batuk), lama sekali pulihnya.

Awal kami mulai homeschool adalah karena kombinasi dari hal di atas, ditambah lagi pergantian semester di sekolah Jonathan. Sekolah Jonathan adalah sekolah internasional dengan kurikulum Australia. Tadinya mereka mengikuti jadwal semester Thailand, tapi mereka mulai beralih dari jadwal semester Thailand ke Australia. Artinya akan ada beberapa bulan yang akan masuk ke bridging semester yang sifatnya opsional. Di masa ini kami merasa patut mencobakan homeschool ke Jonathan.

Ada banyak pendekatan homeschooling, dari mulai unschooling (anak belajar apa saja yang dia mau), membeli kurikulum tertentu, mengikuti group homeschool, atau bahkan memanggil guru untuk mengajar di rumah. Pendekatan yang kami ambil adalah: kami membeli kurikulum yang menurut kami cocok, dan memasukkan Jonathan ke berbagai les untuk topik yang tidak kami kuasai.

Kurikulum yang kami pilih adalah CLE (Christian Light Education). Kami juga menambahkan sendiri materi lain yang diperlukan. Sebagai stay at home mom, Risna punya waktu untuk mengajar sendiri semua materinya. Risna juga punya background pendidikan yang lebih dari cukup (S1 dan S2 di Informatika ITB). Risna juga dulu selalu ranking 1 selama SD/SMP/SMU. Kami berdua juga pernah menjadi teaching assistant di ITB ketika mengambil S2. Ini juga sekaligus untuk menjawab pertanyaan beberapa orang: apakah cukup diajar orang tuanya saja? Menurut saya kualifikasi kami sudah cukup, dan lebih dari rata-rata guru di berbagai sekolah.

Bahkan sebenarnya dengan kurikulum tertentu (seperti CLE ini), guru tidak harus sangat pintar. Asalkan orang tua mau meluangkan waktu, ada guidebook yang bisa dibaca, dan ada kunci jawaban untuk setiap soal. Untuk level SD, kebanyakan soal hanyalah hal dasar. Fokusnya lebih ke belajar matematika dasar, membaca dan memahami teks (sambil menghapalkan fakta-fakta yang penting untuk kehidupan), dan belajar menuliskan ide dengan baik.

Kami tidak merasa mampu mengajarkan semua bidang. Contohnya: kami tidak memiliki kemampuan musik yang baik, jadi kami bawa Jonathan ke tempat kursus piano. Ini sekaligus sebagai pelajaran musik Jonathan. Untuk olahraga, kami membawa Jonathan 2 kali seminggu ke kelas Tae Kwon Do. Untuk pelajaran membaca dan menulis bahasa Thai, kami membawa Jonathan ke Kumon Thai. Untuk pelajaran seni, kami membawa Jonathan ke kursus art (terutama menggambar).

Selain sekolah Minggu, berbagai kegiatan di luar rumah tersebut juga menjadi tempat sosialisasi bagi Jonathan. Kegiatan lain yang kami ikuti adalah homeschool cooperatives (koperasi homeschool) yang mempertemukan keluarga yang homeschooling anaknya. Secara umum kami tidak terlalu khawatir dengan masalah sosial karena Jonathan mudah sekali berteman dan bergaul dengan seseorang. Jika kami melepaskan dia playground, biasanya dalam beberapa menit dia sudah berkenalan dengan beberapa orang dan bisa bermain bersama.

Meskipun sepertinya kegiatannya sangat banyak, tapi tiap hari kegiatannya bisa dilakukan dalam waktu singkat, hanya beberapa jam saja sehari, dan biasanya semua bisa selesai sebelum jam makan siang. Setelah itu Jonathan bisa tidur, membaca buku, atau belajar berbagai hal lain di luar materi homeschool. Di sekolah sebenarnya materi yang diajarkan juga tidak banyak, tapi banyak kegiatan yang menurut kami sifatnnya filler, dan kadang kurang efektif.

Dari segi biaya, secara umum homeschool relatif murah. Biayanya tentunya di atas sekolah negeri, tapi di bawah sekolah-sekolah yang dituliskan di posting Mahalnya Sekolah. Biaya yang tadinya kami gunakan untuk uang sekolah Jonathan berpindah ke biaya untuk materi kurikulum, biaya les, berbagai alat (misalnya talking pen di posting sebelumnya) serta banyak buku.

Bagaimana dengan masalah ijazah? ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan. Secara singkat jawabannya: kami belum terlalu memikirkannya sekarang. Jika kami ingin kembali ke Indonesia, Jonathan bisa mengambil ujian persamaan. Jika Jonathan ingin bersekolah ke negeri lain, ada test persamaan juga (misalnya ada test persamaan untuk sekolah Amerika dan test ini bisa dilakukan di Bangkok). Kami tidak terlalu khawatir, karena mungkin saja dalam beberapa tahun ke depan berbagai aturan sudah akan berubah. Saat ini profesi yang saya ambil (programmer) tidak mewajibkan memiliki Ijazah, yang penting adalah kemampuan (skill), dan inilah yang kami tekankan untuk saat ini.

Meskipun belum memikirkan Ijazah, yang jelas tiap beberapa hari ada kuis dan ujian untuk Jonathan, dan kami memastikan Jonathan menguasai dengan baik semua materi yang diajarkan. Kami cukup yakin Jonathan bisa bersaing dan bisa lulus dalam test apapun yang diberikan sesuai untuk usianya.

Perlu dicatat juga bahwa homeschool tidak legal di semua negara. Di Thailand dan Indonesia homeschool diperbolehkan, tapi di negara lain ada yang tidak diperbolehkan, atau harus mengikuti aturan tertentu. Jadi jika Anda berada di negara lain, silakan cek dulu aturan negara tersebut.

Jonathan masih sering kami tanya apakah lebih memilih homeschool atau kembali ke sekolah. Jawabannya sampai saat ini adalah: homeschool. Kesehatan Jonathan sekarang sudah bagus, tidurnya cukup, berat badannya juga sudah naik, tidak terlalu kurus lagi. Waktu untuk bermain dan membaca buku juga banyak, bahkan sudah belasan buku diselesaikan Jonathan sebulan terakhir ini (termasuk juga buku pertama Harry Potter).

Jonathan bermain-main dengan electromagnet

Jonathan juga lebih cepat mengerti berbagai materi karena jika ada yang tidak dimengerti saya bisa membantu menjelaskan, baik secara langsung maupun dengan bantuan website dan video dari YouTube. Saya juga bisa memberikan materi ekstra seperti dasar-dasar elektronik ke Jonathan.

Saat ini Joshua belum kami putuskan apakah akan ikut homeschool atau sekolah biasa. Sampai saat ini dia senang belajar sendiri, dan bahkan ikut menghapalkan hal-hal yang diajarkan ke kakaknya (misalnya dia sudah hapal square numbers/bilangan kuadrat, dari 1×1=1 sampai 12×12=144).

Perlu dicatat bahwa homeschool mungkin tidak cocok bagi semua orang. Mungkin anak bisa kesepian dan ingin ikut sekolah biasa. Mungkin orang tua tidak punya waktu untuk mendidik anaknya. Keputusan homeschool menurut kami sudah tepat saat ini bagi kami, tapi mungkin kurang cocok bagi orang lain, atau mungkin perlu pendekatan berbeda untuk orang lain.

Tulisan ini fokusnya hanya mengenai kenapa kami memilih homeschool untuk Jonathan dan bagaimana kami mengajar Jonathan. Kami berencana akan menuliskan lebih banyak lagi berbagai hal yang berkaitan dengan homeschool ini.