Menghindari Mengingat dan Menghapal

Semua orang bisa mengingat banyak hal yang berkesan bagi mereka, tapi jarang yang bisa mengingat semua hal dengan baik. Karena kapasitas memori saya terbatas, saya  berusaha melakukan berbagai cara untuk berusaha tidak menghapal/mengingat sesuatu ini.

Sayangnya saat ini kita belum bisa mengupgrade otak dengan kapasitas memori lebih tinggi

Memahami

Cara pertama untuk tidak perlu mengingat adalah dengan memahami. Jika kita sudah paham sesuatu, maka biasanya kita akan ingat. Beberapa detail bisa dicek di search engine dan bisa melihat catatan. Memahami sesuatu memang tidak mudah baik itu konsep baru, bahasa baru, tools baru, tapi setelah paham akan lebih mudah untuk mengingat sesuatu.

Seperti kebanyakan orang, jika saya butuh sesuatu, saya akan cari di internet, lalu copy paste jika butuh satu perintah saja (misalnya bagaimana mengkonversi format tertentu). Tapi jika sudah dua-tiga kali copy paste perintah yang sama, saya coba baca manualnya untuk memahami perintah tersebut. Khusus untuk kode program, saya sangat khawatir kode yang saya copy paste mengandung bug, jadi saya akan baca dengan teliti dan memastikan solusinya sudah yang terbaik.

Salah satu yang yang penting yang perlu dipahami adalah: apakah sesuatu bisa diotomasi? jika tidak bisa, kata kunci apa yang perlu diingat supaya gampang jika harus mencari bantuan di search engine.

Belajar membaca dokumentasi

Sampai saat ini saya masih sering lupa berbagai perintah gdb selain yang saya pakai sehari-hari. Tapi tidak apa-apa karena mudah dicari di internet, dan juga di halaman “Info” gdb. Berbagai parameter command line juga tidak saya hapalkan, jadi saya hanya ingat yang saya pakai sehari-hari.Biasanya saya hanya mengingat apakah program ini punya fitur X, detail parameternya dicek lagi nanti di man page atau info.

Beberapa program fiturnya sangat banyak sehingga mustahil diingat.  Dalam kasus ini mau tidak mau kita perlu belajar membaca dokumentasi. Contoh program yang fiturnya sangat banyak  adalah imagemagick. Program ini bisa melakukan hampir operasi apa saja terhadap gambar. dari mulai membuat gambar kosong, meng-crop, menambah teks, merotasi gambar, mengubah ukuran gambar, dan bahkan membandingkan dua gambar.

Otomasi

Kalau sesuatu bisa diotomasi, maka saya tidak perlu mengingat sama sekali. Jadi saya sudah mensetup berbagai skrip. Skrip ini ada yang otomatis (via cron), dan ada juga yang bisa saya jalankan ketika butuh.

Jangan heran kalau ditanya seseorang, saya tidak selalu bisa menjawab bagaimana caranya melakukan sesuatu dengan command line karena saya sudah membuat skripnya. Karena skripnya sudah tertulis, saya hanya perlu membuka lagi kalau memang ingin tahu.

Segala sesuatu yang sering saya lakukan akan saya simpan konfigurasinya, misalnya jika saya sering konek ke server tertentu, maka konfigurasinya saya simpan di .ssh/config, dan saya tidak perlu lagi mengingat nama user, nama domain, port, dsb. Di editor juga sudah saya set berbagai konfigurasi misalnya, ketika menyimpan file Python, selalu hapus “trailing whitespace” (spasi yang kadang ada di akhir baris):

(defun my-python-mode-before-save-hook ()
(when (eq major-mode 'python-mode)
(delete-trailing-whitespace)))

(add-hook 'before-save-hook #'my-python-mode-before-save-hook)

Sebagai tambahan: untuk mengedit teks kode, saya juga membuat abbreviation, misalnya “cstr<spasi>” menjadi “const std::string”. Awalnya saya harus ingat shortcut ini, tapi tidak lama kemudian sudah jadi refleks.

Search Engine

Sebagian besar yang tidak saya ingat bisa dicari di search engine asalkan tahu kata kunci yang tepat. Berbagai fitur search engine juga sebaiknya diketahui, misalnya bahwa kita bisa mencari di range tanggal tertentu, atau situs tertentu, atau hanya ingin mencari berita saja.

Meski banyak hal bisa dicari, kita harus ingat  keyword penting untuk pencarian. Misalnya untuk pencarian bahasa “go”, jangan gunakan “go” tapi gunakan “golang”. Jika mencari informasi smart card, biasanya perlu tambahan “pdu” atau “apdu” untuk memfilter agar artikel teknis yang muncul.

Foto

Jika sesuatu sulit diingat, maka perlu didokumentasikan, dan cara paling mudah adalah dengan foto. Kalau saya pergi ke suatu tempat, saya akan mengeluarkan HP dan memotret beberapa kali. Bahkan ke tempat yang sering saya kunjungi juga begitu, supaya ingat: kapan terakhir kali ke tempat itu. Foto dari HP juga sudah dilengkapi dengan lokasi GPS, jadi bisa digunakan untuk tujuan Google Maps jika perlu pergi ke tempat itu lagi.

Semua foto saya upload ke Google Photos, jadi gampang di-search, baik berdasarkan lokasi, nama objek maupun waktu. Google Photos sangat cerdas sehingga kita bisa mencari “elephant” dan akan keluar semua gambar gajah, atau “Chiang Mai Zoo” dan keluar semua gambar yang lokasinya di Chiang Mai Zoo.

Membuat Catatan

Jika butuh reminder sesuatu, saya menggunakan Google di Android untuk mencatat saat itu juga dengan suara. Misalnya jika di dokter gigi dan ingin mencatat kapan lagi harus cek gigi. Sekarang ini berbagai digital assistant cukup pintar dan bisa mengenali berbagai request dengan baik.

Saya juga memakai Google Keep untuk catatan yang sifatnya cukup panjang misalnya daftar komponen elektronik untuk dibeli. Ini juga berguna untuk menulis ide yang teringat sebelum tidur.

Kalau saya nemu link yang menarik, biasanya sekarang saya simpan di Telegram supaya gampang dicari. Dulu saya sering menyimpan di aplikasi Pocket, tapi jarang saya buka lagi sedangkan saya membuka aplikasi Telegram hampir tiap hari.

Untuk catatan yang terstruktur saya memiliki wiki personal (dengan mediawiki). Isinya apa saja yang pernah saya oprek dan hal-hal lain yang sulit saya ingat. Segala macam informasi tentang hardware yang saya miliki juga saya catat di situ.

Mencatat memang kadang membosankan, tapi sering kali saya menghemat waktu dengan catatan. Contoh beberapa kali ditanya UDID iPhone. Ini gampang dilihat dengan iTunes, tapi ketika saya di luar dan ditanya UDID-nya, maka jika saya tidak punya catatan akan cukup repot mencari tahu informasi ini.

Source Code

Dari dulu saya sering bereksperimen menulis banyak kode program dan kodenya biasanya saya biarkan saja, tidak dihapus tapi juga tidak disimpan khusus. Tapi sekarang hampir semuanya saya masukkan git karena ternyata saya sering butuh hasil eksplorasi sebelumnya. Saya memakai server saya sendiri untuk proyek personal saya (dengan software gitolite).

Saat ini isinya sudah ratusan repository (waktu tulisan ini dibuat: 269 repository). Isinya kebanyakan proyek yang tidak bisa dirilis ke umum, catatan pribadi, dan berbagai proyek pribadi yang tidak diselesaikan.

Untuk testing kode yang sifatnya algoritmik dan tidak butuh hardware khusus atau lingkungan khusus, saya memakai Jupyter Notebook. Dengan ini saya bisa mencoba-coba berbagai algoritma dasar, biasanya sih untuk oprek masalah enkripsi ketika melakukan CTF dan pentest.

Penutup

Tentunya ada juga hal-hal yang tetap tidak bisa diingat. Beberapa hal juga sulit diotomasi, misalnya kalau ketemu X, bawakan bumbu Y. Nah belum tahu kapan ketemu dengan orang X tersebut (kadang di tempat les anak, kadang di jalan, dsb), jadi sulit membuat remindernya. Tidak bisa juga bumbu disimpan lama di mobil, jadi tetap harus ingat sebelum pergi janjian untuk membawa barangnya ke mobil. Untuk hal-hal yang sulit diingat seperti itu, saya mengandalkan istri saya untuk membantu mengingat (walau kadang kami berdua tetap tidak ingat)

Tambahan terakhir: jangan berbohong. Mengingat detail kebohongan itu susah, jadi sebaiknya selalu jujur supaya tidak perlu banyak mengingat sesuatu.

 

AlphaSmart Dana

AlphaSmart Dana adalah device Palm OS lama dengan form factor keyboard yang sudah tidak diproduksi lagi. Device ini dulu cukup populer di banyak sekolah di amerika, terutama digunakan untuk anak-anak yang kesulitan menulis dengan pulpen/pensil. Device ini saat ini masih populer di kalangan penulis karena beberapa hal: keyboardnya enak dipakai untuk mengetik, minim gangguan (karena tidak bisa mengakses internet), relatif ringan (sekitar 1 kg), memakai 3 Batere AA biasa (atau yang rechargable) dan tahan beberapa puluh jam sebelum perlu mengganti batere lagi. Ada dua versi Dana, Wireless dan non wireless, yang akan dibahas di sini adalah versi wireless yang kami punya.

Stiker biru kecil di tengah Dana itu ditempelkan supaya gampang membedakan dari Dana yang lain.

Untuk mentransfer data ke komputer, ada beberapa opsi. Opsi pertama adalah menggunakan mode keyboard, dengan ini seolah-olah alphasmart akan “mengetik ulang” isi file ke editor apapun yang terbuka di layar komputer. Dengan cara ini AlphaSmart Dana bisa terkoneksi ke device apa saja yang menerima input dari USB keyboard (termasuk juga tablet atau ponsel, asalkan bisa memberikan cukup daya). Kabel yang digunakan adalah kabel USB printer standar. Opsi kedua adalah dengan menggunakan jaringan WIFI (sayangnya yang disupport hanya WEP). Opsi terakhir adalah dengan menggunakan SD Card

Karena menggunakan sistem operasi Palm OS, maka berbagai aplikasi Palm OS lama bisa diinstall di device ini dan tentunya kita bisa membuat sendiri aplikasi baru yang dibutuhkan. Contoh aplikasi yang bisa diinstall misalnya: Bible Reader (terpakai oleh Jonathan), Kamus, dan Timer. Sayangnya ukuran device ini tidak standar, jadi banyak aplikasi hanya akan muncul kecil di tengah layar. Beberapa aplikasi bisa diakali menggunakan RsrcEdit agar bisa menggunakan layar yang besar, tapi beberapa perlu dicompile ulang (jika sourcenya tersedia).

Beberapa tahun lalu saya sebenarnya sudah tertarik membeli device ini, harganya relatif murah (sekitar 20-50 USD, tergantung sellernya di eBay), tapi yang tidak murah adalah ongkos kirimnya, sehingga harga totalnya lebih dari 120 USD.

Tahun ini saya berusaha seminimal mungkin membeli gadget ataupun komponen elektronik untuk dioprek. Ketika mendekati ulang tahun saya, saya berpikir untuk membeli satu device untuk hadiah diri sendiri. Tadinya terpikir membeli console Nintendo Switch (apalagi baru ada kabar ini mulai bisa dihack) atau Nintendo 3DS (yang harganya sudah tidak terlalu mahal). Tapi kalau dipikir-pikir saya jarang sekali bermain game, jadi saya urungkan niat membeli console game.

Begini layar Dana di emulator Palm OS. Aslinya tidak sejernih ini.

Saat ini AlphaSmart seri Dana sudah mulai sulit dicari di eBay. Kebanyakan yang ada adalah AlphaSmart Neo, yang merupakan versi sebelumnya. Alphasmart Neo tidak memiliki sistem operasi dan bisa bertahan puluhan hingga ratusan hari dengan beberapa batere AA. Kelemahan Neo bagi saya adalah sulit dioprek (karena tanpa OS)

Ketika saya melihat ada yang menjual Dana di-eBay, tapi harga plus ongkos kirimnya 110 USD, saya kembali mengurungkan niat. Tapi kmemudian muncul listing lain: 7 Alphasmart Dana versi Wireless berikut ongkos kirim total semuanya menjadi 228 USD. Sebenarnya saya nggak butuh 7 benda ini, tapi jika dirata-ratakan harganya hanya 32.5 USD. Saya cukup yakin bisa menjual ulang benda ini dengan harga 33 USD per item (dan sudah terjual 2). Selain itu saya juga ingin mencobakan benda ini ke Jonathan.

7 Dana. Semuanya sudah ada dialokasikan, belum dikirimkan.

Ketika sampai, saya langsung coba semuanya dan semua berjalan normal. Tapi sayangnya hanya 3 yang memiliki stylus. Untuk memilih menu, kita bisa memakai jari, dan stylus apa saja bisa dipakai di benda ini, selain itu sebenarnya jarang sekali stylus ini dipakai karena semua  fungsi bisa diakses dari keyboard.

Layar Dana adalah seperti pada PDA Palm lama, jadi bagi sebagian orang mungkin akan sulit membaca layar ini. Bagi saya sih baik-baik saja. Layar Dana ada backlightnya sehingga bisa dipakai dalam gelap. Layarnya juga cukup jelas terbaca di bawah matahari langsung. Bagi sebagian orang kontrasnya kurang bagus dan sudut pandangnya kurang bagus. Benda ini juga tidak memiliki keyboard backlight, jadi harus memakai touch typing ketika mengetik dalam gelap. Sebuah lampu USB bisa dipasang di atas benda ini tapi akan boros batere.

Dengan menggunakan alphasmart saya dipaksa untuk tidak mengecek internet, dan juga tidak terganggu dengan berbagai notifikasi. Sejauh ini saya jadi lebih banyak menulis artikel blog (seperti artikel ini yang ditulis di AlphaSmart lalu ditransfer ke komputer).

SD Card

Dana mendukung dua SD Card. Agak aneh memang karena device modern biasanya hanya mendukung 1 kartu saja. Aplikasi bisa diletakkan di SD Card, jadi kita bisa menyimpan aplikasi di SD card pertama sementara SD Card kedua untuk data. SD Card yang didukung hanya yang ukurannya maksimum 1GB. Card ukuran ini sudah sulit dicari tapi masih bisa didapatkan secara online.

Secara umum penyimpanan internal Dana tergolong besar untuk Palm OS, biasanya PalmOS hitam putih hanya sampai 8 MB memorinya, tapi Dana sampai 16 Mb. Seperti Palm OS, memori Dana sifatnya volatile, artinya akan segera hilang isinya jika batere dicabut (tapi ada kapasitor yang bisa menyimpan data beberapa menit sementara kita mengganti baterenya). Jadi jangan sampai batere Dana benar-benar habis, karena semua isinya akan hilang.

Sebagai catatan: jika 1 kata rata-rata 10 huruf (kata dalam bahasa Indonesia cukup panjang), dan kita menulis 1000 kata per hari, maka hanya butuh 10kB, dan setahun hanya butuh 3650 kB atau 3.65 MB (jangan protes dengan konversi x1000 bukan x1024 saya memakai decimal prefix bukan binary prefix). Jadi tanpa SD Card pun kapasitas Dana sudah cukup besar. Sebuah SD Card 16 MB akan cukup besar untuk kebutuhan sebagian besar orang.

Battery Hack

Aslinya Dana bisa memakai 3 batere AA biasa (non rechargable), atau battery pack yan rechageable. Keduanya memakai slot yang sama, jadi tidak bisa kita memakai keduanya sekaligus. Bedanya antara batere biasa dan rechargeable pack hanyalah pada konektornya. Konektor batere biasa tidak akan menerima arus charging ketika Dana dicolok ke adaptor atau ke komputer, sedangkan konektor satu lagi akan menerima charging.

Hack paling sederha adalah: mengganti agar kabel charging bisa dipakai di slot batere biasa. Alternatif lainnya adalah membongkar battery pack lama dan menggunakan kabel itu tanpa menyolder kabel. Cara ini yang saya lakukan. Sekarang tiap beberapa hari saya bisa menhubungkan Dana ke komputer sambil charging.

Begini baterry pack aslinya. Saya kupas untuk diambil kabelnya saja.
Batere rechargeable saya pasang dengan konektor yang dilepas dari battery pack lama.

Sinkronisasi dengan PC

Saat ini software sinkronisasi Palm OS masih bisa digunakan di Windows 10, termasuk juga yang 64 bit. Sayangnya Dana tidak bisa disinkronisasi dengan Linux. Dulu saya pernah memakai Palm dengan USB dan sudah tahu berbagai triknya di Linux, tapi sayangnya module kernel visor tidak mengenali benda ini. Saya sudah berusaha compile ulang modul kernelnya dengan memodifikasi Vendor/Product ID agar dikenali, tapi ternyata protokolnya berbeda dan Dana akan crash ketika saya paksa.

Akses WIFI

Saya sudah mensetup access point dari Raspberry Pi untuk bisa menyimpan dan membuka dokumen dari jaringan. AlphaSmart hanya mendukung WEP dengan enkripsi 40 atau 128 bit. Share yang bisa diakses adalah SMB versi 1. Di Raspberry Pi saya setup Dropbox Uploader sehingga file yang saya simpan di folder akan diupload ke Dropbox. Tutorialnya sudah saya tulis di blog saya yang lain.

Meskipun teorinya bisa dipakai untuk browsing web sederhana, tapi berbagai software yang ada sudah terlalu tua dan berbagai web yang ada sudah  terlalu kompleks. Jadi akses WIFI ini hanya saya gunakan untuk mengirimkan dokumen supaya terarsip di Dropbox.

Dana terkoneksi ke jaringan

Sebagai catatan: jangan mengubah akses poin di rumah menjadi WEP, karena mudah sekali dicrack. Dengan RPI dan USB Dongle, range WIFI hanya dekat saja (paling menembus 1 kamar). Share untuk dana juga sebaiknya tidak dicampur dengan file lain karena dua alasan: supaya Dana tidak hang atau bingung jika ada terlalu banyak file, dan juga agar file lain aman andaikan ada yang berhasil masuk melalui access point yang ditujukan untuk Dana.

Penutup

Sejauh ini saya cocok memakai AlphaSmart Dana, dan sudah menulis banyak posting blog sejak menggunakan benda ini serta cukup banyak mengoprek benda ini. Bagi Risna menulis di AlphaSmart kurang nyaman karena kurang bisa melihat dengan jelas teks di layar dan kurang nyaman untuk editing. Jonathan baru suka bereksperimen memakai Dana, tapi belum suka banyak mengetik.

 

11 Tahun di Chiang Mai

Wow, siapa sangka kami bisa betah sampai 11 tahun di Chiang Mai. Rasanya dulu kalau dibilang harus di Chiang Mai sampai lebih dari 11 tahun kemungkinan saya bakal bisikin Joe buat cari kota lain aja buat tinggal. Tapi sejak pertama kali mendarat ke kota ini saya langsung suka dengan suasananya. Cuaca di awal Mei agak adem karena mulai memasuki musim hujan, jalanan sepi karena anak sekolah masih pada libur dan warna langitnya cerah.  Awalnya saya pikir kota ini akan dingin seperti Bandung, tapi ternyata nggak.

Populasi orang Indonesia pada saat itu juga masih langka. Sampai dengan 4 tahun pertama rasanya belum ada komunitas orang Indonesia di Chiang Mai seperti sekarang ini (sekarang anak kecilnya aja lebih dari 10 kalo kumpul lengkap). Komunitas orang Indonesia di Chiang Mai ini beraneka ragam, biasanya tiap beberapa tahun ada yang pindah tapi juga selalu ada yang baru datang lagi. Beberapa orang awalnya rencana hanya sebentar saja tapi kemudian jadi betah dan tinggal lama di sini seperti kami.

Banyak yang bertanya ke kami kenapa bisa betah di Chiang Mai, dan apakah anak-anak bisa berbahasa Thai? terus gimana sekolah anak-anak? Ada rencana pulang gak ke Indonesia atau mau selamanya di Chiang Mai?.

Kami betah di sini faktor paling berasa itu aman dan nyaman. Kalau di Indonesia rasanya ke mall atau ke tempat keramaian itu harus waspada 100 persen, terus di banyak tempat yang jelas-jelas ada tulisan dilarang merokok tetap saja berasa banget bau asap rokok (padahal ruang ber AC). Kalau di sini selama 11 tahun kami jarang ketemu orang merokok, dan gak pernah merasa ruangan dalam airport bau rokok. Ini cuma salah satu contoh ya, karena saya sangat sensitif dengan bau asap rokok, jadi biasanya begitu sampe Indonesia, masih di airport saja saya sudah merasa gak nyaman dengan bau rokok dalam ruangan airport, berikutnya perasaan jengkel kalau koper kena kapur dan disuruh buka padahal isinya ga ada yang luar biasa.

Selama 11 tahun di Chiang Mai, dengan frekuensi hampir tiap tahun pulang minimal sekali, kami belum pernah disuruh buka koper di airport. Masalah keamanan di sini juga relatif lebih aman, kami bisa dengan tanpa kuatir meletakkan beberapa perabotan rumah seperti tabung gas, mesin cuci ataupun sepeda anak-anak di luar rumah. Saya inget mertua saya cerita kalau pot bunga yang dia letakkan di dekat pagar rumah saja bisa hilang. Mama saya juga sampai pernah komentar memastikan itu mesin cuci gak hilang kalau diletakkan di luar?.

Sebenernya menuliskan hal soal ketidakamanan dan ketidaknyamanan di Indonesia membuat saya merasa malu, kenapa saya jadi terkesan Indonesia nggak ada bagusnya ya? Indonesia itu banyak hal bagusnya, beberapa kali kamipun mulai bertanya-tanya apakah kami akan selamanya di negeri orang atau pulang saja ke Indonesia. Faktor yang menjadi pertimbangan pulang ya seperti kata pepatah, seenak-enaknya di negeri orang pasti lebih enak di negeri sendiri.

Di sini kami setiap tahun harus mengurus ijin tinggal, lalu setiap 90 hari harus lapor diri ke imigrasi. Setiap mau travel keluar dari Thailand harus urus reentry visa. Semua urusan itu tentunya tidak dibutuhkan kalau tinggal di Indonesia. Makanan di Indonesia juga masih tetap terasa lebih enak, apalagi kalau dimasakin mama atau mertua hahaha.

Beberapa hal lain yang bikin betah di sini adalah akses internet bisa lebih cepat dan lebih stabil. Layanan perbankan juga buka 7 hari seminggu (sampai malam di mall). Daya listrik yang cukup besar buat pasang AC di semua kamar tidur (asal kuat bayarnya) dan relatif jarang ada pemadaman sampe seharian penuh.

Setelah tinggal di Chiang Mai kami juga jadi merasa biasa makan pake ketan sebagai pengganti nasi. Dulu di Indonesia makan ketan itu dianggap cemilan, udah makan ketan masih harus makan nasi lagi. Awal-awal di sini saya juga merasa aneh makan siang pake somtam (papaya salad) dan nasi yang rasanya sekilas seperti asinan bogor tapi sekarang hal itu udah jadi ga aneh lagi. Makanan yang paling signifikan beda dengan di Indonesia adalah menu pork. Mayoritas penduduk Thailand beragama Buddha, sebagian vegetarian tapi mayoritas menu makanan pasti ada pork nya. Saya masih inget, jaman mahasiswa di Bandung, menu makanan yang ada porknya dianggap istimewa dan dicari-cari seperti barang langka, di sini menu dengan beef yang menjadi makanan langka.

Setelah 11 tahun di Chiang Mai, saya makin merasa betah karena vocabulary bahasa Thai saya sudah semakin banyak. Membaca tulisan Thai masih tetap jadi tantangan karena ga ada kebutuhan yang mengharuskannya saya membaca banyak tulisan Thai. Anak-anak di rumah malah kebanyakan berbahasa Inggris.

Jonathan kebanyakan bicara bahasa Inggris sejak disekolahkan ke sekolah internasional. Sejak tahun lalu kami memutuskan Jonathan sekolah di rumah saja, dan sekarang dia mulai banyak juga bicara bahasa Indonesia. Kami juga mendaftarkan Jonathan kumon Thai dan dia mulai bisa membaca dan menulis bahasa Thai.

Joshua masih belum mau ke daycare, bulan Maret lalu kami coba kirim ke daycare, tiap hari masih nangis dan baru 2 minggu sekolah dia ketularan batuk pilek parah, jadi kami ga terusin kirim dia ke daycare. Joshua kebanyakan kosakatanya menggunakan bahasa Inggris, sepertinya karena buku yang kami bacakan dan lagu nursery rhymes yang dia lihat dan dengar juga berbahasa Inggris. Jonathan juga seringnya ajak Joshua komunikasi pakai bahasa Inggris. Joshua ngerti bahasa Indonesia, dia tapi masih lebih suka belajar apapun dalam bahasa Inggris. Mudah-mudahan kalau makin besar Joshua mau belajar bahasa Indonesia dan Thai juga.

Waduh tulisan mau update singkat jadi panjang aja.Ga bisa meresumekan 11 tahun dalam beberapa paragraph saja. Tapi sepertinya cukup dulu updatenya, semoga besok bisa melanjutkan tulisan seputar Chiang Mai.

Seri Buku Micro Adventure

Ini cuma kisah singkat mengenai seri buku cerita yang saat ini mulai disukai Jonathan: Micro Adventure. Seri ini diterbitkan di tahun 1980-an  oleh Scholastic dan cukup terkenal pada masanya.  Satu hal yang menarik dari buku-buku ini adalah: di dalamnya ada program dalam bahasa BASIC yang bisa diketikkan dan merupakan bagian dari cerita.

Jonathan sedang menyalink kode dari buku ke QBasic di Dosbox
Jonathan sedang menyalink kode dari buku ke QBasic di Dosbox

Buku pertama yang selesai dibaca Jonathan adalah Space Attack, buku ini terbit tahun 1984.

Di awal cerita buku pertama ada pesan rahasia yang harus didekrip. Sebenarnya bisa didekrip manual (caesar cipher), tapi lebih menarik jika didekrip dengan program.

Program yang diberikan dapat berjalan di berbagai komputer yang ada di jaman itu jika ada tanda centang untuk platform tersebut, dan kadang diperlukan modifikasi untuk komputer tertentu dengan cara modifikasi diberikan di akhir buku.

Waktu saya kecil, saya tidak pernah tahu mengenai seri buku ini karena sampai 1986 saya tinggal di desa tanpa listrik dan baru punya komputer pertama tahun 1993.  Ketika mendengar mengenai seri buku ini beberapa tahun yang lalu, saya juga tetap tidak tertarik membacanya, dan saya pikir tidak akan menarik untuk anak modern seperti Jonathan yang saya sudah saya ajari  berbagai cara modern coding dengan Scratch, Scratch Jr, dan berbagai aplikasi coding di iPad. Di sini saya melihat kelemahan Scratch yang terlalu visual, sehingga kurang cocok menyelesaikan masalah sederhana seperti enkripsi di buku tersebut.

Tapi ternyata ketika saya sedang melihat (ulang) video Youtube The basics of BASIC, the programming language of the 1980s, Jonathan ikut melihat dan tertarik dengan buku yang ditunjukkan. Dia sangat bersemangat membaca bukuya dan mengetikkan kode program dalam buku (versi PDF) ke QBasic yang saya jalankan di Dosbox di Linux, menjalankan programnya, merasa senang melihat outputnya benar, dan juga tertawa riang ketika ada lelucon yang dienkripsi.

Sebagai catatan, saya memilih QBasic karena tahu kompatibilitasnya dengan BASIC di IBM PC (sehingga kode dalam buku tersebut pasti jalan). Meskipun ada proyek open source QB64 yang katanya kompatibel dengan QBasic (yang berarti kompatibel dengan BASIC di IBM PC) tapi karena menggunakan mode kompilasi (bukan interpretasi), maka terasa sangat lambat, dari mulai menekan F5 sampai program berjalan bisa butuh 5 detik, sedangkan menekan F5 di QBasic program langsung berjalan instan.

Ada juga bagian program yang agak rumit untuk Jonathan (usia  7 tahun) yang tidak bisa saya jelaskan secara singkat, misalnya frequency analysis (yang dalam implementasi programnya butuh pemahaman konsep array). Akhirnya setelah beberapa program, dia menyelesaikan membaca isi bukunya dalam beberapa jam, dan setelah itu baru meneruskan lagi mengetik programnya.

Ada hal yang menarik di salah satu program yang diberikan, pembaca diminta untuk “membaca” atau “Reverse engineer” sebuah program. Dari program singkat berikut diminta untuk mencari tahu input apa yang perlu diberikan untuk bisa “membuka Airlock” dan untuk mengirim “S.O.S”.

Ternyata bahasa BASIC ini memang cocok untuk pemula, karena Jonathan yang belum pernah saya ajari BASIC bisa langsung memahami input apa yang harus diberikan. Bahasa BASIC ini memang kurang terstruktur, dan kalau direnungkan, masalah struktur dalam BASIC tidak terlalu jauh dari assembly (dengan jump/goto).

Saya tidak tahu berapa buku yang akan diselesaikan oleh Jonathan (ada 10 buku dalam seri Micro Adventure), tapi saya cukup terkesan bahwa buku terbitan 34 tahun yang lalu ini masih dianggap menarik oleh anak modern seperti Jonathan.

Liburan Songkran 2018

Songkran merupakan tahun baru Thailand, dan merupakan hari yang sangat dirayakan di Thailand, seperti Lebaran di Indonesia atau Natal di negara mayoritas Kristen.  Libur utama Songkran sendiri hanya 3 hari, tapi seperti Natal/Lebaran, biasanya kantor akan libur sekitar seminggu.

Selama 11 tahun di sini, kami lebih sering pulang ketika Songkran, karena selain libur panjang, polusi udara di Chiang Mai biasanya sedang buruk. Polusi ini dikarenakan pembakaran ladang dari Thailand (sedikit, kurang dari 200 titik api) dan dari negara sekitar (banyak, ribuan titik api). Tapi sesekali kami tinggal di Chiang Mai. Dan tahun ini kami tinggal di Chiang Mai.

Menurut cerita dari penduduk Chiang Mai, dulu perayaan utama Songkran hanyalah memercik air sebagai simbol pensucian dan menghapus nasib sial, tapi sekarang dirayakan dengan festival saling siram air (dengan ember dan pistol air). Sebagai anak kecil, Jonathan sangat menyukai perang air ini, dan tahun lalu dia kecewa karena harus pulang ke Indonesia di masa Songkran.

Sebagian orang merayakan dengan naik kendaraan yang terbuka (bak terbuka, angkot/red car, bahkan motor) dan menyiram orang di jalanan, sebagian lagi (seperti kami) datang ke tempat tertentu (old city) yang menjadi pusat perang air. Tahun ini kami berangkat agak awal (sebelum jam makan siang, biasanya sesudah), sehingga belum terlalu ramai, tapi sudah cukup membuat kami basah kuyup. Hanya Jonathan dan Saya yang bermain air, Risna dan Joshua bermain di taman.

Sayangnya setelah hari perang air, Joshua demam walaupun tidak ikut basah, jadi hari berikutnya kami tinggal di rumah. Jadi hari itu bisa dipakai untuk ngoprek di rumah. Saya sudah lama penasaran dengan “talking pen” yang dimiliki Jonathan dan Joshua, jadi saya bongkar. Pen ini bisa disentuhkan ke buku tertentu dan akan membacakan teksnya. Ini bagus untuk belajar bahasa Thai.

Kapasitas pen ini 8GB dan bisa dipakai juga sebagai MP3 player. Sayangnya free space-nya cuma 1 GB dari total  8 GB. Saya pikir ketika dibongkar saya akan menemukan eMMC chip kapasitas 8 GB, ternyata isinya adalah micro SD 8 GB.

Tentu saya penasaran, jadi dicoba tukar dengan yang 16 GB (dan menyalin isi 8GB ke SD card yang baru). Ternyata bisa berjalan normal.

Selain bermain air, liburan kali ini diisi dengan jalan-jalan ke Royal Flora, Makro, dan Mall (di kondisi udara yang buruk, mall lebih baik).

Waktu liburan ini saya sempat mengerjakan satu soal challenge dari SecuriTeam_SSD

Saya pikir saya tidak akan menang karena hadiahnya cuma untuk peringkat 1 sampai 3 sementara saya mengirimkan tanggal 14 April (hari Sabtu 2 hari setelah diumumkan).  Saya tetap iseng mengerjakan karena ini cuma satu soal dan sudah lama tidak ikut CTF, minimal jika tidak menang bisa membuat writeup (sudah banyak yang nanya: Pak/Mas/Om kok udah lama nggak nulis writeup). Saya hanya mendapat jawaban singkat bahwa kiriman sudah diterima dan akan segera dicek.

Sepertinya SecuriTeam_SSD libur di akhir pekan, karena pemenang baru diumumkan 16 April. Puji Tuhan ternyata saya menang peringkat pertama, yang berarti akan mendapatkan tiket pesawat, hotel, dan tiket konferensi Bevx di Hong Kong bulan September depan. Beberapa jam kemudian pemenang kedua diumumkan, dan 2 hari kemudian pemenang terakhir diumumkan.

Meskipun semua pemenang sudah diumumkan, bagi yang masih ingin mencoba, bisa mendownload challengenya dari URL ini:

https://www.beyondsecurity.com/bevxcon/bevx-challenge-10

Writeup sudah saya tulis dan akan saya publish setelah diijinkan oleh panitia.

14 Tahun Blogging Bareng

Hari ini tepat 14 tahun sejak saya dan Risna ngeblog bareng. Sebelumnya kami pernah punya blog juga, tapi yang masih rajin diupdate sampai sekarang hanya blog ini. Kenapa masih ngeblog sampai sekarang? dan sebenarnya buat apa sih ngeblog?

Kami di tahun 2004
Kami di tahun 2004

Dulu awalnya isi blog ini kebanyakan hanya pengalaman sehari-hari, dan penuh dengan komplain terhadap berbagai hal. Sekarang ini berbagai komplain kecil biasanya masuk ke media sosial. Sebagai pengingat, waktu blog ini dibuat, Facebook belum terbuka umum (baru 2006 Facebook dibuka untuk dunia), Twitter juga belum ada (Twitter baru diciptakan 2006 juga).

Dari sejak 2004, archive.org sudah mengarsip situs ini

Beberapa orang ngeblog dengan tujuan komersial atau untuk mencari uang. Blog kami ini tidak ditujukan untuk itu. Untuk yang tujuannya komersial, tentunya ngeblog tujuannya jelas: mengundang pengunjung untuk membaca artikel, dan mungkin mengklik iklan atau menjual produk.

Kami sempat juga ngeblog di platform lain, dua yang diingat: Multiply dan  Friendster,  keduanya sudah tidak ada lagi. Media sosial datang silih berganti, tapi blog ini bisa dipelihara selama kami masih ada dan juga akan tetap terarsip di archive.org.  Ini alasan kami masih ngeblog sampai sekarang walau juga menggunakan media sosial.

Isi blog juga mudah dicari dengan search engine dan sifatnya terbuka, tidak dibatasi oleh Facebook/Twitter atau provider lain. Berbagai konten seperti potongan source code mudah dimasukkan ke dalam blog (sulit di Facebook atau media lain).

Banyak orang suka posting sesuatu di Facebook dan Twitter bisa mendapatkan kepuasan dari jumlah “like”/”retweet”/”share”, walau semuanya itu hanyalah kepuasan semu. Dulu orang masih suka berkomentar di blog, tapi sejak beberapa tahun lalu sudah jarang ada komentar di blog walaupun dishare ribuan orang di Facebook (orang-orang akan berkomentar di bagian komentar Facebook, tidak di blognya langsung). Bagi kami kepuasan ngeblog adalah sekedar bisa menuliskan isi pikiran, tidak terlalu peduli dibaca orang atau tidak.

Jadi singkatnya kami masih menulis di blog walau memakai media sosial karena: blog itu lebih tahan lama, blog itu mudah dicari dengan search engine, dan kami punya lebih banyak kontrol terhadap isi dan tampilan blog ini.

Lalu sebenarnya buat apa ngeblog? ada banyak alasan kami masih menulis. Dengan ngeblog, kami berusaha tetap belajar menyampaikan isi pikiran yang panjang secara terstruktur dalam bentuk tulisan, bukan sekedar status pendek di Twitter atau Facebook.

Sudah ratusan kali kami mencari informasi di Internet dan akhirnya sampai di blog seseorang dan informasi tersebut membantu kami. Dengan ngeblog, ini juga merupakan bentuk terima kasih dan balas budi, supaya orang lain juga mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dari tulisan kami.

Kami menuliskan banyak kisah hidup juga sebagai pengingat: dulu liburan 2012 ke mana saja? ketemu siapa? Sebenarnya kami juga menyimpan arsip semua foto, tapi lebih mudah mencari teks di blog. Bagi orang yang suka kepo, juga bisa mudah membaca kisah hidup kami di blog ini, tidak perlu menambahkan jadi teman di Facebook 😀

Kadang saya capek menjawab pertanyaan yang sama berulang-ulang, jadi saya tuliskan dalam bentuk artikel di blog, supaya jika ada yang bertanya, saya akan memberikan link ke artikel blog tersebut.  Misalnya ada yang bertanya: pentest itu ngapain sih? reverse engineering itu apa? saya cuma tinggal memberikan link-link untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Walaupun pengikut blog ini tidak banyak (kami memang tidak mencari follower), tapi selama belasan tahun sudah punya banyak sejarah. Waktu membahas Brontok, blog ini sempat diblock oleh virus Brontok, jadi alamat blog ini “terabadikan” dengan terdaftar di beberapa situs antivirus (contohnya di Sophos dan F-Secure)

Tercantum di situs antivirus Sophos

 

Juga muncul di F-Secure

Blog ini pernah juga muncul di detik.com (karena masalah kebocoran data pemilih di Bangkok dan masalah bug Gojek). Sebenarnya agak mengkhawatirkan juga cara detik melink gambar, kalo tiba-tiba gambarnya saya ganti gimana?

Kalau gambar dilink itu diganti, gambar di website detik akan berubah

Untuk bug gojek: website ini juga pernah muncul di berita TV dan berbagai web lain selain detik. Dan ketika search alamat blog ini, ternyata url blog ini juga pernah masuk buku.

Dilink di buku Teknologi Informasi dan Komunikasi

Selain yang resmi yang sudah disebutkan, konten blog ini juga banyak dicopy tanpa ijin ke berbagai website lain tanpa menyebutkan sumbernya (baik nama blog ataupun penulisnya). Dulu kami sempat kesal, tapi lama-lama ya sudahlah, asalkan tidak terlalu komersial dan ilmunya masih disebarkan.

Kami berharap bisa terus ngeblog, dan isi blog ini bisa dibaca oleh anak cucu kami suatu hari nanti.

Retrogaming

Salah satu minat saya kalau lagi iseng adalah retrogaming. sederhananya main game console lama (baik itu di device asli maupun emulator). Ini cuma sekedar cerita, bukan posting teknis yang serius.

Saat ini saya punya beberapa Game Boy: Game Boy biasa, Game Boy Color, Game Boy Advance, dan juga clone Game Boy Color yang layarnya memiliki backlight (namanya GB Color). Saya juga punya Link Cable, kamera dan juga printer Gameboy. Koleksi saya ini tidak seberapa dibandingkan dengan koleksi banyak orang lain. Adik saya di Indonesia juga punya hobi yang sama, dan bahkan punya lapak online di Instagram yang menjual retro console. Hobinya membeli berbagai console bekas, lalu menukar isinya, mengganti komponennya atau mengakali supaya jalan lagi (adik saya ini dosen elektro). Lanjutkan membaca “Retrogaming”