Jadi peserta CTF yang bener dong, jangan malu-maluin

Tahun lalu saya mengkritik panitia Cyber Jawara karena soal CTF-nya ngawur. Sekarang gantian saya mengkritik peserta yang ngawur di penyisihan online. Banyak peserta yang sharing jawaban, seperti mencontek soal ujian.

Tahun ini, panitia Cyber Jawara dan pembuat soal sudah bekerja sangat baik. Soal yang dibuat berkualitas, dan mereka juga mengecek jawaban peserta dengan teliti sehingga kelakuan curang seperti itu bisa diketahui dan didiskualifikasi.

Kutipan komentar dari panitia (Fariskhi Vidyan):

jadi gini ceritanya ya. Ada beberapa tim yang melaporkan ada tim-tim yang minta flag dan juga menawarkan flag dengan bukti screenshot. Jadi ada tim yang kerjaannya minta-minta flag dan mendistribusikan itu ke tim lain dengan syarat minta pap/foto tim. Ada juga yang pakai cara-cara lain. Gara-gara komunikasi pakai telegram jadinya mudah untuk ngelakuin ini.

Selain itu writeupnya juga pada gak bener. Ada yang persis copy paste. Bahkan user terminalnya pun sama persis -,- dan kata-katanya pure copy tanpa ada perubahan satu karakter pun. Banyak juga yang isinya asal-asalan dan bahkan penjelasan yang salah pun diikutin.

Dan katanya ini emang udah terjadi dari tahun2 lalu. Tapi kalau tahun2 lalu nilai akhir itu nilai di web scoring + nilai write up. Makanya yang curang-curang pada datang rombongan. Mana bisa begitu. Untuk tahun ini, ditegasin dengan kasih penalti besar-besaran ke write up yang gak valid, untuk nilai soal yang write upnya gak bener/ngasal dijadikan 0. Ada yang tadinya full score sampai jadi di bawah 500. Yang write up soalnya sama persis juga dikasih penalti dua-duanya.

Saya kesal dengan mentalitas pencontek seperti ini. Dulu waktu saya masih sering ikutan CTF di akhir pekan, banyak juga yang menanyakan apa flag (jawaban) sebuah soal. Sebenarnya kalo ada yang tanya petunjuk (hint) untuk mengerjakan soalnya, biasanya akan saya jawab. Misalnya akan saya jawab dengan: coba SQL injection, atau: coba baca artikel ini.

Untungnya masih ada beberapa yang bertanya seperti itu, dan sampai sekarang pun masih ada yang rajin menanyakan hint dan meminta petunjuk buku atau artikel mana yang perlu dibaca untuk menyelesaikan soal tertentu atau memahami konsep tertentu. Orang-orang seperti ini yang akan sangat dirugikan oleh cheater.

CTF perlu anti contek juga?

Banyak orang mengkritik kalau pejabat pemerintah bobrok, banyak koruptor, dsb. Padahal kelakuan seperti itu dimulai dari kelakuan kecil seperti mencontek ini.  Jangan pikir bahwa mencontek ini tidak merugikan siapa-siapa: di lomba semacam ini, kelakuan curang akan sangat merugikan orang yang jujur dan memiliki keahlian.

Sebenarnya apa sih tujuan main CTF kalau mainnya curang? CTF itu untuk belajar, dan nanti bisa terpakai di dunia nyata di dunia security. CTF juga buat bersenang-senang seperti menyelesaikan puzzle. Kelakuan cheater seperti ini cuma merusak kesenangan orang yang beneran menikmati main CTF.

Andaikan team curang ini lolos ke final, mereka akan bengong melihat soal-soal yang ada. Andaikan panitia tidak teliti, dan semua team cheater yang masuk final, maka ketika ke tahap berikutnya di level ASEAN, mereka akan bengong dan memalukan Indonesia.

Mencegah kecurangan

Sebenarnya ada cara untuk mempersulit kecurangan semacam ini, tapi panitia harus bekerja ekstra. Tiap flag bisa dibuat unik per peserta, jadi flag tidak bisa dishare begitu saja. Tentunya tidak mudah membuat variasi ini untuk semua jenis soal, tapi mungkin bisa dilakukan untuk sebagian soal saja. Ini tidak mencegah peserta untuk sharing cara mereka menyelesaikan soal.

Untuk membuat orang segan berbagi metode, di beberapa CTF, skor untuk satu soal dikaitkan dengan dua faktor: siapa yang menyelesaikan duluan dan berapa banyak yang menyelesaikan soal tersebut.

Peserta yang duluan menyelesaikan soal mendapat skor lebih tinggi dari peserta berikutnya (misalnya 100%, 99%, dst). Jika sebuah soal banyak diselesaikan oleh orang, maka bobot soal dikurangi, artinya soal yang hanya bisa dipecahkan oleh 10 orang bobotnya lebih tinggi dari yang bisa diselesaikan 100 orang.

Dalam metode scoring ini skornya jadi dinamis. Misalnya soal 1 nilai bobot awalnya 1000. Team A menyelesaikan soal 1, dan mendapat skor 1000. Tiba-tiba ada 9 peserta lain yang berhasil menyelesaikan, bobot skor dikurangi jadi 900, sekarang tiba-tiba team A memiliki skor 900 meskipun tidak melakukan apa-apa.

Team yang jagoan, yang bisa menemukan beberapa flag akan malas sharing dengan team lain: buat apa sharing, nanti skor saya akan menurun kalo banyak yang menyelesaikan soalnya.

Penutup

Bagi saya sendiri, CTF untuk bersenang-senang, kenalan dengan banyak orang, dan kadang-kadang juga mendatangkan rejeki dari tawaran pekerjaan. Beberapa CTF (Seperti Flare On) juga menawari peserta untuk mengirimkan resume (jika berhasil menyelesaikan semua challengenya).

CTF yang baik dan fun butuh panitia yang baik, dan juga butuh peserta yang baik. Jadilah peserta CTF yang jujur dan mau belajar. Panitia jadi akan punya lebih banyak waktu untuk membuat soal yang baik daripada susah payah mencegah cheater.

Dunia CTF dan CTF Tingkat Dunia

Sebagian pihak ternyata “tidak terima” dengan pendapat saya di tulisan sebelumnya, bahwa event CTF (capture the flag) tertentu itu levelnya buruk. Mereka berpendapat itu hanya “pendapat sebagian orang saja”. Di tulisan ini saya akan membahas seputar dunia CTF, dan apa yang saya maksud dengan CTF Tingkat dunia. Buat Anda yang blank mengenai dunia CTF, bisa membaca perkenalan CTF oleh saya di posting ini.

Setelah membaca defense dari pihak Cyberjawara, yang penuh dengan kekonyolan, sampai tidak tahu harus mulai dari mana (contohnya: katanya tidak semua writeup dipublish publik karena pembuat soal tidak mengijinkan), saya memutuskan untuk memperkenalkan dengan gamblang dunia CTF bagi semua orang.
Continue reading “Dunia CTF dan CTF Tingkat Dunia”

Bikin CTF yang bener dong, jangan malu-maluin

Daripada sekedar menyindir (sindiran sudah dilakukan puluhan orang dari beberapa tahun lalu), sekalian lah saya posting terbuka bagi penyelenggara lomba Capture The Flag (CTF) yang super ngawur, terutama CTF Cyber Jawara. Beberapa CTF Indonesia sudah baik (seperti botani.cf Gemastik, atau idsecconf), tapi Cyberjawara ini sudah parah, jadi bahan tertawaan setiap tahun tetap saja tidak membaik (tahun ini saja sudah ada beberapa, misalnya ini, ini dan ini). Padahal ini adalah kegiatan ID SIRTII (Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure)

ctf
Continue reading “Bikin CTF yang bener dong, jangan malu-maluin”

Sekarang Windows sudah (lebih) gampang

Ketika membaca lagi posting lama saya, saya menemukan tulisan Siapa Bilang Windows itu Gampang?, yang saya tulis tahun 2009. Sekarang keadaan sudah cukup berubah menjadi lebih baik.

Sudah ada package manager yang namanya chocolatey sejak sekitar 2012. Sekarang saya tak perlu pusing mendownload, menginstall, dan mengupdate software. Misalnya saya butuh virtualbox, saya cukup mengetikkan:

choco install virtualbox

Dulu, setiap kali Windows menampilkan dialog “Finding Solution”, atau “Searching Driver Online”, saya sudah pesimis, dan biasanya solusinya tidak berhasil dan drivernya tidak ketemu. Sekarang proses mencari solusi dan mencari driver sudah benar-benar jalan. Bahkan ketika saya beli Clone Arduino dari China, ketika saya colok, dia mencari drivernya online, ketemu, dan langsung berjalan lancar.

Antivirus sekarang sudah built ini di Windows, dan tidak terlalu membebani sistem lagi.

Waktu saya menulis posting sebelumnya, saya belum terlalu mencoba powershell. Saya sempat mencoba powershell 1.0 dan masih ada banyak keterbatasannya, tapi semakin lama powershell ini semakin powerful, dan cukup bagus untuk scripting.

Mengenai beberapa software yang saya komplain sebelumnya, sebagian besar sudah lebih baik. PDF Reader sudah built in, Office saat ini bisa didapatkan dengan harga terjangkau, bahkan Internet Explorer sudah cukup baik untuk browsing sehari-hari. Untuk masalah development, saat ini microsoft memberikan Visual Studio Community Edition gratis.

Beberapa hal memang masih kurang nyaman (misalnya kadang butuh reinstall software ketika pindah harddisk, untung ini tidak sering saya lakukan). Mengenai konfigurasi secara remote, server ssh dari Bitvise sudah bagus, dan kalau butuh akses remote, saya bisa memakai TeamViewer.

Saya merasa saya adalah orang yang reasonable, saya tidak fanatik teknologi tertentu, jika ada teknologi yang bagus, saya akan mencoba dan berpindah jika memang suka. Saat ini saya cukup suka memakai Windows sehingga mau memakainya di laptop sebagai OS default, sementara di desktop saya masih dual boot Windows/Linux.

Produk Apple

Komputer pertama saya adalah Apple II, jadi saya sudah lama memakai produk Apple. Saya juga sempat memakai notebook apple ketika masih memakai Power PC (waktu itu namanya adalah Apple iBook, beda dengan software Apple iBooks ya). Saya membeli Macbook generasi pertama tak lama setelah keluar. Saya yang menyarankan semua komputer di kantor memakai produk Apple (dan sampai sekarang di kantor masih memakai Apple). Saya punya iPod Nano generasi kedua, dan sekarang juga masih punya iPod Touch, iPad, iPhone 5s, MacBook Pro, dan Mac Mini.

2874448573_84f2871238_b

Meski saya cukup suka produk Apple,saat ini saya mulai menghindari banyak produk Apple.

Hal pertama yang saya tidak suka dari produk Apple adalah harga. Dari dulu harganya memang cukup mahal, tapi sekarang ini untuk kategori tertentu (misalnya kategori laptop) harganya sudah berlebihan. Contoh: MacBook Pro (non retina) sekitar 15 juta, memorinya masih 4 GB, Masih Core i5, HD 500 GB. Sedangkan laptop Windows saya harga sekitar 7 juta, sudah Core i7, HD 1 TB memorinya mudah diupgrade, harddisknya juga, bahkan saya bisa memakai mSata 256 GB SSD + 1 TB HDD.

Saya cukup senang ketika Apple masih membolehkan kita mengupgrade komponen sendiri, karena upgrade memori atau HDD bisa kita lakukan dengan lebih murah (karena dari vendor lain, atau karena kita mengupgrade 1 tahun setelahnya, sehingga harganya sudah turun).

Continue reading “Produk Apple”

Social Media

Semua orang sepertinya saat ini punya facebook, twitter, instagram dan atau account-account media sosial online lain (Path, Plurk, dsb). Sekarang ini saya liat banyak orang yang mulai terobsesi dengan media sosial ini. Ada yang merasa dirinya addicted lalu menonaktifkan accountnya (tapi kemudian mengaktifkannya lagi). Ada yang perlu selalu merasa menang online, sehingga bikin account palsu yang seolah-olah mendukung dirinya (account klonengan). Ada yang ingin dihormati di dunia fotografi, lalu mencuri foto orang lain dari situs lain (tapi ketahuan). Ada yang stress atau iri membaca posting-posting orang lain, tapi masih juga mengikuti terus orang tersebut.

Ada banyak kejahatan yang melibatkan media sosial juga, dari mulai spam, pembajakan account (dan diteruskan dengan penipuan), bahkan kasus penculikan. Ada banyak hal negatif di media sosial: pesan-pesan kebencian, berita-berita bohong, gosip-gosip tidak benar, dsb.

Seperti semua teknologi lain, media sosial bagi saya hanyalah sebuah teknologi, yang bisa digunakan untuk hal baik maupun tidak baik. Saya sendiri kurang aktif di berbagai media sosial. Kebanyakan posting saya di twitter adalah untuk sharing project/kegiatan yang saya lakukan. Kebanyakan posting facebook adalah aktivitas dengan keluarga (dan hanya saya share ke teman), dan juga proyek-proyek kecil yang saya lakukan.

Ada banyak hal berguna yang saya dapatkan dari facebook: ada grup yang berhubungan dengan computer security, jadi saya bisa mengikuti perkembangan dunia security di Indonesia, ada grup ibu-ibu yang diikuti oleh Risna, jadi dia bisa mendapatkan berita terbaru tentang berbagai event untuk Ibu dan Anak. Banyak informasi yang didapatkan Risna yang sulit dicari di luar facebook, misalnya seorang Ibu bisa memberikan info mengenai status tempat mainan anak di Night Safari yang belum diperbaiki.

Dari sisi komersial: Saya mengikuti group jual beli barang bekas di chiang mai, group ini jauh lebih cepat infonya dibandingkan mengecek situs iklan baris di berbagai web. Saya kadang mendapatkan diskon dan barang gratis dari facebook page yang saya ikuti (Terutama yang berhubungan dengan elektronik), misalnya saya sering membeli barang elektronik kecil dari toko www.taydaelectronics.com, dan toko tersebut sering memberikan diskon via facebook.

Karena hidup jauh dari keluarga besar, facebook juga menjadi sarana bagi kami untuk sharing tentang kehidupan kami di sini, dan bagi kami untuk melihat berbagai hal populer di Indonesia. Facebook juga memudahkan saya mengontak teman-teman, dan juga membuat phonebook selalu up-to-date.

Saya berusaha menggunakan fitur-fitur social media dengan baik agar bisa membaca dan berinteraksi lebih efektif. Saya mengelompokkan teman-teman dalam berbagai group (misalnya teman kuliah, teman SMU), jadi saya bisa membaca atau menshare seperlunya saja.

Jika ada teman dekat atau keluarga yang terlalu banyak posting, saya akan unfollow. Jika teman re-share dari facebook yang tidak saya suka, maka saya akan unfollow page itu. Jika ada orang yang baru saya kenal tapi mengesalkan, saya akan unfriend saja. Saya tidak ingin emosi membaca posting-posting yang tidak saya suka.

Sekarang saya juga sering memakai facebook dan google plus untuk login di berbagai situs. Jika sebuah web/app meminta ijin untuk posting, saya selalu memilih agar posting “only visible to me”. Memakai facebook atau google plus untuk login cukup aman, dan saya bisa dengan mudah menghapus link account dari console facebook/Google.

Kesimpulannya: media sosial itu bisa berguna, menyenangkan, asalkan kita tidak terobsesi dan mau belajar memakai fitur-fitur yang tersedia dengan bijaksana.

Gadget Ibu Rumah Tangga

Udah lama ga nulis gara-gara lupa password, sekarang kepikiran topik yang related ama tulisan menggunakan teknologi. Kami bukan orang yang tergila-gila dengan teknologi, tapi kami sangat terbantu dengan adanya penemuan-penemuan baru dengan adanya kemajuan teknologi. Gak harus canggih, tapi intinya bisa mengurangi pekerjaan dengan otot dan lebih bisa menikmati hidup.

Sejak tinggal di Chiangmai, tanpa adanya luxury pembantu dengan gaji murah atau punya pembantu yang tersedia 24 jam, kami berkenalan dengan yang namanya vacuum cleaner. Awalnya saya masih prefer makai sapu daripada vacuum, soalnya pola pikirnya pake vacuum itu kan pake listrik, dan bayar listrik itu mahal, terus rasanya lebih afdol kalau di sapu terus di pel jadi lebih kinclong gitu. Lama-lama rasanya pegel juga ya sapu lalu pel dan juga pas nyapu kadang-kadang debu beterbangan kemana-mana waktu nyapu. Akhirnya sekarang saya bisa menerima kalau rumah ga harus disapu pel tiap hari, tapi cukup di vacuum bagian yang kotor misalnya kolong meja makan sehabis makan. Gak harus di pel biasanya juga sudah bersih. Ngepel ya bisa sekali atau dua kali seminggu tergantung di sini lagi musim apa. Musim dingin dan musim panas biasanya debu lebih banyak dibanding musim hujan, jadi ya tentunya harus lebih sering vacuum seluruh rumah.

Benda lain yang juga saya rasa sangat membantu dan wajib punya itu mesin cuci. Walaupun sebagian orang gak suka dengan mesin cuci karena katanya baju jadi lebih cepat rusak, tapi saya rasa kalau saya harus mencuci semua baju dengan tangan bisa-bisa saya patah pinggang. Sejauh ini baju saya walau ada yang tipe seminggu bisa dipake beberapa kali karena cuci kering di pakai tetep aja umurnya lebih dari setahun. Well baju saya bukan baju keluaran desainer ternama atau merk mahal yang sepersekian harga mesin cuci sih, jadi saya ga kuatir kalau rusak ya bagus malahan alasan buat beli baju baru lagi toh. Untuk baju yang emang harganya mahal tentunya saya lebih hati-hati mencucinya ga asal campur saja dan bahkan untuk baju yang butuh dry clean ya saya kirim ke dry clean (sejauh ini yang butuh dry clean cuma jas Joe yang sudah berumur 8 tahun! iya emang dia cuma punya 1 jas pas kawin doang hehe.)

Berikutnya yang paling terasa berguna itu microwave. Terutama untuk menghangatkan makanan. jadi kalau ada makanan yang bersisa, disimpan di kulkas bisa di freezer ataupuan di pendingin biasa dan besoknya bisa dihangatkan. Yang perlu diperhatikan menghangatkan makanan di microwave kadang seperti halnya masak di atas kuali, harus diaduk juga sesekali supaya panasnya merata. Kelebihan dari memanaskan menggunakan microwave saya ga harus mencuci wadah pemanasnya karena saya langsung panasin di mangkok saji yang tentunya memang aman untuk microwave. Oh iya saya juga menghindari menghangatkan makanan di wadah plastik walaupun ada tulisan microwave safe. Lebih aman membeli beberapa mangkok keramik atau kalau ada rejeki beli sejenis pyrex yang bahkan tahan untuk masak di oven. Ya saya tahu sebagian orang masih merasa takut menggunakan microwave karena katanya bisa ini itu. Well seperti sekarang wifi dan signal cellular berbahaya sebenernya semua ada plus minusnya. Menurut kami umur itu di tangan Tuhan, dan pengguna microwave sejak ditemukan sangat banyak dan tidak terbukti microwave itu membuat kanker. Tapi ya kembali lagi ke masing-masing saja sih mau makai microwave atau tidak. Salah satu tulisan mengenai fakta dan mitos soal microwave bisa dilihat di sini.

Chiang mai punya iklim yang agak ekstrim. Salah satu penemuan yang sangat terasa dibutuhkan di kota ini adalah Air Conditioner alias AC terutama wajib ada di kamar tidur. Di musim panas, suhu udara terkadang masih di atas 30 derajat celcius, dan suhu kamar kadang lebih panas dari suhu udara karena kalau kamarnya menghadap matahari, bisa jadi kamarnya masih lebih panas karena siangnya bisa sampai 44 derajat celcius. Indonesia sebenernya juga mirip-mirip panasnya, tapi mungkin juga karena sudah mulai kebiasaan di sini kalau tidur butuh AC, ya jadinya kalau pulang ke Indonesia kemungkinan kami bakal merasa butuh AC terutama di kamar tidur.

Kebalikan dari AC, di musim dingin butuh water heater buat mandi. Punya water heater di kamar mandi yang tinggal di putar langsung bisa byur itu sangat menyenangkan, kebayang dulu kalau mau mandi air hangat harus manasin air dulu, terus angkat air panas pake ember, terus kadang kalau ketunda dikit mandinya airnya keburu dingin lagi. Kalau pulang ke Indonesia, walaupun di Indonesia ga dingin-dingin banget, kayaknya kalau mau mandi terlalu pagi atau agak malam dibutuhkan juga tuh water heater.

Oh iya terkait dengan air, di Indonesia dulu sering sekali mengalami flow air yang sangat kecil karena dari perusahaan air nya lagi macet atau malah kadang kering sama sekali karena disedot sama orang yang pake pompa air. Di sini setelah 2 kali ngontrak rumah saya bisa lihat kalau orang Thailand punya mesin pompa air dan tanki penampungan air di setiap rumah. Tapi berbeda dengan di Indonesia yang menyedot air langsung dari pipa air atau sebagian lagi dari sumur, di sini orang menampung air dari perusahaan air ke tanki penampungan lalu pompanya digunakan untuk mendistribusikan air ke pipa dalam rumah terutama kalau misalnya rumah bertingkat, supaya airnya bisa naik ke bagian atas rumah. Waktu tinggal di kopo Bandung kami juga pakai air yang di sedot dari mata air dalam tanah lalu di tampung di tanki di atas rumah, lalu di filter di tankinya sbelom di distribusikan ke seluruh rumah. Yang kepikiran oleh saya nantinya kalau pulang ke Indonesia, mungkin kami perlu mengkombinasikan antara menampung air di letakkan di tanki yang letaknya tinggi di atas rumah (butuh pompa untuk membuat airnya naik ke atas), lalu kalau mau dipakai ga butuh pompa lagi deh (ini yang dilakukan mertua saya di depok). Jadi kalau di Chiang mai sini, kalau listrik mati kemungkinan besar air di rumah terutama bagian atas mati, untungnya kasus mati lampu di sini sangat sedikit jadi ga perlu terlalu kuatir, karena di Indonesia lebih sering mati lampu, lebih aman kalau tanki airnya disimpan di tempat yang tinggi supaya pas memakai ga butuh listrik lagi.

Ada beberapa hal yang sebenernya masih masuk daftar pengen punya tapi masih belum butuh banget. Misalnya Dishwasher alias mesin cuci piring. Saat ini belum butuh karena basically cucian piring saya ga banyak banyak amat, dan kalau pakai Dishwasher nantinya semua peralatan masak dan makan harus kompatibel dengan Dishwasher itu. Ya namanya juga pengen punya, kayaknya seneng aja kalau punya tapi belom butuh butuh banget, jadi sekarang ini saya belom bisa cerita banyak soal benda itu, tapi pastinya kalau ada yang beliin saya senang banget hahaha.

Benda berikutnya yang sempat jadi angan-angan itu dryer alias pengering cucian. Nah buat benda ini di Chiang mai ya seperti Indonesia yang matahari sangat cerah hampir sepanjang tahun ga terlalu butuh, tapi saya tertarik terkait dengan masalah tumpukan setrikaan. Ada teman yang bilang baju yang di keringkan dengan dryer itu ga butuh di setrika juga udah lembut, abis dari dryer langsung di lipat hasilnya ga kusut dan sama dengan seperti hasil setrika. Tapi ada juga teman yang bilang ga terlalu kering hasil dari dryer masih perlu di angin-anginkan juga. Ya karena masih kurang lengkap datanya dan memang dryer tergolong mahal, plus saya mulai bisa menerima kalau ga semua yang dicuci harus disetrika walau dijemur matahari, jadi masih bisa ditunda membeli dryernya, mungkin kalau ada teman-teman yang sudah menggunakan dryer bisa menambahkan faktanya dan bikin saya tambah pengen beli hehhe.

Untuk semua gadget rumahtangga yang saya tulis, semua butuh listrik yang kadang dayanya lumayan gede. Tapi ya seperti saya bilang, semua ada plus minusnya, mau pake otot yang banyak atau membayar listrik supaya bisa lebih banyak berkarya ataupun bermain dengan anak. Masih lebih baik membayar listrik untuk benda yang memang membantu keseharian daripada lelah kehabisan tenaga karena takut ini itu yang tidak terbukti lalu at the end jadi ga bisa menikmati hidup.

Oh iya, beberapa waktu yang lalu, kami menonton sebuah video singkat di mana akan ada masanya (sekarang sudah mulai) banyak pekerja yang mengandalkan otot akan semakin tidak dibutuhkan dan semuanya digantikan oleh mesin-mesin yang di program. Daripada kita tetep ngotot pake otot, mendingan kita menggunakan waktu untuk belajar mempersiapkan diri menghadapi masa di mana kita lebih memiliki value bukan karena otot kita tapi karena kita punya sesuatu yang ga bisa digantikan oleh mesin (misalnya memikirkan membuat mesin/teknologi yang kita butuhkan untuk membantu kita).