Bulan Penuh Diskon

Bulan November merupakan bulan penuh diskon, karena ada 11/11 (singles day) dan ada banyak diskon dari berbagai situs di China, lalu diikuti dengan Black Friday dan Cyber Monday yang penuh dengan diskon global.

Dibandingkan tahun lalu, tidak terlalu banyak diskon yang diberikan oleh AliExpress, benda mahal yang saya beli  hanya Proxmark3 versi paling sederhana (tidak memiliki konektor batere) dengan harga 66 USD (termasuk ongkos kirim). Proxmark3 ini adalah tool untuk eksplorasi RFID/NFC.

Sebenarnya dalam banyak kasus berbagai penstest dan hacking NFC bisa dilakukan dengan reader sederhana yang harganya kurang dari 5 USD, tapi proxmark ini diperlukan untuk sniffing dan juga untuk mengakses berbagai kartu yang tidak standar.

Texas Instruments baru saja meluncurkan board MSP43  baru (Launchpad dengan FRAM), dengan harganya 9.9 USD belum termasuk ongkos kirim, tapi saat ini  diskon menjadi 4.30 USD (sudah termasuk ongkos kirim). Diskonnya masih ada sampai Desember 2017. Development board dari TI ini bisa dipakai juga memprogram chip MSP430 lain.

Waktu pindah ke rumah baru, UPS yang tadinya baik-baik saja menjadi tidak berfungsi sama sekali. Setelah dibongkar, ternyata ada kabel yang kendor di dalamnya (mungkin kendor waktu pindahan). Tapi UPS-nya sudah tidak menyimpan daya lagi dan baterenya agak melendung (batere dari tahun 2012). Akhirnya  beli baru dan UPS-nya bisa berfungsi lagi.

Ada kit yang namanya Makey Makey yang fungsinya mengubah berbagai benda konduktif menjadi input device. Contoh benda dan aplikasinya bisa dilihat di situs tersebut, tapi beberapa di antaranya: mengubah pisang menjadi alat musik atau membuat tangga musikal dengan conductive tape.

Harga makey makey cukup mahal, jadi ketika saya lihat ada modul MPR121  di aliexpress yang harganya kurang dari 2 USD, saya langsung cek apakah mudah dipakai (dari beberapa tutorial dan video youtube), dan ternyata mudah. Dengan menghubungkan modul ini ke Arduino Leonardo, saya bisa membuat tiruan makey makey. Sebagai catatan, seri Arduino Leonardo dan Pro Micro bisa dengan mudah mengemulasikan USB, seri lain defaultnya tidak bisa kecuali dengan menambah beberapa komponen dan memakai software Lufa atau V-USB.

Cukup seru memainkan ini, tapi setiap kali selesai bermain dari kamar lain dan melihat pisangnya, Joshua berusaha ambil untuk dimakan.

Dan setelah share ini di Facebook, beberapa hari kemudian muncul iklan diskon Makey makey di Facebook feed.

Selain bulan diskon, di bulan November kami banyak melakukan aktivitas lain.  Tahun ini festival Loi Krathong dirayakan di awal bulan. Kami datang ke sungai dekat rumah untuk melihat orang-orang melarung krathong. Festival ini selalu bersamaan fetival Yi Peng, di mana orang menerbangkan sky lantern (seperti di film Tangled).

Beberapa kali ulang tahun Jonathan dirayakan bersama orang Indonesia di Chiang Mai, dan tahun ini lagi. Sekarang lebih ramai dari dulu karena lebih banyak keluarga yang punya anak. Tema tahun ini Doctor Who (sebelumnya Pokemon, dan sebelumnya lagi Paw Patrol).

Risna berhasil membuat tempe lagi tahun ini dengan ragi yang dibawakan oleh mama saya. Seperti biasa, demi privasi, foto-foto yang ada orang lain hanya diupload di Facebook untuk friends saja.

Untuk kesekian puluh kalinya, kami jalan-jalan di Night Safari. Sebenarnya tempat ini mahal (800 baht sekitar 320 rb rupiah per orang) tapi kami punya membership gratis masuk berapa kalipun dalam 6 bulan (membership 6 bulan hanya 500 baht sekitar 200 rb rupiah). Kami bisa menghabiskan waktu 3-6 jam di sini tiap kali datang. Ada bus keliling 2 jalur, totalnya sudah 1 jam, plus ada play ground (biasanya sekitar 1 jam main di play ground).

Joshua menjatuhkan iPad ke jempol kakinya dan hasilnya dalam beberapa hari kuku kakinya lepas, jadi kami membatasi jalan-jalan ke tempat yang tidak berdebu/berpasir. Ketika dibawa ke night safari, Joshua dengan semangat berlari di walking trail.

Ada tempat baru yang kami kunjungi: Rabbit Union. Di sini anak-anak bisa memberi makan dan mengelus-elus kelinci. Awalnya cukup menyenangkan bermain dan mengejar kelinci, tapi di akhir Joshua mulai berusaha mengangkat kelincinya.

Chiang Mai Citylife Garden Fair adalah acara tahunan outdoor. Di sini ada musik, banyak penjual makanan, pembaca kartu tarot, dan ada juga kegiatan untuk anak-anak.

Jonathan ikut menghias pot bunga, dan setelah itu potnya (dengan bunganya) bisa dibawa pulang.

Wii kami yang umurnya sudah hampir 10 tahun rusak. Sepertinya NAND-nya error secara fisik karena sudah dicoba restore dari backup (yang dibuat dengan BootMi) tapi gagal. Format ulang dan recreate juga gagal.

Terpikir untuk upgrade ke Wii U atau Switch, tapi akhirnya beli second hand console Wii lagi dari eBay. Nintendo Switch masih mahal dan tidak kompatibel dengan Wii Fit Board, sedangkan Wii U sepertinya masih agak bahaya jika Joshua membawa-bawa controllernya.

Teringat dulu saya pernah bikin beberapa app homebrew di console ini yang sampai saat ini masih berjalan karena Wii tidak mengupdate lagi firmwarenya.

Saya tidak mengikuti berita kalau Rasberry Pi meluncurkan majalah baru untuk oprekan hardware secara umum, bukan hanya Raspberry Pi. Versi PDFnya gratis bisa didownload dari hsmag.cc dan kita juga bisa berlangganan versi fisiknya.

Saya sempat heran kenapa ada majalah baru di kotak surat, ternyata sebagai pelanggan MagPi, saya dapat edisi pertama fisik gratis. Dan jika Anda ingin berlangganan, ada kode diskon 25 GBP di kertasnya.

Hacking dan Reverse engineering hardware

Saat ini di jaman IOT, makin banyak orang yang tertarik untuk hacking dan reverse engineering (RE) hardware. Karena sudah cukup banyak orang menanyakan topik ini, maka di artikel ini akan saya bahas dasar-dasarnya, plus tools apa saja yang dibutuhkan jika ingin memulai.

Dalam artikel ini RE hanya bertujuan memahami software dan hardware dalam sebuah sistem. Hacking hardware bermakna lebih luas misalnya menambah atau mengubah sesuatu di hardware, misalnya menjalankan Doom di printer, membuat hardware baru, atau oprekan apapun yang berhubungan dengan hardware.

Supaya bisa mengubah sebuah hardware yang tidak terdokumentasi, kita perlu melakukan dulu reverse engineering untuk memahami cara kerjanya, baru setelah itu kita bisa melakukan perubahan. Untuk hardware open source atau yang dokumentasinya sangat baik, proses RE ini tidak perlu.

Tujuan melakukan Hacking Hardware

Ada banyak tujuan RE dan hacking hardware, misalnya:

  • Mencari key enkripsi untuk mengakses konten gratis atau untuk membuat konten baru (misalnya game homebrew), atau bahkan membajak, contohnya dalam kasus Game Console
  • Memperbaiki, menambah atau menghilangkan fungsionalitas , misalnya menambah SD Card di router
  • Mengekstraksi firmware dengan berbagai tujuan: mencari bug di firmwarenya, mengclone firmwarenya (membuat produk tiruan), mencari key dalam firmwarenya

Perlu dicatat bahwa dalam 99% kasus, ujung dari reversing hardware adalah melakukan reversing software yang berjalan di hardware tersebut. Continue reading “Hacking dan Reverse engineering hardware”

Kesibukan dan Oprekan Agustus 2017

Seperti biasa, jika sudah lama tidak posting, ceritanya digabung. Posting ini campuran cerita mengenai SIM Card Hologram, RHME3, perjalanan ke Singapore dan cerita mengenai tablet Android.

SIM Card Hologram

Tanggal 26 Juli 2017 saya melihat posting mengenai program developer untuk Hologram dan saya segera mendaftar untuk mendapatkan SIM Card gratis.

Secara singkat, dengan SIM card Hologram dan kerjasama mereka dengan jaringan GSM di (hampir) seluruh dunia, kita bisa membuat produk IOT (Internet of Things) yang bekerja secara internasional dan relatif murah.  Tidak perlu memikirkan roaming data dan tarif yang berbeda di tiap negara.

SIM card hologram ini bukan untuk dipakai di handphone dan browsing, tapi ditujukan untuk dipakai di embedded system yang butuh konektivitas data yang ukurannya relatif kecil dan di luar jangkauan WIFI, walau bisa juga sebagai komplemen atau cadangan WIFI.

Khusus untuk developer plan, diberikan jatah 1 MB/bulan gratis untuk development. Jika dipakai untuk browsing, satu megabyte itu bahkan tidak cukup untuk membuka halaman depan blog ini, tapi untuk keperluan pengiriman data dari sensor ini sudah cukup.

Tanggal 11 Agustus SIM Cardnya sudah sampai, dan saya test menggunakan modem HSDPA murah (kurang dari 9 USD, sudah termasuk ongkir). Percobaan saya lakukan di Linux dengan wvdial, dan koneksi bisa mudah dilakukan.

IP yang didapatkan adalah IP internal. Device bisa mengakses IP eksternal, dan waktu saya coba asal IP nya dari Saint Helier, Jersey. Untuk koneksi kebalikannya (dari eksternal ke device), kita bisa memakai API yang disediakan hologram (atau membeli nomor supaya bisa dikirimi SMS).

Sebenarnya saat ini saya nggak punya proyek khusus yang ingin saya lakukan, tapi ini bisa saya pakai untuk melakukan koneksi ke server rumah jika koneksi internet sedang mati.

CTF RHME3

Karena waktu saya semakin terbatas, sekarang ini saya hanya sempat mengikuti CTF jangka panjang, bukan CTF 2 hari di akhir pekan. Saat ini sudah ada beberapa yang rutin: Flare-On, Labyrenth, dan RHME.

Saya mulai ikut CTF RHME tahun lalu, dan tahun ini sudah dimulai lagi: The world first automotive CTF, begitu slogan RHME tahun ini. Registrasinya kemarin dibuka tanggal 7 Agustus dan ditutup tanggal 28 Agustus. Ada tiga soal yang cukup sulit, mereka mengalokasikan 500 device, tapi hanya 486 orang yang menyelesaikan minimal 1 soal.

Dari Indonesia cuma teman saya Deny yang berhasil mendaftar (padahal dah beberapa kali saya umumkan di group RE Indonesia yang anggotanya ratusan). Dari Thailand ada 7 orang yang mendaftar.  Device akan dikirimkan ke peserta mulai 1 November nanti.


Sekarang ini Joshua sedang sangat senang nempel ke saya, kadang minta dipangku nonton Youtube padahal bisa nonton di TV yang besar atau di tablet, sementara saya coding (split screen). Sepertinya sudah saatnya beli dua monitor.

HITB Singapore

Tahun ini saya mencoba lagi HITB ke Singapore, walau hasilnya kurang memuaskan (peringkat 14 offline dari 28 team). Pesertanya jauh lebih kompetitif dari terakhir kali kompetisi beberapa tahun yang lalu. Soal-soalnya juga jauh lebih sulit.

Meski tidak menang, tapi saya senang bisa bertemu lagi dengan teman-teman yang sudah lama tidak saya temui, dan juga bertemu teman baru.

Buat orang-orang yang meng-add saya di Facebook: segala macam hal-hal menarik saya buat jadi public di timeline saya atau di blog. Hal-hal yang sifatnya hanya untuk teman saja, saya publish untuk “Friend” (seperti misalnya foto teman-teman yang saya temui di Singapore), jadi sebenarnya nggak seru nge-add saya jadi friend di Facebook.

Bug Bounty

Meski sudah banyak bug yang saya laporkan ke berbagai pihak, biasanya balasannya cuma: makasih mas. Ada juga bahkan yang gak pake terima kasih, terus diem-diem benerin. Ada beberapa yang nawarin kerjaan/proyek, tapi kemudian nggak ada kabarnya lagi.

Setelah tahun lalu menemukan bug di payment gateway Master Card (dan menerima 8500 USD), tahun ini saya coba-coba lagi dan menemukan lagi bug di beberapa payment gateway. Sayangnya yang sangat tanggap cuma satu: Fusion Payments. Di bulan ini saya sudah menemukan 2 critical level bug di sana, yang pertama 400 USD dan berikutnya 500 USD.

Sebagai catatan: bug-bug yang saya temukan akan saya tuliskan detailnya, tapi saat ini masih belum bisa/boleh.

Tablet Android

Beberapa waktu yang lalu saya mendapatkan pekerjaan testing aplikasi Android yang hanya berjalan di versi tablet (layar besar). Ternyata aplikasinya berisi form yang banyak sekali sehingga perlu layar lebar. Biasanya saya memakai tablet Samsung Note 8 yang sudah bertahun-tahun umurnya, tapi sekarang ini tabletnya sudah rusak (mati/tidak bisa boot lagi). Karena aplikasinya selalu hang di emulator, akhirnya saya memakai Android di Pinebook.

Semua bisa berjalan dan testing bisa selesai, tapi ada yang mengganggu: Pinebook tidak punya touch screen, dan aplikasinya hanya mau jalan di mode landscape. Jadi saya terpaksa memakai laptop dalam posisi miring, dengan menggunakan keyboard eksternal.

Akhirnya saya beli Android murah dari AliExpress. Ratingnya bagus, katanya CPUnya 8 core, memorinya 4 GB dengan ROM 32 GB. Setelah sampai, kenyataannya CPUnya cuma 4 core, RAM nya cuma 2GB dan ROM cuma 16 GB. Ternyata kernelnya diakali sehingga jika memakai software dari play store pun, akan muncul kalau memorinya 4 GB, CPUnya 8 core, dan ROM-nya 32 GB.

Waktu mau coba root dengan langsung flash recovery partition baru, ternyata malah error, tidak bisa boot sama sekali dan nggak bisa dicharge juga. Akhirnya saya charge baterenya dengan cara membuka soldernya lalu memakai modul charger Lithium. Setelah mendapatkan file ROM asli dari sellernya, akhirnya bisa jalan normal lagi. Tapi benda ini sangat ringkih, jadi saya simpan saja untuk pentest berikutnya.

 

Sebenarnya masih banyak cerita dan detail lain bulan ini, tapi akan saya geser ceritanya ke bulan depan.

Update Singkat Pinebook

Setelah awal yang agak mengecewakan,  para hacker/volunteer telah membuat beberapa perbaikan yang membuat Pinebook cukup usable. Saya sempat mencoba mencari dan memperbaiki sendiri beberapa masalah yang ada, tapi sekarang sudah ada yang mempersiapkan image yang siap didownload untuk mengupgrade OS standarnya. Posting ini merupakan update dari posting saya sebelumnya.

Salah satu perbedaan Pinebook dibandingkan dengan laptop lain adalah keterbukaannya. Port serial disediakan melalui headphone jack, bisa digunakan untuk debugging. Dengan serial port ini kita bisa melihat output teks ketika booting. Saya sudah mencoba ini dan cukup praktis.

Speaker sekarang berfungsi dengan normal karena profil Alsa yang benar sudah diinstall default. WIFI sudah stabil, ternyata sebelumnya ada masalah di power management yang membuat chipnya “tidur” dan koneksinya putus. Chromium (versi opensource Chrome) bisa diinstall walau butuh edit konfigurasi tertentu. Jika laptop ditutup sekarang otomatis sleep, ternyata masalahnya hanya modul kernel yang tidak diload secara default.

Sampai saat ini Desktop secara keseluruhan belum accelerated. Artinya game-game tidak bisa berjalan cepat, video youtube tidak bisa diputar lancar. Khusus untuk film, kita bisa memakai smplayer/mplayer yang bisa menjalankan video dengan akselerasi (walau tidak selalu bisa lancar). Sekarang disertakan juga program smtube untuk browsing youtube, walau tidak selalu lancar juga.

Untuk mengupgrade firmware di PineBook, kita cuma perlu menuliskan image ke sdcard (bisa memakai program Etcher atau dd manual). Masukkan sdcard, restart, dan otomatis proses update akan dilakukan. Setelah selesai, keluarkan sdcard, restart lagi.

Proses update

Saya sekalian mencoba Android Nougat (Android 7) untuk PineBook. Image Android saat ini dirancang untuk diinstall ke SD Card, artinya kita bisa dual boot Android dan Ubuntu. Jika SD Card berisi Android dimasukkan, maka kita akan boot ke Android, jika SD Card dikeluarkan ketika boot, maka kita akan masuk Ubuntu (setelah proses booting dimulai, kita bisa memasukkan lagi cardnya dan mengakses data di card-nya).

Masalah video lebih bagus di Android, kita bahkan bisa menjalankan Kodi dan beberapa film HD bisa diputar. Aplikasi Google seperti GMail, Chrome, dan Play Store sudah diinstall. Sebagian aplikasi seperti Netflix tidak bisa diinstall, dan meskipun ada banyak aplikasi bisa diinstall dari Play Store, tapi tidak semua usable. Sebagian terlalu lambat, sebagian game “memaksa” mode portrait sehingga tidak nyaman. Beberapa aplikasi yang saya coba: Kindle, Google Docs, Microsoft Word (lambat), Cut The Rope. Program remote desktop dari Micorosft juga bisa berjalan, jadi Pinebook bisa digunakan untuk mengakses komputer yang lebih powerful.

Mode split window di Android Nougat memungkinkan kita membuka dua aplikasi sekaligus dan tampil berdampingan. Sampai saat ini saya tetap merasa keyboard versi 14″ ini kurang enak, sedangkan saya lihat banyak yang memuji keyboard versi 11.6 inch.

Demikian update singkatnya mengenai Pinebook. Meski waktu launch softwarenya kurang bagus, saat ini Pinebook sudah usable. Saat ini banyak sekali yang ingin memesan Pinebook sehingga orang yang ingin memesan harus “antri” cukup lama. Jika ada kemajuan yang signifikan dalam software/hardware Pinebook, saya akan membuat posting baru lagi.

Remote IR via WIFI dengan ESP8266

Posting ini sekedar membahas proyek sederhana mengendalikan peralatan yang dikontrol dengan remote infrared (IR) melalui WIFI. Sekarang kami bisa menyalakan dan mematikan AC, mensetup temperatur, kipas, dan juga swing dari HP atau laptop.

Saya dan Risna tadinya sama-sama memakai Samsung Note 4 yang memiliki fitur IR blaster sehingga bisa jadi remote AC maupun TV. Ternyata fitur ini sangat terpakai, sering kali remote TV terselip, dan remote AC kadang tidak terlihat di malam hari di kamar tidur, sedangkan biasanya HP tidak jauh dari tangan.

Sebenarnya dari dulu sudah ingin membuat ini, tapi Sekarang Risna ganti HP memakai Asus Zoom yang tidak punya fitur IR.  Jadi diniatkan untuk membuat gateway WIFI ke IR. Plus saya kadang lupa mematikan AC dan sudah terlanjur meninggalkan rumah.

Continue reading “Remote IR via WIFI dengan ESP8266”

Outernet: packet radio from space

Update November 2017: Saat ini satelit untuk daerah Asia Pasifik sudah offline karena kurangnya peminat. Belum ada kabar apakah akan online lagi atau tidak.

Outernet adalah layanan broadcast data via satelit yang sifatnya terbuka dan gratis. Kita bisa menerima data yang dikirimkan dengan receiver yang bisa dibeli jadi atau dirakit sendiri. Data yang disiarkan outernet beraneka ragam, mulai dari cuaca, berita, sampai artikel yang bisa kita usulkan.

Sebenarnya proyek Outernet ini sudah dimulai cukup lama, sejak 2014 mereka sudah memulai broadcast di Ku Band, tapi sekarang mereka memakai L Band. Jangkauan Outernet sampai saat ini sudah hampir seluruh bumi.

Akhir tahun lalu mereka memberi diskon untuk  kit receiver Outernet. Tadinya 99 USD belum termasuk ongkos kirim, tapi waktu itu dijual 89 USD, sudah termasuk ongkos kirim. Semestinya saya akan menerima paketnya bulan Maret, tapi baru dikirim April. Baru sabtu sore lalu saya menerima paketnya.

Sebagai catatan: mereka juga memulai kampanye Indiegogo untuk menjual hardware receiver, tapi sampai saat ini backer project tersebut belum mendapatkan barangnya. Kalau tertarik dengan Outernet, sebaiknya pesan langsung dari webnya, jangan dari Indiegogo. Tadinya mereka menjual sebagian kit saja (misalnya Antenna saja, atau LNA saja, atau SDR saja), tapi sekarang kita harus membeli kit langsung.

Paket yang saya terima adalah: CHIP (komputer 9 USD), Patch Antenna, dan SDRx yang merupakan gabungan software  defined radio (SDR), plus low-noise amplifier/LNA dan sebuah kertas manual singkat.

Merakit kit ini cukup mudah: colokkan SDRx ke CHIP, colokkan Antenna ke SDRx, beri power melalui colokan micro USB di CHIP dan arahkan antenna ke satelit. Bagian terakhir itu mungkin kedengaran sulit, tapi sekarang ada software Sattelite AR untuk Android. Cukup masukkan nama satelit (Inmarsat I4 untuk daerah Asia Pasifik), dan arahkan ke angkasa, nanti kita bisa tau di mana kira-kira satelitnya berada.

Jika Anda ingin mulai membeli receiver, atau membuat sendiri receivernya, coba install dulu software Sattelite AR-nya untuk mengetahui apakah Anda akan bisa mendapatkan signal satelit dengan mudah dari tempat Anda berada. Jika Anda ingin membuat sendiri receivernya, Anda bisa memakai Raspberry Pi dengan SDR Receiver yang bagus (misalnya dari sini), Anda juga perlu membeli atau membuat LNA (misalnya dengan design dari sini) dan tentunya Anda perlu membuat antennanya.

Untuk mengakses outernet, kita cukup melakukan koneksi via WIFI, lalu mengakses interfacenya dengan web browser. Defaultnya outernet akan berfungsi seperti access point. Sayangnya saya memiliki sedikit kesulitan di sini: akses pointer Outernet tidak terlihat meskipun LED pada CHIP dan SDRx terlihat menyala. Setelah dicoba-coba, ternyata access point-nya hidden, jadi perlu kita masukkan namanya manual. 

Sekarang untuk memudahkan koneksi, saya ubah modenya menjadi WIFI Client agar bergabung ke jaringan WIFI di rumah.

Setelah semua siap, kunjungi bagian Tuner. Pastikan satelit yang benar sudah dipilih (defaultnya untuk Eropa). Perlu diperhatikan di tab status bahwa SNR harus lebih dari 3 supaya kita bisa menerima file. Jika SNR baik, setelah agak lama, paket akan mulai berdatangan. Dibutuhkan waktu cukup lama sampai transfer dimulai. Di hari pertama saya mencoba sekitar satu jam dan tidak mendapatkan apa-apa (hanya file parsial).

Karena hari pertama akan hujan, saya bawa masuk kit outernetnya. Hari Minggu, sebelum mengantar Jonathan ke dokter gigi, saya setup lagi outernet receivernya. Ketika pulang dari dokter gigi kami ke kebun binatang. Waktu tiba di rumah, sudah ada cukup banyak file yang diterima, termasuk juga data cuaca.

Saat ini saya belum punya tempat yang permanen yang tahan cuaca. Receivernya saya tahan dengan kotak yang diberikan.

Saat ini jika kita ingin mengirimkan berita via Outernet atau memilih artikel untuk disiarkan, kita bisa membeli kredit (minimal 10 USD untuk 1000 credit). Satu pesan broadcast biayanya 10 kredit. Untuk sebuah artikel, biayanya 10 kredit plus 5 kredit untuk tiap 1000 byte artikel.

Saya sendiri belum membeli credit, belum tahu untuk apa. Mungkin kalau iseng, saya bisa membeli kredit 10 USD dan mengucapkan selamat ulang tahun ke 100 orang.

Bagi kebanyakan orang, Outernet ini saat ini tidak semenarik Internet, karena sifatnya yang searah (butuh internet untuk bisa mengirimkan sesuatu), kontennya masih relatif sedikit (hanya sekitar 20 megabyte per hari disiarkan). Bagi sebagian orang, ternyata outernet ini sudah berguna, misalnya untuk mereka yang membutuhkan data cuaca ketika berlayar.

Rencana mulia Outernet adalah menyebarkan berita dan ilmu ke seluruh dunia bebas biaya, termasuk juga ke daerah yang sulit dijangkau Internet (terlalu sulit/terlalu mahal). Untuk saat ini sebelum tujuan mulia tersebut tercapai, Outernet bisa jadi mainan menarik untuk hacker dan orang yang suka teknologi radio. Saat ini software outernet sifatnya proprietary, tapi sudah ada yang melakukan reverse engineering modulasi, coding, framenya.