Kenapa kami memilih homeschooling

Sebagian orang sudah memiliki pengalaman homeschool (atau mereka sendiri adalah hasil didikan homeschool) sehingga sudah sangat yakin untuk memulai homeschool, dan bahkan tidak mencoba sama sekali sekolah konvensional. Kami bukan orang yang seperti itu. Dari dulu kami tertarik dengan homeschool tapi belum yakin. Waktu Jonathan masih sekitar 3 tahun, Risna sempat bergabung dengan group homeschool dan belajar banyak tentang homeschool. Tapi kemudian kami memasukkan Jonathan ke sekolah, dan sepertinya Jonathan suka di sekolah.

Di masa level taman kanak-kanak, sekolah cukup menyenangkan bagi Jonathan, tapi ketika mulai masuk SD, sudah terasa menjadi beban, dan semakin bertambah ketika naik kelas 2. Jonathan tidak memiliki kesulitan untuk masalah membaca, menulis dan matematika tapi masalah dengan kegiatan sekolah yang terlalu lama. Di Thailand sini, semua sekolah yang kami tahu merupakan sekolah full day, mulai dari jam 8.30 pagi (bahkan ada yang lebih pagi) sampai sore (15.00, dan beberapa sekolah bahkan lebih lagi).

Biasanya siklus yang terjadi adalah: Jonathan tidak bisa langsung tidur di malam hari, bangun masih ngantuk, di sekolah kurang bisa konsentrasi, dan ketika dijemput tertidur di mobil. Karena tertidur di mobil, malamnya jadi susah tidur cepat, dan begitu terus berulang. Sudah beberapa kali kami coba break cycle ini, tapi tidak berhasil. Jika ada kegiatan yang melelahkan di sekolah, Jonathan tertidur lagi di mobil, dan semua kembali terulang lagi.

Salah satu penyebab masalah ini adalah: Jonathan sudah masuk SD sejak umur 5 1/2 tahun, dan untuk sebagian anak seperti Jonathan, dia masih butuh tidur siang. Waktu itu kami percaya pada assesment dari pihak sekolah yang menyatakan Jonathan sudah siap masuk SD. Secara kemampuan akademik memang demikian, tapi ternyata kurang siap di hal lain. Saya dan Risna ketika SD hanya 1/2 hari, dan bahkan hanya beberapa jam saja ketika kelas 1-2 SD dan bisa tidur siang setiap hari. Dan menurut kami itu lebih santai.

Sebelum homeschool, Jonathan juga memiliki masalah dalam makan: lambat sekali ketika makan. Di sekolah, jam makan dibatasi, akhirnya Jonathan hanya makan sedikit, dan ini kurang baik untuk kesehatannya. Badannya kurus, perlu tambahan multivitamin,dan setiap kali sakit (misalnya batuk), lama sekali pulihnya.

Awal kami mulai homeschool adalah karena kombinasi dari hal di atas, ditambah lagi pergantian semester di sekolah Jonathan. Sekolah Jonathan adalah sekolah internasional dengan kurikulum Australia. Tadinya mereka mengikuti jadwal semester Thailand, tapi mereka mulai beralih dari jadwal semester Thailand ke Australia. Artinya akan ada beberapa bulan yang akan masuk ke bridging semester yang sifatnya opsional. Di masa ini kami merasa patut mencobakan homeschool ke Jonathan.

Ada banyak pendekatan homeschooling, dari mulai unschooling (anak belajar apa saja yang dia mau), membeli kurikulum tertentu, mengikuti group homeschool, atau bahkan memanggil guru untuk mengajar di rumah. Pendekatan yang kami ambil adalah: kami membeli kurikulum yang menurut kami cocok, dan memasukkan Jonathan ke berbagai les untuk topik yang tidak kami kuasai.

Kurikulum yang kami pilih adalah CLE (Christian Light Education). Kami juga menambahkan sendiri materi lain yang diperlukan. Sebagai stay at home mom, Risna punya waktu untuk mengajar sendiri semua materinya. Risna juga punya background pendidikan yang lebih dari cukup (S1 dan S2 di Informatika ITB). Risna juga dulu selalu ranking 1 selama SD/SMP/SMU. Kami berdua juga pernah menjadi teaching assistant di ITB ketika mengambil S2. Ini juga sekaligus untuk menjawab pertanyaan beberapa orang: apakah cukup diajar orang tuanya saja? Menurut saya kualifikasi kami sudah cukup, dan lebih dari rata-rata guru di berbagai sekolah.

Bahkan sebenarnya dengan kurikulum tertentu (seperti CLE ini), guru tidak harus sangat pintar. Asalkan orang tua mau meluangkan waktu, ada guidebook yang bisa dibaca, dan ada kunci jawaban untuk setiap soal. Untuk level SD, kebanyakan soal hanyalah hal dasar. Fokusnya lebih ke belajar matematika dasar, membaca dan memahami teks (sambil menghapalkan fakta-fakta yang penting untuk kehidupan), dan belajar menuliskan ide dengan baik.

Kami tidak merasa mampu mengajarkan semua bidang. Contohnya: kami tidak memiliki kemampuan musik yang baik, jadi kami bawa Jonathan ke tempat kursus piano. Ini sekaligus sebagai pelajaran musik Jonathan. Untuk olahraga, kami membawa Jonathan 2 kali seminggu ke kelas Tae Kwon Do. Untuk pelajaran membaca dan menulis bahasa Thai, kami membawa Jonathan ke Kumon Thai. Untuk pelajaran seni, kami membawa Jonathan ke kursus art (terutama menggambar).

Selain sekolah Minggu, berbagai kegiatan di luar rumah tersebut juga menjadi tempat sosialisasi bagi Jonathan. Kegiatan lain yang kami ikuti adalah homeschool cooperatives (koperasi homeschool) yang mempertemukan keluarga yang homeschooling anaknya. Secara umum kami tidak terlalu khawatir dengan masalah sosial karena Jonathan mudah sekali berteman dan bergaul dengan seseorang. Jika kami melepaskan dia playground, biasanya dalam beberapa menit dia sudah berkenalan dengan beberapa orang dan bisa bermain bersama.

Meskipun sepertinya kegiatannya sangat banyak, tapi tiap hari kegiatannya bisa dilakukan dalam waktu singkat, hanya beberapa jam saja sehari, dan biasanya semua bisa selesai sebelum jam makan siang. Setelah itu Jonathan bisa tidur, membaca buku, atau belajar berbagai hal lain di luar materi homeschool. Di sekolah sebenarnya materi yang diajarkan juga tidak banyak, tapi banyak kegiatan yang menurut kami sifatnnya filler, dan kadang kurang efektif.

Dari segi biaya, secara umum homeschool relatif murah. Biayanya tentunya di atas sekolah negeri, tapi di bawah sekolah-sekolah yang dituliskan di posting Mahalnya Sekolah. Biaya yang tadinya kami gunakan untuk uang sekolah Jonathan berpindah ke biaya untuk materi kurikulum, biaya les, berbagai alat (misalnya talking pen di posting sebelumnya) serta banyak buku.

Bagaimana dengan masalah ijazah? ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan. Secara singkat jawabannya: kami belum terlalu memikirkannya sekarang. Jika kami ingin kembali ke Indonesia, Jonathan bisa mengambil ujian persamaan. Jika Jonathan ingin bersekolah ke negeri lain, ada test persamaan juga (misalnya ada test persamaan untuk sekolah Amerika dan test ini bisa dilakukan di Bangkok). Kami tidak terlalu khawatir, karena mungkin saja dalam beberapa tahun ke depan berbagai aturan sudah akan berubah. Saat ini profesi yang saya ambil (programmer) tidak mewajibkan memiliki Ijazah, yang penting adalah kemampuan (skill), dan inilah yang kami tekankan untuk saat ini.

Meskipun belum memikirkan Ijazah, yang jelas tiap beberapa hari ada kuis dan ujian untuk Jonathan, dan kami memastikan Jonathan menguasai dengan baik semua materi yang diajarkan. Kami cukup yakin Jonathan bisa bersaing dan bisa lulus dalam test apapun yang diberikan sesuai untuk usianya.

Perlu dicatat juga bahwa homeschool tidak legal di semua negara. Di Thailand dan Indonesia homeschool diperbolehkan, tapi di negara lain ada yang tidak diperbolehkan, atau harus mengikuti aturan tertentu. Jadi jika Anda berada di negara lain, silakan cek dulu aturan negara tersebut.

Jonathan masih sering kami tanya apakah lebih memilih homeschool atau kembali ke sekolah. Jawabannya sampai saat ini adalah: homeschool. Kesehatan Jonathan sekarang sudah bagus, tidurnya cukup, berat badannya juga sudah naik, tidak terlalu kurus lagi. Waktu untuk bermain dan membaca buku juga banyak, bahkan sudah belasan buku diselesaikan Jonathan sebulan terakhir ini (termasuk juga buku pertama Harry Potter).

Jonathan bermain-main dengan electromagnet

Jonathan juga lebih cepat mengerti berbagai materi karena jika ada yang tidak dimengerti saya bisa membantu menjelaskan, baik secara langsung maupun dengan bantuan website dan video dari YouTube. Saya juga bisa memberikan materi ekstra seperti dasar-dasar elektronik ke Jonathan.

Saat ini Joshua belum kami putuskan apakah akan ikut homeschool atau sekolah biasa. Sampai saat ini dia senang belajar sendiri, dan bahkan ikut menghapalkan hal-hal yang diajarkan ke kakaknya (misalnya dia sudah hapal square numbers/bilangan kuadrat, dari 1×1=1 sampai 12×12=144).

Perlu dicatat bahwa homeschool mungkin tidak cocok bagi semua orang. Mungkin anak bisa kesepian dan ingin ikut sekolah biasa. Mungkin orang tua tidak punya waktu untuk mendidik anaknya. Keputusan homeschool menurut kami sudah tepat saat ini bagi kami, tapi mungkin kurang cocok bagi orang lain, atau mungkin perlu pendekatan berbeda untuk orang lain.

Tulisan ini fokusnya hanya mengenai kenapa kami memilih homeschool untuk Jonathan dan bagaimana kami mengajar Jonathan. Kami berencana akan menuliskan lebih banyak lagi berbagai hal yang berkaitan dengan homeschool ini.

Screen vs No Screen

Kami nggak punya nanny/mbak yang bisa dititipi jaga anak2, jadi memang selama ini supaya “aman tentram” masak atau pas lagi ngajarin Jonathan, saya kadang kasih lagu-lagu nursery rhymes atau tontonan edukasi di TV buat Joshua. Terkadang kasih iPad atau handphone pas di luar rumah supaya ga berisik. Tapi kadang pas saya udah lowong, saya jadi malas dan biarin saja Joshua nonton TV/main gadget.

Jonathan juga kadang jadi ikutan nonton lagu buat Joshua. Kadang bangun tidur sore, saya pasang film buat Jonathan yang ikut ditonton Joshua, dan walaupun tau kebanyakan screen time ga baik buat anak-anak, tetep aja saya cari alasan pembenaran untuk kemalasan saya. Sampai pada satu titik, saya dan Joe akhirnya sepakat untuk stop gadget/screen time dan mengalahkan sejuta alasan kami mulai dari: ah mereka kan belajar dari YouTube, biar anteng, lagi cape buat ajak main yang sebenernya kami malas dan mau main gadget juga.

Memang sih Joshua banyak belajar dari tontonannya, belum 3 tahun dia sudah bisa mengenali (dan menulis) huruf A sampe Z, hitung 1 sampai 100 dan juga mengingat beberapa fakta penjumlahan dan perkalian. Tapi efek buruknya juga ada, dia jadi seperti terobsesi belajar mulu dan kurang mau diajak obrolan sehari-hari.

Sudah sebulan ini kami stop mengijinkan anak-anak main gadget/screen time. Awalnya sempat ragu-ragu dan ga yakin bakalan bisa, karena memang memberikan gadget ini membuat kami semakin malas untuk berinteraksi dengan anak dan pastinya kami sendiri semakin punya alasan buat berlama-lama di depan gadget kami.

Kami mulai menghentikan pemberian gadget termasuk tontonan YouTube walaupun isinya materi edukasi di suatu weekend. Sepert biasa kami ajak anak-anak ke park dan playground. Pulang ke rumah biasanya kami beri gadget supaya tenang, tapi mulai saat itu kami ajak main dengan mainan yang ada dan memilih membiarkan anak-anak berantakan.

Joshua membaca sight words

Minggu pertama, Jonathan berusaha menawar dan masih berusaha mencari kesempatan untuk dapat kesempatan main game. Kami tetep gak kasih karena kalau kami mulai kasih lagi, pasti akhirnya kembali lagi main game mulu. Terkadang Jonathan akan mengeluh bosan. Saya bilang kalau bosan ya tidur aja, atau baca buku, atau mewarnai, atau bikin game sendiri. Gak mudah memang berhenti main gadget, mungkin ga fair buat anak-anak, karena mereka ga boleh main gadget tapi kami tetap main hp di depan mereka. Tapi tentunya supaya anak-anak ga rebut gadget, di masa awal kami juga ga make gadget di depan mereka dan lebih banyak bermain sama mereka. Secara ga langsung kami juga berkurang sih main gadget karena harus mengajak mereka main, terutama Joshua. Kami memutuskan stop total screen time, Jonathan juga ga dikasih supaya Joshua ga ikutan minta.

Efek yang paling terasa sejak anak-anak gak main gadget adalah mereka jadi mencari buku. Dari dulu saya berusaha mencari akal gimana supaya Jonathan suka membaca dan Joshua mau duduk tenang kalau dibacain buku. Saya sudah coba bikin rutin membacakan buku untuk mereka sebelum tidur, tapi ya mereka kayak ga tertarik dan lebih tertarik melihat gadget. Kalau ga ada gadget akhirnya mereka ga punya pilihan lain dan mereka mendengarkan buku yang saya bacakan. Jonathan bahkan mulai mencari buku sendiri untuk dibaca, dan mereka gak pernah berusaha rebut handphone kami setelah seminggu berhenti main gadget dan nonton TV. Joshua sekarang malah berusaha mengeja semua kata yang dia kenali dan berusaha baca. Kalau di luar rumah, dia suka main membentuk huruf dan angka dari pensil, tusuk gigi ataupun sumpit.

Jonathan kami suruh membaca chapter book yang ada di rumah. Awalnya dia bilang suka dengan jalan ceritanya satu buku, tapi belakangan saya lihat dia baca juga buku lain yang tadinya dia bilang gak suka. Setelah Jona selesai baca 2 chapter book yang berupa kumpulan cerita singkat, Joe coba kasih Jonathan baca buku serial micro adventure di Kindle. Eh ternyata Jonathan sangat tertarik dan semangat sekali membacanya dan menyelesaikan baca dalam waktu sehari. Dia juga bersemangat untuk mencoba mengetik listing program BASIC yang menjadi bagian dari cerita. Buku ke -2 kami print karena saya pikir supaya ga kembali ke kebiasaan pegang gadget karena kindle itu serasa tablet. Buku ke-2 dibaca Jona dalam waktu beberapa jam saja. Akhirnya kami ijinkan baca buku ke 3 di Kindle lagi karena lumayan banyak juga kalau harus di print, dan dia bisa selesai juga dalam waktu singkat.

Melihat semangat Jonathan membaca buku, saya jadi pengen ikutan baca buku yang dia baca. Ternyata, membaca buku di handphone dengan aplikasi Kindle itu terlalu banyak yang bikin terpecah konsentrasi. Sebentar – sebentar ada pop-up notifikasi yang akhirnya jadi godaan buat baca pesan di WhatsApp ataupun buka Facebook. Saya perlu membaca di kindle tablet atau sekalian buku fisiknya.

Akhir pekan kemarin, kami berburu buku ke toko buku bekas di Chiang Mai, sayangnya ga banyak buku cerita yang cocok untuk umur Jonathan di toko buku yang ada. Tapi dari 2 buku yang kami beli, Jonathan menyelesaikannya dalam hitungan jam, dia sekarang juga membaca ulang buku yang sudah dia selesaikan itu karena kami belum beli buku lagi. Saya juga jadi ikutan coba baca buku yang Jonathan baca, dan disitu saya menyadari memang baca buku fisik jauh lebih bisa fokus dan dinikmati daripada baca e-book.

Kalau sudah begini, rasanya harus mulai mencari membership perpustakaan yang ada koleksi bahasa Inggrisnya di kota ini. Biasanya membeli buku berbahasa Inggris ya dari group jual beli saja. Dulu sempat ada toko buku bekas yang koleksinya banyak banget, sayangnya sudah beberapa bulan ini toko bukunya tutup karena pemiliknya sedang ke Amerika dan belum tahu kapan kembali.

Saya bukan tergolong orang yang suka membaca buku, saya lebih sering berlama-lama di depan handphone membaca timeline media sosial ataupun artikel-artikel yang seliweran di timeline saya. Tapi melihat Jonathan sedang semangat membaca, saya jadi pingin punya semangat yang sama dan berharap dia bisa tetap memelihara semangat bacanya. Mungkin sudah waktunya saya juga dilarang pake gadget ya hahaha. Tapi kalau saya dilarang pake handphone, saya makin ga punya waktu dong buat nulis blog begini. Alasan selalu ada ya supaya ga lepas dari gadget hahaha.

Sekarang ini Jonathan kami ijinkan main komputer untuk belajar mrogram atau mengetik dan menonton YouTube bersama Joe sebagai sarana belajar di saat Joshua tidur/Joshua main dengan saya. Kami masih berpendapat screen time ga selalu jelek, yang jelek itu kalau orangtua jadi malas dan ga mengarahkan dengan benar.

Untuk bisa membatasi screen time pada anak, perlu kesepakatan orangtua dan kesediaan orangtua untuk mengalahkan rasa capek dan mau bermain dengan anak. Efek dari less screen time ini sejauh ini lebih banyak postitifnya, bahkan untuk kami sendiri rasanya kami cukup senang melihat anak-anak tertawa ceria dan gak melulu cari gadget. Kalau dulu Joshua akan insist nyalain TV minta dikasih tontonan, sekarang ini dia gak pernah lagi nyalain TV ataupun nangis merengek minta diambilkan gadget. Setidaknya sampai Joshua mau berkomunikasi yang ga melulu angka dan huruf, Joshua masih di stop screen timenya. Mungkin kalau dia emang pengen bisa baca, kami akan ajarin baca aja hehhee.

11 Tahun Menikah

Hari ini 11 tahun yang lalu, kami menikah setelah mengenal satu sama lain sekitar 3 tahun. Dan selama 14 tahun kami masih selalu menjadi pengguna aplikasi messenger. Mulai dari Yahoo Messenger, Agile messenger di handphone dengan OS Symbian, Google Talk /Google Hangout, BBM, dan sekarang pake Telegram. Dari jaman internet masih mahal dengan paket GPRS, sampai sekarang jaman 4G dengan harga relatif lebih murah.

Joshua belajar mengetik, berikutnya belajar pake app messenger

Kami gak pernah long distance relationship, waktu pacaran kami tinggal 1 kota (bahkan 1 kantor dan kuliah bareng), tapi kami sering chat sampe sekarang. Beberapa temen saya sampe terheran – heran ngapain sih masih chat, kenapa ga telpon saja langsung atau ya kan nanti bisa ngobrol di rumah. Alasannya sih karena ga semua yang kami bicarakan itu penting banget sampe perlu di telpon. Ya saya bersyukur punya pasangan yang mau mendengar semua cerita saya bahkan yang ga penting sekalipun. Kadang-kadang, jadi perempuan itu cuma pengen didengar, jadi misalnya saya baca berita yang aneh, reflek pertama bukan share di FB tapi share ke Joe. Continue reading “11 Tahun Menikah”

Bulan Penuh Diskon

Bulan November merupakan bulan penuh diskon, karena ada 11/11 (singles day) dan ada banyak diskon dari berbagai situs di China, lalu diikuti dengan Black Friday dan Cyber Monday yang penuh dengan diskon global.

Dibandingkan tahun lalu, tidak terlalu banyak diskon yang diberikan oleh AliExpress, benda mahal yang saya beli  hanya Proxmark3 versi paling sederhana (tidak memiliki konektor batere) dengan harga 66 USD (termasuk ongkos kirim). Proxmark3 ini adalah tool untuk eksplorasi RFID/NFC.

Sebenarnya dalam banyak kasus berbagai penstest dan hacking NFC bisa dilakukan dengan reader sederhana yang harganya kurang dari 5 USD, tapi proxmark ini diperlukan untuk sniffing dan juga untuk mengakses berbagai kartu yang tidak standar.

Texas Instruments baru saja meluncurkan board MSP43  baru (Launchpad dengan FRAM), dengan harganya 9.9 USD belum termasuk ongkos kirim, tapi saat ini  diskon menjadi 4.30 USD (sudah termasuk ongkos kirim). Diskonnya masih ada sampai Desember 2017. Development board dari TI ini bisa dipakai juga memprogram chip MSP430 lain.

Waktu pindah ke rumah baru, UPS yang tadinya baik-baik saja menjadi tidak berfungsi sama sekali. Setelah dibongkar, ternyata ada kabel yang kendor di dalamnya (mungkin kendor waktu pindahan). Tapi UPS-nya sudah tidak menyimpan daya lagi dan baterenya agak melendung (batere dari tahun 2012). Akhirnya  beli baru dan UPS-nya bisa berfungsi lagi.

Ada kit yang namanya Makey Makey yang fungsinya mengubah berbagai benda konduktif menjadi input device. Contoh benda dan aplikasinya bisa dilihat di situs tersebut, tapi beberapa di antaranya: mengubah pisang menjadi alat musik atau membuat tangga musikal dengan conductive tape.

Harga makey makey cukup mahal, jadi ketika saya lihat ada modul MPR121  di aliexpress yang harganya kurang dari 2 USD, saya langsung cek apakah mudah dipakai (dari beberapa tutorial dan video youtube), dan ternyata mudah. Dengan menghubungkan modul ini ke Arduino Leonardo, saya bisa membuat tiruan makey makey. Sebagai catatan, seri Arduino Leonardo dan Pro Micro bisa dengan mudah mengemulasikan USB, seri lain defaultnya tidak bisa kecuali dengan menambah beberapa komponen dan memakai software Lufa atau V-USB.

Cukup seru memainkan ini, tapi setiap kali selesai bermain dari kamar lain dan melihat pisangnya, Joshua berusaha ambil untuk dimakan.

Dan setelah share ini di Facebook, beberapa hari kemudian muncul iklan diskon Makey makey di Facebook feed.

Selain bulan diskon, di bulan November kami banyak melakukan aktivitas lain.  Tahun ini festival Loi Krathong dirayakan di awal bulan. Kami datang ke sungai dekat rumah untuk melihat orang-orang melarung krathong. Festival ini selalu bersamaan fetival Yi Peng, di mana orang menerbangkan sky lantern (seperti di film Tangled).

Beberapa kali ulang tahun Jonathan dirayakan bersama orang Indonesia di Chiang Mai, dan tahun ini lagi. Sekarang lebih ramai dari dulu karena lebih banyak keluarga yang punya anak. Tema tahun ini Doctor Who (sebelumnya Pokemon, dan sebelumnya lagi Paw Patrol).

Risna berhasil membuat tempe lagi tahun ini dengan ragi yang dibawakan oleh mama saya. Seperti biasa, demi privasi, foto-foto yang ada orang lain hanya diupload di Facebook untuk friends saja.

Untuk kesekian puluh kalinya, kami jalan-jalan di Night Safari. Sebenarnya tempat ini mahal (800 baht sekitar 320 rb rupiah per orang) tapi kami punya membership gratis masuk berapa kalipun dalam 6 bulan (membership 6 bulan hanya 500 baht sekitar 200 rb rupiah). Kami bisa menghabiskan waktu 3-6 jam di sini tiap kali datang. Ada bus keliling 2 jalur, totalnya sudah 1 jam, plus ada play ground (biasanya sekitar 1 jam main di play ground).

Joshua menjatuhkan iPad ke jempol kakinya dan hasilnya dalam beberapa hari kuku kakinya lepas, jadi kami membatasi jalan-jalan ke tempat yang tidak berdebu/berpasir. Ketika dibawa ke night safari, Joshua dengan semangat berlari di walking trail.

Ada tempat baru yang kami kunjungi: Rabbit Union. Di sini anak-anak bisa memberi makan dan mengelus-elus kelinci. Awalnya cukup menyenangkan bermain dan mengejar kelinci, tapi di akhir Joshua mulai berusaha mengangkat kelincinya.

Chiang Mai Citylife Garden Fair adalah acara tahunan outdoor. Di sini ada musik, banyak penjual makanan, pembaca kartu tarot, dan ada juga kegiatan untuk anak-anak.

Jonathan ikut menghias pot bunga, dan setelah itu potnya (dengan bunganya) bisa dibawa pulang.

Wii kami yang umurnya sudah hampir 10 tahun rusak. Sepertinya NAND-nya error secara fisik karena sudah dicoba restore dari backup (yang dibuat dengan BootMi) tapi gagal. Format ulang dan recreate juga gagal.

Terpikir untuk upgrade ke Wii U atau Switch, tapi akhirnya beli second hand console Wii lagi dari eBay. Nintendo Switch masih mahal dan tidak kompatibel dengan Wii Fit Board, sedangkan Wii U sepertinya masih agak bahaya jika Joshua membawa-bawa controllernya.

Teringat dulu saya pernah bikin beberapa app homebrew di console ini yang sampai saat ini masih berjalan karena Wii tidak mengupdate lagi firmwarenya.

Saya tidak mengikuti berita kalau Rasberry Pi meluncurkan majalah baru untuk oprekan hardware secara umum, bukan hanya Raspberry Pi. Versi PDFnya gratis bisa didownload dari hsmag.cc dan kita juga bisa berlangganan versi fisiknya.

Saya sempat heran kenapa ada majalah baru di kotak surat, ternyata sebagai pelanggan MagPi, saya dapat edisi pertama fisik gratis. Dan jika Anda ingin berlangganan, ada kode diskon 25 GBP di kertasnya.

Kesibukan dan Oprekan Januari 2017

Bulan ini kesibukan saya lebih banyak jalan-jalan bersama keluarga dibanding ngoprek. Selain kunjungan ke PooPoopaper park yang sudah diposting sebelumnya, beberapa weekend ini dipenuhi kegiatan keluarga keluar. Selain berbagai acara yang disebutkan di sini ada juga pernikahan teman kantor (7 Januari), dan house warming party (30 Januari) yang tidak ditampilkan untuk privasi yang punya acara.

Hari Anak Nasional

Di Thailand hari anak nasional jatuh di Sabtu kedua bulan Januari (15 Januari tahun ini). Hari anak dirayakan dengan besar. Berbagai mall mengadakan acara, berbagai institusi (militer, rumah sakit, bank, dsb) juga membuat acara untuk anak-anak. Berbagai tiket tempat wisata digratiskan untuk anak-anak (orang tua tetap membayar tiket).

Tahun ini kami memilih pergi ke Air Force, karena kebetulan ada teman Jonathan (tetangga kami) yang mau pergi ke sana juga. Acaranya meriah, banyak penjual makanan dan mainan. Kami bisa berfoto dengan pesawat tempur, dan sebenarnya ada pertunjukannya juga tapi kami terlambat dan tidak menunggu yang berikutnya.

Obervatorium Doi Inthanon

Tanggal 21-22 Januari kami pergi ke Doi Inthanon karena ada open house Thai National Observatory. Teman kami yang bekerja di sana memberi tahu tentang open house ini dan kami pergi bareng-bareng teman-teman Indonesia. Sebelum ke sini kami mampir Small Farm.

Continue reading “Kesibukan dan Oprekan Januari 2017”

10th Wedding Anniversary

Sudah sepuluh tahun kami menikah. Artinya lebih dari saya sudah menjalani lebih dari seperempat hidup saya bersama Risna. Dihitung dari sejak pacaran, sudah lebih dari sepertiga hidup saya mengenal Risna.

Melihat perjuangan berbagai pasangan lain, kami bisa bilang bahwa kami bahagia dan kami bersyukur berbagai tantangan yang kami hadapi tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan. Kami melihat ada pasangan yang mendapat restu dengan mudah, dan ada yang harus menunggu 10 tahun (kami harus menunggu, tapi hanya 3 tahun), ada yang bisa dengan mudah mendapatkan anak, sementara yang lain harus menunggu belasan tahun (kami hanya menunggu 3 tahun).

Waktu melihat berbagai peristiwa yang muncul di berita atau wall facebook, rasanya dunia ini semakin suram dengan banyaknya kebencian yang terlihat. Kami senang bisa saling membantu dalam berbagai hal dan bercerita mengenai segala macam hal, dan kami memiliki pandangan yang sama berbagai hal sehingga kami tidak ikut menambah panas suasana media sosial.

Banyak hal terjadi sejak tahun lalu. Jonathan sekarang sudah masuk grade 1, Joshua sekarang sudah bisa berjalan. Kami mengunjungi kampung halaman saya di Sukoharjo. Jonathan sekarang ikut Tae Kwon Do dan sudah sabuk kuning (sebagian kisah sudah dituliskan di blog ini).

Kami merasa cukup dengan dua anak yang kami miliki dan kami berharap bisa sukses dalam mendidik dan membesarkan anak-anak kami, mempersiapkan mereka untuk masa depan.

Selamat Natal 2016 dan cerita kesibukan akhir tahun

Kami sekeluarga mengucapkan Selamat Natal untuk teman-teman yang merayakan. Di sini Natal bukan hari libur, tapi kebetulan tahun ini jatuh di hari Minggu, jadi tidak perlu ijin kerja. Saat ini saya sedang libur (sejak 28 Desember) dan Jonathan juga sedang libur sekolah. Seperti biasa, sebelum liburan banyak pekerjaan yang harus dibereskan, sehingga waktu ngoprek berkurang.

Di Akhir tahun, Jonathan juga sibuk, dan berarti orang tuanya juga sibuk. Seperti tahun lalu, ada perayaan Natal di sekolah Jonathan dan saya ikut datang, sekaligus penutupan semester ini. Berikutnya Jonathan perform di Aerial silk dan Piano di Night Safari. Baru 3 hari liburan sekolah, sudah ada 4 teman Jonathan yang berulang tahun.

Sampai saat ini saya masih meneruskan RHME (saat ini peringkat 11, tapi mungkin akan berubah naik/turun). Saya belajar banyak sekali dari CTF ini, dan juga sudah menuliskan tentang reverse engineering termasuk juga topik AVR walau belum lengkap di situs saya. Hardware yang jarang saya pakai (logic analyzer dan Oscilloscope) jadi terpakai.

Continue reading “Selamat Natal 2016 dan cerita kesibukan akhir tahun”