Mengajarkan Basis Bilangan

Salah satu dari materi di pelajaran Language Arts adalah memahami dictionary order (lexicographical order) . Materi ini sangat mudah dimengerti, bahwa AAA muncul sebelum AAB. Beberapa latihan dalam materi ini adalah mempraktikkan mencari kata di kamus dan mengurutkan kata berdasarkan urutan kamus.

Seperti biasa, kadang Jonathan belajar di samping saya yang sedang bekerja di depan komputer. Jadi saya mencoba menguji Jonathan dengan soal sederhana, seperti, jika kita cuma punya 4 huruf dan kita urutkan berdasarkan urutan kamus, maka setelah AAAA, AAAB, AAAC adalah? jawabannya tentunya adalah AAAD. Nah setelah AAAZ berikutnya apa? saya membantu jawab dengan AABA, berikutnya Jonathan sudah tahu bahwa setelah AAZZ berikutnya adalah ABAA. Saya menggunakan Microsoft Word dengan font yang saya perbesar untuk bisa dengan cepat menjelaskan hal seperti ini.

Saya jelaskan juga bahwa sebenarnya cara kita berhitung dalam basis 10 juga seperti itu. Setelah digit terakhir (paling kanan) menjadi 9, maka berikutnya menjadi 0, dan kita menambahkan ke digit sebelumnya. Tadi ada 26 simbol untuk A-Z sedangkan untuk bilangan desimal ada 10 bilangan (0-9). Bagaimana jika kita cuma punya 0 dan 1 (biner). Saya mulai dengan 0000, apa berikutnya? gampang sekali dipahami bahwa ini menjadi 0001. Jonathan perlu berpikir sedikit untuk mengingat bahwa digit “2” tidak ada, jadi 1 kembali menjadi 0, dan digit berikutnya dinaikkan, hasilnya 0010. Berikutnya lagi kita tambah satu lagi menjadi 0011.

Sekarang saya memberi label desimal di sebelah kiri urutannya:

0 0000
1 0001
2 0010
3 0011

Dengan melihat tabel ini bisa dilihat bahwa 3 desimal sama dengan 0011 dalam biner. Saya bisa saja menjelaskan lebih lanjut mengenai cara singkat konversi dari biner ke desimal, tapi karena saya hanya menyisipkan materi di language arts maka tidak saya teruskan.

Sebenarnya masalah berhitung biner ini sudah pernah dibaca Jonathan, salah satunya dari buku Lift-The-Flap Computers and Coding.

Seperti kebanyakan buku, yang diajarkan biasanya lebih ke cara cepat konversi biner ke desimal, dan bukan mengapa cara berhitungnya seperti itu.

Ini sekedar cerita bahwa dengan metode homeschooling, sebagai pengajar saya bisa menyisipkan berbagai materi lain yang berhubungan dengan sebuah mata pelajaran, meskipun sepertinya pelajaran tersebut jauh sekali dari pelajaran saat ini. Saya juga bisa menjelaskan dengan cara yang menurut saya terbaik untuk Jonathan.

Sebagai catatan, hal seperti ini bukan cuma dilakukan oleh saya, banyak orang tua lain yang berusaha menjelaskan konsep kompleks kepada anaknya. Contoh yang saya baca baru-baru ini adalah: Conversations with a six-year-old on functional programming.

Sebenarnya banyak yang sudah menyadari betapa pentingnya menyambungkan satu konsep dengan konsep lain dengan istilah thematic learning (metode pembelajaran tematik). Tapi sering kali yang saya dapati dalam praktik adalah: materinya agak dipaksakan dan fokus yang salah. Mengenai materi yang dipaksakan ini bisa dilihat dari contoh-contoh yang kurang masuk akal di buku. Tema yang dianggap berhubungan juga biasanya terbatas, padahal banyak hal yang berhubungan di dunia ini.

Mengenai fokus yang salah biasanya karena gurunya berkonsentrasi hanya di bidang yang dikuasai atau disukainya. Kadang ini menyebabkan pelajaran tetap tidak bisa dipahami dan tidak berbekas di ingatan anak.

Contohnya: jika topiknya adalah tentang siklus air (water cycle) dan gurunya adalah tipe yang suka seni maka banyak waktu dihabiskan menggambar, mewarnai siklus air, membuat prakarya. Untuk tipe yang kurang menyukai seni seperti Jonathan, kegiatan seperti itu sangat membosankan. Seringkali ini juga jadi tidak tepat sasaran: yang suka seni hanya ingat bahwa tadi membuat gambar burung kecil di atas gunung, tapi tidak bisa menjelaskan water cycle, sementara anak lain yang tidak suka menggambar bisa menjelaskan secara lisan seluruh water cycle tapi merasa bosan berjam-jam mewarnai.

Demikian cerita singkat mengenai pelajaran basis bilangan ketika mengajar Jonathan.

Kenapa kami memilih homeschooling

Sebagian orang sudah memiliki pengalaman homeschool (atau mereka sendiri adalah hasil didikan homeschool) sehingga sudah sangat yakin untuk memulai homeschool, dan bahkan tidak mencoba sama sekali sekolah konvensional. Kami bukan orang yang seperti itu. Dari dulu kami tertarik dengan homeschool tapi belum yakin. Waktu Jonathan masih sekitar 3 tahun, Risna sempat bergabung dengan group homeschool dan belajar banyak tentang homeschool. Tapi kemudian kami memasukkan Jonathan ke sekolah, dan sepertinya Jonathan suka di sekolah.

Di masa level taman kanak-kanak, sekolah cukup menyenangkan bagi Jonathan, tapi ketika mulai masuk SD, sudah terasa menjadi beban, dan semakin bertambah ketika naik kelas 2. Jonathan tidak memiliki kesulitan untuk masalah membaca, menulis dan matematika tapi masalah dengan kegiatan sekolah yang terlalu lama. Di Thailand sini, semua sekolah yang kami tahu merupakan sekolah full day, mulai dari jam 8.30 pagi (bahkan ada yang lebih pagi) sampai sore (15.00, dan beberapa sekolah bahkan lebih lagi).

Biasanya siklus yang terjadi adalah: Jonathan tidak bisa langsung tidur di malam hari, bangun masih ngantuk, di sekolah kurang bisa konsentrasi, dan ketika dijemput tertidur di mobil. Karena tertidur di mobil, malamnya jadi susah tidur cepat, dan begitu terus berulang. Sudah beberapa kali kami coba break cycle ini, tapi tidak berhasil. Jika ada kegiatan yang melelahkan di sekolah, Jonathan tertidur lagi di mobil, dan semua kembali terulang lagi.

Salah satu penyebab masalah ini adalah: Jonathan sudah masuk SD sejak umur 5 1/2 tahun, dan untuk sebagian anak seperti Jonathan, dia masih butuh tidur siang. Waktu itu kami percaya pada assesment dari pihak sekolah yang menyatakan Jonathan sudah siap masuk SD. Secara kemampuan akademik memang demikian, tapi ternyata kurang siap di hal lain. Saya dan Risna ketika SD hanya 1/2 hari, dan bahkan hanya beberapa jam saja ketika kelas 1-2 SD dan bisa tidur siang setiap hari. Dan menurut kami itu lebih santai.

Sebelum homeschool, Jonathan juga memiliki masalah dalam makan: lambat sekali ketika makan. Di sekolah, jam makan dibatasi, akhirnya Jonathan hanya makan sedikit, dan ini kurang baik untuk kesehatannya. Badannya kurus, perlu tambahan multivitamin,dan setiap kali sakit (misalnya batuk), lama sekali pulihnya.

Awal kami mulai homeschool adalah karena kombinasi dari hal di atas, ditambah lagi pergantian semester di sekolah Jonathan. Sekolah Jonathan adalah sekolah internasional dengan kurikulum Australia. Tadinya mereka mengikuti jadwal semester Thailand, tapi mereka mulai beralih dari jadwal semester Thailand ke Australia. Artinya akan ada beberapa bulan yang akan masuk ke bridging semester yang sifatnya opsional. Di masa ini kami merasa patut mencobakan homeschool ke Jonathan.

Ada banyak pendekatan homeschooling, dari mulai unschooling (anak belajar apa saja yang dia mau), membeli kurikulum tertentu, mengikuti group homeschool, atau bahkan memanggil guru untuk mengajar di rumah. Pendekatan yang kami ambil adalah: kami membeli kurikulum yang menurut kami cocok, dan memasukkan Jonathan ke berbagai les untuk topik yang tidak kami kuasai.

Kurikulum yang kami pilih adalah CLE (Christian Light Education). Kami juga menambahkan sendiri materi lain yang diperlukan. Sebagai stay at home mom, Risna punya waktu untuk mengajar sendiri semua materinya. Risna juga punya background pendidikan yang lebih dari cukup (S1 dan S2 di Informatika ITB). Risna juga dulu selalu ranking 1 selama SD/SMP/SMU. Kami berdua juga pernah menjadi teaching assistant di ITB ketika mengambil S2. Ini juga sekaligus untuk menjawab pertanyaan beberapa orang: apakah cukup diajar orang tuanya saja? Menurut saya kualifikasi kami sudah cukup, dan lebih dari rata-rata guru di berbagai sekolah.

Bahkan sebenarnya dengan kurikulum tertentu (seperti CLE ini), guru tidak harus sangat pintar. Asalkan orang tua mau meluangkan waktu, ada guidebook yang bisa dibaca, dan ada kunci jawaban untuk setiap soal. Untuk level SD, kebanyakan soal hanyalah hal dasar. Fokusnya lebih ke belajar matematika dasar, membaca dan memahami teks (sambil menghapalkan fakta-fakta yang penting untuk kehidupan), dan belajar menuliskan ide dengan baik.

Kami tidak merasa mampu mengajarkan semua bidang. Contohnya: kami tidak memiliki kemampuan musik yang baik, jadi kami bawa Jonathan ke tempat kursus piano. Ini sekaligus sebagai pelajaran musik Jonathan. Untuk olahraga, kami membawa Jonathan 2 kali seminggu ke kelas Tae Kwon Do. Untuk pelajaran membaca dan menulis bahasa Thai, kami membawa Jonathan ke Kumon Thai. Untuk pelajaran seni, kami membawa Jonathan ke kursus art (terutama menggambar).

Selain sekolah Minggu, berbagai kegiatan di luar rumah tersebut juga menjadi tempat sosialisasi bagi Jonathan. Kegiatan lain yang kami ikuti adalah homeschool cooperatives (koperasi homeschool) yang mempertemukan keluarga yang homeschooling anaknya. Secara umum kami tidak terlalu khawatir dengan masalah sosial karena Jonathan mudah sekali berteman dan bergaul dengan seseorang. Jika kami melepaskan dia playground, biasanya dalam beberapa menit dia sudah berkenalan dengan beberapa orang dan bisa bermain bersama.

Meskipun sepertinya kegiatannya sangat banyak, tapi tiap hari kegiatannya bisa dilakukan dalam waktu singkat, hanya beberapa jam saja sehari, dan biasanya semua bisa selesai sebelum jam makan siang. Setelah itu Jonathan bisa tidur, membaca buku, atau belajar berbagai hal lain di luar materi homeschool. Di sekolah sebenarnya materi yang diajarkan juga tidak banyak, tapi banyak kegiatan yang menurut kami sifatnnya filler, dan kadang kurang efektif.

Dari segi biaya, secara umum homeschool relatif murah. Biayanya tentunya di atas sekolah negeri, tapi di bawah sekolah-sekolah yang dituliskan di posting Mahalnya Sekolah. Biaya yang tadinya kami gunakan untuk uang sekolah Jonathan berpindah ke biaya untuk materi kurikulum, biaya les, berbagai alat (misalnya talking pen di posting sebelumnya) serta banyak buku.

Bagaimana dengan masalah ijazah? ini adalah pertanyaan yang paling sering diajukan. Secara singkat jawabannya: kami belum terlalu memikirkannya sekarang. Jika kami ingin kembali ke Indonesia, Jonathan bisa mengambil ujian persamaan. Jika Jonathan ingin bersekolah ke negeri lain, ada test persamaan juga (misalnya ada test persamaan untuk sekolah Amerika dan test ini bisa dilakukan di Bangkok). Kami tidak terlalu khawatir, karena mungkin saja dalam beberapa tahun ke depan berbagai aturan sudah akan berubah. Saat ini profesi yang saya ambil (programmer) tidak mewajibkan memiliki Ijazah, yang penting adalah kemampuan (skill), dan inilah yang kami tekankan untuk saat ini.

Meskipun belum memikirkan Ijazah, yang jelas tiap beberapa hari ada kuis dan ujian untuk Jonathan, dan kami memastikan Jonathan menguasai dengan baik semua materi yang diajarkan. Kami cukup yakin Jonathan bisa bersaing dan bisa lulus dalam test apapun yang diberikan sesuai untuk usianya.

Perlu dicatat juga bahwa homeschool tidak legal di semua negara. Di Thailand dan Indonesia homeschool diperbolehkan, tapi di negara lain ada yang tidak diperbolehkan, atau harus mengikuti aturan tertentu. Jadi jika Anda berada di negara lain, silakan cek dulu aturan negara tersebut.

Jonathan masih sering kami tanya apakah lebih memilih homeschool atau kembali ke sekolah. Jawabannya sampai saat ini adalah: homeschool. Kesehatan Jonathan sekarang sudah bagus, tidurnya cukup, berat badannya juga sudah naik, tidak terlalu kurus lagi. Waktu untuk bermain dan membaca buku juga banyak, bahkan sudah belasan buku diselesaikan Jonathan sebulan terakhir ini (termasuk juga buku pertama Harry Potter).

Jonathan bermain-main dengan electromagnet

Jonathan juga lebih cepat mengerti berbagai materi karena jika ada yang tidak dimengerti saya bisa membantu menjelaskan, baik secara langsung maupun dengan bantuan website dan video dari YouTube. Saya juga bisa memberikan materi ekstra seperti dasar-dasar elektronik ke Jonathan.

Saat ini Joshua belum kami putuskan apakah akan ikut homeschool atau sekolah biasa. Sampai saat ini dia senang belajar sendiri, dan bahkan ikut menghapalkan hal-hal yang diajarkan ke kakaknya (misalnya dia sudah hapal square numbers/bilangan kuadrat, dari 1×1=1 sampai 12×12=144).

Perlu dicatat bahwa homeschool mungkin tidak cocok bagi semua orang. Mungkin anak bisa kesepian dan ingin ikut sekolah biasa. Mungkin orang tua tidak punya waktu untuk mendidik anaknya. Keputusan homeschool menurut kami sudah tepat saat ini bagi kami, tapi mungkin kurang cocok bagi orang lain, atau mungkin perlu pendekatan berbeda untuk orang lain.

Tulisan ini fokusnya hanya mengenai kenapa kami memilih homeschool untuk Jonathan dan bagaimana kami mengajar Jonathan. Kami berencana akan menuliskan lebih banyak lagi berbagai hal yang berkaitan dengan homeschool ini.

Screen vs No Screen

Kami nggak punya nanny/mbak yang bisa dititipi jaga anak2, jadi memang selama ini supaya “aman tentram” masak atau pas lagi ngajarin Jonathan, saya kadang kasih lagu-lagu nursery rhymes atau tontonan edukasi di TV buat Joshua. Terkadang kasih iPad atau handphone pas di luar rumah supaya ga berisik. Tapi kadang pas saya udah lowong, saya jadi malas dan biarin saja Joshua nonton TV/main gadget.

Jonathan juga kadang jadi ikutan nonton lagu buat Joshua. Kadang bangun tidur sore, saya pasang film buat Jonathan yang ikut ditonton Joshua, dan walaupun tau kebanyakan screen time ga baik buat anak-anak, tetep aja saya cari alasan pembenaran untuk kemalasan saya. Sampai pada satu titik, saya dan Joe akhirnya sepakat untuk stop gadget/screen time dan mengalahkan sejuta alasan kami mulai dari: ah mereka kan belajar dari YouTube, biar anteng, lagi cape buat ajak main yang sebenernya kami malas dan mau main gadget juga.

Memang sih Joshua banyak belajar dari tontonannya, belum 3 tahun dia sudah bisa mengenali (dan menulis) huruf A sampe Z, hitung 1 sampai 100 dan juga mengingat beberapa fakta penjumlahan dan perkalian. Tapi efek buruknya juga ada, dia jadi seperti terobsesi belajar mulu dan kurang mau diajak obrolan sehari-hari.

Sudah sebulan ini kami stop mengijinkan anak-anak main gadget/screen time. Awalnya sempat ragu-ragu dan ga yakin bakalan bisa, karena memang memberikan gadget ini membuat kami semakin malas untuk berinteraksi dengan anak dan pastinya kami sendiri semakin punya alasan buat berlama-lama di depan gadget kami.

Kami mulai menghentikan pemberian gadget termasuk tontonan YouTube walaupun isinya materi edukasi di suatu weekend. Sepert biasa kami ajak anak-anak ke park dan playground. Pulang ke rumah biasanya kami beri gadget supaya tenang, tapi mulai saat itu kami ajak main dengan mainan yang ada dan memilih membiarkan anak-anak berantakan.

Joshua membaca sight words

Minggu pertama, Jonathan berusaha menawar dan masih berusaha mencari kesempatan untuk dapat kesempatan main game. Kami tetep gak kasih karena kalau kami mulai kasih lagi, pasti akhirnya kembali lagi main game mulu. Terkadang Jonathan akan mengeluh bosan. Saya bilang kalau bosan ya tidur aja, atau baca buku, atau mewarnai, atau bikin game sendiri. Gak mudah memang berhenti main gadget, mungkin ga fair buat anak-anak, karena mereka ga boleh main gadget tapi kami tetap main hp di depan mereka. Tapi tentunya supaya anak-anak ga rebut gadget, di masa awal kami juga ga make gadget di depan mereka dan lebih banyak bermain sama mereka. Secara ga langsung kami juga berkurang sih main gadget karena harus mengajak mereka main, terutama Joshua. Kami memutuskan stop total screen time, Jonathan juga ga dikasih supaya Joshua ga ikutan minta.

Efek yang paling terasa sejak anak-anak gak main gadget adalah mereka jadi mencari buku. Dari dulu saya berusaha mencari akal gimana supaya Jonathan suka membaca dan Joshua mau duduk tenang kalau dibacain buku. Saya sudah coba bikin rutin membacakan buku untuk mereka sebelum tidur, tapi ya mereka kayak ga tertarik dan lebih tertarik melihat gadget. Kalau ga ada gadget akhirnya mereka ga punya pilihan lain dan mereka mendengarkan buku yang saya bacakan. Jonathan bahkan mulai mencari buku sendiri untuk dibaca, dan mereka gak pernah berusaha rebut handphone kami setelah seminggu berhenti main gadget dan nonton TV. Joshua sekarang malah berusaha mengeja semua kata yang dia kenali dan berusaha baca. Kalau di luar rumah, dia suka main membentuk huruf dan angka dari pensil, tusuk gigi ataupun sumpit.

Jonathan kami suruh membaca chapter book yang ada di rumah. Awalnya dia bilang suka dengan jalan ceritanya satu buku, tapi belakangan saya lihat dia baca juga buku lain yang tadinya dia bilang gak suka. Setelah Jona selesai baca 2 chapter book yang berupa kumpulan cerita singkat, Joe coba kasih Jonathan baca buku serial micro adventure di Kindle. Eh ternyata Jonathan sangat tertarik dan semangat sekali membacanya dan menyelesaikan baca dalam waktu sehari. Dia juga bersemangat untuk mencoba mengetik listing program BASIC yang menjadi bagian dari cerita. Buku ke -2 kami print karena saya pikir supaya ga kembali ke kebiasaan pegang gadget karena kindle itu serasa tablet. Buku ke-2 dibaca Jona dalam waktu beberapa jam saja. Akhirnya kami ijinkan baca buku ke 3 di Kindle lagi karena lumayan banyak juga kalau harus di print, dan dia bisa selesai juga dalam waktu singkat.

Melihat semangat Jonathan membaca buku, saya jadi pengen ikutan baca buku yang dia baca. Ternyata, membaca buku di handphone dengan aplikasi Kindle itu terlalu banyak yang bikin terpecah konsentrasi. Sebentar – sebentar ada pop-up notifikasi yang akhirnya jadi godaan buat baca pesan di WhatsApp ataupun buka Facebook. Saya perlu membaca di kindle tablet atau sekalian buku fisiknya.

Akhir pekan kemarin, kami berburu buku ke toko buku bekas di Chiang Mai, sayangnya ga banyak buku cerita yang cocok untuk umur Jonathan di toko buku yang ada. Tapi dari 2 buku yang kami beli, Jonathan menyelesaikannya dalam hitungan jam, dia sekarang juga membaca ulang buku yang sudah dia selesaikan itu karena kami belum beli buku lagi. Saya juga jadi ikutan coba baca buku yang Jonathan baca, dan disitu saya menyadari memang baca buku fisik jauh lebih bisa fokus dan dinikmati daripada baca e-book.

Kalau sudah begini, rasanya harus mulai mencari membership perpustakaan yang ada koleksi bahasa Inggrisnya di kota ini. Biasanya membeli buku berbahasa Inggris ya dari group jual beli saja. Dulu sempat ada toko buku bekas yang koleksinya banyak banget, sayangnya sudah beberapa bulan ini toko bukunya tutup karena pemiliknya sedang ke Amerika dan belum tahu kapan kembali.

Saya bukan tergolong orang yang suka membaca buku, saya lebih sering berlama-lama di depan handphone membaca timeline media sosial ataupun artikel-artikel yang seliweran di timeline saya. Tapi melihat Jonathan sedang semangat membaca, saya jadi pingin punya semangat yang sama dan berharap dia bisa tetap memelihara semangat bacanya. Mungkin sudah waktunya saya juga dilarang pake gadget ya hahaha. Tapi kalau saya dilarang pake handphone, saya makin ga punya waktu dong buat nulis blog begini. Alasan selalu ada ya supaya ga lepas dari gadget hahaha.

Sekarang ini Jonathan kami ijinkan main komputer untuk belajar mrogram atau mengetik dan menonton YouTube bersama Joe sebagai sarana belajar di saat Joshua tidur/Joshua main dengan saya. Kami masih berpendapat screen time ga selalu jelek, yang jelek itu kalau orangtua jadi malas dan ga mengarahkan dengan benar.

Untuk bisa membatasi screen time pada anak, perlu kesepakatan orangtua dan kesediaan orangtua untuk mengalahkan rasa capek dan mau bermain dengan anak. Efek dari less screen time ini sejauh ini lebih banyak postitifnya, bahkan untuk kami sendiri rasanya kami cukup senang melihat anak-anak tertawa ceria dan gak melulu cari gadget. Kalau dulu Joshua akan insist nyalain TV minta dikasih tontonan, sekarang ini dia gak pernah lagi nyalain TV ataupun nangis merengek minta diambilkan gadget. Setidaknya sampai Joshua mau berkomunikasi yang ga melulu angka dan huruf, Joshua masih di stop screen timenya. Mungkin kalau dia emang pengen bisa baca, kami akan ajarin baca aja hehhee.

Cerita ringan dari Chiang Mai

Setelah baginda Raja Thailand Bhumibol Adulyadej wafat, suasana Thailand berduka. Di satu bulan pertama semua orang memakai baju berwarna hitam atau putih, dan pegawai yang memakai seragam warna lain akan memakai pita hitam sebagai tanda berduka. Meskipun demikian kehidupan cukup berjalan normal, hanya beberapa hal yang berubah, misalnya tempat hiburan malam tutup.

Menurut kabar yang kami dengar, berbagai perayaan akan dipertahankan namun keramaiannya dikurangi sehingga tidak ada penggunaan petasan (dan sejauh ini sepertinya kembang api juga tidak digunakan). Saat ini baru ada satu festival yang diselenggarakan di masa berkabung ini yaitu Loy Krathong.

Posting ini sekedar cerita dan update ringan, karena blog ini dari dulunya memang bukan blog teknis, tapi cerita keluarga kami dari sejak saya belum menikah dengan Risna sampai sekarang memiliki dua anak.

Secara umum saat ini kami merasa hidup ini santai. Kantor saya sangat dekat dari rumah, jadi kadang Jonathan dan Joshua pergi ke kantor untuk menjemput saya di sore hari.

img_2711

Kadang jika tidak kecapekan dari sekolah, Jonathan akan minta keliling kompleks rumah. Jonathan sangat senang jika kebetulan temannya sedang sepedaan juga.

img_2745

Tidak semua tugas/PR dari sekolah sifatnya membosankan. Misalnya pernah ada Time Travelling Teddy Bear. Tiap siswa akan diberikan teddy bear bergantian dan teddy bear itu diajak “berpetualang” ke berbagai tempat. Setelah itu foto petualangan mereka ditempelkan di buku yang diisi bersama.

Continue reading “Cerita ringan dari Chiang Mai”

Oprekan akhir pekan: RTL-SDR GPS, 3D Printer, dll

Sekarang saya akan berusaha untuk rajin menceritakan hack/oprekan tiap akhir pekan, walau kadang ada juga hal-hal yang saya lakukan di hari kerja. Kali ini saya akan menuliskan tentang menerima raw GPS signal dengan RTL SDR, 3D printer, pelajaran elektronik untuk Jonathan, dan beberapa catatan kecil.

Menerima Raw GPS signal dengan RTL-SDR

Receiver GPS sekarang ini bisa dibeli dengan harga kurang dari 10 USD. Dengan receiver seperti itu, kita akan langsung mendapatkan data (via serial/USB) dalam format NMEA yang bisa dengan mudah didecode. Meskipun data mentah ini kelihatan sebagai sesuatu yang low level, ini sebenarnya sudah sangat high level.

Saya tertarik pada signal GPS yang low level, yaitu signal langsung dari satelit. Di masa depan, saya berencana spoofing signal GPS (seperti misalnya di artikel ini), sebelum melakukan itu dengan hardware yang mahal, saya memutuskan untuk memahami dulu signal GPS. Sekarang saya memulai dengan hardware murah dari rtl-sdr.com. Harganya 25 USD termasuk ongkos kirim, ini murah dibandingkan dengan hardware SDR yang bisa transmit (>150 USD).

Continue reading “Oprekan akhir pekan: RTL-SDR GPS, 3D Printer, dll”

Kesalahan informasi dari penjual

Dulu tiap mau beli hp atau gadget, saya sering menghabiskan waktu lama buat nanya sama penjualnya. Tapi belakangan kebiasaan Joe menular ke saya untuk mencari tahu spesifikasi dan review dari internet dan kalau emang sudah yakin tinggal ke toko untuk membeli supaya ga perlu menunggu dan mendapat garansi lokal. Bagusnya mencari sendiri di internet kita bisa menemukan lebih dari 1 sumber dan tidak akan terjebak dengan ketidaktahuan penjual. Ini salah satu contoh penjual yang tidak mengerti barang yang dia jual dan membahayakan pembelinya. Ini spesifikasi car seat untuk bayi yang dia tulis dalam deskripsi produk, sepertinya copy paste tanpa mengerti maksudnya

image

Di atas disebutkan car seat untuk newborn sampai 24 bulan dan berat 20 kg, di situs lain untuk benda yang sama saya temukan carseat untuk sampai usia setahun dan berat 13 kg. Rata-rata car seat untuk bayi baru lahir model infant carseat merk lain bisa sampai 13 kg, saya pikir oke mungkin dia salah copy paste. Di deskripsi itu juga disebut posisi car seat rear facing alias hadap belakang dan disebutkan untuk tidak memposisikan car seat di kursi depan terutama yang ada airbagnya.  Lalu saya membaca bagian diskusi mengenai car seat ini antara penjual dan calon pembeli. Saya kaget banget karena penjualnya konsisten ga ngerti arti dari rear facing.

image

image

Saya sengaja memblurkan identitas toko maupun merk car seat nya karena tulisan ini sekedar buat mengingatkan kita untuk selalu mencari informasi sebelum membeli. Kalau kita tidak hati-hati, memakai car seat justru membahayakan buah hati kita.

Review serial film kartun untuk anak-anak

Saya dan Risna tidak anti dalam memberikan tontonan untuk anak-anak, asalkan mereka dipandu ketika menonton (ini sebabnya kenapa saya tahu ceritanya). Sampai saat ini kami tidak memasang TV, tapi memberikan film di TV melalui media player (menggunakan Kodi di Raspberry Pi). Tidak banyak serial yang ditonton Jonathan sampai saat ini, jadi review ini akan membahas 4 serial saja.

Daniel Tiger’s Neighborhood

Daniel_Tiger's_Neighborhood_character

Menurut saya ini serial yang sangat bagus. Serial Daniel Tiger Neighborhood didasarkan pada acara almarhum Mr Roger, tokoh edukasi yang terkenal karena kebaikannya dan kesuksesannya membuat acara televisi yang mendidik.

Serial ini tidak akan membuat Jonathan melompat-lompat, karena ceritanya pelan dan tenang. Ceritanya banyak mengajarkan hal-hal sederhana, bagaimana menghadapi berbagai situasi, bagimana mengatur emosi. Kartun ini sifatnya musikal, sangat cocok untuk Jonathan yang suka mengingat musik.

Continue reading “Review serial film kartun untuk anak-anak”