LINE Mobile

Dulu waktu masih di Bandung, kami sering sekali membeli simcard dari berbagai provider cellular untuk mendapatkan tarif termurah, baik itu tarif bicara ataupun tarif paket data. Sesampainya di sini, kami berhenti bereksperimen karena awal di sini internet di rumah dan di kantor sangat cepat (terasa beda banget dengan internet selama di Indonesia).

Kadang-kadang kami beli beberapa simcard kalau ada keluarga yang datang ke sini untuk dipakai sementara, lalu pernah juga dapat gratis di airport, tapi karena ga terlalu butuh bisa dibilang hobi ganti-ganti simcard gak diterusin di sini. Baru beberapa tahun belakangan kami beli paket data di handphone karena kami sering keluar untuk antar kegiatan Jonathan di akhir pekan.

Awalnya kami berlangganan paket data bulanan dari provider simcard kami saja, 1 bulan 1.5 GB lumayan cepat dan kalau lewat dari situ kecepatan menurun (jadi 64kbps) tapi sudah ga ada biaya tambahan. Kami jarang teleponan kecuali untuk urusan yang sangat mendesak, jadi sebulan kami cukup isi pulsa 300 baht (yang mana 220 baht dipakai untuk paket data). Kami memakai nomor yang sama sejak sampai di sini, dan di awal kami isi pulsa sekedar untuk memperpanjang masa tenggang saja. Kami sengaja memakai pra bayar, karena lebih mudah membeli prabayar buat orang asing dan ya kami ga butuh paket-paket yang ada dan akhirnya biayanya lebih murah dengan prabayar.

Bulan ini ada kuota ekstra karena membayar memakai Rabbit Line Pay

Belakangan ini, karena Jonathan makin banyak kegiatan di luar, 1.5 GB sebulan tidak cukup lagi, apalagi terkadang saya lupa untuk terhubung ke wifi ketika sampai di rumah. Joe juga pernah lupa mematikan koneksi yang dia share ke laptopnya, dan laptopnya update windows secara otomatis. Kebayang paket data 1.5 GB pastilah kurang.

Meneruskan dengan internet gratis yang low speed terasa menyiksa karena terbiasa cepat, jadi kadang-kadang akhirnya kami harus top up lagi dan lama-lama terasa mahal buat bayar internetnya (padahal dulu di Indonesia kami pernah langganan Matrix dan rata-rata pembayaran bisa di atas 300 ribu untuk data dan internet).

Beberapa bulan lalu, Joe menemukan promosi Line Mobile. Dengan 170 baht sebulan kami mendapatkan 5GB data dan 150 menit bicara. LINE mobile ini sebenarnya masih agak dipermasalahkan legalitasnya karena ijin MVNO (mobile virtual network operator) belum bisa di Thailand. Tapi akhirnya mereka pake sistem kerjasama dengan operator lokal.

Dulu saya agak enggan menambah nomor. Untuk ganti nomor saya jelas ga bisa karena banyak urusan sudah memakai nomor yang ada, nah untuk menambah nomor saya enggan membawa ekstra gadget. Pernah saya coba membawa hp dan tablet, prakteknya akhirnya tabletnya lebih sering saya tinggal. Tapi kali ini saya baru ganti handphone yang punya double simcard slot.

Jadilah saya membeli LINE Mobile dengan harapan 5GB akan jauh lebih dari cukup dibandingkan 1.5GB yang saat itu selalu terasa kurang. Pembelian LINE Mobile ini dilakukan sepenuhnya dari internet, bayar dengan kartu kredit Joe, dan kartu dikirim oleh kurir ke rumah. Belum sebulan saya memakai LINE Mobile, Joe ikutan beli juga, karena dia juga pengen punya paket data 5 GB. Oh ya, dia beli karena juga ada promosi untuk referal ke teman akan ada potongan 10 baht per bulannya baik untuk saya dan Joe. Baru-baru ini ada promosi pembayaran dengan Rabbit Line Pay (ini metode pembayaran Line yang kayanya baru ada di Thailand), dapat tambahan data 2GB dan diskon 10 persen dari billingnya.

Paket data yang disediakan LINE Mobile ini ada beberapa ukuran, tapi yang paling ekonomis buat kami saat ini ya yang 5GB ini. Sekarang dengan 170 baht sebulan saya bisa dapat minimum 5GB data dan 150 menit untuk telepon (yang sering tidak dipakai karena sekarang ini telepon selalu menggunakan voip). Nomor saya yang lama tetap saya gunakan dan untungnya sekarang ini sudah bisa membeli masa aktif, jadi saya tidak perlu isi ulang banyak setiap bulannya.

LINE Mobile ini menggunakan provider yang sama dengan DTAC, coveragenya akan sama dengan coverage DTAC . Selama menggunakan LINE Mobile saya belum pernah keluar Thailand, ada menu roaming internasional di aplikasinya tapi belum pernah dicoba.

Di Thailand sini, hampir semua orang menggunakan LINE, hampir semua toko memberikan diskon khusus kalau kita menambahkan mereka sebagai teman. Dan saya juga baru tahu kalau ada aplikasi LINE TV segala (gratis tidak dihitung data kalau memakai LINE mobile). Simcard LINE Mobile ini dilengkapi dengan aplikasi untuk mengetahui berapa tagihan kita, berapa sisa data dan berapa menit yang sudah terpakai. Selain itu kita juga bisa mengontrol untuk membatasi pemakaian kalau sudah kelebihan dari kuota yang diberikan berapa baht yang kita bersedia habiskan.

Terakhir pulang ke Indonesia, saya ingat XL juga sudah menggunakan aplikasi untuk memberikan informasi mengenai simcard kita, tapi kadang-kadang datanya tidak langsung update. Saya tidak tahu sekarang ini, tapi fitur seperti ini sangat membantu untuk mengetahui pemakaian kita.

Kecepatan speedtest memakai server di Jakarta dari Chiang Mai

LINE Mobile ini pasca bayar, saya tidak tahu kalau datang untuk sebagai turis apakah bisa memesannya, tapi kalau berencana tinggal beberapa bulan di Thailand sepertinya memakai LINE Mobile bisa dicoba, karena pemesanan dari Internet untuk orang asing cukup menyertakan foto dari passport kita saja lalu kita kirimkan alamat ke mana simcard akan dikirimkan. Pembayaran tagihan juga dilakukan langsung dari aplikasi LINE Mobilenya, bisa menggunakan internet banking, kartu debit, kartu kredit atau Rabbit Line Pay.

Kalau dilihat dari websitenya ada banyak promosi setiap bulannya berganti-ganti. Secara umum, untuk kebutuhan kami saat ini kami cukup dengan 5GB sebulan. Mudah-mudahan di Indonesia ada paket sejenis LINE Mobile ini, jadi kalau mudik ga jadi fakir bandwith seperti yang terjadi setiap pulang.

Beberapa buku Roald Dahl

Siapa sih Roald Dahl? Singkatnya Roald Dahl itu penulis terkenal, lengkapnya lihat di wikipedia Roald Dahl ya. Dia menulis berbagai cerita dan cukup banyak menulis buku cerita pendek untuk anak-anak. Tapi waktu saya jadi anak-anak, manalah saya tahu buku Roald Dahl, taunya cuma Enid Blyton karena ada film Lima Sekawan diputar di TV, lalu jadi nyari buku Lima Sekawan. Kemungkinan waktu saya kecil, buku-buku Roald Dahl belum ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Sejak mengenalkan chapter book ke Jonathan, saya jadi ikutan membaca buku-buku karya Roald Dahl. Waktu saya menonton film Charlie and the Chocolate Factory, saya tahu kalau film itu dari buku penulis terkenal, tapi saya ga caritahu siapa penulis bukunya dan apa karya lainnya. Tapi setelah tahu, akhirnya buku Roald Dahl Jonathan yang pertama dibeli adalah  buku Charlie and the Chocolate Factory. Sebagai reward selesai membaca buku, kami nonton filmnya di Netflix.

Buku Roald Dahl berikutnya yang Jonathan minta belikan adalah Charlie and the Glass Elevator, dan George’s Marvelous Medicine. Karena Jonathan  menyelesaikan dalam waktu singkat, berikutnya kami belikan buku Matilda. Ketika saya berencana untuk membeli lebih banyak buku Roald Dahl, kebetulan ada yang mau pindah dari Chiang Mai dan menjual satu set buku-buku Roald Dahl dengan harga murah, langsung deh saya beli tanpa pikir panjang. Buku Roald Dahl beli di toko sekitar 300 an baht, buku bekas 1 set yang saya beli ada 15 buku cuma 500 baht saja dan semua buku dalam kondisi bagus walaupun akhirnya ada beberapa buku yang sudah kami punya.

Karena merasa perlu untuk mengetahui apa yang di baca Jonathan, saya juga ikutan membaca buku Roald Dahl. Saya tidak membaca buku Charlie and the Chocolate Factory, soalnya saya sudah 2 kali menontonnya, saya pikir saya akan baca belakangan. Saya pilih baca buku Matilda, berikutnya buku  George’s Marvelous Medicine, Fantastic Mr. Fox, The Twits, The Girrafe and the Pelly and Me. Semua buku-buku itu sudah dibaca duluan oleh Jonathan. Bahkan ada beberapa buku Roald Dahl lainnya yang Jonathan sudah baca tapi saya belum sempat menyelesaikan juga.

Sebelum saya membeli bundle buku bekas harga murah, Joe awalnya berniat membelikan e-book saja. Tapi waktu mencari daftar bukunya Roald Dahl, kami baru menyadari kalau tidak semua buku Roald Dahl ini untuk anak-anak. Kalau masuk ke website officialnya Roald Dahl juga akan ada pertanyan apakah kita guru, anak-anak atau dewasa. Dan sayapun baru tahu kalau di official websitenya ada lesson plan untuk eksplorasi buku-bukunya di ruang kelas (bagian ini saya belum bisa cerita banyak karena saya juga baru tahu haha).

Kesan saya ketika membaca buku-buku Roald Dahl (peringatan: bakal ada spoiler mengenai beberapa buku, karena saya ga bisa menuliskan kesannya tanpa menuliskan bagian yang bikin kesan tersebut).

Awalnya saya merasa heran, apa iya buku ini untuk anak-anak? apalagi buku pertama yang saya baca Matilda. Kisahnya menurut saya sangat sedih dan banyak percakapan yang kurang pantas diucapkan oleh orangtua ataupun guru. Saya sempat heran, kenapa Jonathan ga nangis baca buku ini, mengingat dia nonton film pokemon aja bisa nangis hehehe. Cerita Matilda berakhir sepertinya bahagia tapi menurut saya menyedihkan karena orangtua Matilda meninggalkan Matilda begitu saja dengan gurunya. Memang sih Matilda lebih bahagia tanpa orangtuanya, dia bisa baca buku dan si ibu guru lebih mengerti dia daripada orangtuanya, tapi kan tetep aja sedih kalau ada cerita anak ditinggal orangtuanya.

Dari cerita George’s Marvelous Medicine, saya juga masih heran, apa iya ini buku anak-anak? kok ya George bikin ramuan dari isi obat-obatan di kamar mandi dan gudang lalu dikasih minum ke neneknya. Heran karena neneknya kok bisa ga langsung mati. Ketika neneknya akhirnya mati, sepertinya mereka ga diceritakan merasa sedih. Aduh ini ngajarin apa sih ke anak-anak?. Tapi saya menyadari, memberikan buku ke anak itu harus didampingi, jadi saya ajak Jonathan ngobrol untuk mengingatkan dia jangan pernah bikin campuran obat seperti di buku George’s Marvelous Medicine. Saya juga bertanya apakah dia merasa takut atau sedih ketika membaca bukunya. Intinya saya jadi punya bahan untuk mengajarkan hal-hal yang berbahaya dan sebaiknya tidak dilakukan.

Buku Fantastic Mr. Fox dan buku The Girrafe and the Pelly and Me jauh lebih baik jalan ceritanya dan tidak sedramatis buku-buku sebelumnya. Diantara membaca 2 buku itu, saya membaca buku The Twits yang lagi-lagi agak dramatis. Dramatis karena nasib tragis Mr. dan Mrs. Twits di akhir cerita walaupun kalau dibaca dari deskripsi tokohnya mereka bukan orang yang baik dan rasanya tidak ada yang akan merasa kehilangan mereka.

Akhirnya sebuah cerita hanyalah cerita, yang lebih perlu gimana kita memaknai cerita tersebut. Mengambil hal yang baiknya dan mengerti kalau di dunia ini ga semua orang baik. Bagaimana supaya bertahan hidup seperti keluarga Fox ketika mereka disudutkan dalam lubangnya dan bagaimana bisa seperti Matilda yang sangat rajin membaca sejak kecil.

Berikutnya masih banyak buku Roald Dahl yang belum saya baca, sejauh ini walaupun ceritanya gak semuanya berakhir bahagia, tapi cerita-ceritanya cukup menghibur.  Motivasi saya membacanya supaya bisa memilih juga mana buku berikutnya sebaiknya yang dibaca Jonathan, dan supaya saya jangan ketinggalan dari Jonathan hehehe.

Menjelang Homeschool Tahun ke-2

Sejak awal bulan Juni, Jonathan sudah selesai mengerjakan semua materi kelas 2 yang kami pakai. Kami memakai kurikulum Christian Light Education. Ada 10 buku masing-masing untuk pelajaran Math, Reading dan Language Art (Grammar, Phonics, Penmanship dan creative writing). Ada 5 buku masing-masing untuk Science, Bible dan Social Studies. Untuk tahun pertama menjalani homeschool, bisa dibilang kami menyelesaikan semuanya cukup cepat, mengingat kami mulai tanggal 30 October 2017 dan selesai 5 Juni 2018.

Tahun pertama kami jalani tanpa perencanaan yang banyak. Saya ga merencanakan jadual secara detail. Untungnya kurikulum yang kami pakai sudah dibagi 1 unit pelajaran per hari, semua instruksi juga jelas dan karena 1 unit hanyak beberapa halaman, Jonathan ga butuh waktu lama untuk mengerjakannya. Biasanya saya akan membuat jadwal per minggu. Setiap akhir pekan saya membaca cepat bahan untuk minggu depan, apakah kira-kira ada topik baru yang sulit dan butuh saya jelaskan.

Kurikulum yang kami pakai berupa workbook. Untuk tiap unit, dikenalkan sebuah topik baru, diberikan contoh soal dan jawabannya, lalu review beberapa topik sebelumnya. Setiap topik akan direview beberapa kali. Untuk pelajaran social studies dan Bible diberikan dalam bentuk cerita. Pelajaran yang butuh waktu agak lama buat Jonathan selesaikan Language Art, terutama untuk bagian creative writing dan penmanship. Untuk pelajaran lain, 1 pelajaran biasanya dia selesaikan rata-rata 30 menit, kecuali kalau dia lagi ga fokus dan mikirin mainan lain.

Beli beberapa buku waktu ada diskon di asiabooks.com

Sejak menghomeschool Jonathan, saya mengikuti beberapa group homeschooling, terutama yang memakai kurikulum yang sama. Saya jadi tahu, kalau di negara tertentu mereka harus melaporkan jumlah hari sekolah dalam setahun dan juga scope materi pelajaran yang mereka pelajari tahun tersebut. Untuk level high school (SMA) nantinya mereka harus menghitung kredit mata pelajaran. Bagian yang ini saya belum baca banyak karena saya mau fokus untuk kebutuhan saat ini saja. Lanjutkan membaca “Menjelang Homeschool Tahun ke-2”

Kenapa Masih Main Pokemon Go

Sejak ada Pokemon Go (pertengahan tahun 2016), Joe semangat sekali main dan semangatnya ketularan ke Jonathan. Awalnya saya malas main, karena saya ga ngerti apa sih pokemon itu, lagipula saya pikir pokemon itu kan singkatan dari pocket monster, ngapain saya ngajarin anak soal monster. Bisa dibilang saya membuat kesimpulan tanpa tahu apa itu game pokemon. Salah satu alasan saya ga mau main pokemon juga karena saya takut ketagihan. Dulu saya pernah main The Sims dan kalau sudah mulai, saya ga bisa berhenti dan bisa bergadang berhari-hari. Sejak itu saya memilih tidak memulai main game baik itu game minesweeper apalagi candy crush.

Bulbasaur, Charmander dan Squirtle merupakan pilihan starter Pokemon

Lama-lama, dengan setengah hati, karena saya sering ga mengerti obrolan Jonathan dan Joe, akhirnya saya join juga main Pokemon Go. Di awal-awal saya main seingatnya saja, dan merasa ga gitu seru juga karena mainnya ga bisa di rumah doang, tapi harus jalan-jalan keluar mencari pokestop, battle di gym, nangkepin pokemon dan itu semua ga mungkin jadi addiction kalau cuma di rumah saja (di dekat rumah nggak ada pokestop/poke gym). Lanjutkan membaca “Kenapa Masih Main Pokemon Go”

Wisata di Chiang Mai

Kadang-kadang, ada teman bertanya kalau mau ke Chiang Mai ada apa yang menarik untuk dikunjungi? Seperti biasa, begitu kita tinggal agak lama di suatu kota, kita udah nggak memikirkan lagi tempat wisata, karena semuanya itu ya bukan tempat wisata buat kita. Tapi kalau diganti pertanyaanya, misalnya suatu hari kami ga tingal di Chiang Mai lagi, kira-kira apa yang akan kami kunjungi kalau ke Chiang Mai? Tulisan ini juga buat jadi referensi kalau ada lagi yang nanya ke kami hehehe.

Jawabannya tergantung berapa lama rencana mengunjungi Chiang Mai, terus apakah kami datang tanpa anak atau dengan anak-anak. Kalau datang dengan anak-anak, tentunya yang dikunjungi tempat yang menarik untuk anak-anak juga. Tempat yang biasa mereka kunjungi sejak kecil. Beberapa yang bisa di list adalah:

  • Dalam kota Chiang Mai
  • kota sekitar Chiang Mai
Dalam kota Chiang Mai

Untuk dalam kota Chiang Mai, yang paling mudah tentunya Suan Buak Haad Park (nama di Google: Nong Buak Hard Public Park) di old city. Di park bisa kasih makan ikan dan pigeon, main-main di playground atau sekedar berlari-lari mengelilingi taman sambil mencoba beberapa alat olahraga yang ada. Kalau sudah capai bermain, nongkrong di coffee shop yang ada di park minum kopi dan nyemil hehe. Kalau lapar, bisa beli ayam bakar plus nasi ketan di pintu keluar park, atau kalau mau paket hemat ya bawa makanan dari luar dan tinggal sewa tikar aja piknik dan buat dessert bisa beli eskrim/es puter versi sini. Jonathan senang makan es krim pake ketan terus ditaburin kacang. Di sini sepertinya apa saja bisa dicampur dengan ketan hehehe.

Memberi makan burung di park

Jalan-jalan di park

Tujuan berikutnya ya tentunya mall. Dari beberapa mall yang ada di sini, Airport Plaza (CentralPlaza Chiang Mai Airport) merupakan mall yang paling sering kami kunjungi. Selain karena sekarang ini Jonathan ikut kelas Taekwondo di sana, mall ini adalah mall terdekat dari rumah (sekitar 5 menit kalau ga kena lampu merah). Di mall biasanya kami akan makan berbagai pilihan makanan Thai di food court atau restoran makanan Jepang OISHI (ini restoran milik orang Thailand), naik kereta api gratis, Joshua bisa main di soft area gratis dan mungkin kalau anak-anak sudah cukup besar bisa diajak nonton di bioskop :-).

Mainan gratis di mall
Food court

Selain park di old city, kami juga sekarang ini sering mengunjungi Royal Flora Ratchapreuk dan Night Safari. Mudah-mudahan kalaupun nanti datang jadi turis, saya masih bisa dapetin harga lokal (asal ga lupa aja bahasanya).

Untuk harga turis, harga Night Safari tergolong mahal, dan rugi rasanya kalau datang cuma sebentar. Saat ini rate yang dikenakan untuk turis itu sekitar 800 baht dewasa (harus cek lagi buat tau harga anak-anak). Sementara itu kalau kami dapat harga lokal seperti orang Thai, dewasa itu harganya ga lebih dari 250 baht. Saat ini kami masih bisa mendaftar jadi member, harga member 500 baht untuk selama 6 bulan dan bebas masuk setiap hari juga boleh kalau mau.

Di night safari ada banyak kegiatan yang kalau diikuti semua butuh waktu 5 jam di sana. Kita bisa jalan keliling di walking zone sekitar 1 jam, makan, kalau ada waktu ekstra naik tram keliling 1 jam, menonton beberapa tarian dan animal shows (tiger show 30 menit dan night predator show 30 menit). Diantara waktu tunggu show dan jadwal tram anak-anak bisa main di Playground. Karena cukup sering ke sana, kadang kami datang cuma untuk jalan keliling walking zone, main di playground dan makan saja.

Ratchapreuk
Ratchapreuk

Kami juga menjadi member untuk Royal Flora Ratchepreuk 400 baht per tahun. Kalau bukan member, sebagai orang Thai harus bayar 100 baht per datang, dan sebagai orang asing harus bayar 200 baht per orang (anak-anak biasanya harganya lebih murah). Di taman bunga ini selain bisa main pokemon (kami masih main pokemon), ada playground juga buat anak-anak main dan bisa untuk melemaskan kaki keliling park hehe.

Hidden Village

Salah satu tempat yang mungkin akan dikunjungi jika punya waktu ekstra di Chiang mai adalah Hidden Village. Tempat ini relatif baru, dan karena ga ada membership kami ga bisa terlalu sering ke sana. Di hidden village ini tiket masuk 100 baht/orang dan 50 baht untuk anak-anak. Di dalamnya ada restoran, playground, petting zoo dan animatronik Dinosaurus. Dengan bayar ekstra 20 – 40 baht ada lagi mainan seperti bouncy house dan softplay area di dalamnya.

Selain night safari, kami juga pergi ke zoo. Chiang Mai zoo cukup besar dan butuh seharian juga mengeksplornya termasuk bagian aquarium dan menonton animal show yang ada.

Kami juga sudah dua kali ke Poo Poo Paper park, tapi sudah dituliskan di posting yang ini. Sedikit tentang Chiang Mai Zoo pernah dituliskan di sini dan nanti mengenai Chiang Mai Night Safari dan royal flora Ratchepreuk akan ditulis di posting terpisah.

Luar kota (butuh drive lebih dari 30 menit)

Karena kami gak biasa nyetir jauh-jauh, maka perjalanan lebih dari 30 menit itu tergolong luar kota buat kami hehehe. Kami jarang pergi ke luar kota, jadi ya ga bisa kasih banyak saran juga untuk keluar kota. Tapi ada beberapa tempat yang sesekali kami kunjungi kalau lagi bosan dengan yang dalam kota.

Horizon Village

Dulu kami sering sekali ke Horizon Village. Tempat ini butuh drive sekitar 30 – 40 menit dari rumah. Biasanya butuh waktu seharian kalau ke sana. Di sana ada pilihan untuk makan buffet di hari Sabtu dan Minggu, bersepeda dan atau keliling taman. Taman di sini lebih rindang dibandingkan Ratchepreuk. Di taman horizon village ini juga ada mini zoo dan bisa kasih makan ikan atau burung unta. Dulu sebelum Jonathan 3 tahun, kami bisa ke tempat ini sebulan sekali, tapi belakangan karena Jonathan banyak kegiatan di hari weekend, kami jadi makin jarang ke sana (selain tempatnya juga makin mahal haha).

Hot spring

Tempat wisata yang menarik juga untuk dikunjungi dan ga jauh dari Chiang Mai itu Hotspring San Kampheng. Butuh nyetir sekitar 45 menit – 1 jam dari kota. Kami baru beberapa kali ke sana, sebenarnya seru juga rendaman air panas, atau bisa juga makan telur rebus yang di rendam di air belerang. Kalau misalnya datang pas musim panas, ya kayaknya ga disarankan.

Tempat ini menyenangkan dikunjungi di musim dingin tentunya. Tak jauh dari tempat ini ada cave yang katanya sih cukup menarik untuk dikunjungi, tapi kami belum kunjungi karena ga mau ambil resiko ngejar-ngejar Joshua dalam gelap hahaha. Kalau mau menginap, di sana juga ada pondokan yang bisa di sewa atau area untuk camping, tapi kami belum coba sampai sekarang.

Doi Suthep

Gimana dengan Doi Suthep? Hmm walaupun ada yang bilang belum sah sampai ke Chiang Mai kalau belum ke Doi Suthep, tapi rasanya ga ada yang istimewa dengan Doi Suthep, setidaknya buat kami begitu. Kami pertama kali ke sana setelah beberapa tahun di Chiang Mai. Total selama 11 tahun di kota ini , kami baru 2 kali ke sana (bahkan kami lebih sering ke Doi Inthanon daripada Doi Suthep). Kenapa Doi Inthanon? Ya di Doi Inthanon itu udaranya lebih adem, dan juga naturenya lebih indah.

Butuh waktu 1 jam nyetir menanjak ke Doi Suthep. Di sana bisa melihat ke arah kota Chiang Mai dan foto-foto doang hehehe. Kalau ke doi Suthep, biasanya akan mampir juga ke Doi Pui, di sana bisa melihat kehidupan masyarakat tradisional dan ada taman bunga nya yang juga cukup indah. Di bulan Januari, di dekat Doi Suthep bisa melihat hutan yang penuh dengan bunga sakura. Tapi karena jalannya ke sana sempit dan bunga sakura cuma mekar dalam waktu 2 minggu saja, biasanya weekend jalanan ke sana akan macet, dan yaaa setelah pernah sekali ke sana, kami belum ke sana lagi hehehee.

Doi Inthanon

Doi Inthanon. Titik tertinggi di Thailand

Doi Inthanon, butuh sekitar 2 jam perjalanan (1 jam perjalanan menanjak). Kami suka ke sana karna udaranya adem. Pemandangannya juga jauh lebih indah dibanding Doi Suthep. Ada banyak pilihan di Doi Inthanon ini, untuk yang suka trekking juga ada beberapa pilihan jalur trekking di sana (tapi kami belum pernah). Selain ada temple, taman bunga, di sana juga ada air terjun. Kalau ke Doi Inthanon, butuh waktu seharian untuk bisa mengeksplore/menikmati alam di sana.

Queen Sirikit Botanic Garden

Buat pecinta tanaman dan nature, sekitar 1 jam naik mobil dari Chiang Mai juga ada taman bunga Queen Sirikit Botanic Garden. Kami baru sekali ke sana dan udah beberapa tahun lalu, jadi ga bisa kasih banyak update selain di tempat itu luas dan banyak jenis tanaman dan bunga yang indah. Sekarang ini di sana ada canopy sky walk yang cukup panjang. Waktu kami ke sana canopy sky walk ini belum ada, mungkin ini bisa jadi alasan untuk ke sana lagi.

Kalau punya waktu ekstra, bisa juga ke Golden triangle. Tempat ini merupakan perbatasan antara Thailand, Myanmar dan Laos. Butuh perjalanan sekitar 3 jam dari Chiang mai. Di perjalanan menuju lokasi bisa berhenti di hotspring. Kami baru sekali ke sana ikutan tour sebelum ada Joshua.

Sebenarnya pengen lagi ke sana ajak Joshua, tapi dipikir-pikir temple yang menjadi tempat wisata di sana kurang cocok untuk dilihat oleh anak-anak. Untuk yang tidak bawa anak dan suka melihat arsitektur temple yang unik, tempat ini bisa jadi pilihan dan sekalian siapa tau pengen dapat cap mengunjungi negara Laos dan Myanmar sekalian.

Ada beberapa tempat sekitar sini yang belum juga kami eksplore. Entah apakah kami akan eksplore suatu saat setelah kami ga di sini lagi atau entahlah. Kami belum pernah ke Doi Angkhan, padahal katanya tempat ini cukup dekat dari Chiang Mai dan indah, tapi sejauh ini belum tertarik untuk ke sana. Mungkin kalau sudah ga di Chiang Mai baru deh pengen ke sana dan ke mari jadi turis hehehe. Beberapa tempat yang jadi tujuan wisata juga waterfall. Tapi karena saya selau bayangkan air terjun sipiso-piso, saya ga pernah senang dengan waterfall di sini hehhe.

Jadi kembali ke pertanyaan: kalau ke Chiang Mai, sebaiknya ke mana dong? Kalau ga punya banyak waktu mending wisata memperhatikan kehidupan orang lokal. Pergi massage, wisata kuliner dengan harga lokal, pergi ke pasar tradisional biar ditanya: where are you come from, dan ketika kita jawab Indonesia mereka akan bilang ooh Filipin atau Malay sambil bilang same nunjuk ke wajah mereka yang artinya: wajah kita sama mirip orang Thai. Kalau punya waktu banyak, ya bisa deh mengunjungi semua tempat yang disebutkan di atas.

So, dari tulisan ini, kira-kira kalian bakal tertarik ga datang ke Chiang Mai jadi turis? Kalau kata saya, jangan jadi turis deh, rugi. Mending tinggal aja di sini, hidup nyaman pasti betah deh (kecuali buat yang sangat strict dengan makanan harus label halal, ini bisa jadi hidupnya berasa repot). Tapi walaupun demikian, banyak juga kok restoran halal di Chiang Mai. Buktinya beberapa teman orang Indonesia di Chiang Mai yang muslim juga bisa betah berlama-lama tinggal menetap di Chiang Mai.

Di posting lain akan dibahas mengenai event-event khusus di Chiang Mai (festival bunga, Songkran dsb), supaya tahu kalau mau datang sebaiknya bulan apa.

Memulai Homeschooling

Setelah memutuskan mau homeschooling, kami gak langsung terjun bebas. Homeschooling ini menuntut orangtua untuk belajar lagi, karena kami gak punya pengalaman mengajar anak kecil. Belajar seluk beluk dunia homeschooling terutama memutuskan mau seperti apa style homeschooling kami.

Mulai dari mana?

Kami mulai dengan banyak mencari informasi yang terkait dengan homeschooling dari berbagai sumber, diantaranya:

  • bertanya ke teman-teman yang sudah lebih dulu menghomeschool anaknya
  • cari informasi di internet
  • gabung dengan komunitas homeschooler online dan offline

Sebagai orangtua harus rajin mencari berbagai hal yang sesuai dengan kondisi keluarga dan gaya belajar anak. Orangtua juga harus memiliki komitmen untuk memberikan pendidikan yang terbaik untuk anak. Setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, sebagai orangtua harus menentukan/memutuskan mau seperti apa homeschoolingnya.

Saya akui saya pusing dengan berbagai istilah yang ditemukan mengenai homeschool. Ada banyak sekali metode dan pendekatan untuk melakukan homeschooling, ada yang melakukannya secara tradisional seperti memindahkan sekolah ke rumah (jam sekolah tertentu dan jadwal hari sekolah dan libur yang sudah ditentukan di awal tahun ajaran), ada yang memilih untuk membebaskan anak dari beban kurikulum dan hanya mengajarkan apa yang menjadi minat anaknya (unschooling), ada yang ikut kelas online bayar maupun gratis, ada yang mempelajari secara mendalam topik tertentu dengan unit studies. Ada yang mengikuti metode Charlotte Mason, Classical Conversation atau Montessori. Dan banyak istilah lainnya yang selanjutnya bisa di baca di wikipedia mengenai homeschooling.

Setelah menyadari kalau keunikan homeschooling adalah tidak ada yang saklek di sana. Kita selalu bisa sesuaikan menurut kebutuhan anak dan kita tidak harus mengikuti metode atau kurikulum tertentu saja. Sebagai orangtua, kita bisa memilih dan membuat sendiri kurikulum dan materi yang ingin diajarkan ke anak. Orangtua dan anak yang menentukan apakah belajar secara terstruktur atau tidak ada struktur sama sekali. Ada yang memilih untuk belajar tanpa struktur, tapi ada juga yang memilih tetap terstruktur dan tentunya bisa di gabungkan juga semi terstuktur. Sekarang ini bahkan ada beberapa lembaga penyedia jasa homeschooling yang menerima murid secara offline seminggu hanya beberapa hari.

Pertanyaan yang paling sering jadi pertimbangan juga: nanti ijasah anak bagaimana? Untuk sekarang ini , ijasah bisa didapatkan dengan mengikuti ujian persamaan, tergantung di mana kita berada dan kemana tujuan kita. Ada banyak layanan online untuk mengetahui apakah anak kita layak untuk disebut di kelas tertentu. Di negara tertentu ujian tahunan ini merupakan kewajiban homeschooler, tapi akhirnya semua kembali lagi menjadi keputusan orangtua. Keunikan homeschooling adalah, kita tidak terikat dengan kelas anak, karena bisa saja anak usia 8 tahun mempelajari materi yang advanced kalau memang dia sudah mampu dan mengerti.

Beberapa penyedia jasa kurikulum juga menyediakan konsultasi untuk homeschooler untuk menjawab pertanyaan yang mungkin saja orang tua kurang mengerti, atau mereka juga mengadakan kelas tutorial online dan sampai memberikan diploma yang terakreditasi yang nantinya bisa jadi modal untuk memasuki perguruan tinggi. Kami sendiri belum memikirkan sejauh ini, apakah kami hanya akan sementara homeschooling atau akan terus homeschooling sampai anak siap memasuki perguruan tinggi. Sudah banyak orang yang menghomeschool anaknya dan kemudian anaknya masuk perguruan tinggi tanpa ijasah dari sekolah, tapi cukup dengan ujian penerimaan di perguruan tinggi tersebut dan dari bukti yang disiapkan orangtua kalau dia sudah mempelajari hal-hal dasar yang dibutuhkan.

Memilih kurikulum

Sebelum menentukan kurikulum, kita harus tau model belajar anak kita seperti apa dan apa yang menjadi target kita. Ada yang mengasah kemampuan anak di bidang art saja karena melihat anaknya sangat tertarik dengan art, ada juga yang memberikan semuanya dan minat anaknya baru akan kelihatan belakangan.  Ada anak yang suka mempelajari sesuatu secara mendalam dan tidak bosan untuk mengerjakan topik tersebut berulang-ulang (mastery), dan ada juga anak yang lebih suka dikenalkan konsep baru setiap harinya, kerjakan sedikit soal latihan untuk konsep baru dan sisanya mereview konsep yang sudah diajarkan sebelumnya (spiral).

Kurikulum yang kami pilih CLE (Christian Light Education) merupakan kurikulum dengan pendekatan spiral yang sudah cukup lengkap dan menyediakan layanan homeschool plus yang memberikan diploma untuk pesertanya. Tentunya orangtua yang harus aktif mengirimkan hasil kuis dan test tiap bulannya dan laporan mengenai jumlah hari sekolahnya, lalu akan diverifikasi oleh CLE dan mereka akan mengeluarkan diploma.

Untuk sekarang ini kami belum mendaftarkan program homeschool plus karena kami belum merasa membutuhkan diploma untuk Jonathan. Jonathan bisa mengerjakan buku latihannya dengan mandiri dan dia bisa bertanya kepada kami kalau ada konsep baru yang dia tidak mengerti.

Pelajaran yang kami beli dari CLE untuk kelas 2 ini adalah: Math, Language Art, Reading, Social Studies, Science dan Bible. Dalam 1 tahun ajaran ada 10 buku latihan yang harus dikerjakan dan masing-masing berisi 13 unit latihan, 2 kali kuis  dan 1 test. Jonathan mengerjakan 1 unit sehari untuk setiap pelajaran. Biasanya setiap minggu ke-1 dan ke-2 akan ada kuis di hari Jumat, dan minggu ke-3 ada review dan Test. Kalau rata-rata 1 buku dikerjakan dalam 1 bulan, dibutuhkan waktu kira-kira 10 bulan untuk menyelesaikan 1 tahun ajaran. Karena kami kemarin mulainya akhir Oktober, saya pikir kami akan ketinggalan banyak dari tahun ajaran sekolah umumnya. Ternyata sekarang ini kami sudah di buku terakhir dan sudah menjelang Test buku terakhir.

Mengatur Jadwal Sekolah

Homeschool yang kami lakukan cukup fleksibel. Tapi untuk membiasakan diri punya jadwal yang teratur setiap harinya, kami tentukan kalau jam mengerjakan pelajaran cukup pagi hari sebelum makan siang. Lalu setelah jam makan siang, Jonathan bisa tidur siang, baca buku atau kegiatan les art, bahasa Thai, piano atau Taekwondo.

Setiap hari Jonathan harus mengerjakan 1 unit dari 3 sampai 4 pelajaran. Kalau ada kegiatan dipagi hari, kadang-kadang dikerjakan siang dan sore hari. Kami juga membuat jadwal libur, biasanya mengikuti jadwal Joe libur kantor atau kalau ada yang datang berkunjung ke Chiang Mai. Selama beberapa bulan ini, tidak setiap hari sekolah itu mulus. Kadang-kadang faktor cuaca dan kesehatan juga mempengaruhi mood Jonathan dalam mengerjakan soal latihannya.

Kalau saya ditanya sejauh apa saya merencanakan jadwal pelajaran Jonathan? saya biasanya merencanakan setiap sabtu/minggu untuk pelajaran 1 minggu ke depan. Buku Teaching Guide sangat membantu dalam mempersiapkan bahan dan juga memeriksa hasil pekerjaan Jonathan. Ada orangtua yang mempersiapkan jadwal langsung untuk sepanjang tahun ajaran. Saya awalnya coba untuk menjadwalkan beberapa bulan sekaligus, tapi biasanya selalu ada yang meleset jadi saya mencoba untuk lebih fleksibel supaya ga jadi stress.

Homeschool preschool?

Selama Jonathan belajar, Joshua biasanya akan mengganggu dan pengen ikut-ikutan. Sebenarnya ada banyak sekali materi homeschool untuk anak usia prasekolah, tapi saat ini saya belum berencana memberikan materi pelajaran terstruktur untuk Joshua. Biarkan saja dulu dia puas bermain, kalaupun dia tertarik dengan alphabet, angka, perkalian dan penjumlahan, saya anggap itu semua for fun saja. Sekarang ini Joshua sudah bisa mengeja semua kata yang dia liat, bahkan dia seperti sudah bisa ingat bacaan dari beberapa kata, tapi saya dan Joe belum berencana memberikan pelajaran khusus membaca untuk dia.

Tantangan dalam homeschool

Tantangan sekolah di rumah biasanya adalah bagaimana bisa konsisten dalam mengatur jadwal sekolah. Bagaimana supaya anak tetap termotivasi untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Bagaimana supaya anak tetap punya teman bermain dan ga merasa kesepian di rumah. Bagaimana supaya anak menyukai belajar dan ga merasa terpaksa dalam mengerjakan pelajarannya. Kami pemula dalam homeschool ini, tapi seiring berjalan waktu, semua tantangan pasti ada jalan keluarnya. Nanti di postingan berikut saya akan tuliskan bagaimana contoh hari-hari sekolah kami.

Mengajak Jonathan Membaca

Sejak bisa membaca, Jonathan senang membaca berbagai buku. Buku yang dia paling senang model buku Usborne yang ada lift the flapnya. Berikutnya dia mulai suka membaca komik. Kami berusaha mengenalkan dia untuk membaca buku tanpa gambar (chapter book), awalnya dia bilang kurang suka dan ceritanya ga menarik.

Bulan Januari 2018, saya berusaha melatih Jonathan untuk membaca buku setiap hari 1 selama 10 menit, saya ikuti kegiatan challenge Read Aloud yang ada di internet tentunya dengan memberi reward buku yang dia pilih sendiri.  Walaupun  dia sudah bisa baca, waktu membacakan bersuara, kadang-kadang dia belum bisa berhenti ketika ada titik ataupun tanda baca lainnya. Dia cenderung membaca seperti kereta api yang tidak ada jeda walau ada titik koma. Semua diterobos aja gak berhenti sampai ganti halaman. Tentunya jadi tidak enak mendengarkannya dan saya harus mendampingi membacanya.

Buku yang saya berikan untuk dia baca selama sebulan Januari beraneka ragam. Kadang saya suruh dia membaca dongeng sebelum tidur yang cuma beberapa halaman, buku lift the flap, komik dan saya mulai kasih chapter book yang isinya berupa kumpulan cerita lepas dan membacanya tidak lebih dari 10 menit.

Seperti umumnya anak-anak, Jonathan ga suka dan bersungut-sungut ketika saya suruh baca. Tapi lama kelamaan, tanpa sepengetahuan saya, dia sering membaca tak bersuara sendiri  tanpa disuruh. Akhirnya saya menyerah memaksa dia membaca bersuara dan membiarkan saja dia memilih apa yang dia mau baca (lebih baik dia membaca daripada main game atau nonton TV doang). Untuk mengecek apakah Jonathan mengerti yang dia baca, kami ajak dia ngobrol dan menanyakan siapa tokohnya, bagian mana ceritanya yang dia suka atau tidak suka, siapa tokohnya dan apa peristiwa yang terjadi dalam buku yang dia baca.

Awalnya saya memberikan buku yang banyak direkomendasikan homeschoolers dengan kategori living books. Dia bilang bukunya tidak menarik dan mungkin dia belum mendapatkan klik dalam membaca buku. Kami juga berusaha memberi reward untuk memotivasi Jonathan membaca. Katanya Jonathan pengen punya uang buat dikumpulin dan nantinya dibelikan sesuatu, jadi kami setuju, kalau dia baca 1 chapter book akan kami berikan 10 baht. Kalau bukunya lebih tebal lebih dari 100 halaman nantiya bisa dikasih lebih.

Setelah mencoba memberikan berbagai chapter book dengan hasil yang ga terlalu signifikan (kadang dibaca kadang nggak), suatu hari Joe memberikan buku cerita yang mengajarkan pemrograman BASIC terbitan lama, seri Micro Adventure. Dalam buku ini, disertakan juga beberapa listing program BASIC yang bisa dicoba disalin dan dijalankan di komputer. Ternyata buku ini merupakan buku yang memberi klik untuk Jonathan menyukai membaca chapter book.

Sejak awal April atau Mei, dia sudah membaca 7 dari 10 serial Micro Adventure. Selain serial ini, dia juga membaca berbagai buku lainnya termasuk belakangan ini dia baca buku Harry Potter 1 dan 2 dalam hitungan beberapa hari saja. Untuk beberapa buku kami beri reward boleh menonton film dari buku itu. Sejauh ini Jonathan sudah menonton: Captain Underpants, Charlie and The Chocolate Factory dan Harry Potter pertama.

Saya mencoba catch up dengan Jonathan membaca buku-bukunya, tapi sejauh ini saya masih ketinggalan banyak hehehe. Jonathan sering bertanya “what is your favorite part in this book?” setelah selesai membaca buku yang dia tahu kami sudah baca (misalnya Harry Potter). Kecepatan membaca dia melesat seperti tak terbendung dan sekarang dia bahkan mulai membaca buku-buku kategori living books yang dulu dia bilang ga suka.

Berikut ini daftar buku yang dia baca dalam sebulan ini sebagai catatan buat kami:

 Micro Adventure Series:
  1. Space Attack: Micro Adventure Number One by Eileen Buckholtz and Ruth Glick (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33165-5)
  2. Jungle Quest: Micro Adventure Number Two by Megan Stine and H. William Stine (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33166-3)
  3. Million Dollar Gamble: Micro Adventure Number Three by Chassie L. West (1984; ISBN 0-590-33167-1)
  4. Time Trap (Micro Adventure, No 4) by Jean Favors (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33168-X)
  5. Mindbenders (Micro Adventure, Vol. 5) by Ruth Glick and Eileen Buckholtz (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33169-8)
  6. Robot Race (Micro Adventure, Vol. 6) by David Anthony Kraft (1984; Scholastic, Inc.; ISBN 0-590-33170-1)
Captain Underpants novels:
  1. The Adventures of Captain Underpants (1997)
  2. Captain Underpants and the Attack of the Talking Toilets (1999)
  3. Captain Underpants and the Invasion of the Incredibly Naughty Cafeteria Ladies from Outer Space (and the Subsequent Assault of the Equally Evil Lunchroom Zombie Nerds) (1999)
Roald Dahl novels:
  1. Charlie and the Chocolate Factory (1964)
  2. The Magic Finger (1966)
  3. Fantastic Mr Fox (1968)
  4. Charlie and the Great Glass Elevator (1972)
  5. George’s Marvellous Medicine (1981)
  6. Matilda (1988)
Harry Potter novels:
  1. The Philosopher’s Stone (1997)
  2. The Chamber of Secrets (1998)

Dan yang terakhir dia menyelesaikan 12 buku dalam winnie the pooh library box set

Banyak juga buku yang dia baca dalam sebulan ini, semoga ke depannya Jonathan tetap semangat membaca dan dengan rajin membaca dia bisa belajar lebih banyak hal lagi.