Domba putih dan domba hitam

Ini salah satu cerita yang aku suka, dan aku tambah suka lagi setelah membaca maknanya di buku Anthony De Mello “Berjalan di Atas Air”.

Seorang gembala sedang menggembalakan domba. Seorang yang lewat berkata, “Engkau mempunyai kawanan domba yang bagus sekali. Bolehkan saya mengajukan beberapa pertanyaan tentang domba-domba itu?

“Oh, tentu, akan saya jawab dengan senang hati” kata gembala itu. Orang itu berkata,
“Berapa jauh domba-dombamu berjalan setiap hari?”
”Yang mana, yang putih atau yang hitam?” kata gembala
”Yang putih.”


”Ah, yang putih berjalan sekitar enam kilometer setiap hari.”
”Dan yang hitam?”
”Yang hitam juga.”

”Dan berapa banyak rumput mereka makan setiap hari?”
”Yang mana, yang putih atau yang hitam?”
”Yang putih.”
”Ah, yang putih makan sekitar empat kilo rumput setiap hari.”
”Dan yang hitam?”
”Yang hitam juga.”

”Dan berapa banyak bulu yang mereka hasilkan setiap tahun?”
”Yang mana, yang putih atau yang hitam?”
”Yang putih.”
”Ah menurut perkiraan saya, yang putih menghasilkan sekitar enam kilo bulu setiap tahun kalau mereka dicukur.”
”Dan yang hitam?”
”Yang hitam juga.”

Orang yang bertanya menjadi penasaran. “Bolehkah saya bertanya, mengapa engkau mempunyai kebiasaan yang aneh, membedakan dombamu menjadi domba putih dan hitam setiap kali engkau menjawab pertanyaanku, padahal jawaban semuanya sama saja ?”

Gembala itu menjawab, “Tentu saja harus saya bedakan. Karena domba-domba yang putih itu adalah milik saya.”

”Ooo, begitu,” penanya itu mengerti “…kalau yang hitam?”

”Yang hitam juga,” kata gembala itu.

————————————————-

Moral dari cerita ini adalah: kita seringkali membuat pembedaan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak esensial, atau mungkin perbedaan itu sebenarnya tidak ada (dan hanya ada di pikiran kita).

Ok, di buku “Berjalan di Atas Air”, penjelasannya memang jauh lebih banyak dari itu, tapi itu intinya, jadi kalo mau tau lebih jelas, beli bukunya 😀

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.