Day 1

menunggu...
Suara ayam berkokok dengan nyaring membangunkanku. Aku menggeliatkan badan dengan malas. Masih terasa lelah dan pegal linu, ingin menarik selimut dan melanjutkan tidur lagi. Kurang tidur akibat perjalananan kemarin rasanya membuat badan tidak mau bekerjasama dengan otak. Setengah sadar…pengen nimpukin ayam yang berkokok, tiba-tiba teringat…argh…bodohnya aku itu bukan bunyi ayam berkokok, tapi bunyi alarm HP yang tadi malam ku set volumenya hampir penuh karena takut ga terbangun pagi ini. Huh…sudah waktunya bangun dong kalo begitu?.

Alarm ku matikan dan dengan menyeret badan aku langsung menyikat gigiku. Siap-siap untuk mandi walaupun rasanya udara pagi lebih dingin dari udara malam tadi. Apa mau dikata, jam 9 pagi sudah ada janji untuk bertemu dengan dosen senior dan sekarang sudah jam 8 kurang sedikit, blum sarapan pula. Untung saja ternyata kamar mandi disini ada air panasnya, walaupun kadang rasanya terlalu panas untuk kulitku. Oh ya ceritanya di sini ada perumahan dosen yang berupa rumah kecil dengan 2 kamar, 1 gudang, 1 kamar mandi dan ruang tamu yang dilengkapi dengan telepon internal dan komputer yang terhubung ke internet 24 hour. Sayangnya di sini tidak ada TV, jadi selama 2 minggu ini akan semakin udik dan ga tau berita kalau ga rajin ngelirik kompas.com atau detik.com deh. Cerita kembali ke usahaku untuk melawan rasa kantuk dengan segera mandi. Ternyata mandi pagi cukup menyegarkan, rasa letih sudah mulai hilang. Segera berdandan dan bersiap-siap. Modal roti isi coklat membuat perut nyaman dan siap untuk beraksi.

Sungguh tidak kuduga apa yang akan kuhadapi. Sepanjang hari sampai jam 10 malam yang dilakukan oleh dosen seniorku membuatku takjub. Ada 100 siswa yang mengantri ingin berkonsultasi padanya. Hari ini adalah hari terakhir perbaikan dokumentasi laporan kerja praktek. Herannya, sudah hari terakhir tapi masih ada saja yang membuat kesalahan yang cukup fatal. Kasihan juga melihat dosenku itu, tidak mengeluh walaupun harus membaca tulisan kecil-kecil dan berlembar-lembar. Sepanjang hari aku menerima transfer ilmu dari beliau. Sangkin banyaknya yang harus kuingat ada beberapa detail yang terlewat olehku. Banyak instruksi yang harus dilakukan hari itu. Jangankan mengecek e-mail, laptop yang kubawa saja blum dipergunakan dengan semestinya. Dalam hati aku berkata : olala…kalau harus begini setiap hari mau jadi apa daku nanti? apa bisa???

Perumahan dosen
Jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat ketika aku sampai di rumah tempat aku menginap selama 2 minggu ini. Badan sudah lelah, tapi…tergoda untuk mengetikkan pengalaman perjalanan disini. Akhirnya selama hampir 2 jam jemari ini menari-nari di atas keyboard komputer untuk mengetikkan pengalaman sekaligus cek e-mail dan membaca ini dan itu biar ga ketinggalan berita. Akhirnya setelah hampir jam 12 malam daku berhenti dan bersiap-siap tidur.

Sebelum tidur, sempat berpikir-pikir sejenak. Sebenarnya tempat ini sangat indah. PI-DEL merupakan sebuah kompleks yang terdiri dari perumahan dosen, asrama mahasiswa dan gedung perkuliahan dalam 1 lokasi. Bangunannya mempunyai arsitektur yang semi modern tapi tetap memiliki sentuhan tradisional (sah..sok tau aja yah tentang arsitektur :P). Rumah-rumah dosen yang mungil di cat berwarna warni memberi warna yang lebih indah. Hamparan rumput yang hijau dan menyegarkan mata (apa hubungannya coba) dan…kalau berani melompat sebenarnya danau toba hanyalah sedikit meluncur ke bawah 😛 (kayaknya aku mau ngusulin disini di bangun kolam renang deh, biar kayak sekolah berasrama malory towers seperti di buku cerita Enid Blyton).
Asrama mahasiswa
Tempat ini menyenangkan untuk berlibur…tapi untuk tinggal….yah mungkin kalau mau jadi penulis bisa juga mencari inspirasi di sini. Tenang, adem dan … alami. Tapi ada minusnya juga sih, di sini cuma ada 1 koperasi, jadi ga bisa belanja cemilan ini dan itu, teh botol sosro aja sulit dapatnya :P, setidaknya aku belum tau kalau di luar komplek apa lebih mudah nyari makanan dan minuman atau nggak. Tapi katanya kalau mau belanja itu kudu berangkot ria 30 menit menuju Balige (yang menurut gue itu artinya jauh!). Ah…tak apalah, sekalian aku mengurangi kadar gula ditubuh :p. Btw sebenernya pengen mempertahankan kebiasaan gak makan malam di sini, tapi…apa kuat yah kalo ga makan malam buat menahan dingin? kan butuh selimut alami (lemak dibilang selimut, alesan ajah). Anyway…begitulah cerita hari pertama, dan semoga hari berikutnya ga selalu sampai jam 10 malam lagi 🙂

Satu tanggapan pada “Day 1”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.