Cerita di Kuala Lumpur

Pirate's Revenge Ship Setelah liburan dan misi pulang ke Medan selesai, sebelum kembali ke Chiang Mai kami singgah di Kuala Lumpur dan Singapore.

Penerbangan MDN – KL

Berhubung punya pengalaman terlambat check-in Air Asia, dalam perjalanan kami ini kami lebih prepare. Kami tiba cukup awal di Airport Medan. Airport Medan masih seperti dulu, banyak calo nya :P. Sebelum berangkat kami sudah sediakan pulpen untuk mengisi form keberangkatan dan bebas fiskal. Proses check-in berjalan lancar. Loket bebas fiskal tidak seramai bulan Januari. Dalam form isian bebas fiskal diminta nomor bebas fiskal sebelumnya, untung saja kertas bebas fiskal yang lalu belum kami buang. Passport Joe yang baru dikasih tanda untuk melaporkan diri ke KBRI lagi.

Oh ya kami diminta fotokopi tanda pengenal kami di Thailand. sebenernya agak aneh dengan tanda pengenal di Thailand ini, karena KBRI jelas-jelas tidak mengeluarkan sejenis KTP dan SIM Thailand kami jelas-jelas tulisannya tidak menggunakan tulisan latin. Kami ga tau gimana jadinya kalau kami ga punya SIM Thailand. Oh ya, kalau Joe sih punya work permit, tapi work permitnya juga sama aja, tulisan latinnya cuma nama doang, sisanya tulisan Thai yang ga bisa dibaca.

Setelah urusan bebas fiskal dan bayar airport tax beres, kami melewati petugas imigrasi lalu masuk ke ruang tunggu. Perjalanan berjalan lancar. Oh ya, waktu melihat pramugarinya, kami merasa de-javu. Setelah mengingat-ingat lagi, ternyata pramugari yang sama di pesawat yang membawa kami dari Jakarta ke Medan bulan Desember lalu. Cerita tentang pramugari ini akan dituliskan diposting terpisah supaya tidak terlalu panjang disini.

Singkat cerita, kami tiba di Kuala Lumpur dengan selamat, dan seperti biasa Air Asia tiba lebih awal dari yang dijadwalkan. Bravo air asia!.

Kuala Lumpur

Di KL kami menginap di rumah teman kuliahku Iya atau lebih dikenal dengan nama Tria Barmawi. Sekali lagi kami mendarat di LCCTerminal KL. Oh ya, sekali lagi kami lewat imigrasi, tapi kali ini lebih ramah dan sekali lagi kami keluar dari airport tanpa pemeriksaan nomor bagasi.

Risna dan Iya Balapan di Petronas ScienceKarena kali ini kami butuh uang ringgit lebih banyak, maka kami menarik duit dari ATM saja. Ternyata tidak semua mesin ATM (walaupun ada lambang VISA) bisa menarik duit menggunakan kartu ATM bank di Thailand. Setelah menarik duit, kami beli bekal McD untuk makan siang di bis. Dari Airport ke KL Sentral kami naik bis AirAsia seharga 9RM. Kami dijemput Iya di KL Sentral.

Walaupun menurut cap di passport perjalanan ini adalah kali kedua kami ke Malaysia, tapi kenyataannya ini adalah kali pertama kami mengunjungi Malaysia. Cukup terpesona dengan KL. Jalan rayanya lebih besar dari jalanan di Jakarta, dan tidak ada macet kecuali di dekat mall yang mengadakan SALE. Banyak gedung tinggi dan bentuknya menarik. KL lebih metropolitan kalau dibandingkan Jakarta.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Petronas. Ternyata bagian bawah petronas itu mall yah (ketahuan ga riset sungguh-sungguh sebelum jalan-jalan). Di mall itu ada Petronas Science. Petronas Science ini mengingatkan kami dengan PP IPTEK TMII. Tapi Petronas Science ini jauuuh lebih besar dan fokusnya lebih ke arah proses minyak. Kayaknya kalau punya anak yang berumur 7 tahun atau umur sudah mulai tertarik dengan ini dan itu, tempat ini butuh waktu seharian untuk mengunjunginya. Menarik kemasannya, informatif juga isinya.Cermin Rekursif

Selesai dari Petronas Science, kami melihat air mancur diluar sambil berfoto-foto dengan latar belakang menara Petronas. Katanya ga sah ke KL kalau ga foto di Petronas Twin Tower.

Dari Petronas, kami makan malam nasi lemak. Katanya makanan khas Malaysia itu ya Nasi lemak ini. Nasinya porsinya kecil, dibungkus dengan daun pisang. Tapi isi lauknya bisa banyak. Kalau menurutku sih Nasi lemak ini hampir sama dengan nasi lemak di Medan. Atau kalau di Jakarta mungkin namanya nasi uduk ya. Bedanya ya… isinya (lauk pauknya).

Risna dan Iya di Putrajaya Keesokan harinya kami ke PutraJaya. Kalau melihat jalanan yang besar di KL rasanya kami akan nyasar dengan mudah di KL. Oh ya, kalau kelewat jalan, pemutaran jalan cukup jauh, tapi karena jalannya kosong dan mulus, jalan yang jauh itu ga terasa jauh. Petunjuk jalan di KL cukup banyak, tapi Iya aja yang udah lama di KL bilang masih sering tersesat. Ya sebenarnya ga tersesat banget sih, tapi jalannya jadi muter jauuuuuh.

Jalan tol di KL keren, banyak gerbang yang menggunakan RFID dan sistem touch and go. Oh ya sistem parkirnya juga seperti itu, jadi ga banyak petugas parkirnya. Bahkan untuk mencari tempat parkir ada display yang menunjukkan berapa tempat kosong di kanan dan di kiri gedung. Keren!.

PutraJaya itu kota yang baru dibangun untuk menjadi pusat pemerintahan Malaysia. Kami bukan orang berlatar belakang arsitektur, tapi bisa dibilang, Arsitek yang mengerjakan gedung-gedung itu pasti dibayar mahal. Gedung yang satu dan yang lainnya tidak ada yang sama. Semua gedung tinggi. Kerenlah!.Ikel lagi nunggu makanan

Siang harinya setelah menjemput Ikel dan makan siang, kami berangkat lagi ke Sunway Lagoon. Awalnya kami hanya ingin mengunjungi wahana ScreamPark saja. Ya sebagai penggemar film horror, rasanya ga seru kalau ga liat ScreamPark. Scream park itu seperti rumah hantu, terror tunnel, penjara di film Prison Break dijadiin satu. Lengkapnya baca di sini. Yang jelas walaupun dalam ScreamPark cuma beberapa menit, tapi kami tak habis-habisnya berteriak AAAAAARRGGHHHH, but it’s fun :).

RFID masuk Sunway LagoonKepalang tanggung sampai Sunway Lagoon, setelah ScreamPark selesai kami memutuskan untuk upgrade ticket mencoba semua wahan lainnya. Oh ya, kalau dulu untuk masuk Dufan kita di kasih stempel di tangan (ga tau sekarang), nah kalau di Sunway Lagoon ini kita dikasih jam tangan yang ada RFID nya. Jadi jam tangan ini yang menjadi tanda kalau kita bisa masuk ke wahana yang ada.

Siap-siap naik Pirate's Revenge ShipIya di Arung Jeram, udah mulai basah heheTembak!!!Kabuuurrr.....

Beberapa wahana yang kami coba di Sunway Lagoon selain ScreamPark adalah Pirate’s Revenge, sejenis kora-kora di Dufan, bedanya perahunya diputar sampai 360 derajat!. Extreme Park, beberapa permainan seperti menembak, naik go-kart, dan sepeda angsa. Sayangnya paintball di Extreme Park sedang tidak bisa digunakan. Joe di pantai bohongan, kayak beneran ya pantainya

Lalu kami juga naik sejenis arung jeram dan sejenis roller coaster tapi tanpa inversi (lupa namanya, ga nemu di webnya :P).

Sebenarnya ada WaterPark dan WildLife (zoo) juga disana, tapi berhubung waktu ga banyak, kami cuma bisa melihat-lihat pantai buatan disana. naik sepeda angsa

Ibaratnya di sunway lagoon itu seperti dufan, Ancol dan Ragunan digabung jadi satu. Jadi jangan heran kalau melihat orang basah-basah atau pakai baju renang doang disana. Mungkin kalau ada kesempatan lain, sebaiknya ke sana dari pagi dan bawa baju renang tentunya. Umm… di sana tidak bisa bawa bekal, untuk menjaga kebersihan makanan hanya boleh dibeli di dalam.

Setelah basah-basahan dan capek, kami makan malam dulu sebelum pulang ke rumah Iya. Oh iya, lupa bilang, dari rumah Iya bisa liat Petronas juga looh :).

Anyway, cerita KL jadi panjang padahal cuma sebentar di sana. Keesokan harinya kami sudah harus ke airport lagi untuk menuju ke Singapore. Somehow, perjalanan pulang rasanya lebih “mudah” dibandingkan perjalanan menuju Medan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.