Salam Natal dari Chiang Mai

First Christmas at Chiang MaiTahun ini untuk pertama kalinya Natal di negeri orang. Ternyata emang lain tempat lain kebiasaan. Kemarin kebaktian malam natal di mulai jam 11 malam, hampiiiir saja ga jadi pergi gara-gara Joe salah ngeset alarm. Di luar dugaan, yang datang sangat ramai. Gedung gereja yang biasanya ga pernah penuh kali ini terisi sampai keluar. Kami yang datang sangat dekat dengan waktu mulai kebagian duduk diluar. Untungnya cuaca Chiang Mai ga terlalu dingin seperti malam-malam sebelumnya.

Kebaktian malam Natal yang diikuti dengan acara perjamuan kudus, di mana semua orang diminta maju ke depan untuk mengambil roti dan anggur serta menyalakan lilin. Acara diakhiri dengan bernyanyi sambil keluar gedung gereja dengan lilin masih menyala. Sekitar jam setengah 1 semua sudah selesai. Sampai di rumah ga bisa langsung tidur, akibatnya bangun pagi masih agak mengantuk. Pesan malam Natal itu adalah: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi, dan damai sejahtera bagi manusia di bumi."

Awalnya kami berniat memilih salah satu kebaktian, malam Natal saja atau hari Natal saja, karena di Thailand tanggal 25 Desember bukanlah hari libur. Tapi setelah merasakan uniknya kebaktian malam Natal kami berubah pikiran. Maka pagi hari Joe ijin dari kantor buat kebaktian Natal.

Pesan Natal hari ini adalah ayat yang sudah sangat kami hapal Yohanes 3:16 "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal."

Ada fenomena yang saya perhatikan cukup terlihat di gereja. Kebanyakan orang memakai baju berwarna merah atau hijau. Seingat saya di Indonesia warna baju natal ga terlalu dominan, tapi di sini warna merah dan hijau sangat dominan mulai dari ornamen Natal sampai ke baju orang-orang yang datang, beberapa anak mengenakan topi santa. Lalu acara yang cukup menarik pagi ini adalah, setiap anak kecil di panggil ke depan untuk menceritakan apa hadiah natal yang dia dapatkan dari orangtuanya. Anak-anak di sini pada berani bicara, ada yang di belikan mobil remote control, waktu pendeta bertanya: "siapa yang pertama memainkannya: bapakmu atau kamu?" anak itu menjawab "bapakku". Tapi ada juga anak perempuan yang bilang :"tentu saja aku", pendeta mencoba lagi dengan bertanya: "tapi di toko bapakkmu ga mencoba?", anak itu bilang, "belum dibuka sama sekali, jadi aku yang pertama mencobanya".

Mungkin banyak orang yang sudah salah kaprah dengan perayaan Natal. Ibaratnya kalau tidak ada hadiah Natal rasanya gak sah hari Natal. Karena gereja yang kami hadiri di Chiang Mai adalah gereja yang komunitasnya adalah orang asing, budaya hadiah di hari Natal terlihat masih sangat lekat.

Tidak ada yang salah dengan memberi kado di hari Natal, tapi akan menjadi salah kalau menuntut harus ada kado di hari Natal. Tidak ada yang salah dengan perayaan Natal, yang salah kalau merayakan Natal dengan cara yang salah, misalnya pergi ke tempat hiburan di mana banyak gadis-gadis berpakaian ala santa yang 2 pieces (ini kemaren liat di jalan waktu mau ke gereja, sayangnya ga sempet memfoto). Lalu apakah semua orang mendapatkan hadiah Natal? tentu saja. Perayaan Natal adalah perayaan mengingat kelahiran sang juruselamat yang menjadi hadiah untuk semua orang. Bukan sekedar tradisi bertukar hadiah atau pesta-pesta.

Sebelum pulang dan kembali bekerja, kami sempatkan menikmati hari Natal dengan menikmati kue Natal versi kami. Karena saya belum bisa masak kue, maka lebih praktis memesan yang siap saji. Moga-moga tahun depan sudah bisa bikin sendiri 🙂 . Selamat hari Natal buat kita semua. Semoga Anda tetap bersukacita walaupun jauh dari sanak keluarga seperti yang kami rasakan di hari Natal ini 🙂

5 thoughts on “Salam Natal dari Chiang Mai”

    1. Iya lucu, cukup membuat mata ga ngantuk lagi. Apalagi ada anak yang cerita hadianya Nintendo DS yang sudah diinstalin Alkitab ama bapaknya 😀

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.