Tablet dan anak-anak

Sebenarnya tulisan ini serupa dengan tulisan yang dulu mengenai: TV dan Tablet untuk anak-anak, tapi isinya sedikit berbeda terutama setelah baru pulang dari Indonesia dan melihat bagaimana orang tua lain memakai tabletnya.

Banyak orang sangat khawatir dengan televisi untuk anak-anak. Beberapa kekhawatiran banyak orang adalah: televisi membuat anak jadi pasif, program di televisi tidak mendidik, banyak iklan yang tidak bagus untuk anak-anak. Meski tahu efek buruk televisi, banyak orang membiarkan anak-anaknya di depan televisi supaya diam, daripada mengganggu orang tua.

Di sini kami jarang sekali melihat acara siaran televisi, dan ketika kami pulang, kami bisa melihat bahwa itu benar. Acara di televisi kebanyakan untuk dewasa, dengan bahasa dan kelakuan yang tidak baik untuk ditiru anak-anak. Acara televisi untuk anak-anak sangat penuh iklan: ketika melihat Doraemon, sekitar 10 menit film diikuti 10 menit iklan, ada beberapa belas iklan, hampir semuanya produk makanan untuk anak-anak (yang kurang sehat).

Tapi sekarang ada kekhawatiran baru dari para orang tua: tablet. Tablet bisa berfungsi seperti televisi (memutar film), dan juga bisa untuk bermain game. Dalam pembahasan ini, tablet atau smartphone akan saya sebut saja sebagai “tablet” (karena fungsi “telepon” biasanya tidak akan dipakai). Saat ini di Indonesia dan Thailand saya lihat hampir di semua tempat anak-anak memegang/memandangi/bermain tablet.

Tablet ini bisa lebih baik dan lebih buruk dari televisi. Televisi akan ditinggal ketika pergi keluar rumah, sedangkan tablet dibawa ke mana-mana. Dengan televisi: anak pasif di rumah di depan TV, tapi setidaknya di luar rumah masih harus melakukan aktivitas fisik.

Jika kita mendownloadkan film untuk anak-anak di tablet (atau membeli filmnya), maka akan bebas dari iklan dan filmnya bisa dipilih yang mendidik. Tapi sebagian orang tua membiarkan anak-anak membuka Youtube sendiri, sehingga bisa berkelana ke berbagai video yang tidak baik (atau membuka iklan yang tidak pantas).

Ada ratusan ribu game dan aplikasi yang bisa didownload/beli untuk anak-anak. Sebagian game yang gratis penuh iklan (yang sering tidak sengaja akan terklik). Sebagian game sama sekali tidak mendidik dan membuat anak kecanduan main. Tapi jika orang tua mau mencari tahu, ada juga ribuan aplikasi dan game yang bagus dan mendidik. Banyak game dibuat oleh tim ahli dalam edukasi atau oleh orang-orang yang tahu benar kebutuhan seorang anak.

Meskipun televisi bisa berdampak buruk, tapi tidak selalu demikian. Orang tua saya dulu tahu membatasi saya, dan saya sadar acara apa yang bagus dan tidak bagus untuk ditonton. Saya belajar bahasa Inggris dari Sesame Street (dan itu cukup untuk saya, saya tidak pernah ikut kursus bahasa Inggris). Saya belajar banyak hal dari acara-acara edukasi di TPI.

Sekarang dalam urusan tablet, orang tua harus lebih aktif: mencari tahu aplikasi apa saja yang bagus untuk anak-anak (bagian “Top” di appstore hanya berisi aplikasi populer umum), lalu mencoba memainkan berbagai permainan (supaya tahu apakah ada konten yang tidak sesuai). Orang tua juga perlu menyeleksi tontonan anak, dan perlu tahu cara membatasi pemakaian tablet (perlu mengerti berbagai restriksi yang bisa diterapkan di setting tablet).

Orang tua juga perlu tanggap dalam melihat interaksi anak dengan tabletnya. Sebagian anak (seperti Jonathan) menirukan banyak kata di tablet ketika mendengarkan (“awesome”, “excellent”, “try again”), sebagian anak malah menjadi pasif. Sebagian interaksi dalam game perlu diajarkan. Contohnya ketika main game kereta api dari Lego, Jonathan bingung ketika harus menggambar path kereta. Beberapa anak ketika bingung akan berpindah ke game lain sehingga tidak belajar. Setiap kali kami melihat dia kesulitan di bagian itu, maka kami bantu berkali-kali sampai akhirnya dia mengerti apa yang harus dilakukan.

Jika digunakan dengan baik, tablet punya banyak sisi positif, tapi semua itu tergantung pada orang tua. Kami juga sangat setuju kalau terlalu banyak waktu di depan tablet kurang bagus, karena bagaimanapun juga aktivitas fisik yang dilakukan sangat minim.

Sebagai tambahan: saat ini kami jadi sering main Nintendo Wii lagi sebagai alternatif menonton film dan bermain tablet untuk Jonathan. Meskipun ini game elektronik, tapi “memaksa” kita untuk berdiri dan bergerak (menyeimbangkan diri, berlari, dsb) ketika bermain.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.