Retrogaming

Salah satu minat saya kalau lagi iseng adalah retrogaming. sederhananya main game console lama (baik itu di device asli maupun emulator). Ini cuma sekedar cerita, bukan posting teknis yang serius.

Saat ini saya punya beberapa Game Boy: Game Boy biasa, Game Boy Color, Game Boy Advance, dan juga clone Game Boy Color yang layarnya memiliki backlight (namanya GB Color). Saya juga punya Link Cable, kamera dan juga printer Gameboy. Koleksi saya ini tidak seberapa dibandingkan dengan koleksi banyak orang lain. Adik saya di Indonesia juga punya hobi yang sama, dan bahkan punya lapak online di Instagram yang menjual retro console. Hobinya membeli berbagai console bekas, lalu menukar isinya, mengganti komponennya atau mengakali supaya jalan lagi (adik saya ini dosen elektro).

Saat ini saya masih punya PS1 (dulu dibawa dari Indonesia karena mau meneruskan main Dance Dance Revolution), Gamecube (sudah dibongkar, belum dipasang lagi), Sega Pico, dan Wii. Sebenarnya pengen juga membeli berbagai console lama lain seperti NES/Nintendo Entertainment System dan Sega Mega Drive, tapi berbagai console ini memakan banyak space nanti tidak sempat dimainkan. Jadi di Wii saya install beberapa emulator (NES, Megadrive, GB) walau yang sering dimainkan hanya NES. Pernah juga mencoba RetroPie di Raspberry Pi tapi tidak terlalu saya pakai.

Game-game untuk konsol yang sangat lawas, seperti Game Boy dan NES sangat menarik bagi saya. Ukuran gamenya sangat kecil, waktu loadingnya sangat cepat dan biasanya tidak sulit memulai sebuah game. Sekarang berbagai device, termasuk handphone sudah sangat cepat, sehingga bisa mengemulasikan game-game lama dengan baik, dan bahkan punya fitur ekstra seperti bisa “rewind” game kalau kita membuat kesalahan. Misalnya kita salah menjatuhkan blok tetris, kita bisa “tarik” kembali ke atas

Kebanyakan game yang saya mainkan adalah game yang dulu saya mainkan waktu masih kecil dan game-game puzzle dan action puzzle. Bedanya action puzzle dan puzzle adalah: yang action puzzle harus berpikir cepat atau diburu waktu.

Banyak game di Game Boy  ternyata masih menarik bagi anak jaman sekarang. Jonathan tertarik memainkan berbagai mainan yang terbit tahun 80-2000an (game yang dibuat 10-30 tahun sebelum dia lahir). Padahal saya juga membiarkan Jonathan main berbagai game modern.

Beberapa game kurang seru dimainkan dengan touch screen, lebih enak dengan gamepad. Dulu pernah dapat controller Moga gratis dari RIM (pembuat Blackberry). Tapi tombolnya terlalu keras. Koneksi bluetoothnya juga sering gagal.

Tahun lalu saya membeli lagi controller. Kali ini merk China, Flydigi Wee. Ponsel bisa dijepit di tengah, serasa seperti PSP. Benda ini cukup bagus dan koneksi bluetoothnya reliable, sayangnya posisi A dan B tidak sama dengan game boy/NES, jadi perlu dimap ulang di emulator. Tempelan yang berbentuk paw (tapak) gampang lepas (yang kanan sudah hilang).

Dari sisi teknis, console lama cukup sederhana bisa dipelajari dan dipahami secara menyeluruh oleh satu orang. Saya senang membaca dokumen-dokumen mengenai arsitektur console lama dan mungkin suatu saat saya akan iseng membuat game untuk console lama. Sejauh coding yang saya lakukan cuma memperbaiki kode orang untuk mengekstrak gambar dari kamera game boy supaya bisa menggunakan Arduino UNO.

Selagi membahas game lama, sekalian saya membahas buku Armada dan Ready Player One, yang masih ada hubungannya dengan game. Beberapa hari yang lalu saya tiba-tiba dapat reward dari Google Play Books, diskon 90% untuk satu buku. Saya juga tidak tahu kenapa bisa dapet reward ini. Biasanya saya beli ebook dari Amazon (Kindle), tapi karena lagi diskon 90% perlu dimanfaatkan.

Kebanyakan buku yang diinginkan sudah punya. Scroll lagi terus di bagian top books, ketemu Ready Player One yang sudah saya baca beberapa tahun lalu. Teringat beberapa hari yang lalu saya melihat trailer filmnya yang akan dirilis Maret nanti. Saya klik pengarangnya (Ernest Cline), dan baru ingat kalau saya dulu mau beli buku Armada tapi sudah lupa. Jadi akhirnya saya beli buku Armada.

Saya sudah selesai baca bukunya. Ceritanya terlalu sederhana dan mudah ditebak. Seperti Ready Player One, banyak sekali pop culture reference ke dunia tahun 1980an, tapi banyak juga ke reference geek yang modern (sampai 2010an). Dan bagian ini yang menghibur.

Seperti Ready Player One, semua referensinya tidak dijelaskan. Pembaca perlu tahu sendiri.

“I just lost my gorram shields because I’m already out of frakkin’ power!”

“Dude,” Cruz said. “You shouldn’t mix swears from different universes.”

“Says who?” Diehl shot back. “Besides, what if BSG and Firefly took place in the same universe ? You ever consider that ?”

Bahkan apa BSG itu singkatan dari apa (Battlestar Galactica) tidak dijelaskan, tapi tentunya penggemar BSG dan Firefly langsung tahu.

Dulu sebagian orang menyangka Ready Player One akan sulit dijadikan film, karena terlalu banyak reference ke berbagai film/karakter dan akan sangat mahal membayar lisensi ke berbagai pihak, tapi ternyata banyak orang senang melisensikan intellectual property-nya karena Steven Spielberg.

Armada ini sepertinya akan lebih sulit lagi dijadikan film kecuali bisa dapat ijin dari para tokoh sains yang jadi tokoh dalam buku ini: Carl Sagan (alm), Stephen Hawking, Miciho Kaku dan Neil deGrasse Tyson, kecuali mereka mengganti tokohnya.

Sebenarnya ending cerita ini masih agak mengambang, semoga saja ada terusan novel ini yang lebih seru dan menjawab berbagai pertanyaan tersisa.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.