Bumbu Masakan Indonesia di Chiang Mai

Saya bukan orang yang ahli masak, biasanya hampir semua menu makanan Thai bisa saya makan baik-baik saja. Tapi adakalanya ada rasa ingin makan makanan Indonesia dan harus masak sendiri.

Kalau kami tinggal di Bangkok, mendapatkan makanan Indonesia lebih mudah, tinggal datang ke KBRI Bangkok. Dan karena di sana lebih banyak orang Indonesia, ya kemungkinannya bisa lebih sering dapat icip-icip makanan Indonesia. Dan karena ada direct flight dari Indonesia ke Bangkok, kemungkinan jasa titip bumbu bakal bisa dicari dengan mudah.

Secara umum, bumbu masakan di sini hampir semua sama dengan bumbu masakan di Indonesia. Tapi bertahun-tahun di Chiang Mai, ada beberapa bumbu yang emang ga pernah ditemukan di sini. Untuk sering-sering pulang demi bumbu ya ga mungkin. Penerbangan dari Indonesia ke sini juga belom ada yang langsung, dan komunitasnya juga ga sebanyak di Bangkok, jadi kesempatan titip bumbu makin sedikit. Beberapa bumbu juga ga bisa tahan lama di simpan di kulkas.

Kalau pulang ke Indonesia atau eyang atau oppung datang ke sini, beberapa bumbu yang kami perlu bawa dari Indonesia:

  • kemiri
  • daun salam
  • andaliman buat masak arsik
  • kencur kalau eyang mau bikin urap
  • gula jawa (disini gula jawanya warnanya ga cantik coklatnya)
  • bumbu pecal yang tinggal siram air panas (praktis buat saya ga usah giling-giling haha)

Beberapa bumbu tidak bisa tahan lama seperti andaliman, dan karena saya jarang masak arsik, biasanya kalaupun bawa cukup untuk 1 atau 2 kali masak saja. Kalau oppung yang datang ke sini sih bisa minta bawa agak banyak, karena yang masakin kan oppung hahaha.

Ada beberapa bumbu yang sebenarnya ada di Chiang Mai tapi menurut teman-teman citarasanya beda dengan yang ada di Indonesia, beberapa teman masih selalu bawa bumbu ini dari Indonesia:

  • Cabe Merah
  • Kecap ABC atau
  • Kecap Bango

Teman yang jago masak rendang di sini selalu stok cabe merah giling yang di bawa dari Indonesia. Katanya supaya bisa tahan lama bisa disimpan di freezer.  Cabe merah di Thailand pedasnya beda, dan kurang pas katanya untuk bikin rendang.

Untuk kemiri bisa disimpan agak lama di kulkas. Daun salam waktu itu sekitar 1 bulan di chiller lalu layu.  Belum coba kalau di freeze gimana, lain kali mungkin akan coba di freeze. Kalau kencur harusnya di tanam, tapi karena pada dasarnya saya jarang masak pake kencur jadi ga nanam deh.

Selain bumbu, ada bahan makanan yang di Indonesia merupakan makanan paling murah (lebih murah dari daging) tapi di sini jadi lebih mahal dari daging. Beberapa tahun pertama saya ga nemu tempe di sini sampai akhirnya saya belajar bikin sendiri. Beberapa tahun terakhir sudah bisa beli tempe walaupun itu versi yang dibekukan dan tentunya rasanya agak berbeda dengan tempe segar seperti yang kita beli di Indonesia.

Ngomongin makanan saya jadi lapar. Untungnya buat bikin bakwan alias bala-bala bumbunya tersedia di sini, jadi kalau lagi kangen makanan Indonesia, paling banter masak bala-bala aja deh.

Oh ya, bulan lalu ada restoran Indonesia baru buka di Chiang Mai. Saya belum cobain, kata teman-teman yang udah ke sana sih rasanya cukup original. Pemiliknya bukan orang Indonesia, tapi chefnya orang Indonesia katanya. Nanti kalau saya udah ke sana saya tuliskan reviewnya di sini.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.