Pecah(kan) Kacanya

Ceritanya hari ini kami ajak anak-anak ke park yang kecil untuk bermain sebentar. Mau ke Rajapreuk takut kehujanan karena beberapa hari ini Chiang Mai hujan lagi (kirain udah abis musim hujannya). Setelah puas bermain-main di playground, Joshua ingat kalau di situ dia pernah makan ice cream sebelum pulang. Jadilah dia belok ke coffee shop dan saya pikir ya sekalian saya juga belum minum kopi.

Meja tempat kami duduk, meja kayu dengan alas kaca diatasnya. Dari sejak awal kacanya sering bergeser karena ga nempel ke mejanya. Karena Joshua bersandar ke meja, kacanya selalu bergeser dan berkali-kali saya geser kembali. Kami sudah memutuskan akan pulang karena ice cream Joshua sudah habis dan rainbow crepe pilihan Jonathan juga sudah habis. Tiba-tiba “prak”, Joshua menyebabkan kacanya terbentuk ke dinding dan kacanya pun pecah.

Sebenarnya bisa saja kami kabur pulang karena mbak-mbak yang jaga coffeeshopnya ga lihat. Tapi saya tahu, itu ga benar.  Saya panggil mbak-mbaknya dan kasih tau, “Mbak maaf, mejanya kacanya pecah”. Mbaknya kaget, dan nanya: “Siapa yang mecahin?” Saya jawab, “Anak saya yang pecahin. Dia memang agak bersandar dan kacanya geser terus, dan tau-tau kejeduk ke dinding dan pecah. Kalau saya perlu ganti, berapa yang harus saya bayar?” Mbaknya langsung sibuk nelpon pemilih coffeeshopnya. Dia juga wajahnya cemas dan lega campur aduk sepertinya. Cemas kaca pecah, lega karena yang mecahin customernya ga kabur.

Setelah pemiliknya tahu, si mbak penjaga bilang sambil merasa ga enak hati: “Maaf, kalau bayar 500 baht gimana? jadi kita setengah-setengah bayarnya, karena kacanya perlu dipesan dulu untuk ukuran ini”. Mungkin dia ga enak hati karena takut saya menolak bayar, karena 500 baht itu cukup mahal. Saya ga tahu harga kaca meja, sebenernya bisa saja saya googling dulu nyari tahu harga, tapi saya pikir ya sudahlah, memang salah kami juga udah tahu mejanya bergeser mulu kacanya tapi masih duduk disitu juga, padahal banyak meja lain yang kosong. Saya bilang: “Ok mbak, ini 500 bahtnya, saya juga minta maaf anak saya pecahkan kaca mejanya”. Setelah itu saya keluar. Tadi supaya ga rusuh waktu ngasih tau mbaknya, anak-anak dan bapaknya udah duluan saya suruh keluar dari toko, dan mereka saya suruh duluan ke mobil waktu tau mbaknya masih harus laporan dulu ke pemilik coffee shop.

Waktu saya jalan keluar, baru aja mau sampai ke mobil, eh tau-tau si mbak manggil-manggil dari pintu keluar satunya lagi. Saya pikir, apa 500 baht kurang ya? Tapi ternyata saya salah. Mbaknya bilang: “Ternyata ada kaca cadangan untuk meja ukuran itu, jadi duitnya saya kembalikan saja”. Wah, saya jadi speechleess. Padahal bisa saja mbaknya mengantongi duit 500 bahtnya kan, eh dia baik hati malah berusaha mengejar saya. Setelah saya menerima duit saya kembali, saya meminta maaf sekali lagi karena anak saya mecahin kaca meja dan berterimakasih karena saya ga harus ganti kaca yang pecah.

Bertahun-tahun tinggal di Chiang Mai, saya semakin kagum dengan kebaikan dan kejujuran orang-orang di sini. Pegawai di coffee shop yang kemungkinan gajinya ga seberapa, pastilah kalau dapat 500 baht itu bisa buat makan beberapa hari. Tapi dia memilih untuk mengembalikan ke customer, karena kemungkinan itulah yang diperintahkan sama si pemilik toko. Pemilik tokonya juga ga merasa rugi memakai kaca cadangan, padahal kan bisa saja dia bilang oke sekarang pake kaca cadangan, nanti duit yang 500 baht dipakai untuk menyiapkan cadangan berikut siapa tahu pecah lagi tapi ga ketahuan siapa yang mecahin.

Pelajaran hari ini juga kami pakai ke Jonathan untuk mengajarkan kalau kita salah harus mau mengakuinya. Kita perlu minta maaf dan bertanya bagaimana memperbaiki kesalahan kita itu. Kadang mungkin kita harus bayar, tapi bisa jadi setelah kita akui kita ga harus bayar. Jadi ingat dengan lagu Daniel Tiger’s Neighborhood. “Saying I’m sorry is the first step, then how can I help?“.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.