Chiang Dao Trip part 2

Tulisan kali ini melanjutkan cerita liburan kami ke Chiang Dao bersama teman-teman komunitas Indonesia di Chiang Mai. Setelah hari sebelumnya kami menjelajah goa Chiang Dao yang lumayan bikin kaki pegel, pagi hari kami bangun agak santai. Sebenarnya ada ajakan untuk melihat lautan kabut jam 5.30 pagi, tapi rasanya tak sanggup untuk bangun sepagi itu hehehe. 

Ada keanehan dengan ayam jago di Chiang Dao, mereka mulai berkokok dari sejak jam 1 pagi. Untungnya anak-anak ga jadi terganggu dari tidurnya dan saya juga tetap bisa tidur dengan nyenyak. Udara menjelang pagi di sana cukup dingin, tadi pagi kami bangun udaranya masih sekitar 20 derajat celcius. 

Karena rombongan tidak ada rencana pergi pagi-pagi, kami memutuskan sarapan di penginapan saja. Kami membawa mie instan cup, ada juga yang bawa roti dan bisa juga membeli sereal di penginapan. Selesai sarapan, anak-anak melakukan eksplorasi disekitar penginapan. Di halaman penginapan kami ditanami sayur-sayuran dan juga mereka mempunyai sebuah ruangan hidroponik.

Di sekitar bungalow ada banyak tanaman bunga dan anak-anak menciptakan permainan sendiri dengan mengamati jumlah kelopak bunga. Saya sempat dengar salah seorang berimajinasi begini: kalau kamu menemukan bunga dengan 4 kelopak, kamu bakal dapat keberuntungan. Lalu mereka juga punya teori mengenai besar kelopak bunga ataupun warnanya. Mereka sangat serius dengan permainan detektif memeriksa kelopak bunga dan mencari petunjuk untuk misteri yang saya kurang tau apa misterinya hahaha.

Sekitar jam 10.30 pagi, kami semua sudah siap-siap cek out dari penginapan menuju lokasi adventure berikutnya. Ada beberapa pilihan yang disarankan oleh Google Trip, salah satunya adalah melihat Wat Tham Pha Plong. Temple ini lokasinya tidak jauh dari penginapan, dan dari reviewnya mendaki 500 lebih anak tangga dengan reward pemandangan yang indah. 

Rasa pegal hasil eksplorasi goa hari sebelumnya masih terasa di kaki bagian atas, tapi ya masa sih 500 tangga saja ga bisa. Maka kami memutuskan ayolah kita naik ke atas, toh undakannya kecil-kecil, pastilah ga seberapa dibandingkan eksplorasi goa kemarin. Dan ya, setelah 200 tangga pertama, saya sebenarnya hampir menyerah hahaha. 

Di sepanjang jalan, ada banyak tulisan-tulisan yang menyejukkan dan menyemangati. Di peristirahatan setelah tangga ke 200, disediakan balsem kalau ada yang membutuhkan. Setelah tangga ke 200 itu ada pemberitahuan dan penyemangat kalau 300 tangga berikutnya akan lebih mudah. Dan memang benar, karena setelah 200 tangga non stop naik, ada beberapa tangga menurun sebelum akhirnya naik dan naik lagi. 

Di tangga entah ke berapa, ada peristirahatan lagi, kali ini Templenya sudah kelihatan. Lagi-lagi tergoda untuk berhenti saja sampai situ. Tapi Joshua masih semangat bilang, up mama, up papa. Jonathan dan beberapa anak lain juga kayak ga punya rasa capek, mereka sudah duluan agak jauh di depan dengan salah satu teman kami.

Setelah sampai di atas, rasanya senang sekali kami tidak menyerah di tengah jalan. Saya perhatikan, sebelum sampai ke puncak, mereka cukup memikirkan para pengunjung, sekitar beberapa puluh tangga sebelum puncak, tersedia air minum gratis, dan juga ada toilet untuk umum. Saya kagum dengan cara mereka merawat tempat itu, padahal untuk masuk ke tempat itu tidak dipungut biaya sama sekali, mereka hanya membuat kotak donasi untuk siapa yang ingin donasi saja.

Setelah menghabiskan beberapa menit di daerah temple untuk beristirahat dan foto-foto, kami memutuskan untuk turun. Tentunya, perjalanan turun tidak seberapa dibandingkan perjalanan naik, walaupun kaki rasanya mulai sakit lagi. Untungnya ada pegangan di sepanjang tangga. Joshua juga cukup bisa jalan sendiri, dan tidak seperti waktu di goa yang minta digendong terus.

Sampai di bawah, waktu sudah menujukkan pukul 12, kami memutuskan untuk makan di sekitar situ juga, supaya setelah itu bisa langsung pulang ke Chiang Mai. Tentunya semua sudah kehabisan tenaga untuk eksplorasi berikutnya. Restoran yang kami pilih, merupakan restoran dari penginapan di sekitar goa di Chiang Dao juga. Suasana restoran The Nest 2 juga cukup nyaman. Selesai makan, anak-anak masih bisa bermain di sebuah pondokan yang menyediakan mainan untuk anak-anak. Mungkin lain kali ke Chiang Dao, bisa juga dicoba untuk menginap di The Nest.

Setelah puas makan dan bermain, kami pun kembali ke Chiang Mai. Kali ini, karena tidak ada rencana untuk berhenti mengunjungi tempat tertentu, kami menyetir santai saja. Berangkat dari The Nest 2 sekitar jam 2.30 dan tiba di rumah jam 4 lewat dikit (hampir persis 90 menit). Weekend yang menyenangkan walaupun agak pegel-pegel hehehe. Mungkin lain kali kalau ke Chiang Dao bisa benar-benar untuk relaks dan bukan untuk adventure ataupun eksplorasi yang menyebabkan badan kaget karena biasanya ga rutin olahraga tiba-tiba diajak eksplorasi goa dan naik 500 anak tangga hehehe. 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.