Perjalanan sebuah Stroller

Stroller ini kami beli second hand dari orang yang anaknya sudah tidak mau duduk di stroller lagi. Menurut ceritanya mereka memiliki stroller ini selama 6 tahun dan dipakai oleh ke-2 anaknya. Kami membelinya ketika Joshua mulai bisa duduk, sebelum dia setahun sampai akhirnya beberapa bulan ini dia tidak mau lagi duduk si stroller karena sudah kesempitan. Stroller jaman Jonathan terlalu ringkih untuk membawa Joshua yang sejak kecil beratnya selalu diatas grafik anak seumurnya. Stroller bekas Jonathan kami berikan ke tukang pijet yang cucunya waktu itu sudah bisa duduk.

Kalau dipikir-pikir, stroller ini sudah di bawa ke banyak tempat. Keluarga yang menjual stroller ini ke kami bukan asli Chiang Mai, dan sepertinya dalam 6 tahun pastilah sudah banyak beberapa perjalanan dengan stroller ini. Kami saja yang memakainya sekitar 3 tahun, sudah membawa ke Indonesia beberapa kali. Yang jelas sudah dibawa ke Depok maupun ke Medan.

Untuk stroller berumur 9 tahun, benda ini masih sangat bagus dan kuat. Apalagi waktu awal kami membelinya, Jonathan kadang-kadang masih minta duduk di stroller juga (Joshua saya gendong). Beban yang dibawa stroller ini juga lumayan berat, Joshua saja kami bawa sampai dia beratnya 20-an kg.

Selain stroller, banyak barang-barang kebutuhan bayi yang kami beli second hand. Crib, car seat, baby gate juga contoh barang bayi yang bisa beli secondhand dan dijual lagi kalau sudah tidak butuh. Dipikir-pikir umur barang-barang bayi itu bervariasi, harganya juga kalau beli baru bisa jauh lebih mahal daripada membeli second hand. Kadang saya kepikiran kira-kira crib yang kami beli second dan sudah kami jual lagi, sekarang ini sudah berapa kali berpindah tangan.

Membeli benda bayi baru tentunya harganya lumayan mahal. Contohnya stroller ini saja kalau di cek di lazada, karena barang bukan asli Thailand, harganya masih diatas 10ribu baht. Waktu kami beli, harganya tinggal 2500 baht, dan sekarang ini masih bisa dipasarkan dengan harga 1000 baht. Mungkin pemilik berikutnya akan menjadi pemilik terakhir sebelum akhirnya rusak, kecuali baru sebentar pakai anaknya udah ga mau duduk di stroller lagi, mungkin masih bisa dijual kisaran 800 – 500 baht atau didonasikan ke orang lain.

Di kota ini, banyak orang asing yang kadang sekedar travel untuk beberapa bulan, ada juga yang tinggal bertahun-tahun tapi setiap tahunnya pulang ke negerinya, barang bayi seperti stroller, car seat, gendongan, mainan dan buku biasanya mereka bawa dari negeri asal. Bisa jadi mereka dihadiahi atau ya beberapa benda lebih murah di Amerika atau Eropa, dan mereka ga perlu kena biaya kirim ataupun biaya impor. Kalau beruntung, kadang bisa dapat barang bayi secondhand yang masih sangat bagus dengan harga kurang dari harga beli.

Anyway, tadinya mau cerita soal stroller tapi jadi cerita barang bayi pada umumnya hehehe. Tapi karena stroller yang biasanya dibawa jalan-jalan, kemungkinannya ya si stroller merupakan barang bayi yang paling banyak dibawa-bawa selain tas popok atau gendongan untuk yang prefer gendongan.

Kami lebih suka membawa stroller, biasanya bisa untuk membawa barang-barang ekstra digantung di stroller nya. Kalau tempat tujuannya tidak stroller friendly misalnya banyak tangga naik turun, bawa anak di stroller bisa bikin ribet juga. Stroller ini paling sering kami bawa ke mall, dulu Joshua mau duduk tenang dan di lepas sesekali waktu kami menunggu Jonathan latihan taekwondo. Sekarang ini stroller nya sudah terasa sempit untuk Joshua, dia lebih suka jalan atau lari menentukan tujuan sendiri. Waktunya menjual stroller untuk digunakan keluarga yang membutuhkannya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.