Produk Makanan Homemade atau Pabrikan?

Belakangan ini banyak orang mulai aware dengan kesehatan. Salah satu faktor yang diperhatikan selain berolahraga ya makanan yang dikonsumsi. Banyak yang klaim produk makanan homemade lebih sehat dibanding pabrikan. Kadang-kadang produk homemade dijual agak mahal dibandingkan produk pabrikan dengan alasan karena bukan diproduksi secara massal maka harga produksinya juga lebih mahal, bahan bakunya juga pilihan. Tapi ada juga beberapa produk tanpa brand yang malah jadi lebih murah. Alasannya? karena mereka ga harus bayar untuk ijin produksi ataupun marketing produk. Kadangkala orang langsung cepat bikin kesimpulan homemade pasti lebih baik. Benar ga sih begitu?

Di group FB Expat yang tinggal di Chiang Mai, kadang ada juga iklan jualan madu yang katanya asli 100 persen jaminan mutu, ada juga produk roti/kue, yoghurt, susu, kombucha, pressed cold juice, energy bar, dan terakhir saya lihat ada yang jual bacon dengan harga super murah. Saya sendiri ga selalu percaya dengan produk homemade pasti lebih baik, kecuali saya tau siapa yang memproduksinya dan atau memang sudah cukup banyak reviewnya tanpa ada review negatif.

Saya lebih memilih membeli madu produksi pabrik daripada yang katanya asli tapi ga ada brand, karena menurut saya, dengan adanya label pabrik dan ijin produksi, mereka pasti sudah jelas mempunyai  prosedur untuk pemeriksaan kualitas setiap botol produksinya. Membeli produk madu tanpa label itu agak riskan karena saya gak tahu apakah yang jualan menjaga higienitas peralatannya ketika mengumpulkan madunya.

Kebanyakan produk saya lebih percaya membeli produk pabrikan yang jelas ada tertera kapan expiry datenya dan mempunyai ijin produksi. Hanya untuk produk roti/kue yang akan dimakan segera, saya percaya untuk beli produk homemade atau produk bakery lokal.

Bagaimana dengan kopi? Di sini ada banyak sekali yang menjual biji kopi dengan klaim organik. Biasanya saya membeli kopi yang sudah jelas juga brandnya. Kalau ada coffee shop yang sudah cukup sering saya kunjungi dan rasanya cocok dilidah, baru saya pertimbangkan untuk membeli biji kopinya dari mereka dan biasanya dalam jumlah sedikit sedikit. Saya juga memilih kopi kemasan pabrik biasanya berdasarkan coffeeshop yang cukup besar dan punya nama secara lokal.

Homemade pasti lebih sehat? ya kalau homemade yang dimaksud kita bikin sendiri dan kita mengerti benar bagaimana cara mengolah bahan mentah. Dengan memasak sendiri, pastilah kita memperhatikan kebersihan dari peralatan masak dan area di mana kita masak. Homemade bisa ga sehat juga kalau kita ga tau cara mengolah daging dengan benar misalnya.

Produk kemasan pasti tidak sehat? Tidak selalu begitu. Contohnya, produk UHT itu bisa awet karena proses pengemasan dengan temperature tinggi dan bukan karena bahan pengawet. Saya lebih percaya minum susu yang sudah dipasteurisasi ataupun UHT daripada minum susu yang katanya susu murni baru diperah dari sapinya. 

Makanan segar/mentah pasti lebih sehat daripada makanan yang sudah diolah beberapa tahap? Gak selalu juga, membuat tempe ataupun yoghurt itu butuh diolah beberapa tahap. Tempe dan yoghurt itu prosesnya membutuhkan waktu lebih dari 24 jam. Saya lebih memilih makan tempe dan yoghurt daripada makan telur mata sapi yang tengahnya mentah. 

Tempeh Homemade

Beberapa waktu lalu, saya lihat ada yang jual bacon 1 kilogram harganya ga sampai 100 baht, padahal biasanya saya beli bacon 500 gram saja harganya hampir 300 baht. Tapi saya urung membelinya karena melihat fotonya seperti sisa-sisa potongan bacon yang dijual dipabrik. Agak bertanya-tanya juga, itu beneran bacon? hehehe.

Pada akhirnya, semua kembali ke pilihan masing-masing sih. Hanya saja perlu teliti sebelum membeli, jangan langsung terima asumsi homemade pasti lebih sehat. Karena dibuat di rumah sendiripun kalau cara pengolahan bahan makanannya salah, bisa jadi tidak sehat juga.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.