Kota Mana di Indonesia?

Awal datang ke Chiang Mai kami ga kepikiran bakal tinggal lama dan betah di sini. Waktu itu kontrak kerja Joe diawali dengan 4 tahun, dan karena kami baru menikah dan belum punya anak, ya saya bilang sama Joe kalau kita tinggal di sini sampai kalau anak-anak masuk SD. Waktu itu saya belum tahu apa itu homeschooling dan tidak terpikir bakal betah di kota yang bahasanya susah dibaca dan susah diucapkan.

Saya gak tahu, kapan persisnya kami akhirnya merasa betah di Chiang Mai dan malah mulai prefer stay di sini daripada pulang. Masalahnya, kalau ditanya: kapan pulang dalam arti kapan kembali ke Indonesia? saya sekarang tergantung pekerjaan Joe saja. Sekarang ini kontrak kerja Joe sifatnya permanen alias selama masih mau kerja di perusahaan di sini. Tapi jawaban yang kami belum bisa tentukan adalah: kalau pulang ke Indonesia bakal tinggal di mana?

Pertimbangan pertama: Jakarta. Saya ga pernah tinggal di Jakarta. Mertua rumahnya di Jakarta pinggiran, tapi ya kalau tinggal di sana kemungkinan stressnya bakal ga jauh beda dengan tinggal di Jakarta. Stress jalanan macet tentunya. Saya ga tahu, kalau tinggal di sekitar Jakarta saya akan berani nyetir atau nggak hehehe. Kemungkinan kalau terpaksa ya bakal nyetir juga kalau emang punya mobil. Kalau kata Joe, tenang aja, sekarang banyak Grab dan GoCar, kita pakai jasa taksi online aja, jadi ga harus stress nyetir di jalan.

Positifnya kalau tinggal di Jakarta, dekat dengan keluarga Joe. Gampang kalau berkhayal mau sering jalan-jalan keliling dunia urusan visa pastinya diurus di Jakarta dan kebanyakan penerbangan berangkat dari Jakarta. Karena kemungkinan besar kami akan memutuskan homeschooling, kemungkinan masalah antar jemput anak sekolah ga akan jadi masalah. Sekarang ini praktisi homeschooling juga semakin banyak di Indonesia, kemungkinan mencari kelompok homeschool gak akan jadi masalah. Di Jakarta banyak sepupu yang hampir seumuran dengan JoJo, jadi pasti ada teman bermain tetap paling nggak sekali seminggu.

Pertimbangan ke-2: Bandung. Sebelum kami tinggal di Chiang Mai, kami berdua lama tinggal di Bandung. Tapi ini ada keraguan, karena terakhir kali kami mengunjungi Bandung, kotanya sudah berbeda sekali dengan yang kami ingat. Jalanannya juga sudah jauh lebih macet. Plusnya, kalau pindah ke Bandung, biarpun macet pastinya ga akan semacet Jakarta. Kalau misalnya, ini misalnya, Joe pengen kembali terlibat mengabdikan diri mendidik mahasiswa menjadi programmer yang bener, ya bisa apply lagi buat jadi dosen heheh.

Pertimbangan lain: Medan, Laguboti, Solo, Batam, Bali. Sebenernya gak gitu pengen pindah ke Medan. Saya meninggalkan kota Medan sudah puluhan tahun lalu. Rute angkot saja saya sudah lupa semua, padahal dulu setiap hari keluar masuk sambu ehhehehe. Salah satu yang dipertimbangkan juga ke Desa Sitoluama, terlibat dengan DEL yang dulu pernah terlibat sebentar. Apalagi sekarang kan kabarnya bandara udara Silangit juga sudah selalu ada penerbangan setiap harinya ke Jakarta.

Kota Solo/Sukoharjo juga sempat jadi pertimbangan. Dengar-dengar kotanya cukup nyaman karena kecil dan ga terlalu crowded, tapi sejak dulu di pegang Jokowi, kotanya jadi cukup maju. Kota Solo juga dekat dengan kampung halaman Joe. Masalahnya kalau tinggal di Solo atau Sukoharjo, nanti saya harus belajar bahasa Jawa dong, padahal bahasa Batak aja saya udah menyerah ga pengen belajar hahahaha.

Sempat mempertimbangkan Batam juga. Konon Batam karena dekat dengan Singapur, banyak hal juga sudah cukup maju. Tapi sejauh ini kami gak tahu apa-apa soal Batam karena belum pernah ke sana. Kepikiran juga Bali, kemaren liat ada yang bilang kalau Bali itu kota untuk digital nomad juga seperti Chiang Mai. Tapi ya baru pernah sekali ke Bali, jadi ga punya kesan mendalam juga. Kemungkinannya memang bakal mirip Chiang Mai, banyak expat, banyak kuil, banyak tempat pijat dan alamnya indah yang merupakan tujuan wisata.

Sampai sekarang, kami tetap gak merasa klik dengan pertimbangan-pertimbangan yang ada. Rasanya tinggal di Chiang Mai masih jauh lebih nyaman. Kota yang santai dengan akses internet cepat. Gak banyak mall, banyak coffee shop yang rasanya lebih enak daripada Starbuck dengan harga yang lebih murah dari Starbuck. Banyak komunitas homeschoolers, secara umum ga terlalu macet (sekarang ini macet cuma kalau jam keluar masuk sekolah).

Jadi karena belum bisa memutuskan mau tinggal di mana kalau pulang ke Indonesia, dan ya di sini pekerjaan juga masih ada, ya kami memutuskan untuk tinggal di sini selama kami punya ijin tinggal. Nantinya kalau memang tiba saatnya untuk memutuskan pulang ke Indonesia, semoga sudah menemukan alasan yang kuat untuk memilih kota yang akan menjadi tujuan berikutnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.