Tentang Mendidik Emosi Anak

Dinamika setiap keluarga itu berbeda. Dalam setiap keluarga, semua orangtua yang saya kenal berusaha memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Seperti kebanyakan orangtua, kami juga terus menerus belajar bagaimana mendidik anak supaya nantinya mereka menjadi manusia yang berhasil. Berhasil di sini bukan berarti nilai sekolah bagus dan atau jadi orang berkecukupan secara materi, tapi tentunya juga berdoa supaya mereka menjadi orang yang punya pribadi dan karakter yang baik.

Kemarin dapat kesempatan ngobrol-ngobrol dengan orang yang sudah berpengalaman di bidang mendidik anak. Mendidik di sini bukan hanya bidang akademik, tapi juga termasuk bagian karakter dan pribadi (mental health). Beberapa hal supaya gak lupa akan saya tuliskan di sini.

Sebagai orangtua, kita sering membaca buku mengenai topik parenting dan membesarkan anak. Beberapa hal sebenarnya isinya sama saja, tapi gak semuanya juga bisa diterapkan karena ya semuanya kembali ke situasi kita juga. Dari berbagai hal yang mungkin berhasil diterapkan di satu keluarga, belum tentu berhasil di keluarga lain. Tapi yang terpenting itu kita punya garis besar dan terus belajar mengenali anggota keluarga kita.

Hubungan orangtua menjadi contoh pertama untuk anak

Hal pertama yang diingatkan untuk kita orangtua, kita harus mengenali pasangan kita dan tidak pelit dalam mengucapkan kata-kata positif seperti terimakasih, dan juga menyatakan rasa sayang kita. Menyatakan rasa sayang ini bisa dengan gesture, ataupun dengan kata-kata. Ucapkan I love you sesering mungkin dalam sehari, dan kalau bisa secara spesifik sebutkan hal apa yang membuat kita merasa perlu memberi apresiasi. Kasih sayang orangtua satu sama lain akan diperhatikan oleh anak, dan karena anak-anak itu mesin fotokopi dan memory pertamanya adalah memory emosi, mereka juga akan menjadi anak yang penuh kasih terhadap sesama.

Memory pertama anak berupa emosi/perasaan

Untuk anak sampai umur 5 tahun, mereka mengerti sekitarnya berdasarkan apa yang mereka rasakan. Mereka merasa senang, merasa diperhatikan, dan mereka akan mengingat apa yang mereka lakukan ketika mendapatkan perasaan itu. Hal ini contohnya adalah, kalau kita punya lebih dari 1 anak, ketika anak pertama merasa orangtua lebih memperhatikan anak yang kecil, si anak yang besar ini akan meniru kelakuan si adik karena berpikir itulah caranya untuk mendapatkan perhatian orangtuanya. Bahkan kadang-kadang, misalnya kita memarahi anak yang besar karena “nakal” ke adiknya, kemungkinan anak yang besar itu mengulangi kenakalannya ada, karena mereka merasa dimarahi itupun bentuk diperhatikan.

Berikan waktu khusus untuk anak secara rutin

Nah tips yang diberikan untuk mengatasi masalah begini jawabannya sudah jelas, harus ada waktu khusus untuk si anak besar tanpa kehadiran si adik. Berikan pengertian dalam bentuk pengalaman yang meberikan emosi positif ke si anak tersebut. Kalau sudah cukup besar, bisa sambil diberikan pengertian penjelasan mengenai posisi anak tersebut sebagai anak yang lebih besar dan berikan tanggungjawab sesuai dengan umurnya.

Teorinya gampang ya memberikan waktu khusus buat yang besar, tapi prakteknya kadang sulit apalagi misalnya kalau adiknya masih menyusui dan nempel terus sama ibunya. Nah di sini peran bapaknya diperlukan untuk lebih banyak memberikan perhatian buat si sulung. Waktu khusus yang diberikan ini tidak harus keluar rumah atau memakan waktu berjam-jam, bisa jadi setiap harinya 10 menit sebelum tidur, atau dipagi hari ajak anak bermain bersama. Kalau ada waktu libur, bisa juga sekali sebulan pergi berdua anak besar saja.

Pilih sekolah yang dekat dari rumah

Salah satu hal yang di diskusikan masalah memilih sekolah. Kita sebagai orang tua sering memilih sekolah yang kita anggap baik, tapi akhirnya jauh dari rumah. Disarankan, lebih baik memilih sekolah lokal yang dekat dari rumah, daripada memilih sekolah yang travel time nya saja pulang pergi sampai 1 jam lebih. Waktu untuk antar jemput anak itu bikin kita jadi orangtua lelah dan akhirnya semakin malas untuk berinteraksi dengan anak karena sudah lelah di jalan. Untuk anak yang masih usia muda, yang dibutuhkan dari sekolah itu adalah interaksi sosialnya. Misalnya sekolah dekat rumah ini dinilai kurang bagus akademiknya, tidak jadi masalah, karena akademik itu bisa selalu kita yang lengkapi di rumah.

Anak perlu punya waktu dan teman bermain rutin

Untuk anak homeschooling, masalahnya beda lagi. Masalah yang timbul biasanya karena anak tidak punya banyak kesempatan untuk interaksi dengan orang lain, akhirnya si anak akan terus menerus “mengetes” orangtuanya. Karena itu untuk anak homeschool, ada baiknya punya rutin untuk ketemu dengan anak-anak lain, dan lebih baik lagi kalau anak tersebut orang yang sama dan bisa menjalin persahabatan yang baik.

Untuk kegiatan di rumah, anak bisa diberi kesempatan bermain yang misalnya susah merapihkannya atau kotor secara rutin, misalnya sekali seminggu. Sebenarnya lebih baik kalau bisa tiap hari, tapi ya minimal ada jadwal sekali seminggu. Hal ini kebetulan baru kami terapkan juga, paling sedikit sekali seminggu anak-anak main di bak pasir dan main air. Lalu sekali seminggu di bawa ke tempat bermain yang tetap. Sekali seminggu anak di bawa jalan ke taman. Dan paling tidak sekali seminggu main ke mall hehehe.

Expose anak dengan banyak hal, beri penjelasan bila bertentangan dengan nilai dalam keluarga kita

Ada yang bertanya bagaimana menyikapi kalau teman anak di sekolah ada yang kelakuannya kurang baik, apakah kita perlu melarang anak kita berinteraksi dengan anak tersebut? Nah katanya anak itu perlu di ekspose dengan banyak hal, bukan cuma hal positif saja. Tidak apa-apa berteman dengan anak yang kita nilai kurang baik. Di situ anak diajarkan kalau dalam hidup ini tidak semua orang baik, tentunya kita tahu apa yang baik karena ada yang tidak baik. Lalu kita perlu menanamkan nilai apa yang baik dalam keluarga kita dan kenapa kita tidak melakukan hal yang menurut kita tidak baik itu.

Fase penting dalam mendidik emosi anak

Satu hal yang saya baru belajar, ternyata ada 3 fase yang penting dalam mendidik emosi anak: sampai dengan 5 tahun, anak belajar mengenai value keluarga kita berdasarkan apa yang kita contohkan. Anak akan ingat bagaimana perasaan dia terhadap sebuah hal yang terjadi dan memahami berdasarkan perasaan positif atau negatifnya.

Fase berikutnya 5 – 10 tahun, anak mulai bisa diberikan pengertian dengan lebih banyak penjelasan. Akan tetapi, mereka belum benar-benar bisa mengikuti 100 persen untuk melakukan apa yang dia tahu baik dan tidak baik. Di sini kita perlu mereinforce value yang sudah kita ajarkan di usia muda. Kalaupun memberi pilihan ke anak, haruslah ada batasan. Mungkin di sini fase diberi kebebasan dalam batasan yang jelas. Ekspektasi terhadap anak harus jelas, karena anak belum bisa memutuskan sendiri.

Fase berikutnya 10-15 tahun, anak mulai dilatih untuk lebih bertanggung jawab dengan setiap tindakannya. Karena anak setelah 15 tahun bisa jadi tidak tinggal dengan orang tua lagi, maka anak perlu mengerti kalau dia perlu bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri (misalnya bangun jam berapa kalau mau ke sekolah jam berapa).

Haduh tulisannya agak random ya, mudah-mudahan yang baca bisa mengerti dan siapa tahu ada yang mau share juga mengenai masalah mendidik anak ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.