Cerita Jaman Kos

Sebelum tidur, Jonathan suka meminta diceritakan mengenai suatu hal dari masa lalu. Setelah mendapatkan cerita mengenai masa kuliah papanya dan mengenal istilah rumah kos, dia sekarang pengen dengar cerita dari saya juga. Dipikir-pikir, kalau dulu orangtua saya bercerita soal masa dulu waktu mereka sekolah, saya sering ga terbayang kira-kira apa yang akan saya ceritakan ke anak cucu saya. Ternyata dari sejak jaman masih kuliah sampai sekarang, sudah banyak hal-hal yang berbeda sekali dengan yang dialami Jonathan sekarang.

Saya ingat, waktu kost pertama dan ke-4, dapurnya itu gak ada yang namanya kompor gas kayak jaman sekarang. Yang disediakan dari tempat kost hanya kompor minyak tanah pakai sumbu, yang untuk meyalakannya saja butuh waktu dan kalau gak hati-hati pancinya gampang gosong.

Waktu kost pertama, saya dibelikan mama saya kompor gas kecil yang tabungnya bisa dibeli di minimarket, tapi tergolong mahal kalau sering-sering dipakai. Kompor itu dipakai untuk masak indomie saja kalau saya pingin sarapan Indomie. Saya lupa kompor itu akhirnya saya bawa ke Jakarta ke kakak saya atau ke Medan. Kompor jenis itu masih ada sampai sekarang dan biasanya digunakan kalau orang-orang mau kemping saja.

Kompor minyak dari tempat kost disediakan minyaknya sama ibu kost dan dibersihkan sama pembantunya ibu kost. Kami menggunakannya biasanya buat masak air kalau mau mandi air hangat. Pernah suatu kali pulang ospek penuh lumpur, saya harus menunggu air agak panas dulu sebelum mandi padahal itu sudah jam 2 dinihari. Untuk langsung tidur tanpa membersihkan badan bukanlah suatu pilihan. Nah tapi saya ingat juga, besoknya saya bablas ketiduran karena udah enaklah ya badan bersih tidur berselimut hangat. Alarm jam berbentuk ayam yang berkokok tak mampu membangunkan saya walaupun terletak di sebelah saya hahaha. Saya kebangun jam 10 pagi!, dan teman-teman kost saya pada protes karena si alarm ayam berkokok selama 30 menit dan saya tak bangun juga hahaha, mereka pikir saya gak di rumah dan cuma lupa mematikan setelan alarm.

Saya pindah kost beberapa kali di Bandung, saya ingat di kost ke-2 dan ke-3 kami punya kompor gas yang isi tabung gasnya kami beli secara patungan. Tapi walau udah ada kompor gas, ya tetap aja ya, kebanyakan dipakai buat masak indomie atau buat mandi air hangat haahaha. Kost-kostan ke-3 kembali lagi pakai kompor minyak tanah. Saya tadi sampai harus mencari video di YouTube untuk menjelaskan ke Jonathan soal bagaimana menyalakan kompor minyak tanah dan bedanya dengan kompor yang digunakan sekarang.

Jadi setelah bercerita bahwa dulu mama gak semudah sekarang buat menyalakan kompor, saya juga bercerita kalau mesin pemanas air itu bukan hal yang selalu ada di Indonesia seperti di sini. Eh tau-tau dia bergeser pertanyaan ke mesin cuci. Kapan mama pertama kali punya mesin cuci?

Jadilah teringat lagi, kalau dulu itu, walaupun waktu tinggal di rumah orangtua saya ada mesin cuci, tapi di kost-kostan itu tidak ada yang namanya mesin cuci. Kalau masih ada uang saku lebih, paling bayar ekstra untuk mencari mbak yang mencucikan dan menyetrika baju. Kadang-kadang di tempat kost ada yang membatasi sehari hanya boleh mencuci 2 potong pakaian. Ada juga yang bebas berapa banyak tapi bayarnya langsung ke mbaknya. Tapi ada juga tempat kost yang gak ada mbaknya. Jadi ada masa di mana saya mencuci baju sendiri manual!. Untungnya sejak jaman kuliah saya gak punya banyak baju berbahan jeans yang berat-berat, jadi urusan mencuci tergolong enteng.

Saya tahu di banyak tempat mencuci manual itu masih merupakan preferensi banyak orang, tapi kalau sekarang ini saya harus mencuci baju 4 orang tanpa mesin, rasanya udah kebayang pengen nangis karena bakal lama selesainya dan juga kapan keringnya hehehe. Memang ya, kalau kita udah terbiasa dengan teknologi, kembali melakukan hal manual itu kerasa jadi berat, padahal kalau dilakukan mungkin aja gak seberat itu (eh tapi saya ogah ah nyuci manual hahaha).

Ceritanya jadi kemana-mana, tapi memang begitu kalau Jonathan sudah mulai bertanya, bisa gak ada habisnya. Biasanya saya yang harus menyudahi ceritanya dan suruh dia ingat menanyakan lanjutannya di kemudian hari kalau memang masih penasaran. Tapi dari bertahun-tahun hidup sebagai anak kost, ada banyak hal yang gak bisa saya lakukan seandainya saya ga pernah dilatih dari rumah. Mana mungkin tiba-tiba saya bisa menyetrika atau tahu memisahkan mencuci baju luntur dan tidak luntur kalau nggak pernah diberitahu/disuruh kerja sama mama saya. Memang ada kemungkinan beberapa lifeskill bisa dipelajari kemudian dari video yang ada di YouTube, tapi rasanya bersyukur aja dari rumah sudah diajari melakukan berbagai hal, sehingga waktu jadi anak kost bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti mencuci baju dan menyetrika.

Saya gak tau apa lagi kemajuan yang akan terjadi di masa Jonathan besar nanti, tapi sepertinya dia perlu juga diajari beberapa keahlian untuk mengurus dirinya sendiri. Siapa tahu nanti dia jadi anak kost juga kalau kuliahnya gak tinggal di kota yang sama dengan kami. Karena saya dan Joe sama-sama jadi anak kost setelah masa kuliah, kami juga mengajarkan ke anak-anak kalau mereka juga harus bisa mengurus dirinya sendiri nantinya setelah umur kuliah.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.