Serasa hidup seratus tahun

Saya dulu lahir dan menghabiskan masa kecil di tempat yang boleh dibilang agak primitif. Tempatnya tidak ada listrik (memakai lampu dian), tidak ada toilet (buang air di kali), memakai kayu untuk memasak (tidak memakai minyak tanah atau gas), dinding rumahnya dari anyaman bambu.

Dulu saya kadang berpikir: sayang sekali dulu saya nggak punya kesempatan belajar komputer dari kecil (seperti anak-anak di Amerika pada masa itu misalnya). Tapi setelah bertemu banyak orang, terutama orang tua, saya jadi bisa nyambung ketika bercerita dengan mereka (“dulu waktu saya masih kecil, belum pake listrik, bisa kamu bayangkan nggak?”). Saya jadi merasa pernah hidup di awal abad 20 (atau bahkan seperti akhir abad 19 di Eropa).

Komputer pertama saya bukan IBM PC tapi Apple II/e yang dibeli bapak saya karena dapat dengan harga sangat murah (bapak nggak ngerti berbagai jenis komputer). Sekarang waktu saya melihat berbagai video Youtube mengenai komputer lama, saya merasa bisa mengerti yang mereka bicarakan. Saya jadi sempat merasa hidup remaja di tahun 1980an.

Sekarang saya jadi lebih bisa menikmati cerita sejarah, tapi biasanya sampai sekitar 1900an atau kahir 1800an saja, karena sebelum itu tidak banyak yang bisa dilakukan oleh orang biasa (bukan dari keluarga ningrat atau kaya). Sebelum itu banyak penemuan dasar seperti toilet juga belum umum. Baru pertengahan abad 19 toilet dengan flush banyak dipakai. Kertas tisu toilet baru diterima di Eropa tahun 1930an setelah teknologinya cukup matang.

Saya tidak tahu berapa lama lagi akan hidup, tapi dengan pernah mengalami masa kecil di kampung, pernah memiliki komputer lama, dan dengan membaca banyak sejarah, saya merasa telah hidup lama sekali. Meski begitu tentunya saya berharap ingin punya umur panjang untuk melihat berbagai hal di masa depan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.