Makanan Halal, Bulan Puasa dan Lebaran di Chiang Mai

Malam ini saya hampir bolos nulis karena lagi gak ada ide mau nulis apa. Akhirnya keluar jurus bertanya dengan teman-teman di grup dan jadilah sesi tanya jawab agak random. Tapi jurus ini memang jurus paling ampuh untuk memaksa saya menulis hehehe.

Chiang Mai merupakan kota di utara Thailand yang mempunyai 3 musim, ada musim dingin (November – Februari), panas ( Maret – Mei ) dan hujan (Juni – Oktober). Tapi sudah beberapa tahun ini musimnya agak bergeser, misalnya musim dingin baru mulai dingin itu menjelang akhir tahun, atau seperti sekarang masih akhir Mei tapi sudah dinyatakan musim hujan walau kenyataannya siang hari masih panas mencapai 40 derajat celcius. Musim dinginnya sih lumayan bisa antara 12 – 23 derajat celcius suhu harian, dan untungnya gak ada salju, karena buat saya dingin 15 derajat aja kepala udah pusing, apalagi kalau sampai ada salju.

Kembali ke judul, karena sekarang ini sedang bulan puasa, teman-teman banyak yang pingin tahu mengenai suasana bulan puasa di sini. Walaupun kami bukan Muslim dan tidak berpuasa, tapi karena ada beberapa teman dalam komunitas yang berpuasa, saya bisa dapat cerita dari teman-teman. Berbeda dengan di tanah air, di sini yang namanya hari besar agama itu yang diliburkan cuma untuk hari besar agama Budha. Jadi namanya Lebaran atau Natal sekalipun, walaupun di beberapa lokasi terasa suasananya, tapi tidak dijadikan libur Nasional. Setahu saya untuk Thailand bagian selatan yang dekat dengan Malaysia, mereka punya libur Lebaran tersendiri. Tapi di utara sini, bulan puasa itu terasa hanya di restoran Halal di sekitar Mesjid saja. Seperti di Indonesia, ada acara buka bersama di mesjid dan tentunya sholat taraweh. Tahun ini dapat cerita kalau ada teman sesama orang Indonesia yang selama setahun di Chiang Mai belum pernah ketemu komunitas orang Indonesia, akhirnya tanpa sengaja bertemu di masjid ketika mencari makanan untuk berbuka.

Rumah kami lokasinya dekat dengan jalan Changklan, di jalan Changklan ini ada 1 Masjid dan disekitarnya ada banyak restoran halal. Saya suka beli sup daging dari sebelah Masjid karena rasanya cukup mirip dengan sup daging di Indonesia, nah di bulan puasa ini restorannya tutup di siang hari, jadi selama bulan puasa saya gak bisa beli sup daging di sana untuk makan siang :(.

Di ujung jalan Changklan merupakan lokasi Night Bazaar. Persis di tengah Night Bazaar ada sebuah masjid lagi dan jalanan di depan masjidnya namanya Halal street. Dari nama jalannya jelas ketahuan kan di situ bisa cari makanan halal dengan mudah. Jadi kalau jalan-jalan ke Chiang Mai gak usah kuatir soal makanan halal, pastikan aja nyari penginapannya di sekitar Night Bazaar, biar gak repot nyari restoran Halal nya heheheh.

Dibandingkan dengan 12 tahun lalu, mencari makanan halal di Chiang Mai memang sudah lebih gampang. Kalau kita masukkan kata kunci halal restaurant in Chiang Mai, ada banyak informasi yang bisa didapatkan. Contohnya dari situs ini. Belakangan ini juga sudah ada acara festival makanan Halal beberapa kali di kota ini.

Selain di jalan Changklan, ada juga beberapa penginapan yang mengelola restoran halal. Nah informasi ini lengkapnya ada di teman saya. Kemarin saya diberitahu juga ada aplikasi Smart Halal untuk mengecek restoran Halal ada di mana saja di Chiang Mai, sayangnya barusan saya cek, aplikasinya tidak kompatibel lagi dengan HP saya, jadi saya tidak bisa menuliskan lebih banyak soal aplikasi itu.

Berikutnya cerita soal lebaran di Chiang Mai. Karena di sini tidak libur, biasanya teman-teman kami yang merayakan lebaran ya gak bisa mudik lama. Kalaupun mudik harus ijin khusus. Tapi kalau memang merindukan suasana lebaran, disini juga ada Sholat Ied nya kok. Selesai sholat biasanya restoran di sekitar mesjid akan mengadakan open house. Nah disitulah kesempatan untuk melupakan sejenak kalau sedang jauh dari tanah air.

Salah satu kegiatan komunitas Indonesia di Chiang Mai juga ngumpul di hari lebaran. Nah yang ini sih ngumpulnya gak persis hari lebarannya ya, tapi biasanya pas hari Sabtu atau Minggu kita ngumpul dan masing-masing membawa masakan khas yang bisa dimasak sendiri. Acara ngumpul hari lebaran ini gak setiap tahun diadakan, tapi saya ingat ada beberapa kali diadakan. Walaupun gak selalu ada rendang dan opor ayam, tapi kebersamaan dengan teman-teman sesama orang Indonesia melepaskan rindu kampung halaman sejenak. Rencananya tahun ini akan ngumpul lagi, semoga jadi dan ada yang masakin rendang atau opor ayam hehehe.

2 thoughts on “Makanan Halal, Bulan Puasa dan Lebaran di Chiang Mai”

  1. Dekat Night Bazar ya Kak Risna. Noted. Mana tau jelong” ke Chiang Mai bolehlah kopdar” sm Kak Risna n fam hehe… Nice writings, lovs it. Thank you

    1. iyaaaa, yuk main ke Chiang Mai di musim dingin aja biar adem. Jangan lupa kabar-kabari ya kalau ke sini,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.