Kesasar Pake Peta Online?

Beberapa waktu lalu, Joe bilang ke saya: Sekarang ini mau pergi kemanapun kita bisa tinggal cari di Google Map, gimana dulu sebelum ada Google Map ya (dan tentunya selain Google Map, yang dimaksud Joe ini layanan navigasi berbasis GPS lainnya yang bisa diakses dengan mudah di HP sekarang ini).

Chiang Mai di Google Map

Pertanyaan Joe itu sebenarnya bukan dia tidak tahu jawabannya, tapi cuma mau bilang kalau sekarang ini kita sudah jauh lebih mudah dalam mencari suatu lokasi. Mau pergi ke luar kota, masukkan GPS atau titik terdekat ke tujuan, lalu ikuti deh petunjuknya. Dan semua itu bisa di akses di HP kita, tanpa perlu bawa buku peta ataupun bertanya ketemu apa belok mana dan beberapa kali berhenti di jalan buat nanya ke orang-orang.

Saya masih ingat, dulu waktu di Bandung, saya cuma tau rute angkot dari rumah sepupu saya ke kampus. Jadi waktu orangtua saya datang ke Bandung dan nyetir mobil sendiri, ya saya kasih tau jalannya ngikutin rute angkot, padahal kemungkinan besar ada jalan lain yang lebih ringkas hahaha. Akhirnya orangtua saya harus nanya ke sepupu saya biar tau jalan lain supaya tidak harus mengikuti rute angkot melulu yang selain lebih jauh biasanya lebih macet.

Sewaktu awal ke Chiang Mai, Joe semangat sekali menceritakan ke saya mengenai alat GPS dan Nokia Map yang bisa diunduh di HP Nokia Symbian saat itu. Jadi ada alat GPS Holux M1000 yang bisa dihubungkan melalui koneksi bluetooth ke handphone kita, nah kalau kita memasukkan kordinat tujuan kita, aplikasinya akan memberikan petunjuk apakah kita harus ke utara, selatan, atau arah mata angin lainnya. Benar-benar tidak bisa diandalkan hehehe.

Karena aplikasi GPS nya belum terintegrasi ke Nokianya, yang kami lakukan sebenarnya seperti di mall kita sering lihat petunjuk lokasi saat ini kita di mana dan peta lantai tersebut ada apa saja. Nah karena tidak terintegrasi, yang sering terjadi tentu saja sering nyasar, apalagi waktu itu masih belum hapal jalanan Chiang Mai dan belum bisa bahasa Thai sehingga agak repot juga kalau harus bertanya.

Setelah hampir menyerah dengan GPS yang terpisah dengan aplikasi petanya, akhirnya mampu buat beli HP Nokia yang sudah punya GPS dan bisa download Nokia Map nya untuk kota Chiang Mai. Mungkin akan ada yang bertanya-tanya, kenapa gak beli GPS yang ada displaynya? ya udah jelaslah jawabannya: harganya mahal dan kebutuhannya tidak mendesak, jadi ya kalau HP kan sekalian belinya pas ganti HP.

Nah, sejak bergantinya era symbian dengan era android, tentunya kami juga berpindah dari Nokia Map ke Google Map. Tapi dari pengalaman memakai Google Map, kesimpulan saya adalah: lebih baik untuk mempelajari rute terlebih dahulu dan jangan percaya google map begitu saja.

Eh kok udah kesimpulan tanpa cerita? Ya jadi ceritanya beberapa kali kami dibawa muter-muter atau bahkan nyasar oleh Google Map. Beberapa tempat juga mungkin lebih baik menggunakan Here Map. Biasanya untuk daerah komplek perumahan yang banyak tiang listrik, sinyal gps nya kurang bagus, dan petunjuknya suka mengupdate sendiri menyuruh kita belok tiba-tiba. Kalau diikuti, tau-tau kita disuruh balik lagi ke jalan sebelumnya. Untuk daerah komplek perumahan, lebih baik kita tanyakan dulu lebih jelasnya ke orang yang ingin kita kunjungi bagaimana mencapai lokasi setelah masuk ke komplek perumahannya.

Pernah juga satu kali, saya nyasar lewat jalanan sawah yang cuma 1 jalur. Udah khawatir kalau ada mobil datang dari depan, karena jelas-jelas ini lagi nyasar hehehe. Setelah pengalaman itu, saya pastikan bertanya setiap kali mau berkunjung ke rumah teman.

Pernah juga, waktu lagi mau ke dokter gigi, waktu mau berangkat heran, loh kok butuh 9 jam? ternyata nama kliniknya ada di Bangkok juga dan yang kepilih tak sengaja itu lokasi yang di Bangkok. Pelajarannya setiap masukkan nama tujuan, pastikan memang itu titik tujuannya.

Pelajaran lainnya tentu saja, bertanya alamat lengkap dengan nomor rumah yang dituju. Karena kalau sudah sampai di komplek tujuan, bisa juga tinggal mencari berdasarkan nomor rumah. Titik tujuan rumah kami juga sering salah, dan banyak teman-teman nyampenya ke tanah kosong di belakang rumah hahaha.

Google Map memang sudah cukup berguna, apalagi sekarang dilengkapi dengan informasi kepadatan lalu lintas dan perkiraan berapa menit sampai tujuan. Tapi namanya aplikasi, bisa saja meleset perkiraanya.

Perjalanan dari tempat Jonathan belajar bahasa Thai ke rumah kami belakangan ini sering sekali macet, kalau di aplikasi bilangnya 11 menit karena ada beberapa titik macet, perjalanan yang biasanya hanya 5 menit bisa berakhir menjadi 30 menit. Aplikasi google map biasanya memberikan beberapa alternatif pilihan jalan menuju tujuan, tapi aplikasinya tidak selalu memberikan semua alternatif pilihan jalan. Kalau kita sudah mengenal daerahnya, biasanya kita bisa tiba sekitar 7 menit dengan kemacetan yang ada dan rute tersebut tidak ada dalam pilihan.

Kembali ke kesimpulan, Google Map atau layanan peta online sejenis ini cukup berguna membantu kita mencari dan menyimpan lokasi yang sering kita kunjungi. Membantu untuk mengetahui keadaan lalu lintas. Sekarang ini juga bisa dipakai untuk mencari restoran, atm, pom bensin disekitar kita. Tapi tetap saja, kita harus pelajari dulu tujuan yang diberikan sebelum kita menjalaninya. Lebih baik lagi kalau ada yang membantu kita melihat peta ketika menyetir. Sejak sering memperhatikan dan mempelajari cara mencari satu tujuan, saya semakin banyak mengingat jalanan di Chiang Mai. Tapi kadang-kadang, kalau lagi malas mikir, untuk ke lokasi yang sering saya kunjungipun tetap saya nyalakan Google Map nya, soalnya kadang-kadang bengong dan kelupaan belok hahhaha.

Ada yang ingin berbagi pengalaman menggunakan layanan peta online seperti Google Map ini? silakan tinggalkan ceritanya di komentar ya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.