Gara-gara Virus Corona

Tulisan ini sekedar catatan yang saya amati disekitar saya sehubungan dengan wabah baru virus Corona.

Sebelum mengetahui adanya virus ini, di Chiang Mai sudah banyak sekolah yang meliburkan kelasnya karena adanya beberapa murid yang sakit Influenza. Influenza ini bukan batuk pilek biasa dan gejalanya mirip juga dengan virus Corona.

Influenza ini sudah ada vaksinnya, tapi supaya ampuh, kita harus divaksin setiap tahun (yang mana akhirnya kebanyakan orang tidak selalu melakukannya termasuk kami). Apakah dengan banyaknya kasus Influenza di sekolah, semua orang memperhatikan untuk cuci tangan dengan sabun? yang saya lihat, semua seperti biasa, yang rajin cuci tangan ya cuci tangan, yang cuek ya cuek.

Sejak akhir tahun 2019, tingkat polusi di Chiang Mai sudah memburuk. Beberapa orang sudah mulai menggunakan masker ketika keluar rumah (termasuk Joe dan Jonathan). Tapi ya kebanyakan masih cuek. Anak-anak batuk pilek juga ketika dingin menyerang, tapi perasaan ya biasa saja.

Lalu ketika sudah tahu tentang virus Corona ini, hampir semua orang ketika keluar rumah pake masker. Hampir di semua apotik masker dan hand sanitizer habis. Pembelian mask N95 secara online juga banyak yang akhirnya batal karena penjual kehabisan stok. Akhirnya banyak informasi membuat hand sanitizer atau masker sendiri. Kami yang sebelumnya sudah punya masker dan hand sanitizer, paling hanya membeli ekstra kalau kebetulan ketemu dan membelinya juga secukupnya.

Saya juga jadinya membeli masker N95 yang bisa dicuciulang untuk Joe dan Jonathan karena tentunya lebih murah daripada beli masker yang sebentar pakai harus diganti dan kadang langka karena banyak yang borong. Saya tidak beli untuk saya dan Joshua karena Joshua tidak mau pakai, sedangkan saya jarang butuh memakai. Di rumah dan di mobil kami sudah pakai filter udara, kalau keluar antar jemput anak, saya tidak terlalu lama terpapar udara polusi, tidak seperti Joe dan Jonathan yang sekali ke mall minimal 2 jam.

Positifnya, orang-orang di Chiang Mai jadi memakai mask keluar rumah. Loh kok positif? ya sebenarnya polusi dan virus Influenza juga sudah cukup berbahaya untuk kesehatan, tapi kalau tidak ada virus Corona, banyak yang menyepelekan akibat dari polusi dan penyakit Influenza.

Sisi positif lainnya adalah, semakin banyak orang yang sadar untuk lebih sering mencuci tangan dengan sabun (termasuk saya). Setiap kali pulang dari luar rumah, mau makan atau setelah berkegiatan, saya selalu ingat untuk mencuci tangan dengan sabun (dan mengajak anak-anak juga untuk mencuci tangan dengan sabun). Selain itu, kami jadi memperhatikan untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Dengan adanya wabah virus Corona, secara tidak langsung jadi lebih memperhatikan kesehatan dan mencegah tertular Influenza dan berbagai kemungkinan tertular virus lainnya.

Saya yakin, tidak ada yang ingin sakit. Semua orang ingin sehat. Tapi kadang-kadang, yang tidak enaknya dari musim penyakit begini adalah: beberapa orang menjadi kurang toleran kalau melihat ada yang bersin atau batuk sedikit saja. Seolah-olah orang yang bersin dan batuk itu pasien pesakitan yang pasti menularkan penyakitnya ke orang lain. Padahal kalau kita punya daya tahan tubuh yang baik, kita ga semudah itu juga tertular penyakit. Untuk orang-orang yang memang daya tahan tubuhnya lebih rentan (sudah tua, sedang dalam masa recovery atau punya penyakit tetap), nah itu mungkin harus lebih khawatir daripada kita yang sehat dan kuat.

Di Chiang Mai, turis dari Cina terlihat berkurang drastis. Ada beberapa orang yang saya tahu jadi takut ke tempat-tempat yang biasa dikunjungi turis dari Cina. Tapi ada juga yang saya tahu keluarga orang Amerika yang tinggal di Cina kebetulan sedang liburan di Chiang Mai, ketika saya tanyakan apakah akan menunda pulang ke Cina dengan adanya kasus virus ini? mereka bilang akan tetap pulang ke Cina karena mereka punya tugas dan tanggung jawab di Cina sana (saya tidak tahu lebih detail pekerjaannya apa).

Selain berita-berita tentang angka orang tertular, orang yang sembuh dan yang masih dirawat, ada berita yang bikin saya kagum. Bagaimana mungkin pemerintah Cina bisa membangun rumah sakit ataupun mempersiapkan bangunan yang kosong dijadikan rumah sakit untuk menampung sampai 100o pasien dalam waktu singkat (sekitar 10 hari)? Bukan hanya 1 rumah sakit, tapi mereka mempersiapkan beberapa rumah sakit (karena pasiennya juga sudah banyak sekali).

Pastinya ada banyak orang yang terlibat mulai dari perencanaan sampai eksekusi, tapi ya bagaimana mengkoordinasi orang banyak itu untuk bekerjasama (dan tentunya sambil menjaga kesehatan supaya tidak malah jadi pasien). Bukan kecepatannya yang bikin saya kagum, tapi bagaimana mereka bisa bekerjasama ditengah perasaan cemas (karena mungkin saja beberapa anggota keluarga pekerjanya ada yang sakit).

Beberapa hal yang terasa buat kami dengan adanya virus Corona ini adalah: ada 2 orang yang kami kenal tadinya berencana datang ke Chiang Mai tapi tidak jadi datang. Pertimbangannya bukan cuma karena virus Corona saja sih, tapi bisa dibilang adanya virus ini bikin banyak orang khawatir ketika berperjalanan ke luar negeri.

Memang di Thailand sudah ada beberapa kasus positif. Tapi ya positifnya sudah semakin banyak yang sembuh juga. Di Chiang Mai juga ada 1 kasus positif, tapi saya belum dapat update beritanya dia tertular dari mana dan sudah bagaimana kabarnya.

Menurut update 8 Februari 2020, jam 8 pagi, total yang diketahui positif di seluruh Thailand ada 32 pasien, 10 orang sudah sembuh dan pulang ke rumah sedangkan 22 orang masih di rawat di rumah sakit.

Dari total 654 terduga pasien, 605 orang pasien yang datang sendiri ke rumah sakit dan 49 orang traveler. Dari angka itu 279 orang sudah boleh pulang karena gejala yang diderita bisa rawat di rumah dan 375 pasien masih di observasi (tapi bukan positif corona).

Untuk kegiatan sehari-hari semua berjalan seperti biasa. Joe dan Jonathan masih ke mall 2 x seminggu karena Jonathan les tekwondonya di mall. Saya masih pergi berbelanja dan atau ke event seperti crafts week kemarin yang diadakan di mall. Jonathan dan Joshua juga masih mengikuti kelas-kelas yang biasa mereka ikuti seperti biasa.

Kami hanya jadi enggan untuk keluar rumah membawa anak-anak ke tempat yang ada banyak orang (mall ataupun event besar). Kalau saya dan Joe pergi tanpa anak-anak sih rasanya lebih santai, tapi karena Joshua tidak mau pakai masker, kami harus lebih rajin mencari tahu tingkat polusi harian sebelum memutuskan berkegiatan di luar.

Kalau melihat dari siaran langsung di facebook mengenai kegiatan parade pameran bunga hari ini, acaranya tetap ramai pengunjung. Kami belum melihat bunga-bunga yang dipajang di taman, karena hari ini polusinya masih agak tinggi. Mudah-mudahan besok polusi berkurang dan kami bisa melihat bunga-bunga yang disusun indah di taman kota.

Kira-kira, kalau vaksin virus Corona sudah ditemukan, apakah kalian akan mau divaksin seperti halnya vaksin Influenza? Atau memilih untuk meneruskan kebiasaan baik mencuci tangan dengan sabun, istirahat yang cukup, makan makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Terus kalian punya cerita apa gara-gara virus Corona ini?

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.