Baca Buku: Gadis Jeruk

Buku Gadis Jeruk oleh Jostein Gaarder ini awalnya nemu di ipusnas, tapi ternyata ada juga di Gramedia Digital. Buku terjemahan berbahasa Indonesia ini tebalnya 254 halaman. Buku aslinya berbahasa Norwegia dengan judul Appelsinpiken. Sebelum membaca buku gadis jeruk ini, bulan Agustus 2016 saya juga sudah membaca buku versi bahasa Inggrisnya di Kindle dengan judul The Orange Girl. Kalau menurut keterangan di Kindle, buku versi kindle hanya 168 halaman. Saya tidak tahu kenapa ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia jadi lebih banyak jumlah halamannya. Mungkin karena beda format bukunya. Oh ya, Jonathan juga sudah selesai membaca buku versi bahasa Inggrisnya.

Ringkasan Cerita

Buku ini bercerita tentang seorang anak bernama Georg, berusia 15 tahun, yang berkesempatan membaca surat dari ayahnya yang dituliskan sebelum ayahnya meninggal. Ayah Georg bernama Jan Olav, sudah meninggal sejak dia berumur 4 tahun (11 tahun yang lalu). Jadi bisa dibilang, dia tidak begitu punya banyak kenangan dengan ayahnya. Surat itu ditemukan oleh kakek neneknya ketika bersih-bersih gudang. Suratnya berupa cerita tentang seorang gadis yang diberi nama gadis jeruk oleh ayahnya.

Si gadis jeruk digambarkan oleh ayahnya sebagai gadis berwajah seperti tupai dengan mantel berwarna oranye yang dilihatnya sedang berdiri di dalam tram dan memegang sekantong besar jeruk yang diperkirakan sekitar 5 kg. Ketika tram tiba-tiba berhenti, gadis itu kehilangan keseimbangan dan jeruk-jeruknya berhamburan. Pertemuan di Tram itu membawa kesan tersendiri untuk ayahnya dan membuat dia berusaha menemukan si Gadis Jeruk itu lagi.

Tentunya cerita itu tidak akan berjudul Gadis Jeruk kalau cerita pencariannya tidak membawa hasil. Cerita pencarian si Gadis Jeruk inilah yang menjadi inti isi surat dari ayahnya. Tapi isi buku ini bukan berhenti di cerita Gadis Jeruk. Setelah bercerita panjang lebar, ayahnya juga mempunyai pertanyaan kepada anaknya untuk direnungkan dan dijawab.

10 kg jeruk

Daya Tarik Cerita Gadis Jeruk

Salah satu kelemahan saya dalam membaca buku ataupun menonton film adalah: saya bisa lupa sama sekali tentang hal-hal penting dalam buku tersebut. Walau sudah pernah membaca buku The Orange Girl di bulan Agustus, tahun 2016, saya seperti membaca pertama kali lagi ketika membaca buku Gadis Jeruk. Tapi setelah selesai membacanya, saya jadi ingat lagi dan kesimpulannya sama dengan kesan membaca pertama kali.

Kebetulan waktu itu, selesai membaca saya tuliskan dalam percakapan telegram dengan Joe. Lucunya, saya mencari percakapan ini setelah saya bercerita ke Joe tentang kesan membaca ulang buku ini (yang mana benar-benar sama). Beberapa bagian sengaja saya hapus supaya tidak spoiler. Beberapa bagian semi spoiler tapi tidak mengganggu jalan cerita.

Cara Bercerita

Buku ini memiliki sudut pandang orang pertama. Tapi ada 2 orang yang bercerita di buku ini. Pertama kali yang bercerita adalah Georg, anak berusia 15 tahun. Lalu ketika dia membaca surat dari ayahnya, isi suratnya juga menggunakan sudut pandang ayahnya. Di awal, saya sempat agak bingung mengikuti siapa yang sedang bercerita. Mungkin kalau dibuku fisik, ada penanda atau cetakan yang jelas untuk membedakan di mana awal dan akhir dari isi surat yang dibaca, dan di mana komentar Georg ketika membacanya. Tapi lama-lama saya mulai bisa fokus dan menemukan siapa yang sedang bercerita.

Kalau tidak mengetahui bahwa buku ini genre nya fiksi, bisa jadi saya berpikir buku ini kisah nyata dari seorang anak yang menerima surat dari ayahnya dan berusaha menuliskan kembali isi surat ayahnya dan komentar-komentarnya ketika menuliskan buku ini. Walaupun bukunya terjemahan, tapi masih bisa dinikmati. Saya tidak tahu apakah buku bahasa Indonesianya ini diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya atau dari versi bahasa Inggrisnya, tapi membaca versi bahasa Inggrisnya terasa lebih cepat memang daripada membaca bahasa Indonesianya.

Imajinasi dalam imajinasi

Cara bercerita Georg cukup mudah diikuti, tapi cara bercerita ayahnya kadang-kadang suka kemana-mana. Ayahnya ini diceritakan seorang dokter yang juga bercita-cita jadi penulis. Jadi dia menuliskan surat kepada anaknya ini juga selain untuk meninggalkan pesan untuk anaknya, juga untuk menyalurkan hobinya sepertinya hahaha.

Dalam cerita ayahnya, terkadang ceritanya agak kemana-mana. Digambarkan, ayahnya ini menuliskan semua yang dia pikirkan. Misalnya ketika dia mencari si Gadis Jeruk, dia memikirkan alasan si Gadis Jeruk membawa begitu banyak jeruk. Dia menuliskan beberapa kemungkinan kenapa si gadis itu selalu membawa jeruk ketika bertemu.

Imajinasi ayahnya ini bisa dibilang imajinasi penulis tentang penulis lain yang berimajinasi. Mungkin saya belum banyak membaca buku, tapi dari sejak pertama membaca buku The Orange Girl, cara bercerita seperti ini menurut saya keren dan jarang saya temukan.

pohon jeruk

Ada Fakta Ilmiah dalam Cerita

Sekilas, cerita ini seperti cerita cinta biasa. Cerita tentang seorang pemuda yang mencari-cari seorang wanita yang membuat dia tertarik pada pandangan pertama. Belum lagi tentang aturan cerita dongeng yang harus diikuti saja tanpa dipertanyakan, tentang kenapa cinderella harus pulang sebelum tengah malam. Tentang konsekuensi dari melanggar aturan dongeng dan tentang betapa pentingnya merasakan rindu. Tapi selain cerita yang terasa ringan itu, ada beberapa hal yang berupa pengetahuan yang menarik yang dibahas dalam buku ini.

Fakta tentang Hubble Space Telescope

Saya baru tahu tentang teleskop ruang angkasa ini ya dari buku ini. Jonathan juga langsung tertarik untuk mencari informasi lebih banyak mengenai teleskop ruang angkasa Hubble ini setelah membaca buku The Orange Girl. Beberapa fakta yang disebutkan dalam buku ini sebagai berikut:

  • Teleskop Ruang Angkasa Hubble telah diluncurkan ke orbitnya seputar bumi dari pesawat ruang angkasa Discovery pada 25 April 1990.
  • Para ahli segera menemukan bahwa ada masalah optik yang serius dengan cermin utama teleskop itu. Kerusakan ini telah diperbaiki oleh para astronaut dari pesawat ruang angkasa Endeavour pada Desember 1993.
  • Teleskop Ruang Angkasa Hubble telah mengambil gambar-gambar galaksi yang jauhnya lebih dari dua miliar tahun cahaya. Ini juga berarti bahwa teleskop itu telah melihat masa lalu alam semesta dua miliar tahun yang silam.
  • Ini membingungkan pikiran karena pada waktu itu alam semesta dianggap berumur kurang dari satu miliar tahun.
  • Teleskop Ruang Angkasa Hubble nyaris bisa melihat langsung ke Dentuman Besar ketika waktu dan ruang diciptakan.

Selain fakta teknis tentang teleskop hubble ini, ada juga cerita tentang permainan piano Beethoven Moonlight Sonata. Tapi bagian yang ini supaya tidak terlalu sering dibahas seperti hubble Telescope, walaupun ada beberapa kali disebut-sebut.

Pelajaran / Pesan dari cerita ini

Setelah membaca buku ini, ada 2 hal yang langsung terpikir oleh saya.

  • pentingnya menuliskan cerita untuk anak. Tulisan di blog ini secara tidak langsung merupakan cerita kami untuk anak-anak kami, tapi kadang-kadang menjadi catatan buat kami sendiri sih. Dari cerita di buku ini, Georg yang mungkin tidak ingat banyak mengenai ayahnya, jadi bisa mengingat kembali hal-hal yang disebutkan ayahnya. Secara tidak langsung, dia juga jadi bisa tahu lebih banyak bagaimana cara ayahnya memandang kehidupan ini.
  • apa jawaban kita untuk pertanyaan yang diberikan ayahnya ke Georg. Nah bagian ini tidak akan saya tuliskan di sini, biar baca sendiri bukunya sampai tuntas dan menemukan pertanyaanya ya.
tidak ada jeruk yang sama

Salah satu fakta yang juga menarik: tidak ada 2 jeruk yang sama. Kebetulan karena lagi rajin bikin jeruk peras, saya bisa memfoto jeruk-jeruk ini untuk ilustrasi hehehe.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.