Baca buku: Kim Ji-Yeong Born 1982

Setelah minggu lalu bolos baca buku, kemarin bolos nulis karena memutuskan baca buku Kim Ji-young, Born 1982 sampai selesai. Bukunya sebenarnya tipis, cuma 196 halaman sudah termasuk halaman-halaman yang tidak perlu dibaca. Tapi karena memulainya sudah sore, dan tanggung bacanya, jadilah memilih meneruskan membaca daripada menulis.

cover buku Kim Ji Yeong, sumber: Gramedia Digital

Buku ini aslinya berbahasa Korea, terbit tahun 2016 oleh seorang wanita Korea: Cho Nam-joo, yang pernah bekerja sebagai penulis skrip acara TV. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia di tahun 2019 dan saya bacanya di Gramedia Digital.

Kisah dalam buku ini sudah diangkat menjadi film, tapi saya belum menonton filmnya. Tulisan ini merupakan kesan yang saya dapat dari baca bukunya. Terjemahannya terasa cukup enak dibaca, dan emosinya bisa bisa membuat saya merasa seakan-akan buku fiksi ini adalah kisah nyata dari seorang wanita yang lahir dan besar di Seoul, Korea di tahun 1982.

Walaupun buku ini berjudul Kim Ji-Yeong (KJY), tapi saya mau menuliskan kesan tentang wanita-wanita Korea lainnya yang diceritakan dalam buku ini. Selain kisah hidup KJY sejak lahir sampai tahun 2016, ada 3 wanita lain yang diceritakan dalam buku ini yang situasinya mirip dengan KJY: Ibunya Oh Man-Suk, Ketua tim di kantor yang bernama Kim Eun-sil dan istri dari psikiater yang membantunya mengatasi depresi.

Ibu KJY: Oh Mi-sook

Ibu Kim Ji-yeong bernama Oh Mii-sook (OMS), dia punya 1 kakak perempuan, 2 kakak laki-laki dan 1 adik laki-laki. Keluarganya yang tadinya petani pindah ke kota Seoul karena Korea berubah dari negara agrikultural menjadi negara industri. Di usia 15 tahun dan baru lulus SD, OMS dan kakak perempuannya bekerja di pabrik tekstil untuk mendukung saudara laki-lakinya lebih sukses dan bisa bersekolah lebih tinggi.

Dipikir-pikir, harapannya kalau saudara laki-laki pada sukses, bisa gantian bantuin saudara perempuannya yang sudah banyak berjuang untuk keberhasilan mereka. Tapi karena perempuan tidak dianggap perlu sekolah tinggi-tinggi, saudara laki-laki OMS tidak merasa perlu menyekolahkan OMS dan kakak perempuannya. Akhirya OMS dan kakak perempuannya harus bekerja siang hari dan belajar malam hari untuk bisa melanjutkan sekolahnya sendiri dan mendapatkan ijasah persamaan SMP dan SMA.

Di usia 35 tahun, OMS yang menikah dengan seorang pegawai negeri level rendah sudah memiliki 3 anak (2 anak perempuan yang berjarak 2 tahun dan 1 laki-laki yang berjarak 5 tahun dari anak ke-2). KJY adalah anak ke-2 dari OMS. OMS pernah menggugurkan kandungannya antara anak KJY dan adik laki-lakinya, karena pemeriksaan USG menunjukkan anaknya itu perempuan. Sejak anak pertama, mertua OMS selalu berharap cucu laki-laki, jadi dia pikir daripada perempuan lagi ya dia gugurkan saja. Apalagi suaminya sepertinya tidak mengharapkan anak perempuan lagi.

Ibu mertua OMS tinggal di rumah yang sama dengan mereka. Jadi OMS harus mengurus rumah, mengurus 3 anak, mengurus mertua dan juga mencari biaya tambahan dengan melakukan berbagai hal. Mulai dari berjualan berbagai barang, mengerjakan pekerjaan upahan sampai akhirnya dia belajar salon dan buka salon di rumah. Ibu mertua OMS sesekali membantu menjaga si bungsu, tapi ya tidak selalu.

OMS ini termasuk orang yang pintar mencari kesempatan dan mau melakukan berbagai pekerjaan untuk menambah penghasilan keluarga. Dia juga pintar mengelola keuangan untuk membayar cicilan tempat tinggal mereka. Dia termasuk berani memberi pendapat ke suaminya terutama dalam hal menginvestasikan uang.

Waktu suaminya mendapat uang pensiun dini dan ingin menginvestasikan ke bisnis dengan teman-temannya, dia berani melarang suaminya dan mengarahkan suaminya untuk membeli sebuah unit pertokoan dan buka usaha di tempat itu. Berbagai usaha dijalani sampai akhirnya menjadi usaha restoran yang bisa berjalan cukup sukses.

Ketua tim KJY di kantor: Kim Eun-sil

Atasan KJY di kantor adalah seorang wanita bernama Kim Eun-sil (KES). Dia bekerja sudah lama di tempat itu dari sejak pegawai hanya 3 orang, dan saat ini ada 50-an pegawai. KES menjadi salah satu wanita yang berhasil naik jabatan walaupun dia juga punya anak. Tapi KES kembali bekerja 1 bulan setelah dia melahirkan. Jadi dia cukup banyak berkorban juga selama dia bekerja.

KES ini seorang pekerja keras. Ibunya KES tinggal di rumahnya untuk menjaga anaknya. KES bisa tetap bekerja, dinas luar kota atau lembur karena ada ibunya di rumah menjaga anaknya. Ketika KES naik jabatan, dia menyadari pentingnya cuti melahirkan. Dia langsung mengupayakan ada hak cuti melahirkan bagi wanita dan pria. Usahanya untuk mengupayakan hak cuti melahirkan, tetap tidak berhasil membuat pegawai wanita yang hamil kembali bekerja setelah melahirkan. Sebagian besar ya berhenti dan mengurus anak di rumah.

Selain itu dia juga berusaha supaya tidak ada kumpul-kumpul yang tidak diperlukan di luar jam kantor, atau tidak lembur kalau tidak terpaksa. Tapi ya, kadang-kadang ada saja pertemuan dengan klien yang budanya minum-minum alkohol bersama dan memperlakukan pegawai wanita seperti wanita penghibur yang harus menemani klien minum.

Istri Psikiater

Istri psikiater dikisahkan singkat saja, namanya bahkan tidak disebutkan dalam buku ini. Dia ini seorang yang awalnya cukup ambisius dan memang pintar. Dia ahli matematika yang tadinya juga aktif bekerja selain puntang panting mengurus anak. Tapi ketika anaknya kelas 1 SD, diketahui anaknya berkebutuhan khusus, akhirnya dia memutuskan untuk berhenti bekerja untuk bisa lebih banyak membantu anaknya.

Istri psikiater ini sejak tidak bekerja di kantor, membantu kegiatan pelajaran anaknya. Dia senang membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah dan terutama mengerjakan soal-soal matematika di buku anaknya. Sampai anaknya SMA, istri psikiater ini masih senang mengerjakan soal-soal matematika SD. Katanya, soal matematika sekarang berbeda dengan soal yang pernah dia kerjakan dulu. Istri psikiater ini tetap bisa menikmati perannya yang baru karena dia punya hal yang dia suka untuk lakukan (bukan hanya karena bisa tapi karena suka).

Kim Ji-yeong

Kim Ji-yeong sejak kecil merasakan ada perbedaan perlakuan neneknya ke cucu perempuan dan cucu laki-laki. Sejak SD sampai bekerja, banyak hal yang terjadi disekitarnya yang selalu memenangkan laki-laki, termasuk teman sebangkunya yang sering usil padanya dan disebutkan gurunya itu tandanya suka padanya. KJY akhirnya memilih diam kalau melihat adanya perlakuan yang tidak pernah memenangkan perempuan ini. Dia khawatir kalau dia protes, nantinya akan menyusahkan juniornya sesama perempuan.

KJY menikah di usia sekitar 30 tahun, setelah bekerja beberapa tahun. Suaminya dia kenal di pernikahan sahabatnya semasa SMA. Sebelum bertemu dengan suaminya, KJY pernah memiliki beberapa pacar. Suami KJY ini pekerjaannya lebih baik dan gajinya lebih tinggi dari KJY. Suaminya baik dan mau membantu urus anak, tapi keluarga suaminya yang tinggal di Busan agak terlalu banyak tuntutan.

Awalnya KJY dan suaminya belum berencana untuk langsung punya anak setelah menikah. Tapi, karena desakan dari keluarga suaminya, akhirnya merekapun menyerah. Seperti halnya keluarga ayahnya dulu, KJY diharapkan memberi cucu laki-laki, tapi anak KJY yang lahir perempuan.

Semasa hamil, KJY masih bekerja. Ketika sedang hamil besar, KJY masih naik angkutan umum ke kantor. Suatu hari sepulang dari kantor, dia mendengar komentar orang mengenai dirinya yang hamil besar tapi masih memaksakan diri bekerja. Komentar orang lain ini membuatnya galau dan kemudian mendiskusikan apa saja pilihan yang ada. Pilihan mereka antara lain: KJY ambil cuti 1 tahun, dengan harapan masih diterima kembali bekerja, KJY berhenti bekerja karena suaminya gajinya lebih baik daripada dia, atau mencari pengasuh anak yang tinggal bersama mereka supaya KJY tetap bisa bekerja. Pilihan lain: mengirimkan anaknya ke mertua di Busan, tapi ini jelas bukan pilihan yang baik. Ibu KJY yang sama-sama tinggal di Seoul tidak bisa dititipi anak, karena diapun sibuk dengan bisnis restorannya.

Akhirnya KJY dan suaminya memutuskan kalau KJY yang berhenti kerja dan mengurus anaknya di rumah. Pilihan ini sebenarnya pilihan kebanyakan orang (termasuk saya), suaminya yang bekerjapun termasuk orang yang masih mau membantu mengurus anak ketika pulang kerja. Tapi tanpa disadari, KJY mengalami depresi pasca persalinan. Gejala depresinya belum terlihat sampai 1 tahun kemudian.

Pemicu KJY semakin aneh adalah ketika dia pergi membawa anaknya keluar rumah dan minum kopi di sebuah kafe. Di sana KJY bertemu dengan beberapa pegawai kantoran yang sedang minum kopi juga. Pegawai kantoran itu bisik-bisik dan berkomentar beruntung sekali KJY menjadi ‘ibu-ibu kafe’. Suaminya bekerja dan dia tinggal nongkrong di kafe menghabiskan uang suaminya. Komentar itu tidak ditanggapi KJY tapi malah dipikirkan dan malah jadi bikin dia mulai aneh.

Keanehan yang terjadi akibat depresi KJY adalah: dia seolah-olah menjadi orang lain untuk menyampaikan ketidak adilan yang dia rasakan sebagai wanita. KJY tidak bisa menjadi dirinya sendiri untuk protes balik terhadap hal-hal yang dia rasa tidak adil. Awalnya saya pikir buku ini jadi genre horror, karena KJY seperti orang kerasukan. Tapi di bagian akhir, saya baru menyadari kalau ini merupakan bentuk dari depresinya.

Kesimpulan

Buku ini sifatnya menceritakan apa yang dialami wanita-wanita di Korea mulai dari jaman ibunya Kim Ji-Yeong, sampai ke apa yang dialami dia sendiri. Buku ini tidak memberikan solusi ataupun tips dalam mengambil keputusan dalam hidup. Tapi buku ini seperti mengajak kita bercermin terhadap kejadian di sekitar kita.

Oh Mi-sook, Kim Eun-sil dan istri psikiater juga mengalami masa di mana lelaki diperlakukan istimewa dibandingkan perempuan. Mereka juga perempuan yang punya ambisi dan bekerja sebelum menjadi ibu. Mereka mengalami perubahan hormonal ketika hamil dan melahirkan. Tapi mereka tidak mengalami depresi seperti KJY. Mereka punya hal yang mereka suka untuk lakukan dan berani untuk menyuarakan apa yang mereka pikirkan.

Sebagai wanita yang sudah bersekolah sampai tingkat S2, pernah bekerja dan akhirnya memutuskan untuk berhenti kerja dan membesarkan anak di rumah, saya bisa merasakan betapa sedihnya situasi di mana KJY tumbuh dewasa. Sedih karena adanya perbedaan perlakuan terhadap wanita dan pria. Sedih karena KJY tidak bisa menyuarakan apa yang dia rasakan dari kecil dan akibatnya menumpuk ketika dia dewasa. Walaupun saya lahir lebih dulu dari KJY dan dari keluarga Batak yang juga sangat mementingkan anak laki-laki, saya tidak pernah merasakan ada perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan.

Kelelahan fisik pasca persalinan dan perubahan hormon membuat tumpukan emosi yang dipendam sebelumnya menjadi depresi pasca melahirkan. Dia tidak berani menyuarakan pendapatnya sebagai dirinya sendiri dan akhirnya dia menjadi “orang lain” ketika ingin protes. Suami yang baik hati dan mau membantu tidak cukup disini, tapi ya tidak ada yang bisa disalahkan karena depresi adalah penyakit mental yang menurut saya bisa terjadi karena kombinasi faktor lingkungan dan bagimana karakter kita menyikapi apa yang terjadi disekitar kita.

Pelajaran buat saya dari membaca buku ini:

  • Sampaikan apa yang kita rasakan/pikirkan ke orang lain, jangan dipendam sendiri. Kalau sudah punya pasangan, bisa disampaikan kepada pasangan
  • Dengarkan kalau pasangan/anak atau teman sedang menyampaikan pendapatnya/protesnya. Seringkali orang hanya perlu didengar dan tidak butuh solusi dari kita.
  • Ajarkan anak untuk bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan
  • Harus hati-hati mengomentari orang lain. Bisa jadi orang yang kita komentari tidak memiliki cara memproses masalah yang sama dengan kita dan membuat komentar kita jadi sumber masalah berikutnya.

Kira-kira filmnya perlu ditonton gak ya? agak enggan rasanya menonton film drama yang isinya sedih begini. Hidup ini sudah banyak kesedihan, masak hiburannya tontonan yang menyedihkan?

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.