Sekolah di Rumah

Catatan: Tulisan ini tidak sedang memperdebatkan definisi homeschool, sekolah di rumah, home based education, distance learning, online learning, learning from home dan metode-metode yang menyebabkan anak belajar di rumah di bawah pengawasan orangtua.

Beberapa hari belakangan ini, saya banyak baca pengumuman di berbagai belahan dunia termasuk di DKI Jakarta mengenai sekolah ditutup dan kegiatan belajar dipindahkan di rumah sebagai salah satu langkah mencegah penyebaran virus covid-19. Berbagai reaksi dari orangtua dan siswa bermunculan.

Saya tidak tahu bagaimana nantinya pelaksanaan dari kegiatan belajar di rumah. Mungkin ada yang dalam bentuk memberikan lembaran kerja untuk dikerjakan di rumah seperti PR tapi lebih banyak dari biasanya. Mungkin ada yang mengadakan pelajaran streaming online – walaupun untuk hal ini saya tidak yakin kesiapan bandwith dari sekolah maupun dari setiap murid. Mungkin akan ada juga di mana orangtua harus mengambil dan mengantarkan hasil kerja anaknya setiap hari. Yang jelas, bagaimanapun pelaksanaannya, orang tua akan jadi lebih repot daripada sebelumnya.

Bagaimana kalau kedua orangtua harus bekerja seharian? Di beberapa negara, selain sekolah ditutup, pegawai kantor juga diperintahkan untuk bekerja dari rumah. Dengan asumsi ini, orangtua bisa mengawasi anaknya untuk mengerjakan pelajaran sekolahnya. Tapi bagaimana kalau kantor orangtuanya masih wajib masuk kerja? siapa yang akan mengawasi kegiatan belajar anak di rumah?

Ini akan jadi masalah baru yang bikin sakit kepala orangtua. Tidak semua keluarga mendapatkan solusi masalah belajar di rumah ini dengan mudah, tapi ini semua hanya sementara dan demi mencegah meluasnya penyebaran virus dan untuk kebaikan bersama juga.

Anggaplah akan ada yang mengawasi anak-anak di rumah ketika kegiatan belajar di rumah dilakukan, lalu apakah orangtua harus jadi guru? gimana kalau orangtua tidak menguasai materinya? Kalau menurut saya, orangtua tidak perlu khawatir kalaupun tidak menguasai materi pelajarannya.

Bukan cuma orangtua yang akan mengalami kerepotan dengan sistem belajar di rumah ini, pihak sekolah juga tentunya cukup repot dengan persiapan dan pelaksanaanya. Pesan saya: bersabarlah, ini hanya sementara.

Daripada mengeluh dengan repotnya nanti kalau kegiatan sekolah anak jadi di rumah, saya ingin berbagi hal-hal yang kami alami selama kami homeschooling anak.

Tidak harus bangun super pagi

Kebanyakan sekolah dimulai cukup pagi. Dengan adanya kemacetan lalu lintas, kemungkinan bangun harus super pagi supaya bisa sampai di sekolah tidak terlambat. Banyak anak yang bahkan tidak sempat sarapan di rumah karena harus berangkat pagi-pagi.

Kalaupun kegiatan sekolah diadakan di rumah, kebiasaan bangun pagi itu tetap baik diteruskan. Kalau memang bangun masih super pagi, bisa dijadikan waktu untuk berolahraga. Sukur-sukur jadi punya waktu untuk sarapan bersama sebagai keluarga.

Tidak harus kena macet di jalan

Kebanyakan anak sekolah pergi dan pulang sekolah masih harus diantar jemput. Dengan kegiatan sekolah di rumah, kita tidak perlu antar jemput anak dan tentunya gak pakai macet. Mau mulai sekolah jam 7.30? ya tinggal disuruh duduk di meja untuk mulai belajar.

Kita jadi lebih paham perasaan guru di sekolah

Saya pernah baca berita tentang orangtua yang melabrak guru karena satu dan lain hal. Atau banyak orangtua yang mengeluh karena gurunya begini dan begitu. Dengan melihat sendiri bagaimana anak kita belajar di rumah, kita jadi tahu perasaan guru di sekolah ketika menghadapi aneka polah tingkah anak.

Kadang-kadang ada anak yang terlalu pintar dan jadi tidak mau mendengar penjelasan guru, karena mereka merasa bosan dan butuh tantangan yang lebih. Ada juga anak yang rajin tapi lambat mengerti. Ada anak yang butuh berkali-kali dijelaskan baru mengerti. Bayangkan 1 orang guru menghadapi lebih dari 10 anak. Dan kita sebagai orangtua menghadapi anak sendiri dan hanya sementara saja masa gak mau sih?

Dengan kegiatan sekolah di rumah, kita juga bisa melihat bagaimana gaya belajar anak kita. Apakah dia ternyata sudah tau banyak dibandingkan materi yang seharusnya dia pelajari, atau dibagian mana yang masih perlu dibantu.

Apakah orangtua harus tau semua materi pelajaran anak?

Sebagai orangtua, gak usah khawatir kalau gak mengerti materi tertentu. Tidak semua bahan ajar harus kita kuasai. Jaman sekarang, ada banyak resource di internet untuk mencari informasi, bisa juga bertanya ke guru di sekolah. Mudah-mudahan gurunya bisa memberi jawaban melalui e-mail, telepon ataupun video call.

Saya yakin, untuk kasus sekolah dirumahkan juga akan selalu ada grup orangtua dan guru yang bisa ditanya. Gak usah merasa malu karena ketahuan ga menguasai materi, bagaimanapun ini kan demi pendidikan anak kita.

Karena kami memang keluarga homeschool yang memilih kurikulum tertentu, kami sudah punya buku panduannya. Jonathan juga sudah bisa belajar mandiri. Kalaupun ada yang dia tidak mengerti, dia bisa bertanya ke kami. Kalau saya tidak mengerti, saya berdiskusi dengan suami, dan kalau mentok ya selalu ada komunitas homeschoolers yang bisa saya tanya untuk membantu saya.

Penutup

Memang homeschool bukan untuk semua orang. Kami awalnya homeschool juga salah satu alasannya karena alasan kesehatan (Jonathan yang sering sakit dan jadi tidak bisa fokus mengikuti kegiatan belajar di sekolah). Kegiatan sekolah di rumah mungkin bisa jadi membuat beberapa keluarga memutuskan menjadi homeschooler saja, tapi bisa juga membuat anak kita yang meminta dihomeschool saja.

Tapi gak usah mikir terlalu jauh dulu, nikmati saja waktu beberapa minggu ini untuk lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak-anak.

Pendidikan memang penting, tapi tidak usah merasa ‘rugi’ bayar sekolah mahal-mahal tapi tetap harus mengawasi anak belajar di rumah. Kegiatan sekolah di rumahkan ini juga demi mencegah penyebaran virus dengan cepat.

Harapannya, virus ini cepat berlalu dan semua kembali berjalan normal.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.