Situasi Chiang Mai Saat Ini

Kemarin 25 Maret 2020, pemerintah Thailand mengeluarkan Emergency decree untuk mengatasi Covid-19. Isinya dalam bahasa Thai, tapi terjemahannya kira-kira seperti yang dibagikan oleh FB Australia in Thailand. Aturan ini diberlakukan di seluruh Thailand mulai 26 Maret sampai 30 April 2020. Masing-masing daerah boleh menambahkan aturan kalau dianggap perlu.

Ini bukan lockdown dan tidak ada curfew, banyak hal memang ditutup, tapi kebutuhan pokok seperti makanan masih tersedia dan kita boleh keluar untuk belanja. Rumah makan hanya boleh beli untuk dibawa pulang dan tidak boleh makan di tempat. Masyarakat dihimbau untuk tidak banyak keluar rumah kalau tidak dibutuhkan. Kalau situasi tidak membaik atau banyak yang bandel, ada kemungkinan diterapkan curfew 24 jam (semoga tidak sampai terjadi).

Beberapa jalan ditutup, supaya semua orang bisa melalui titik pemeriksaan, terutama untuk jalanan antar kota. Pemeriksaan ini lebih ke pemeriksaan suhu tubuh, untuk menghindari kemungkinan penularan antar propinsi.

Sekolah-sekolah dan lembaga kursus lainnya sudah ditutup sejak minggu lalu, waktu itu rencananya 2 minggu saja, tapi dengan adanya aturan baru ini, sepertinya semua akan ditutup sampai akhir April.

Belakangan ini banyak penerbangan internasional menutup rutenya dalam waktu sebulan, pemerintah Thailand juga menutup ijin masuk untuk orang asing. Hanya orang asing yang punya ijin tinggal yang boleh masuk, itupun harus membawa surat bukti tes laboratorium bebas covid-19, dan juga memiliki asuransi senilai 100 ribu USD.

Yang jelas, harga tiket Jakarta-Bangkok saat ini jadi mahal sekali, karena mulai langkanya penerbangan. Beberapa orang asing akan dipulangkan kembali ke negaranya jika tidak memenuhi syarat. Saya tidak tahu siapa yang akan membayar tiket kepulangan mereka.

Pasien positif Covid-19 ini sudah ada sejak akhir Januari 2020 di Thailand. Saya ingat, saya menuliskannya di sini. Waktu itu, saya pikir dalam waktu 2 bulan semuanya akan baik-baik saja. Saya termasuk yang masih bawa santai dan berani keluar rumah karena toh di Chiang Mai jumlah pasiennya hanya sedikit dan laju pertambahan pasien setiap harinya di bawah 10 orang.

Sampai dengan awal Maret saya masih sempat mempertimbangkan tetap pulang ke Indonesia di masa liburan songkran bulan April, selain karena panas ya karena polusi yang tinggi juga di sini. Tapi dengan adanya aturan baru, termasuk songkran yang ditunda dan bukan lagi jadi hari libur, sepertinya sudah jelas liburan bukan pilihan dan memang harus di rumah saja.

Hari ini, total pasien terinfeksi seluruh Thailand sudah lebih 1000 orang, di Chiang Mai ada 15 orang. Jumlah pasien terinfeksi ini meningkat dengan cepat sejak ditemukan ada pasien positif di sebuah acara boxing match dan ada juga party goers yang pulang dari Hongkong dan menginfeksi 11 temannya. Seminggu ini, setiap harinya rata-rata lebih dari 100 orang penambahan jumlah yang terinfeksi di seluruh Thailand.

Beberapa hari lalu, ada gelombang pergerakan orang dari Bangkok ke berbagai propinsi di Thailand karena ada aturan untuk menutup akses keluar masuk di Bangkok, dan juga karena beberapa sektor pekerjaan wajib tutup dan sebagian pegawai pemerintah diliburkan. Kalau melihat banyaknya orang berdesakan di terminal bis antar kota, ada kemungkinan penyebaran infeksi di Thailand akan semakin meluas. Jadi untuk menghindari lebih banyaknya yang mudik, penduduk dihimbau untuk tidak melakukan perjalanan lintas propinsi.

Kapan semua ini berakhir? Mungkin kalau semua serentak mengurangi pergerakan ke tempat ramai dan menerapkan di rumah saja. Banyak negara yang sudah menutup diri, mulai dari lockdown partial ataupun total.

Sayangnya, khayalan saya kalau semua dilakukan di rumah saja belum bisa sepenuhnya dilakukan. Mobil yang berjalan tanpa supir belum jadi hal yang umum. Holodeck juga belum ada. Tapi sekarang ini sekolah-sekolah mulai menerapkan belajar jarak jauh dengan memanfaatkan internet. Beberapa pekerja juga mulai bekerja dari rumah saja.

Sampai hari ini, Joe masih bekerja di kantor. Tapi, kantor Joe ini pegawainya sedikit dan ruangannya juga cukup luas. Secara fisik, mereka masih jaga jarak aman, dan mereka juga disarankan mencuci tangan sebelum memasuki ruangan kantor. Mereka diingatkan untuk jangan pergi ke tempat ramai atau hangout sepulang kerja. Jadi ya, semoga saja gak pada bandel.

Udah bosan dengan cerita Corona? bertahanlah! Semua berharap pandemi ini segera berlalu, tapi ya kalau gak pada tertib mengisolasi diri misalnya baru datang dari negara lain, atau gak pada mengikuti anjuran di rumah saja sepertinya wabah ini masih akan berlangsung sampai akhir tahun 2020. Beberapa ahli juga bilang bisa jadi sampai 2021 dan nantinya akan jadi penyakit musiman seperti influenza.

Jumlah pasien terinfeksi ataupun korban yang meninggal itu bukan hanya angka. Mereka itu punya keluarga. Mungkin kakak atau adik atau ayah atau ibu dari seseorang. Kalau memang sayang dengan sesama, yuk kita ikuti anjuran untuk di rumah saja. Berdoa bersama di rumah masing-masing semoga wabah ini segera berlalu.

Hiburan buat yang di rumah saja, nikmati lagu gara-gara corona dari Project Pop ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.