Ngomongin Kdrama: When the Weather is Fine dan One Spring Night

When the Weather is Fine (WWF) dan One Spring Night (OSN) ini punya beberapa kesamaan. Keduanya bergenre drama romantis dan judulnya sama-sama terkait dengan musim. Kalau WWF mengisahkan musim dingin dan menunggu cuaca yang lebih baik, OSN mengisahkan musim semi yang biasanya dalam cerita banyak kisah cinta bersemi di musim itu. Kesamaan lainnya juga salah satu tokohnya bekerja yang berkaitan dengan buku.

Dari sejak awal, saya sudah ragu mengikuti WWF berdasarkan pengalaman nonton OSN. Memang jalan ceritanya tidak sama, tapi entah kenapa akhirnya buat saya tetap sama: saya berhenti di episode 8. Berhenti ketika tokoh utamanya akhirnya in relationship setelah 7 episode mereka tarik ulur dengan perasaan masing-masing walaupun dari awal terlihat sama-sama saling tertarik.

Jarang-jarang saya meninggalkan tontonan di tengah jalan, bahkan drama Melt Me Softly yang saya akui eksekusinya jelek, masih membuat saya penasaran dan pengen tahu kelanjutan dari kisah dramanya dan saya tonton sampai episode terakhir. Terus kenapa saya meninggalkan 2 drama terkait cuaca dan musim ini? Saya sampai berpikir: kalau ada drama lain yang berjudul seputar cuaca, jangan-jangan bakal sebelas dua belas nih. Sebelum menjawab kenapanya, saya tuliskan dulu resensi ceritanya (yang akan penuh spoiler).

One Spring Night

Poster dari MBC

Kisahnya tentang seorang wanita yang bekerja di perpustakaan. Wanita ini sudah punya pacar selama 4 tahun dan bahkan sudah didesak untuk menikah, tapi si wanita ini masih merasa belum siap untuk menikah dan masih pengen pacaran aja dulu. Di suatu pagi saat habis minum-minum dengan sahabatnya, dia mencari obat untuk menghilangkan rasa mabuk ke sebuah apotek. Ternyata dia ketinggalan dompet di rumah sahabatnya, jadi dia meminta nomor telepon tokoh pria yang menjadi apoteker. Si wanita berjanji akan mengirimkan uangnya. Oh ya, dia juga meminjam uang dari si apoteker untuk naik taksi ke perpustakaan tempat dia bekerja.

Dari pertemuan pertama itu, si apoteker langsung saling tertarik dengan si wanita. Waktu si wanita menanyakan nomor rekening si apoteker lewat pesan singkat, si apoteker sengaja tidak membalasnya. Tujuannya ya jelas, dia pengen si wanita itu datang sendiri untuk mengembalikan uangnya.

Ketika si wanita datang ke apoteknya, si apoteker langsung menyatakan kalau dia tertarik dengan wanita tersebut. Waktu si apoteker menyatakan suka dengan si wanita, saya langsung mikir: apa yang menarik dari seorang wanita yang mabuk di hari kerja sampai butuh obat untuk menghilangkan mabuknya supaya bisa kerja keesokan harinya?

Wanita tersebut tentu saja menjawab dia hanya bisa berteman dengan si apoteker, karena dia sudah punya pacar yang serius. Tapi anehnya, walaupun dia menjawab tidak, kelakuannya menunjukkan kalau dia juga tertarik dengan si apoteker. Namanya juga drama, mana ada wanita dan pria bisa berteman saja kalau salah satu sudah menyatakan suka.

Apoteker tersebut ternyata rumahnya hanya 1 lantai di atas rumah sahabatnya, dan apoteker tersebut ternyata single father di luar nikah. Ceritanya ibu dari anaknya kabur, padahal mereka sudah merencanakan untuk menikah. Jadi dalam kisah ini, si pria bukan duda karena belum pernah menikah, tapi dia punya anak.

Gimana dengan pacarnya si wanita? Seperti halnya setiap drama, pasti ada keterkaitan antara tiap tokohnya. Pacar si wanita ternyata satu klub olahraga dan senior dari si apoteker. Mereka baru saling berkenalan karena si pacar baru bergabung dengan klub basket si apoteker. Si wanita bertemu lagi dengan si apoteker ketika diajak hangout oleh si pacar untuk makan bersama teman-teman klub basketnya. Dan disitulah semakin terlihat kalau si wanita akan meninggalkan pacarnya.

Memang ceritanya si wanita belum menikah dengan pacar 4 tahunnya, jadi sebagian orang akan bilang kalau ini bukan cerita selingkuh. Tapi dalam jalan ceritanya, si wanita beberapa kali berbohong ke pacarnya lalu bertemu dengan si apoteker. Walaupun dia bilang ke apoteker hanya bisa berteman, tapi kelakuannya memberi harapan ke si apoteker. Dan ketika mereka akhirnya jadian walau si wanita belum putus dengan si pacar, saya memutuskan cerita ini gak layak untuk diteruskan.

Selain jalan ceritanya yang saya tidak suka, akting dari pemerannya juga terasa kaku sekali. Dialognya juga terasa lambat. Saya gak sabar melihat mereka yang kelakuannya berbeda dengan apa yang dikatakan. Saya gak suka dengan si wanita yang gak jujur dengan pacarnya. Saya juga ga melihat alasan mereka untuk saling jatuh cinta.

Walaupun memakai jurus namanya juga drama ya, tapi setelah mereka jadian saya ga bisa melihat mau dibawa kemana lagi ceritanya. Paling-paling 8 episode berikutnya akan kembali dengan kegalauan penjelasan ke pacar kenapa si wanita gak siap kawin dan memilih untuk punya pacar baru lagi saja. Gak ada hal yang bikin penasaran untuk melanjutkan menonton ceritanya. Dan ga ada hal positif yang menarik untuk dipelajari dari drama itu.

When the Weather is Fine

Poster dari JTBC

Judul lengkapnya I’ll Go to You When the Weather is Fine. Cerita ini diadaptasi dari novel. Berkisah seorang wanita berumur 30 tahun yang pulang ke kampungnya setelah menghadapi masalah di tempat kerjanya. Di sana dia bertemu dengan teman SMA nya yang membuka toko buku. Teman SMA nya ini seorang pria yang rumahnya dekat dengan rumah bibinya. Waktu SMA, si wanita ini tinggal dengan bibi dan neneknya karena ibunya masuk penjara sebagai hukuman membunuh bapaknya.

Si pria pemilik toko buku ini menyukai si wanita sejak masih SMA. Setelah lulus, setiap musim dingin dia menanti-nantikan si wanita datang berlibur. Tapi selama itu, dia hanya memendam isi hatinya. Tapi kali ini, dia mulai memberanikan diri bertegur sapa dengan si wanita dan menuliskan isi hatinya ke blog dari toko bukunya.

Rumah yang ditinggali si wanita mengalami masalah akibat pipa air yang pecah. Lalu tentu saja solusinya, si wanita numpang tinggal di toko buku yang dimiliki si pria. Oh ya si wanita ini juga kerja paruh waktu di toko buku si pria. Toko buku merangkap rumah itu punya 2 kamar tidur, jadi mereka tinggal bareng tapi beda kamar ceritanya. Bibinya kemana? bibinya nginep ke rumah temennya yang lain. Bibinya sepertinya tahu kalau si pria menyukai ponakannya. Karena tinggal serumah dan kerja di toko buku si pria, otomatis si wanita ketemu terus dong dengan si pria.

Si wanita mulai mempertanyakan kenapa selama ini dia tidak pernah dekat dengan si pria, padahal mereka teman SMA dan rumahnya berdekatan. Pikiran ini mulai muncul setelah pertemuan reuni kecil dengan teman SMA nya yang membahas siapa suka dengan siapa waktu SMA. Waktu si pria ditunjuk oleh teman-teman lain siapa yang pernah dia suka semasa SMA, si pria menyebutkan nama si wanita, tapi tentunya dia bilang: itu dulu, sekarang udah gak lagi kok.

Memang reuni itu ya begitu, suka ada kejadian cinta lama bersemi kembali. Tapi mungkin juga karena mereka tinggal serumah selama seminggu, si wanita jadi mulai tertarik kepada si pria. Lalu di acara reuni akbar lintas angkatan, si wanita menyatakan cintanya ke si pria. Lalu apakah jawaban si pria?

Si pria jatuh sakit! Badannya meriang dan seperti kena flu berat! Dia tidak membuka toko bukunya sampai beberapa hari. Si wanita kecarian dalam upaya menanyakan apakah jawabannya terhadap pengakuan cintanya? Si pria tetap tidak menjawab dan malah berusaha ngeles. Si wanita sampai mencari si pria ke pondok di sebuah gunung yang banyak pohon-pohonnya, dan si pria tetap tidak memberi jawab? Di situ saya masih pengen tahu apa alasannya si pria tidak memberi jawab dan malah terpental 7 tombak ditembak cewek yang dia sukai sejak 10 tahun yang lalu.

Lalu, setelah turun gunung, gantian si wanita yang sakit. Cuma pilek biasa sih, bukan corona pastinya (ups kok malah ngomongin c), biasalah namanya lagi musim dingin. Lalu, karena si wanita sakit, tentunya si pria yang sudah sembuh dari flunya berusaha menyuruh si wanita minum obat. Si wanita ngeyel awalnya ga mau minum obat, malah katanya kalau aku minum obatnya kau harus kasih aku jawaban ya atas pernyataan cintaku. Daaaan si pria tetap tidak menjawab!

Blaaaah…..saya udah hampir ga selesaikan episode 8. Beneran nih pria minta ditendang 7 tombak lagi kayaknya ya. Si wanita udah kayak ga ada harga diri deh nanyain mulu. Kalau udah ga di jawab ya udah kek, udah jelas itu jawabannya. Tapi ternyata….singkat cerita…ketika mereka naik gunung untuk ke-2 kalinya dengan alasan yang diada-adakan, si pria menjawab si wanita dengan…nyosor!

Ceritanya semakin absurd. Ciuman bukan jawaban atas pernyataan cinta. Ada banyak sekali drama yang bahkan setelah kiss scene, mereka kembali ke titik denial. Dan kalau ditanya itu ya dijawab, jangan malah nyosor! Dan kenapa sampai harus naik gunung 2 kali baru bisa menjawab? bukannya 7 episode pertama jelas-jelas digambarkan si pria menyukai wanita itu sejak SMA?

Dengan jalan cerita yang absurd dan tidak jelas apa yang bikin si wanita terlihat sedih senantiasa dan penuh kemarahan bikin saya memutuskan untuk tidak meneruskan menonton drama ini. Anggaplah mereka udah jadian sebagai titik akhir dari drama…dan mereka bahagia selamanya.

Akting pemeran wanitanya terasa kurang di drama ini, padahal biasanya di drama-drama lain, aktingya lumayan loh. Tapi mungkin karena ini genre drama banget padahal biasanya dia main genre romance comedy. Mungkin juga karena pemeran prianya lebih muda dari si pemeran wanita jadi mereka kurang bisa bekerja sama dengan baik. Chemistrynya tidak terasa ada.

Jalan cerita super lambat dan terlalu banyak pengulangan kilas balik membuat ceritanya 2 kali lipat lebih lambat. Jadi, cukup 8 episode dan rasanya penjelasan kenapa si wanita dan si pria seperti orang paling bermasalah di dunia ini akan begitu-begitu saja. Mereka seperti orang yang takut untuk merasakan bahagia, karena takut hari ini bahagia besok penuh dengan kesedihan. Mereka ga tau apa ya kalau yang namanya bahagia itu ada karena kita tau apa itu kesedihan. Eits…jadi kemana-mana

Kesimpulan

Lain kali jangan nonton drama yang judulnya terkait cuaca hahahaha. Eits bukan gitu, mungkin sebelum nonton baca dulu kali ya, dan jangan ngikutin ketika on going. Jadi bisa skip-skip kalau jalan cerita lambat, dan bisa juga langsung nonton episode terakhir saja hahahha.

Iya, saya tahu buat sebagian orang drama OSN itu bagus, tapi ya namanya selera ya, entahlah kenapa saya ga selera dengan cerita yang super lambat dan menjurus melodrama dari awal sampai akhir. Entah bagaimana nanti akhir dari WWF, tapi ya anggap saja happy ending.

Penulis: Risna

https://googleaja.com

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.