Update Chiang Mai: Kebakaran Hutan, Polusi dan Seputar Corona

Sampai hari ini, masalah polusi yang sudah mulai sejak awal 2020 masih berlangsung di Chiang Mai, bahkan beberapa hari belakangan ini semakin parah dengan adanya kebakaran hutan di seputar utara Thailand.

Sebenarnya saya sudah malas untuk menuliskan kondisi saat ini, mulai bosan nulis masalah polusi sejak awal tahun. Bersyukur masih bisa di rumah saja dan pasang filter untuk mengamankan diri dari polusi udara. Tapi kalau tidak dituliskan, saya tidak bisa ingat kondisi tahun ini seperti apa.

Sejak pertengahan Maret, sudah banyak kejadian kebakaran hutan di sekitar Chiang Mai, sudah hampir 2 minggu ini ada kebakaran yang cukup besar dan memakan korban jiwa dari pihak pemadam kebakaran.

Awalnya, polusi itu karena membakar sisa panen. Lalu ada juga membakar hutan untuk menumbuhkan jamur yang harganya mahal. Belakangan ini kemungkinan kebakaran karena rumput kering dan musim panas yang berkepanjangan. Hasilnya tetap sama, polusi udara setiap hari dalam batas tidak sehat sampai hazardous.

Ini contoh tingkat polusi dari pagi, siang dan sore di Chiang Mai hari ini. Untuk daerah yang dekat dengan hutan, kadang-kadang level AQI nya bisa sampai 900.

Dengan situasi polusi dan udara yang panas seperti ini, maka sudah jelas kalaupun ga ada himbauan kami akan di rumah saja. AC dan filter udara menyala sepanjang hari. Untungnya karena gak banyak keluar rumah, nanti dana yang biasa dipake pas makan di luar bisa dipake buat bayar listrik hehehe.

Di tulisan sebelumnya antara Polusi dan Corona, kami masih berharap masih bisa pulang ke Indonesia untuk menghindari polusi, tapi kali ini sudah jelas kami tidak bisa pergi dari Chiang Mai. Sejak 26 Maret sampai 30 April nantinya, akses masuk ke Thailand sudah dipersulit, dan beberapa hari ini bahkan tidak ada penerbangan dari luar negeri sama sekali yang boleh masuk ke Thailand.

Selain aturan yang terbit akhir Maret lalu, mulai tanggal 3 April ini juga ada keluar beberapa aturan baru dalam rangka mengurangi penyebaran infeksi Covid-19 di Thailand. Curfew diberlakukan mulai jam 10 malam sampai jam 4 pagi, memang ada beberapa pengecualian, tapi sudah ada beberapa yang ditangkap karena mereka anggap enteng. Konskuensi dari melanggar curfew ini bisa berupa denda 40ribu Baht atau penjara sampai 2 tahun. Rangkuman dari aturan yang berlaku saat ini bisa dilihat dari gambar yang diambil dari FB Australia in Thailand ini.

bukan lockdown, hanya diperketat aturan keluar rumah dan buka toko

Selain aturan yang berlaku Nasional, masing-masing daerah juga diperbolehkan untuk menambah aturan yang dianggap perlu untuk mengamankan daerah masing-masing. Beberapa propinsi yang berbatasan dengan Chiang Mai juga menerapkan aturan tambahan dengan adanya check point antar propinsi.

Beberapa supermarket juga membuat aturan pembatasan jumlah pengunjung yang boleh masuk dalam satu waktu. Setiap orang harus di cek temperaturnya dan wajib memakai masker. Sudah ada beberapa kasus ada yang marah-marah ditolak masuk karena tidak menggunakan masker, padahal ya salah sendiri kok malah marah-marah.

Grafik kasus baru per hari di Thailand (sumber: https://www.worldometers.info/coronavirus/country/thailand/)

Setelah 3 minggu di rumah saja, sepertinya jumlah pertambahan pasien positif beberapa hari ini mulai datar, walaupun rata-rata per hari nya masih sekitar 100 orang, jumlah pasien sembuh juga rata-rata di atas 50 orang per hari. Kalau dari pergerakan orang-orang yang mudik dari Bangkok minggu lalu, ada kemungkinan minggu depan ini masih akan ada lonjakan kasus baru, tapi semoga saja masih bisa dikendalikan.

Sebenarnya, saya tidak suka melihat angka-angka di atas. Buat saya, mereka bukan cuma angka. Bukan hanya korban corona, korban pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan kebakaran hutan juga bikin hati ini sedih bukan kepalang.

Chiang Mai butuh hujan, supaya kebakaran dan polusi bisa berkurang. Semoga masalah polusi bisa hilang dan Chiang Mai bisa fokus menghadapi masalah Covid-19.

Semoga, tahun-tahun mendatang ketika membaca ini, ada pelajaran yang bisa dipetik dari masa-masa ini.

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.