Mengucap Syukur untuk 13 Tahun di Chiang Mai

Tanggal 4 Mei 2007, kami tiba di Chiang Mai untuk pertama kali. Awalnya, tidak terbayang akan tinggal sampai selama ini di kota ini. Sebelum tinggal di Chiang Mai, saya tinggal di Bandung selama 12 tahun. Jadi, sekarang saya bisa bilang kalau saya sudah lebih lama tinggal di Chiang Mai daripada di Bandung.

Foto di Rathcpreuk Februari 2020, sebelum semua harus di rumah saja

Di tulisan tahun lalu, ada yang bertanya dan belum saya jawab tentang bagaimana awalnya kami pindah ke Chiang Mai. Saya cari lagi, sepertinya saya belum pernah menuliskan kisah awal kami ke sini. Jadi, di tulisan ini akan sekalian saya tuliskan, supaya jadi catatan untuk kami juga di kemudian hari.

Alasan ke Chiang Mai

Jadi begini awalnya… aduh sudah kayak mau mendongeng saja. Bos Joe sekarang ini seorang professor Matematika di Belanda. Bos Joe kenal dengan Bu Inge yang merupakan dosen kami di kampus ITB. Waktu Pak Bos minta rekomendasi ke Bu Inge apakah ada programmer yang mengerti pemodelan Matematika dan fasih berbahasa Inggris, Bu Inge langsung merekomendasikan Joe ke Pak Bos. Padahal waktu itu Joe belum lulus kuliah tahap magister.

Singkat cerita, Pak Bos percaya dengan rekomendasi yang diberikan. Dari hasil diskusi awal, ternyata Joe membuat Pak Bos yakin kalau memang Joe lah yang dia butuhkan untuk membuka usaha barunya membuat aplikasi yang berhubungan dengan pemodelan Matematika.

Niat awal Pak Bos ingin membuka perusahaan itu di Bandung. Sambil Pak Bos mengurus perihal perusahaan, Joe dipesankan segera lulus saja dulu. Setelah lulus, pekerjaan sudah menanti. Setelah Joe lulus magister, Pak Bos langsung mulai merencanakan banyak hal dengan Joe. Sampai waktu itu, belum ada tanda-tanda kalau perusahaannya jadinya dibuka di Chiang Mai.

Setelah beberapa bulan berjalan, Pak Bos bercerita soal Chiang Mai, sebuah kota yang indah di utara Thailand. Kota yang dilewati sungai Ping. Sungai Ping ini merupakan salah satu sumber air dari sungai Chao Phraya. Sungai Chao Phraya yang juga melewati Bangkok merupakan sungai terbesar di Thailand. Ciri khas lain dari kota Chiang Mai adalah sebuah kuil yang bisa terlihat dengan jelas dari berbagai penjuru Chiang Mai di Doi Suthep. Doi adalah sebutan untuk kata gunung di Thailand. Untuk sampai ke kuil itu kita harus melewati 309 anak tangga. Pilihan lainnya, antri untuk membeli tiket lift untuk naik ke atas.

Pemandangan dari apartemen 13 tahun lalu, sungai Ping dan Doi Suthep

Dengan berbagai pertimbangan yang tidak bisa saya ceritakan di sini, Pak Bos mengubah rencananya. Alih-alih membuka usaha di Bandung menjadi di Chiang Mai. Tentunya, dia mengharapkan Joe tidak keberatan untuk pindah ke Chiang Mai juga. Walaupun belum pernah ke kota Chiang Mai sebelumnya, kami nekat menyetujui.

Biasanya, sebelum orang pindah ke suatu negara, mereka akan mengunjungi terlebih dahulu untuk sekedar merasakan apakah akan suka atau tidak dengan tempat itu. Tapi, waktu kami memutuskan pindah ke Chiang Mai, kami percayakan semua ke dalam penyertaan Tuhan.

Jonathan di kuil Doi Suthep beberapa tahun lalu.

Penyesuaian Bahasa Paling Berat

Pindah negara itu butuh penyesuaian. Penyesuaian terbesar di negeri ini adalah masalah bahasa! Tulisan yang bukan latin dengan cara pengucapan yang membedakan tinggi rendahnya nada, membuat belajar bahasa Thailand jadi sesuatu yang berat di awal. Akhirnya merasakan menjadi orang buta huruf dan terasa putus asa ketika gagal berkomunikasi ke penduduk lokal.

Untungnya, ketika kami tiba di sini, kami masih berdua saja. Saya bisa pergi kursus bahasa Thai setiap hari ketika Joe kerja tanpa memikirkan menitipkan anak atau menyiapkan kebutuhan makanan anak. Kalau untuk kami berdua, kami bisa makan di luar setiap hari. Makanan di sini murah dan rasanya juga tidak jauh dengan rasa makanan di Indonesia.

Setelah saya semakin bisa berbahasa Thailand, akhirnya kami semakin suka tinggal di kota ini. Hal-hal apa yang menjadi kelebihan dan kekurangan tinggal di Chiang Mai sudah pernah saya tuliskan tahun lalu di sini.

Sampai Kapan di Chiang Mai?

Pertanyaan ini kami ajukan ke diri sendiri setiap tahunnya. Mau sampai kapan tinggal di negeri orang? Jawabannya selalu masih sama: Selama Tuhan mengijinkan.

Hidup di negeri orang itu ada pasang surut nya. Di masa awal, merasakan negeri sendiri selalu jauh lebih indah. Segala harga masih di hitung dengan nilai tukar di negeri sendiri. Lambat laun, setelah beradaptasi, mulai merasa nyaman dengan negeri yang ditumpangi. Terkadang mungkin saya terkesan seperti kacang lupa kulitnya kalau sedang memuji-muji Chiang Mai. Tapi memang, ada masa di mana kami merasa lebih nyaman di negeri ini.

Kami menyadari kalau tinggal di negeri sendiri itu tidak perlu repot memikirkan ijin tinggal. Beberapa tahun lalu, kami mulai pada dilema apakah akan selamanya di sini atau kembali ke Indonesia. Kalau kembali ke Indonesia ke kota mana? Kami bahkan pernah bikin rencana untuk mencoba tinggal di beberapa kota di Indonesia untuk jangka waktu sebulan sebelum memutuskan pindah ke kota tersebut.

Karena kami meng-homeschool anak-anak sendiri, kami tidak terikat dengan lokasi tertentu. Jadi, bisa saja sambil berpindah kota tidak usah kuatir pendidikan anak. Sampai sekarang, kami tetap belum tahu jawaban dari pertanyaan kami. Tapi memang sejauh ini kami masih suka sih tinggal di kota Chiang mai ini.

Penutup

Situasi pandemi saat ini, semua serba tidak pasti. Daripada bertanya-tanya terlalu jauh, saya mau bersyukur setiap hari. Seperti hal nya Tuhan sudah menyertai kami sejak awal kami sampai di kota ini, kami serahkan langkah ke depan dalam penyertaan-Nya.

Kami bersyukur kalau di Chiang Mai, sudah 26 hari tidak ada kasus positif Covid-19 baru. Dari 40 pasien yang ditemukan, sekarang tinggal 1 yang masih di rawat di rumah sakit. Sisanya 38 orang sudah sembuh dan pulang dan hanya 1 yang meninggal dunia. Secara keseluruhan kebijakan pemerintah Thailand cukup berhasil menghambat penyebaran infeksi.

Hari ini, beberapa hal mulai dibuka di kota ini sesuai instruksi dari pemerintah pusat, kapan-kapan akan saya tuliskan mengenai hal ini. Intinya, walaupun jauh dari keluarga semasa pandemi ini, kami cukup merasa tenang karena semuanya masih cukup terkendali di negeri ini. Kebutuhan sehari-hari masih bisa dibeli dengan harga normal. Subsidi keringanan biaya listrisk dan air diberikan termasuk untuk orang asing. Tapi siapa yang tahu dengan perekonomian esok hari.

Semoga saja pandemi segera berlalu dan ketika membaca tulisan ini kembali, saya bisa tetap bersyukur bagaimanapun situasinya nanti.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.