Masalah aneh MacBook 2015

Posting kali ini setengah teknis, tapi sebenarnya hanya sekedar cerita. Ceritanya tentang masalah MacBook yang tiba-tiba tidak bisa login, hingga akhirnya bisa diperbaiki setelah menginstall Ubuntu, dan kembali menginstall macOS.

Risna memakai MacBook sampai tahun lalu, dan tiba-tiba suatu hari: nggak bisa login. Tepatnya begini: layar login ada, bisa memasukkan username dan password, tapi setelah itu proses login tidak kunjung selesai. Saya pikir ini masalah sederhana, ada beberapa petunjuk di berbagai forum dan website. Misalnya ini dan ini dan masih banyak lagi.

Sebagai background: Macbooknya adalah tahun 2015 (kode: MacBook8.1 bukan MacBook Pro), dan saya beli di tahun 2018 (second hand, sudah habis garansi + apple carenya). Saya beli agak buru-buru untuk mengikuti konferensi BEVX karena Macbook pro saya terkena tumpahan kopi dan butuh segera komputer Apple untuk pelatihan exploitasi iOS. Setelah konferensi itu tidak saya pakai lagi dan dipakai oleh Risna (karena saya benci keyboardnya).

Saya sudah mengaktifkan SSH di Mac tersebut jadi bisa login dari remote dengan SSH, tapi remote desktop tidak bisa. Mungkin ada setting yang stuck, jadi saya juga sudah mengikuti petunjuk untuk menghapus NVRAM/PRAM, tapi masih gagal. Sudah saya cek syslog dan berbagai log lain via command line, tidak ada pesan error.

Setelah semua solusi dicoba dan tidak berhasil, saya pikir: gampang install ulang aja macOS-nya. Datanya sudah selalu dibackup ke cloud, dan data terbaru sudah diselamatkan via SSH. Tapi ternyata: installernya (dengan USB) juga stuck setelah saya diamkan semalam. Sudah coba ganti USB disk, masih sama. Saya tahu bahwa komputer Mac yang relatif baru bisa boot/reinstall dari Internet, tapi ini juga sama: stuck sebelum masuk ke installer.

Saatnya mencoba fitur diagnostik yang ada di Macbook. Ini diaktifkan dengan menahan “D” ketika booting. Tapi ini stuck ketika “checking your Mac”. Saya sudah curiga ini masalah hardware.

Stuck checking your Mac

Saya sudah memakai komputer dari Apple sejak jaman iBook tahun 2005 (pernah saya tuliskan di blog ini), jadi saya tahu berbagai opsi yang ada, termasuk juga memakai Mac dalam target disk mode. Karena MacBook tidak bisa dicabut storagenya (karena disolder di PCB, tidak seperti harddisk/SSD/NVME yang bisa dicabut) kita hanya bisa mengakses harddisknya dalam kondisi sistem operasi tidak bisa diakses dengan target disk mode. Dalam mode ini MacBook seolah-olah menjadi USB disk (atau jaman dulu: firewire disk). Karena saya punya Mac Mini, saya mencoba ini, tapi ternyata tidak terdeteksi sebagai disk.

Berikutnya: bagaimana jika diinstall Linux. Jika bisa diinstall Linux, maka macOs bisa dilupakan. Tapi ternyata disknya tidak terdeteksi karena tahun lalu Linux belum mendukung driver NVME untuk Mac. Baru juli tahun lalu Patch NVME Macbook untuk Linux dibuat.

Waku mendapatkan berita tentang NVME itu, sebenarnya bisa saja saya langsung memakai patchnya dan menginstall kernelnya, tapi saya tidak langsung melakukannya. Alasan utamanya adalah: drivernya masih baru, dan belum terlalu ditest (dari artikelnya: Some issues with the code were raised, but if all goes well we could see this support potentially added for the Linux 5.4 kernel cycle later in the year.). Kalau ternyata patchnya tidak jalan, saya akan bingung: hardware atau drivernya yang tidak jalan. Dan Akhirnya saya lupa karena Risna sudah memakai laptop baru.

Akhirnya saya menyerah, mungkin hardwarenya yang rusak. Saya menyarankan Risna membawanya ke tempat service tidak resmi di Chiang Mai. Ternyata tokonya tidak bisa menangani kerusakan hardware untuk model ini. Mereka mencoba juga berbagai solusi software tapi menyerah juga. Katanya perlu ke Apple Store untuk solusi terakhir.

Tapi kami enggan membawa ke service center resmi karena jika memang rusak hardware, harga perbaikannya di toko Apple resmi akan lebih mahal dari beli notebook biasa yang baru. Saya ingat di Indonesia ada beberapa tempat perbaikan yang bisa mengganti chip MacBook tanpa mengganti seluruh motherboardnya, kemungkinan akan lebih murah memperbaiki di sana. Di sini ada drmacbook tapi model ini tidak tercantum dalam supported model. Maklum saja, di versi ini, semua komponennya tersolder di PCB, tidak ada yang bisa dilepas.

Sumber https://www.ifixit.com/Teardown/Retina+MacBook+2015+Teardown/39841

Sementara itu Risna memakai Chromebook dan akhirnya beli laptop baru. Sebagai hacker, ada rasa penasaran untuk menyelesaikan masalah tertentu. Tapi di batas waktu tertentu, lebih cepat dan mudah membeli barang baru, apalagi jika sudah ada kerjaan lain yang lebih mendesak.

Kemarin saya teringat bahwa MacBooknya masih ada. Saya coba login lagi: masih stuck . Saya pikir siapa tau tiba-tiba hardwarenya jadi “sembuh” sendiri, ternyata tidak. Akhirnya saya download Ubuntu terbaru yang sudah memakai kernel terbaru: disk berhasil dikenali, dan berhasil install Ubuntu.

Saya cek semua hardware dengan Ubuntu, cuma built in speaker yang tidak jalan. Tapi saya yakin speakernya hidup karena ada bunyi startup Mac. Masalah lain di Ubuntu adalah: setelah sleep, keyboard dan touchpad tidak berfungsi (harus memakai keyboard/mouse eksternal). Saya cek seluruh disknya dengan membaca seluruh disk dan membuang ke /dev/null:

dd if=/dev/nvme0p1 of=/dev/null
Ubuntu di MacBook

Sampai seluruh disk terbaca: tidak ada error sama sekali. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba lagi menggunakan Internet Installer. Saya tinggal semalam, dan paginya sudah selesai: tidak ada error.

Sekarang sudah bisa Catalina lagi

Sampai sekarang saya tidak tahu sebenarnya masalahnya apa, tapi yang jelas MacBooknya bisa terpakai lagi. Tadinya Risna memakai Chromebook di lantai bawah dan Laptopnya di lantai atas. Tapi Chromebook murahan yang usianya sudah 4 tahun dengan RAM cuma 2GB sudah terasa lambat. Sekarang MacBooknya bisa dipakai lantai bawah dan Laptopnya bisa di lantai atas.

Ini sebenarnya salah satu hal yang saya benci dari laptop yang terlalu modern: sulit dihack dan dicek masalahnya apa. Saya sendiri sekarang punya MacBook Pro 2019 (karena dibutuhkan untuk kerjaan tertentu), serta dua ThinkPad X230, yang satu dual boot Linux/Windows dan satu lagi jadi Hackintosh dan dipakai Joshua.

Hackintosh X230

Saya masih curiga bahwa masalahnya adalah disk/NVME yang error, tapi seharusnya installer macOS tidak membaca sama sekali NVME-nya sampai masuk ke menu instalasi. Sekarang ini Risna hanya memakai browser saja, jadi semua data di cloud, Andaikan memang NVME-nya yang error atau hardware lain kembali bermasalah.

Demikian cerita curhat kali ini. Sering kali saya merasa “sombong” karena merasa bahwa sudah mengerti segala macam teknis dari mulai membongkar hardware, ngoprek kernel, dan juga software dan merasa bisa menyelesaikan segala masalah. Tapi terkadang ada saja masalah teknis yang solusinya masih jadi misteri bagi saya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.