Ke Dokter Gigi di New Normal Thailand

Hari ini, jadwal Joshua ke dokter gigi lagi. Memang, kami membawa Joshua setiap 3 bulan untuk diperiksa giginya sejak gigi depannya terbentuk kursi dan lepas. Tulisan hari ini sekedar catatan dan juga mendokumentasikan fase normal yang baru di Thailand.

Sebelum masa di rumah saja, kami juga masih ke sana. Dan tak terasa, masa di rumah saja ini sudah 3 bulan dan waktunya untuk memeriksa gigi lagi. Perbedaan dari masa sebelum Covid-19 merebak dan sekarang cukup terasa di klinik gigi ini.

Sebelum pintu masuk, ada pemberitahuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di luar. Di situ disediakan sabun cuci tangan dan keran yang semi otomatis. Jadi kita tidak perlu menyentuh sama sekali. Setelah mencuci tangan, tersedia juga mesin pengering tangan otomatis.

Setelah pintu masuk, akan ada lagi yang mengecek suhu tubuh kita. Dan untuk yang belum cuci tangan bolehlah pakai hand sanitizer saja. Setelah itu kita diminta untuk mengisi form yang menyatakan kalau kita tidak sedang batuk, pilek, baru pulang dari luar negeri dalam 14 hari terakhir. Form ini sih sudah ada sebelum masa di rumah saja.

Oh ya, masuk ke dalam ruangan wajib memakai masker, tapi ya namanya anak kecil, masih sulit loh membuat mereka bertahan memakai masker. Akhirnya selama tidak berdekatan dengan orang lain, kami biarkan Joshua tidak memakai masker.

Di ruang tunggunya biasanya ada mainan, tapi kali ini tidak ada mainan lagi. Tempat duduknya juga diberi tanda supaya tidak boleh duduk bersebelahan. Tapi ya, kalau sekeluarga duduk di sofa panjang yang sama, ga akan ada yang protes juga sih.

Karena dokter gigi di sini itu sistemnya sudah bikin janji terlebih dahulu, kami tidak perlu menunggu lama. Datang, daftar – supaya tahu kami sudah datang, dan tidak lama dipanggil untuk perawatan.

Perawatan gigi anak-anak juga cuma sebentar. Dokter memeriksa apakah ada lubang, lalu menyikat giginya dan mengoleskan fluoride. Setelah itu anak akan dilarang makan dan minum dulu selama 30 menit. Udah gitu doang.

Nah, masalahnya, Joshua ini sama saja dengan Jonathan. Sampai sekarang kalau dibawa ke dokter gigi masih nangis-nangis kayak ketakutan. Padahal biasa juga sikat gigi di rumah udah ga mau dibantuin. Tapi dibandingkan yang sebelumnya sih, hari ini cuma menangis saja tanpa meronta. Kalau dia meronta bakal tambah sulit, karena tenaganya lumayan loh.

Joshuanya ga keliatan, semua bantuin pegangin biar bu dokter bisa bekerja

Nah, karena sekarang ini sudah masuk kondisi normal yang baru, tadi itu dokter giginya hanya pakai masker saja. Sempat beberapa masa semua klinik gigi wajib tutup di awal-awal masa di rumah saja. Klinik gigi baru boleh dibuka lagi kira-kira bulan Mei setelah rata-rata penambahan kasus baru semakin berkurang setiap harinya.

Saya juga berani membawa Joshua ke dokter gigi karena sudah merasa cukup aman di Chiang Mai. Bulan lalu, waktu giliran saya dan Joe yang dihubungi untuk ke dokter gigi, saya masih menolak, karena masih merasa belum aman dan menjadwalkan ulang ke bulan Agustus.

Selama tidak ada transmisi lokal, normal baru di Thailand terasa normal. Pemakaian masker dan mencuci tangan itu kebiasaan baik asal tidak berlama-lama saja memakai maskernya. Karena saya tetap tidak tahan kalau pakai masker berlama-lama, apalagi anak-anak.

Semoga saja, keadaan tetap terkendali di Thailand, bahkan nantinya setelah Thailand dibuka kembali perbatasan Internasionalnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.